Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 103-109
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 21/09/2024 Selesai revisi: 15/10/2024 Disetujui: 27/10/2024 Diterbitkan: 01/11/2024
103
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Pendampingan dan Pemulihan Pasca Erupsi Gunung Ruang dengan
Kegiatan Kreatif Ikebana pada Masyarakat Tagulandang
Amelia G.Y Sompotan
1
, Sherly F Lensun
2
1,2
Japanese Language Education, Universitas Negeri manado, Manado, Indonesia
e-mail:
1
ameliasompotan@unima.ac.id,
2
sherlylensun@unima.ac.id
Abstrak
Abstrak Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk pendampingan kepada
masyarakat khususnya Masyarakat desa Tagulandang yang mengalami bencana
erupsi gunung ruang dengan integrasi kegiatan kreatif seni merangkai bunga ala
Jepang Ikebana. Ikébana (生花) adalah seni merangkai bunga yang memanfaatkan
berbagai jenis bunga, rumput-rumputan dan tanaman dengan tujuan untuk
dinikmati keindahannya. Hasil dari kegiatan pengabdian ini memberikan dampak
baik bagi masyarakat terutama untuk (1) Pemulihan kesehatan mental mereka, Seni
merangkai Ikebana tak sekadar merangkai bunga tapi seni ini mampu
merelaksasi diri dan menyegarkan otak dan menyeimbangkan kebutuhan tubuh. (2)
Menumbuhkan ketangguhan dan semangat sehingga mereka merasa bahwa beban
mereka lebih berkurang dan mereka bisa melanjutkan kehidupan mereka dengan
semangat yang baru.
Kata Kunci: erupsi, gunung Bahasa Jepang, masyarakat, ikebana
Abstract
The purpose of this service activity is to provide assistance to the community, especially the
Tagulandang village community who experienced the mountain eruption disaster with the
integration of creative activities in the Japanese art of Ikebana. Ikébana (
生花
) is the art of
flower arrangement that utilizes various types of flowers, grasses and plants with the aim of
enjoying their beauty. The results of this service activity have a good impact on the
community, especially for (1) restoring their mental health, the art of Ikebana is not just
arranging flowers but this art is able to relax and refresh the brain and balance the needs of
the body. (2) Fostering resilience and spirit so that they feel that their burden is lessened and
they can continue their lives with renewed vigor.
Keywords: eruption, mountain Japanese, community, ikebana
Pendahuluan
Gunung Ruang yang terletak di kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara Kembali
erupsi pada tanggal 30 maret 2024. Gunung meletus merupakan peristiwa yang
terjadi akibat endapan magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 1, November 2024, page: 103-109
E-ISSN: 3047-2474 (online) 104
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
yang bertekanan tinngi. Erupsi atau letusan gunung berapi merupakan peristiwa
keluarnya magma dipermukaan bumi. Working group psikologi bencana
memfokuskan kajian pada dampak bencana dan proses pemulihan dalam terkait
aspek psikologis maupun social. Dampak bencana tidak hanya fisik sehingga aspek
psikologis-sosial sekarang ini mulai mendapat perhatian dalam penanggulangan
bencana secara keseluruhan. Letusan gunung berapi menghasi lkan efek berbahaya
bagi lingkungan, iklim, dan kesehatan orang yang terpapar, dan terkait dengan
penurunan kondisi sosial dan ekonomi.
