Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 90-102
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 15/03/2024 Selesai revisi: 21/05/2024 Disetujui: 23/07/2024 Diterbitkan: 01/08/2024
90
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA
International License.
Pelatihan penerapan pembelajaran sainstivik dan penataan
lingkungan untuk menfasilitasi merdeka belajar
pada guru-guru KB TK Bantul
Titik Mulat Widyastuti
1
, Khikmah Novitasari
2
, Novianti Retno Utami
3
123
PG_PAUD Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universiatas PGRI Yogyakarta Indonsia
e-mail: titik@upy.ac.id
1
, hikmah@upy.ac.id
2
,novi@upy.ac.id
3
Abstrak
Pengabdian ini dilatarbelakangi permasalahan yang dihadapi guru-guru KB TK Gugus 7
Kecamatan Kasihan Bantul Yogyakarta tentang: 1). Implementasi pendekatan saintifik dalam
pembelajaran di sekolah guru masih kurang paham. 2). Guru dalam pelaksanaan
pembelajaran saintifik seperti mengamati, menanya, mengumpulkan, mengasosiasi dan
mengkomunikasikan informasi dalam kegiatan di kelas tidak paham secara keseluruhan.
Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dan pendampingan dalam penerapan
pembelajaran saintifik dan penataan lingkungan untuk memfasilitasi merdeka belajar Anak
usia dini. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode: ceramah, tanya jawab, dan
tindakan kepengawasan yang dilaksanakan selama 2 siklus. Empat tahapan dalam kegiatan
pengabdian dan setiap siklusnya terdiri dari: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan
evaluasi (refleksi). Adapun hasil dalam pelaksanaan pelatihan menunjukkan bahwa guru-
guru PAUD di KB TK Gugus 7 Kecamatan Kasihan Bantul Yogyakarta dalam penerapan
pelaksanaan pembelajaran sainstivik dan pengaturan lingkungan untuk menfasilitasi
merdeka belajar Anak usia dini meningkat setelah mengikuti kegiatan pelatihan dan
pendampingan.
Kata Kunci: Pembelajaran ilmiah, penataan lingkungan, merdeka belajar.
Abstract
This service is motivated by the problems faced by family planning teachers at Cluster 7
Kindergarten, Kasihan Bantul District, Yogyakarta regarding: 1). Teachers still lack
understanding of the implementation of a scientific approach in learning in schools. 2).
Teachers in implementing scientific learning such as observing, asking, collecting, associating
and communicating information in class activities are still confused/don't understand the
whole thing. This service aims to provide training and assistance in the application of scientific
learning and environmental management to facilitate independent learning for early childhood.
The method in this research uses: lectures, questions and answers, and supervisory actions
carried out over 2 cycles. There are four stages in service activities and each cycle consists of:
planning, implementation, observation and evaluation (reflection). The results of the training
implementation show that PAUD teachers at KB TK Gugus 7, Kasihan Bantul District,
Yogyakarta, have improved in implementing scientific learning and environmental
arrangements to facilitate independent learning for early childhood children after participating
in training and mentoring activities.
Keywords: Scientific learning, environmental management, independent learning
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 90-102
E-ISSN: 3047-2474 (online) 91
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Pendahuluan
Guru merupakan kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran. Dalam
menjalankan tugas guru dituntut untuk bekerja secara profesional dalam pelaksanaan
pembelajaran harus mampu menyelenggarakan pembelajaran yang bermutu, dapat
menghasilkan generasi yang terdidik, yang mampu bersaing secara global dan
memiliki moral yang baik (Saputra & Susanto, 2023). Untuk itu, diera sekarang ini
guru harus mampu mengembangkan model serving dan bukan steering (Fajar, 2020).
Peran guru melayani peserta didik dan bukan menyetir, atau mendoktrin peserta
didik, akan tetapi lebih memainkan peran sebagai pelayan dan fasilitator.
Pembelajaran berbasis pendekatan saintifik lebih efektif hasilnya dibandingkan
dengan pembelajaran tradisional. Profesionalitas guru menentukan kualitas hasil
belajar siswa yang dimiliki sekolah. Cara mengajar guru berdampak pada penyerapan
materi pelajaran yang disampaikan (Deden, 2015). Oleh karena itu upaya
meningkatkan kualitas sumber daya alam tidak dapat terpisah dari Pendidikan
(Saputri, 2022). Kemampuan anak mencintai pendidikan sejak usia dini sangatlah
penting untuk perkembangan anak (Lingkungan & Outdoor, 2023). Peraturan
Permendikbud Nomor 103 tahun 2014 tentang pendekatan saintifik
dioperasionalisasikan dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang pada kegiatnnya
memuat aktivitas mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan
mengomunikasikan. Setiap aktivitas ini tergolong sebagai aktivitas layaknya seorang
ilmuwan, yang melewati beragam tahapan. Pembelajaran saintifik juga berorientasi
pada peserta didik. Sehingga, Guru dalam hal ini bertugas sebagai fasilitator dalam
kelas (Alam et al.,2022).