Gambar. 1 Erupsi Gunung Ruang
Gunung berapi menimbulkan ancaman bagi hampir setengah miliar orang; saat
ini ada kurang lebih 500 gunung berapi aktif di bumi, dan setiap tahun terjadi 10
sampai 40 letusan gunung berapi. Letusan gunung berapi menghasi lkan efek
berbahaya bagi lingkungan, iklim, dan kesehatan orang yang terpapar, dan terkait
dengan penurunan kondisi sosial dan ekonomi. Seiring dengan magma dan uap
(H2O), gas berikut muncul di lingkungan: karbon dioksida (CO2) dan sulfur
dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), hidrogen sulfida (H2S), karbon sulfida (CS),
karbon disulfida (CS2), hidrogen klorida (HCl), hidrogen (H2), metana (CH4),
hidrogen fluorida (HF), hidrogen bromida (HBr) dan berbagai senyawa organik,
serta logam berat (merkuri, timbal, emas). Efek tergantung pada jarak dari gunung
berapi, pada viskositas magma, dan pada konsentrasi gas.
Dampak bencana alam yang dahsyat dapat membuat masyarakat bergulat
dengan trauma yang mendalam dan tekanan psikologis. Bagi penduduk
Tagulandang, letusan Gunung Ruang memberikan tantangan yang sangat besar
karena mereka harus menghadapi tugas yang berat untuk pulih dari peristiwa
traumatis tersebut. Setelah bencana seperti itu, sangat penting untuk menyediakan
intervensi psikososial yang efektif yang memberdayakan individu dan masyarakat
untuk menghadapi trauma mereka dan menumbuhkan ketangguhan.
Berdasarkan permasalahan yang dijabarkan di atas, maka pengabdian
masyarakat ini dikhususkan untuk pendampingan dan pemulihan trauma pasca
erupsi Gunung Ruang pada masyarakat Desa Tagulandang dan sekitarnya dengan
mengadakan kegiatan kreatif tentang seni merangkai Bunga dari Jepang yang
disebut “Ikebana”. Jepang dikenal memiliki budaya tradisional yang menarik. Orang
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 1, November 2024, page: 103-109
E-ISSN: 3047-2474 (online) 105
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Jepang sangat menghargai alam, yang berdampak pada budaya mereka yang
beragam. Ikebana adalah salah satu budaya tradisional Jepang yang menarik. Kata
ikebana berasal dari dua kanji: ike () yang berarti hidup dan hana (). Oleh karena
itu, rangkaian bunga ikebana adalah cara untuk membuat tampilan yang hidup.
(Aminudin, 1991:91) merangkai bunga untuk membuat karangan yang indah disebut
seni ikebana. Rangkaian ikebana terdiri dari berbagai jenis tanaman, termasuk
bunga, ranting, daun, hingga rerumputan. Masyarakat Jepang melihat ikebana
sebagai simbol filosofis yang melambangkan hubungan antara langit, bumi, dan
manusia. Prinsip ikebana yang paling mudah dipahami adalah rangkaian bunganya
dibagi menjadi tiga bagian.
Metode
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan di desa
Tagulandang Kabupaten provinsi Sulawesi Utara, Indonesia, dengan ibu
kota Ondong Siau pada tanggal 19 dan 20 September 2024.
Metode kegiatan yang dilakukan adalah metode mendengar pemaparan dari
nara sumber, tanya jawab dan Latihan membuat rangkaian bunga ikebana sesuai
dengan tiga gaya (style) di antaranya:
1. Gaya rikka
Rikka adalah gaya tradisional yang memiliki bentuk rumit, megah,
mencerminkan kebesaran alam, dan banyak digunakan dalam upacara
keagamaan. Gaya yang berkembang sekitar awal abad ke-16 ini juga
mencerminkan simbol kehidupan yang harmonis.
2. Gaya shoka
Shoka adalah gaya rangkaian bunga yang sederhana, tidak terlalu formal tetapi
masih memiliki karakteristik tradisional. Gaya ini difokuskan pada bentuk asli
tumbuhan. Rangkaian bunga gaya ini berbentuk tiga garis komposisi
membentuk segitiga tidak sama kaki. Dikembangkan oleh Ikenobo Senjo seorang
pendeta kepala kuil Rokhahindo di Kyoto. Gaya ini mendapat pengaruh Barat,
sehingga berkembang pula rangkaian nageire yang dapat diartikan dimasukan
(rangkaian dengan vas tinggi dengan rangkaian hampir bebas) dan moribana
(rangkaian menggunakan wadah rendah dan mulut lebar).