Guru-guru PAUD/TK Gugus 7 Kasihan Bantul dalam mengajar sebenarnya
sudah menerapkan pembelajaran berbasis saintifik, hanya saja masih banyak guru-
guru khususnya pada guru PAUD/TK belum mengerti betul apa yang di maksud
dengan model pembelajaran berbasis saintifik, pemahaman secara utuh terhadap
pendekatan saintifik masih kurang sehingga dalam mengimplementasikan
pendekatan tersebut dalam pembelajaran anak usia dini belum nampak, masih kurang
paham. Guru dalam kegiatan pembelajaran/tidak paham arah saintifik, penataan
lingkungan dalam menfasilitasi merdeka belajar juga masih kurang paham dan
kurangnya pengalaman dan pengetahuan dalam pembelajaran saintifik, sehingga
banyak guru-guru khususnya PAUD/TK di Gugus 7 Kasihan Bantul jarang
menuangkan model pembelajaran saintifik dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Harian (RPPH) atau Rencana Kegiatan Harian (RKH).
Pengimplementasian kurikulum 2013 dalam pembelajaran menekankan
penggunaan pendekatan saintifik (pendekatan ilmiah). Pembelajaran saintifik
berorientasi pada peserta didik. Untuk itu, guru dalam hal ini bertugas sebagai
fasilitator (Alam et al., 2022).
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 90-102
E-ISSN: 3047-2474 (online) 92
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Diterapkannya tujuan pendekatan saintifik adalah untuk mencapai tujuan
pembelajaran secara efektif, efisien, dan harapannya dapat ditempuh dengan singkat
(Alam et al., 2022). Siswa yang mempunyai minat rendah, akan merasa sesuai
dikarenakan bahwa cara guru mengajar dapat membutanya menjadi paham lebih
cepat dan mudah. Selain itu, pendekatan saintifik merupakan suatu pendekatan yang
dapat diperkaya dengan berbagai macam pendekatan yang lain seperti problem based
learning maupun project based learning. Selanjutnya, penerapan pendekatan saintifik
juga tidak kaku karena setidaknya terdapat seratus metode pembelajaran yang dapat
diimplementasikan dengan menggunakan pendekatan saintifik (Agus et al., 2016).
Proses pembelajaran diharapkan diarahkan untuk melatih berpikir analitis (peserta
didik diajarkan bagaimana mengambil keputusan) bukan berpikir mekanistis (rutin
dengan hanya mendengarkan dan menghafal semata) menurut (Musa & Hl, 2019).
Dengan pembelajaran yang lebih mengedepankan proses belajar, diharapkan siswa
lebih aktif dalam mengeksplorasi tantangan-tantangan yang diberikan oleh
guru.(Muhammad Syaifuddin Zuhri & Muhammad Nasir, 2023). Secara konsep
pendekatan saintifik lebih mengarah pada model pendidikan humanis, yaitu
pendidikan yang memberikan ruang kepada siswa untuk berkembang sesuai potensi
kecerdasan yang dimilikinya (Muhammad Syaifuddin Zuhri & Muhammad Nasir,
2023).
Kebijakan Pemerintah merancang Merdeka belajar untuk membuat lompatan
besar dalam aspek kualitas pendidikan agar menghasilkan siswa dan lulusan yang
unggul dalam menghadapi tantangan masa depan yang komplek (Daga, 2021). Inti
merdeka belajar adalah kemedekaan berpikir bagi siswa dan guru (Daga, 2021).