3. Gaya jiyuka
Jiyuka adalah rangkaian ikebana yang bersifat bebas (free style) dimana
rangkaiannya berdasarkan kretivitas serta imajinasi dari pembuat. Dalam
rangkaian bunga gaya ini, kawat, logam, dan batu digunakan secara menonjol.
Gaya ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu rangkaian yang dirangkai secara
alami dan rangkaian yang dirangkai secara abstrak.
Hasil dan Pembahasan
Kegiatan Ikebana dilaksanakan di desa Tagulandang Kabupaten Sitaro tanggal
19 dan 20 September 2024. Terlebih dahulu diberikan penjelasan tentang apa itu
Ikebana. Narasumber adalah dosen-dosen prodi S1 Prodi Pendidikan bahasa Jepang,
penyampaian dalam bentuk power point. Narasumber juga memberikan penjelasan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 1, November 2024, page: 103-109
E-ISSN: 3047-2474 (online) 106
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
tentang alat-alat yang dipakai dalam merangkai bunga beserta fungsinya. Setelah itu
diperagakan cara membuat Ikebana. Setiap peserta diberikan sejumlah bunga hidup,
vas, oasis, gunting/cutter, dan kawat.
Gambar. 2 Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat
Para peserta dapat mempraktekkan gaya merangkai bunga sesuai dengan
pengantar yang telah diberikan sebelumnya dengan bunga yang sudah disiapkan.
Peserta yang telah selesai merangkai bunga, mendapatkan penilaian dari Nrasumber
dan mendapat masukan jika masih ditemui kekurangan pada hasil merangkai
bunga. Hasil dari rangkaian bunga yang mereka lakukan dapat dibawa pulang.
Berikut ini adalah materi yang diberikan:
Merangkai bunga untuk membuat karangan yang indah disebut seni ikebana.
Rangkaian ikebana terdiri dari berbagai jenis tanaman, termasuk bunga, ranting,
daun, hingga rerumputan. Masyarakat Jepang melihat ikebana sebagai simbol
filosofis yang melambangkan hubungan antara langit, bumi, dan manusia.
Prinsip dasar ikebana yang paling mudah dipahami adalah bahwa rangkaian
bunganya terdiri dari tiga komponen: "", yang berarti langit, "", yang berarti
manusia, dan "", yang berarti tanah. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa seni
ikebana juga dipengaruhi oleh elemen keagamaan, yang menyebabkan banyak
rangkaian ikebana yang melambangkan kehidupan. Oleh karena itu, seni ini
merupakan gabungan dari teknik, kreativitas manusia, dan alam. Untuk merangkai
ikebana, Anda membutuhkan ketekunan dan fokus yang tinggi.
Ikébana (生花) adalah seni merangkai bunga yang memanfaatkan berbagai
jenis bunga, rumput-rumputan dan tanaman dengan tujuan untuk dinikmati
keindahannya. Ikebana berasal dari Jepang tetapi telah meluas ke seluruh dunia.
Dalam bahasa Jepang, Ikebana juga dikenal dengan istilah kadō (華道, ka, bunga; do,
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 1, November 2024, page: 103-109
E-ISSN: 3047-2474 (online) 107
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
jalan kehidupan) yang lebih menekankan pada aspek seni untuk mencapai
kesempurnaan dalam merangkai bunga. Pada abad ke-15, ikebana disebut dengan
tatebana (立て花), yang memiliki arti bunga yang berdiri. Pada abad ke-17,
berkembang menjadi gaya rikka (立花), yang merupakan rangkaian bunga yang
lebih rumit, lebih kompleks, dan lebih indah daripada tatebana. Seorang biksu
Buddha dari Sekolah Ikenobo membuat gaya rikka pertama, yang merujuk pada
Gunung Meru, yang dianggap sebagai pusat semesta dalam agama Buddha.