Konsep ini harus menyesuikan kondisi prose pembelajaran baik sisi budaya, kearifan
lokal, sosial ekonomi maupun infrastruktur. Esensi merdeka belajar adalah menggali
potensi terbesar para guru dan peserta didik untuk berinovasi dan meningkatkan
kualitas pembelajaran secara mandiri. Mandiri bukan hanya mengikuti proses
birokrasi pendidikan, tetapi benar-benar inovasi pendidikan sehingga guru tidak
mungkin bisa digantikan teknologi karena teknologi hanya sebagai alat bantu
pendidik dalam meningkatkan potensinya (Deni Hadiansah, 2022). Dari sisi filosofis
kurikulum merdeka mengakomodir prinsip bahwa anak adalah pembelajar yang
aktif. Hal ini menjadikan anak memiliki kemerdekaan dalam belajar yang bisa
menghasilkan kemandirian dalam belajar (Wiyani, 2022). Konsep merdeka belajar
merupakan usulan dalam restrukturisasi sistem pendidikan nasional (Pasaribu et al.,
2022). Menata kembali sistem pendidikan untuk merespon perubahan dan kemajuan
bangsa serta menyesuaikan diri dengan perubahan zaman (Annur et al., 2023) dan
(Ilham, 2020). Prinsip belajar bagi anak usia dini adalah belajar melalui bermain.
Nuansa bermain dan upaya membuat anak senang telah kelihatan mulai dari
penataan halaman dengan berbagai alat permainan seperti ayunan, perosotan,
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 90-102
E-ISSN: 3047-2474 (online) 93
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
jungkat-jangkit dan lain-lain. Kemudian penataan ruangan kelas yang dapat dikemas
sebagai arena bermain anak yang bermutu sesuai dengan kegiatan main dan strategi
yang akan diterapkan. Montenssori beranggapan bahwa lingkungan merupakan
kunci utama pembelajaran anak secara langsung. Lingkungan belajar harus aman,
nyaman, menyenangkan dan mengembangkan potensi bagi anak usia dini (Mufida,
2023). Sama halnya dengan Piaget, Montessori menganggap bahwa lingkungan
adalah kunci utama pembelajaran spontan anak (Lingkungan et al., 2022).
Optimalisasi penataan lingkunagn kelas pembelajaran akan menjadi kunci
tercapainya tujuan-tujuan pembelajaran sehingga tercapai suatu pola pembelajaran
yang bermakna (Yulia & Tholibah, 2022). Di samping itu, penataan lingkungan diikuti
dengan rancangan program dan pendekatan pembelajaran dengan mengikuti prinsip-
prinsip pembelajaran anak usia dini akan membantu perkembangan anak secara
optimal. Oleh karena itu, kegiatan yang bersifat peningkatan profesionalisme guru
perlu dilaksanakan. Selain itu, lingkungan juga sangat berpengaruh bagi membentuk
kepribadian anak, khususnya lingkungan bermain mereka. Menurut UU No. 23 Tahun
2002 tentang Perlindungan Anak, bermain, dan berekreasi serta beristirahat
merupakan suatu hak kebutuhan anak (Zantika et al., 2024). Oleh karena itu, ling-
kungan pada Pendidikan Anak Usia Dini harus direncanakan, ditata, dimanfaatkan,
dan dirawat secara cermat agar mampu men-dukung pencapaian hasil belajar yang
telah ditetapkan bersama (Zantika et al., 2024).
Kegiatan pengabdian ini memberikan solusi dalam mengatasi permasalahan
yang dihadapi oleh para guru-guru TK Gugus 7 Kecamatan kasihan Bantul
Yogyakarta yaitu memberikan pelatihan dan pendampingan dalam penerapan
pembelajaran saintifik dan penataan lingkungan untuk menfasilitasi merdeka belajar
anak usia dini.
Metode
Pengabdian masyarakat ini diselenggarakan di Audotorium Universitas PGRI
Yogyakarta Jln PGRI No 19 Sonosewu Bantul Yogyakarta, Tujuan dari pengabdian
masyarakat ini adalah untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kepada para
guru-guru dalam penerapan pembelajaran sainstivik dan penataan lingkungan untuk
menfasilitasi merdeka belajar anak. Kegiatan pengabdian masyarakat ini diikuti oleh
29 guru-guru KB TK Gugus 7 Kecamatan Kasihan Bantul Yogyakarta. Adapun
tahapan pelatihan yang dilakukan adalah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan,
atau observasi, evaluasi dan refleksi. Pelatihan dan pendampingan ini berlangsung
selama Satu bulan dalam pelatihan dan pendampingan. Berikut alur rencana kegiatan
pendabdian masyarakat, adalah sebagai berikut:
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 90-102
E-ISSN: 3047-2474 (online) 94
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Gambar 1 Rencana Kegiatan Pengabdian
Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan pengabdian
a. Tahap Perencanaan
Dalam pelaksanaan siklus 1 kegiatan pengabdian direncanakan sebagai berikut:
Pengabdi mempersiapkan pelaksanaan pelatihan yang meliputi (a) membuat scenario
kegiatan pelatihan diantaranya (membuat kepanitiaan, membuat rencana
pelaksanaan pelatihan, membuat bahan ajar, membuat lembar kerjanya. (b) menyusun
instrument proses pelaksanaan pelatihan dan dampak tindakan yang meliputi
(lembar pengamatan jalannya pelatihan, keaktifan jalannya pelatihan, angket
pemahaman pembelajaran saintifik di PAUD, lembar cacatan kejadian selama
pelatihan berlangsung, pendapat guru dalam pelaksanaan pelatihan (c) Membuat
pedoman pengolah dan analisi data hasil pengamatan keaktifan guru dalam
mengikuti pelatihan dan hasil test untuk melihat kemampuan guru dalam penerapan
pelaksanaan pembelajaran sainstifik (d) Menggunakan metode ceramah, metode
diskusi, dan metode Tanya jawab. (e). Membuat jadwal pelaksanaan tindakan yakni:
Mulai tanggal 8 Nopember 2023 s.d 7 Desember 2023, Tempat di Audotorium
Universitas PGRI Yogyakarta, Jumlah Peserta 29 peserta.
b. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan ini merupakan implementasi (pelaksanaan) dari semua
rencana yang telah dibuat. Dalam pelansanaan tindakan, pengandi melaksanakan
tindakan sesuai dengan yang telah direncanakan yaitu melakukan kegiatan pelatihan
tentang bagaimana menerapkan pelaksanaan pembelajaran sainstifik kepada peserta
dan penataan lingkungan yang ramah anak untuk menfasilitasi secara mandiri sesuai
dengan jadwal yang telah dipersiapkan oleh pengabdi secara konsisten. Memberikan
pengetahuan mengenai penerapan kurikulum 2013, Membekali guru dengan
keterampilan mengelola pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik.
c. Tahap pengamatan atau Observasi
Pada tahap observasi atau pengamatan pengabdi mencatat proses berlangsungnya
pelatihan dengan menggunakan lembar pengamatan yang telah dibuat termasuk
mencatat kejadian selama pelatihan berlangsung. Selanjutnya ditahapan akhir
Pemberian materi pelatihan
penerapan pembelajaran sainstivik
dan penataan lingkungan untuk
menfasilitasi merdeka belajar
Sebelum tindakan
Kemampuan guru-guru PAUD
dalam mengembangkan
pembelajaran saintifik
Setelah tindakan
Meningkatnya Kemampuan guru-guru
PAUD dalam menerapkan pembelajaran
saintifik dan penataan lingkungan di
sekolah
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 90-102
E-ISSN: 3047-2474 (online) 95
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
pelatihan peserta diberikan test tertulis untuk mengetahui keaktifan guru dalam
mengikuti pelatihan dan pemahaman pembelajaran saintifik di PAUD. Materi
pelatihan yaitu pengetahuan tentang pengertian pendekatan saintifik dalam
pembelajaran, tujuan pembelajaran saintifik, prinsip-prinsip pembelajaran saintifik,
langkah-langkah pendekatan saintifik, metode pembelajaran saintifik dan semua
peserta mengumpulkan hasil pelatihan yang berupa lembar jawaban angket yang
telah diisi. Selanjutnya pengabdi menggunakan pertanyaan test yang telah dibuat
pada rencana tindakan selanjutnya. Setelah data hasil pengamatan dan hasil test
terkumpul dilakukan pemeriksaan, pengolahan data dan analisis data sebagai bahan
menarik kesimpulan efektif tidaknya jenis tindakan terhadap perubahan perilaku
peserta setelah mengikuti pelatihan dengan cara membandingkan hasil analisis data
dengan dan hasil test terkumpul dilakukan pemerikasaan, pengolahan data dan
analisis data sebagai bahan menarik kesimpulan efektif tidaknya jenis tindakan
terhadap perubahan perilaku peserta setelah mengikuti pelatihan dengan cara
membandingkan hasil analisis data dengan indicator keberhasilan tindakan.