Kemudian, gaya rangkaian bunga yang dipengaruhi oleh upacara minum teh
(chanoyu), yang disebut chabana, yang berarti bunga teh, muncul. Ini tidak terlepas
dari fungsi ikebana yang pada masa itu digunakan sebagai dekorasi ruangan minum
teh. Kemudian tidak lama setelah itu muncul gaya lain yang sangat sederhana, yaitu
nageire yang dapat diartikan melemparkan atau membuang. Nageire ini merupakan
rangkaian bunga bergaya bebas.
Restorasi meiji membawa banyak budaya Barat ke Jepang. Selain itu, itu
berdampak pada banyak budaya dan seni Jepang, termasuk ikebana. Moribana
adalah aliran baru yang muncul. Sebagai tanggapan terhadap bunga-bunga baru
yang dibawa orang Barat ke Jepang, gaya ini lebih menekankan warna dan
pertumbuhan tanaman. Seiring berjalannya waktu, seni ikebana tidak hanya
dilakukan oleh kaum biksu dan bangsawan, tetapi sekarang dilakukan oleh banyak
orang di seluruh masyarakat Jepang. Karena itu, banyak sekolah yang mengajarkan
teknik merangkai bunga ikebana, dengan Ikenobo, Sogetsu, dan Ohara menjadi yang
paling populer. Masing-masing dari sekolah tersebut juga memiliki cara yang unik
untuk merangkai ikebana.
Di dalam Ikebana terdapat berbagai macam aliran yang masing-masing
mempunyai cara tersendiri dalam merangkai berbagai jenis bunga. Aliran tertentu
mengharuskan orang melihat rangkaian bunga tepat dari bagian depan, sedangkan
aliran lain mengharuskan orang melihat rangkaian bunga yang berbentuk tiga
dimensi sebagai benda dua dimensi saja. Pada umumnya, bunga yang dirangkai
dengan teknik merangkai dari Barat (flower arrangement) terlihat sama indahnya dari
berbagai sudut pandang secara tiga dimensi dan tidak perlu harus dilihat dari
bagian depan.
Berbeda dengan seni merangkai bunga dari Barat yang bersifat dekoratif,
Ikebana berusaha menciptakan harmoni dalam bentuk linier, ritme dan warna.
Ikebana tidak mementingkan keindahan bunga tetapi pada aspek pengaturannya
menurut garis linier. Bentuk-bentuk dalam Ikebana didasarkan tiga titik yang
mewakili langit, bumi, dan manusia.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 1, November 2024, page: 103-109
E-ISSN: 3047-2474 (online) 108
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Gambar. 3 Ikebana Fujin
Awal mula ikebana sebenarnya tradisi mempersembahkan bunga di kuil Budha
yang ada di Jepang. Katanya sih, ikebana ini berkembang bersamaan dengan
perkembangan kepercayaan Budha yang ada di Jepang sekitar abad ke-6. Lalu ada
penelitian yang mengatakan, bahwa ikebana berasal dari tradisi animisme orang
jaman kuno yang menyusun kembali tanaman yang sudah di petik dari alam liar.
Animisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda memiliki jiwa dan roh yang
harus di hormati.
Ikebana mengandung nilai. Pertama, nilai kehidupan, yang diwakili dalam
simbol harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan; kedua, nilai pengetahun, yang
diwakili dalam pemahaman yang lebih mendalam tentang pola alam; dan ketiga,
nilai keindahan, yang diwakili dalam ikebana melalui keindahan bentuk dan isi. Jika
dilihat dari segi bentuknya, itu adalah representasi dari konsep estetika timur dalam
bentuk yang sederhana. Dalam pengertiannya, keindahan isi menunjukkan
hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Keempat, nilai kepribadian
ikebana membedakannya dari seni merangkai bunga lainnya.