d. Evaluasi dan refleksi tindakan
Pada tahap evaluasi dan refleksi tindakan pengabdi melakukan penilaian dan
kajian dari proses pelatihan dari hasil pengamatan pelatihan siklus 1, perubahan dari
hasil pelatihan pada guru dalam pembelajaran saintifik dan hasil observasi keaktifan
guru dalam mengikuti pelatihan. Hasil nilai dari kemampuan guru-guru dalam
menerapkan pembelajaran saintifik pada anak usia dini. Selanjutnya pengabdi
membandingkan hasil pegamatan pelaksanaan pelatihan tentang pengembanan
pembelajaran dan penerapan pembelajaran saintifik dengan hasil test tentang
kemampuan guru peserta pelatihan dalam memahami materi pelatihan. Apakah
dengan metode pelatihan dapat meningkatkan kemampuan guru PAUD dalam
menerapakan pembelajaan saintifik atau belum. Tinggi rendahnya hasil test
kemampuan para guru-guru PAUD dalam penerapan pembelajaran saintifik yang
diperoleh menunjukkan berhasil tidaknya kegiatan pelatihan. Hasil test tersebut
dibandingkan dengan indikator keerhasilan tindakan yang menggunakan metode
pelatihan yang telah ditetapkan sebelunya. Pada siklus pertama ternyata belum
berhasil berarti kegiatan pelatihan belum efektif. Dalam kondisi ini karena siklus
belum berhasil seperti yang pengabdi harapkan maka perlu dilanjutkan pada siklus
ke dua dengan memperbaiki kekurangan pada kegiatan pelatihan pada siklus
pertama. Perbaikan pada siklus kedua dilakukan dengan penambahan penjelasan
dalam hal materi pelatihan dan adanya pendampingan intensif dalam memberikan
pelatihan penerapan pembelajaran saintifik.
Hasil dari siklus pertama ini menjadi masukan bagi pelaksanaan siklus kedua
yang terdiri dari hasil perulangan ke empat langkah yang ada pada siklus pertama.
Hal ini terjadi karena dimungkinkan setelah siklus pertama, pegabdi menemukan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 90-102
E-ISSN: 3047-2474 (online) 96
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
masalah baru atau masalah lama yang belum tuntas, sehinggga perlu dipecahkan
melalui siklus selanjutnya. Dengan demikian, berdasar hasil tindakan atau
pengalaman pada siklus pertama peneliti kembali melakukan langkah pada siklus
kedua.
Indikator keberhasilan tindakan: bisa dilihat dari proses dan hasil yang dicapai
dari pelatihan ini yaitu 1) Hasil tindakan apabila guru aktif mengikuti pelatihan 2)
Hasil tindakan pelatihan (jika 100% guru-guru memahami pembelajaran saintifik di
PAUD dalam kategori baik dan sangat baik.
Gambar 2 Kegiatan memberikan materi pelatihan
Gambar 3 Kegiatan memberikan materi pelatihan
Gambar 4 Proses diskusi dan Tanya jawab
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 90-102
E-ISSN: 3047-2474 (online) 97
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Gambar 1 Peserta Pelatihan foto bersama setelah mengikuti pelatihan
Hasil dan Pembahasan
Pelaksanaan pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan cara tatap muka
yaitu dengan memaparkan materi dan diskusi. Kegiatan masyarakat ini berjalan
dengan baik yang diikuti oleh guru-guru KB TK Gugus 7 Kecamatan Kasihan bantul
Yogyakarta berjumlah 29 peserta. Kegiatan dilaksakan di Audotorium Universitas
PGRI Yogyakarta pada tanggal 8 Nopember s.d 7 Desember 2023 selama satu bulan,
pembahasan materi dilaksanakan selama satu hari dan untuk pendampingan waktu
yang diberikan selama 1 bulan.
Materi yang disampaikan pada pelatihan adalah tentang konsep dan ciri metode
saintifik, tahapan pendekatan saintifik (mengamati, menanya, mengumpulkan
informasi, mengososiasi, mengomunikasikan), peran guru dan pengelola dalam
penerapan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang
dianjurkan untuk diterapkan pada pelaksanaan kurikulum 2013. Namun pada
kenyatannya, belum semua sekolah dapat melaksanakan kurikulum 2013. Walaupun
proses belajar tidak terlepas dari kegiatan menghafal, namun pengetahuan tentang
proses dalam pencapaian hasil akan lebih melekat pada ingatan siswa. Berdasarkan
penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan
saintifik memiliki karateristik sebagai berikut: (1) berpusat pada siswa; (2) melibatkan
keterampilan proses sains dalam mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip; (3)
melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan
intelek, khususnya keterampilan berfikir tingkat tinggi siswa. (4) dapat
mengembangkan karakter siswa. (Hosnan, 2014). Hasil pengabdian pada sajian data
atau diskripsi hasil pengabdian siklus 1 perencanaan siklus 1, kegiatan pengabdian
direncanakan sebagai berikut: Pengamatan pelatihan penerapan pembelajaran
saintifik pada siklus 1 selama mengikuti pelatihan dilakukan dengan meperhatikan
aspek-aspek sebagai berikut: a). Tingkat perhatian guru-guru PAUD pada kegiatan
pelatihan. b). Keberanian mengemukakan pendapat selama pelatihan. c). Keberanian
mengajukan pertanyaan. d). Keberanian menjawab pertanyaan e) Kemampuan
bekerjasama dalam tugas kelompok. f). Ketuntasan menyelesaikan tugas g)
Keberanian tampil presentasi di depan para peserta pelatihan. h) Hasil penerapan
pembelajaran secara global.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 90-102
E-ISSN: 3047-2474 (online) 98
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Tabel 1. Hasil observasi keaktifan guru mengikuti pelatihan pada tindakan siklus 1
dan siklus II
Kategorisasi
Siklus 1
Siklus 2
Jumlah
%
Jumlah
%
Kurang aktif
0
0,0%
0
0,0%
Cukup aktif
6
20,7%
0
0,0%
Aktif
10
34,5%
8
27,6%
Sangat aktif
(baik sekali)
13
44,8%
21
72,4%
29
100%
29
100%
Berdasarkan hasil observasi keaktifan guru pada tabel 1 tindakan 1 di atas dapat
diketahui bahwa sebagian guru sudah tergolong sangat aktif dalam mengikuti
pelatihan yaitu sebanyak 44,8% dan terdapat 34,5% guru dalam kategori aktif. Namun
masih terdapat 20,7% guru yang tergolong cukup aktif dalam mengikuti pelatihan.
Dalam kriteria pencapaian keberhasilan yaitu minimal 80% peserta bisa mengikuti
kegiatan pelatihan secara aktif dan sangat aktif.
Hasil siklus ke II diketahui mengalami peningkatan bahwa sebanyak 72,4 % guru
tergolong sangat aktif dalam mengikuti pelatihan. Sebanyak 27,6% guru tergolong
aktif dalam mengikuti pelatihan, sedangkan yang cukup aktif dan kurang aktif sudah
tidak kelihatan. Dalam kriteria pencapaian keberhasilan yaitu 80% peserta mengikuti
kegiatan pelatihan secara aktif dan sangat aktif, namun siklus II keaktifan guru
minimal aktif sudah mencapai 100% (aktif dan sangat aktif).
Gambar Tabel 2 Daftar rekap kategorisasi penilaian kualitas pemahaman guru dalam
menerapkan pembelajaran sainstifik di sekolah siklus I dan siklus 2
Kategorisasi
Siklus 1
Kategorisasi
Siklus 2
Jumlah
%
Jumlah
%
Kurang baik
0
0,00%
Kurang baik
0
0,00%
Cukup baik
14
48,27%
Cukup baik
0
0,00%
Baik
15
51,72%
Baik
5
17,24%
Sangat baik
0
0,00%
Sangat baik
24
82,75%
Siklus 1 Siklus 2
0 0.00% 0 0 0.00%
6 20.70%
0 0 0.00%
10 34.50%
0
8 27.60%
13 44.80%
0
21
72.40%
29 100% 29 100%
Hasil observasi keaktifan guru mengikuti pelatihan pada
tindakan siklus 1 dan siklus II
Kurang aktif Cukup aktif Aktif Sangat aktif (baik sekali)
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 90-102
E-ISSN: 3047-2474 (online) 99
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
29
100%
29
100%
Tabel 2 rekap kategorisasi penilaian kualitas pemahaman guru dalam
menerapkan pembelajaran sainstifik di sekolah siklus I kurang baik sebanyak 0,
cukup baik 48,27%, Kategori baik 51,72%, sedangkan sangat baik 0. Lebih rinci
prosentase guru yang kurang baik sudah tidak ada sedangkan pada siklus 2 bahwa
penilaian kualitas pemahaman guru dalam penerapan pembelajaran saintifik di
sekolah sebanyak 29 peserta 100% sudah baik dan sangat baik.