Menurut Yuana (2019), ikebana memiliki filosofi hidup, yang berarti bahwa
penuh adalah kosong dan kosong adalah penuh. Jika Anda melihat rangkaian
ikebana, Anda sering melihat ruang kosong di antara ranting, bunga, dan dedaunan.
Ini mewakili filosofi kosong dan penuh. Jika rangkaian penuh dengan bunga hingga
permukaan vas tidak terlihat, itu benar-benar rangkaian kosong. Tidak ada ruang
untuk bernapas dan menikmati keindahan antara cabang. Namun, jika Anda
memperhatikan lebih jauh, keindahan sebenarnya terpancar dari batang dan ranting
bunga, bukan dari bunga-bunga yang sudah memiliki aspek yang cantik. Oleh
karena itu, bunga tidak hanya berfungsi untuk menimbulkan efek indah, tetapi
hanya untuk menambah keindahan atau menarik perhatian. Karena kehidupan
bunga yang terbatas dan mewakili musim, bunga juga dianggap sebagai
penghargaan terhadap waktu, seperti di kebanyakan budaya lainnya. Rangkaian
ikebana harus tetap terlihat menyatu di antara bagian-bagiannya, meskipun ada
ruang kosong. Hal ini menunjukkan bahwa ruang kosong menunjukkan sesuatu
yang sangat indah. Orang juga belajar dari Ikebana.
Simpulan dan Rekomendasi
Kegiatan bermain memiliki peran yang sangat penting dalam proses trauma
healing bagi anak-anak pasca erupsi Gunung Ruang di Kabupaten Sitaro. Melalui
kegiatan Ikebana ini : (1) seseorang dapat dapat mengekspresikan perasaan
mereka,dalam membuat macam-macam rangkaian bunga Ikebana. Masyarakat juga
boleh belajar tentang nilai-nilai dalam Ikebana Pertama, nilai kehidupan, yang
diwakili dalam simbol harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan; kedua, nilai
pengetahun, yang diwakili dalam pemahaman yang lebih mendalam tentang pola
alam; dan ketiga, nilai keindahan, yang diwakili dalam ikebana melalui keindahan
bentuk dan isi. Dalam hal ini terjadi pemulihan kesehatan mental mereka, Seni
merangkai Ikebana tak sekadar merangkai bunga tapi seni ini mampu
merelaksasi diri dan menyegarkan otak dan menyeimbangkan kebutuhan tubuh.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 1, November 2024, page: 103-109
E-ISSN: 3047-2474 (online) 109
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
(2) Menumbuhkan ketangguhan dan semangat sehingga mereka merasa bahwa
beban mereka lebih berkurang dan mereka bisa melanjutkan kehidupan mereka
dengan semangat yang baru.
Besarnya manfaat dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat
menjadi contoh atau panduan untuk kegiatan pengabdian dengan mengadakan
pendampingan untuk para korban bencana karena bermanfaat untuk pemulihan
mental korban, dan juga kegiatan pengabdian ini bisa berkesinambungan program
kegiatan pendampingan masyarakat.
Daftar Pustaka
Karimah, Resa. 2015. Trauma Healing Oleh Muhammadiyah Disaster Management
Center Untuk Anak Korban Bencana. Skripsi. Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga Yogyakarta.
Martam, Irma S. 2009. Mengenali Trauma Pasca Bencana.
http://disasterchannel.co/wp-content/uploads/2015/06/news_letter_14.pdf,
Inoue, Osamu. (2018). Theory of Time in Ikebana. International Journal of Ikebana
Studies. 1-3.
Keiko, Kubo. 2006. Keiko’s Ikebana A Contemporary Appoarch to The Traditional
Japanese Art of Flower Arranging. North Clarendon: Tuttle Publishing.
Yuana, Cuk. (2019). Makna Ikebana Bagi Masyarakat Jepang. Mezuraashii, 1(2), 27-44