Sehingga Pelaksanaan pelatihan pemahaman guru dalam penerapan
pembelajaran saintifik dan penataan lingkungan untuk menfasilitasi merdeka belajar
anak berhasil tercapai dilihat dari kategorisasi penilaian 100% guru sudah baik dan
sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan tingginya antusias peserta pelatihan dalam
berdiskusi dan bertanya tentang langkah-langkah dalam pendekatan saintifik dan
berbagai strategi yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. Selanjutnya,
permasalahan lain yang dihadapi oleh guru adalah bervariasinya karateristik siswa
yang membuat guru harus lebih kreatif dalam menfasilitasi siswa dalam
pembelajaran. Hal ini terungkap dalam sesi diskusi, dimana sebagian besar peserta
pelatihan mengeluhkan adanya siswa yang membutuhkan perhatian lebih sehingga
strategi pembelajaran yang telah direncanakan tidak dapat diterapkan dengan
optimal. Untuk mengatasi hal tersebut, disetiap akhir dari materi yang disampaikan
pada saat pelatihan, ditampilkan contoh-contoh praktik yang berkaitan dengan
kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan saintifik. Hal ini
bertujuan untuk memberikan gambaran nyata kepada peserta pelatihan tentang
penerapan strategi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik. Melihat
respon dan semangat peserta pelatihan, maka pelatihan ini sudah cukup membantu
dalam membuka wawasan tentang penerapan strategi pembelajaran dengan saintifik.
Oleh kareana itu diharapkan agar guru-guru siap menerapakan strategi dengan
Siklus 1 Siklus 2
0 0.00% 0 0 0.00%
14 48.27%
0 0 0.00%
15 51.72%
0
5 17.24%
0 0.00%
0
24 82.75%
29 100% 29 100%
Gambar 2 kategorisasi penilaian kualitas pemahaman guru
dalam menerapkan pembelajaran sainstifik di sekolah siklus I
dan siklus 2
Kurang baik Cukup baik Baik Sangat baik
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 90-102
E-ISSN: 3047-2474 (online) 100
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
pendekatan saintifik ketika suatu saat nanti masing-masing sekolah diwajibkan untuk
menerapkan kurikulum 2013. Hal ini tergambar dari pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan oleh peserta pelatihan dan juga diskusi mereka dalam menjawab pertanyaan
rekan sejawat.
Dengan demikian pendampingan yang berkesinambungan diharapkan dapat
dilaksanakan dengan baik sehingga mutu Pendidikan dan Pendidikan di Indonesia
dapat terus meningkat. Tingginya antusias peserta pelatihan dalam mempelajari
pendekatan saintifik diharapkan menjadi titik tolak awal peningkatan keprofesional
guru. Pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang menitik
beratkan proses pencarian ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, pada dasarnya tidak
hanya kurikulum 2013 yang harus dan diperbolehkan menerapkan pendekatan
saintifik melainkan semua kurikulum. Penerapan metode saintifik mempermudah
siswa dalam memahami makna dari pengetahuan yang mereka pelajari sehingga
siswa tidak hanya diajarkan menghafal konsep tetapi diajarkan bagaimana caranya
mendapatkan suatu konsep atau teori. (Budiyanto et al., 2016).
Simpulan dan Rekomendasi
Simpulan
Berdasarkan hasil kegiatan pelatihan dan pendampingan dengan judul
“Pelatihan penerapkan pembelajaran sainstifik dan penataan lingkungan untuk
menfasilitasi merdeka belajar Anak usia dini, sebagaimana telah dipaparkan, maka
penulis menyimpulkan bahwa pelatihan dan pendampingan meningkatkan
kemampuan guru PAUD dalam menstimulasi aspek perkembangan anak. Dengan
demikian guru-guru mampu menumbuhkan kreativitas peserta didik dalam
merancang sebuah strategi dan media pembelajaran yang menarik bagi anak usia dini.
Guru-guru telah mampu mengaplikasikan hasil pelatihan dalam pembelajaran
masing-masing sekolah. Penataan lingkungan belajar dalam menfasilitasi merdeka
belajar anak sudah baik. Hasil pelatihan dan pendampingan menunjukkan bahwa
kopetensi guru-guru PAUD di KB TK Gugus 7 Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul
Yogyakarta meningkat setelah mengikuti kegiatan pelatihan dan pendampingan
Rekomendasi
Hendaknya Guru-guru PAUD mulai menerapkan model pembelajaran saintifik
agar siswa terbiasa berfikir, bersikap, serta berkarya dengan menggunakan kaidah
dan langkah ilmiah. Proses pembelajaran menjadi lebih penting dibandingkan hasil
pembelajaran. Siswa mengalami lebih bermakna dibandingkan hanya memahami.
Ucapan Terimakasih
Tim Pengabdi mengucapkan ucapan terimakasih kepada Yth: Rektor Universitas
PGRI yang telah menfasilitasi tempat dan sarana prasarana, Guru-guru KB TK Gugus
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 90-102
E-ISSN: 3047-2474 (online) 101
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
7 Kecamatan Kasihan Bantul Yogyakarta yang telah antusias mengukuti kegiatana
pelatihan dan Teman-teman Mahasiswa yang telah membantu dalam persiapan
pelaksanaan pelatihan.
Daftar Pustaka
Agus, M., Budiyanto, K., Waluyo, L., & Mokhtar, A. (2016). Implementation of Scientific
Approach in Education in Primary Education in Malang (Vol. 13, Issue 1).
Alam, P., Mis, D. I., & Mukminin, I. (2022). 989-Article_Text-4629-1-10-20211217[1].
13(1), 127140.
Annur, S., Oktarina, W., Divy, E. O., Wachyudianta, B., Lestari, C., Khumaidi, I.,
Hepriyanti, L., & Astuti, S. W. (2023). Merdeka Belajar Di Era Digital Di
Madrasah Aliyah (MA) Muhajirin Tugumulyo Musi Rawas. Community
Depelopment Journal, 4(2), 32663270.
Daga, A. T. (2021). Makna Merdeka Belajar dan Penguatan Peran Guru di Sekolah
Dasar. Jurnal Educatio FKIP UNMA, 7(3), 10751090.
https://doi.org/10.31949/educatio.v7i3.1279
Deden. (2015). Prosiding Seminar Nasional 9 Mei 2015 PENERAPAN PENDEKATAN
SAINTIFIK DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI
PADA MATA PELAJARAN EKONOMI Deden. Penerapan Pendekatan Saintifik
Denganmenggunakan Model Pembelajaran Inkuiri Pada Mata Pelajaran Ekonomi, 98
107.
Fajar, T. (2020). Guru Penggerak. In Guru Binar.
Lingkungan, P., Di, P., Dharma, T. K., Desa Cangkringsari, W., Nisak, N. M., Pd, S.,
Pd, I., Noviansyah, H. A., Astaningrum, R. Y., Hakim, M. R., Faramida, S. A., &
Muhammad, F. (2022). Teaching Environment Management at Dharma Wanita
Kindergarten in Cangkringsari Village. 0672(c), 10041007.
Lingkungan, P., & Outdoor, B. (2023). Jurnal PENA PAUD Volume 4 Issue 1 ( 2023 )
Pages 49-58. 4(1), 4958.
Mufida, A. Y. (2023). Indonesian Journal of Early Childhood Education Mewujudkan
Lingkungan Belajar Aman Pada Satuan PAUD Perspektif “ Seri 6 PAUD Berkualitas (
KEMENDIKBUDRISTEK ).” 6, 95112.
Muhammad Syaifuddin Zuhri, & Muhammad Nasir. (2023). Analisis Kurikulum
Merdeka Berbasis Pembelajaran Berdiferensiasi Jenjang Pendidikan Anak Usia
Dini. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini, 5(2), 328
334. https://doi.org/10.35473/ijec.v5i1.2384
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 90-102
E-ISSN: 3047-2474 (online) 102
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Musa, M. I., & Hl, H. (2019). Pelatihan Penerapan Model Pembelajaran Saintifik pada RPP
bagi Guru TK / PAUD Kec . Patallasang Gowa. 860864.
Saputra, R., & Susanto, M. R. (2023). Tantangan Guru Penggerak Dalam Mengerjakan
Pembelajaran Muatan Seni Budaya Dan Prakarya Sekolah Dasar Di
Gunungkidul. Cilpa: Jurnal Pendidikan Seni Rupa, 8(2), 1120.
https://doi.org/10.30738/cilpa.v8i2.14889
Saputri, D. I. (2022). Pentingnya Peran guru profesional dalam meningkatkan
pendidikan. Pusat Publikasi S-1 Pendidikan IPS FKIP ULM, 112.
Wiyani, N. A. (2022). Konsep Merdeka Belajar bagi Anak Usia Dini. Al-Mudarris, 5(1),
7998.
Yulia, N. K. T., & Tholibah, I. (2022). Manajemen Desain Penataan Lingkungan
Berwawasan Green School di Raudlatul Athfal Raudlatul Ulum Ganjaran
Gondanglegi Malang. Tinta Emas: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 1(2),
149166. https://doi.org/10.35878/tintaemas.v1i2.528
Zantika, D., Kusumawardani, R., & Rusdiyani, I. (2024). Penataan Lingkungan
Bermain dalam Merdeka Belajar pada Anak Usia 4-5 Tahun. Jurnal Basicedu, 8(2),
11211130. https://journal.uii.ac.id/ajie/article/view/971