Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 110-117
E-ISSN: 3047-2474 (online) 113
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
bermain tidak hanya dirasakan ketika dilakukan bersama sekelompok teman, namun
bermain sendiri juga dapat memberikan manfaat tersendiri bagi anak-anak untuk
menyisipkan unsur edukasi dalam setiap kegiatan bermain anak. Tanpa disadari
anak-anak, kegiatan bermain yang anak-anak lakukan dapat memberikan suatu
penilaian kepada pendidik atau orangtua. Sampai ditahap manakah perkembangan
anak tersebut? Penilaian tersebut, dapat dilihat ketika anak-anak sedang asyik
bermain dan tanpa disadari oleh anak bahwa ia sedang diamati proses tumbuh
kembangnya.
Bermain adalah hak setiap anak. Bermain merupakan lahan anak-anak
dalammengekspresikan segala bentuk tingkah laku yang menyenangkan dan tanpa
paksaan. Pada mulanya, bermain dianggap sebagai kegiatan yang dipandang
sebelah mata. Awalnya kegiatan bermain belum mendapat perhatian khusus dari
para ahli ilmu jiwa, mengingat masih kurangnya pengetahuan tentang psikologi
perkembangan anak dan kurangnya perhatian terhadap perkembangan anak pada
masa lalu (Sugianto 1995:4). Namun, dengan kemajuan teknologi dan dukungan
hasil penelitian mutakhir menjadikan kegiatan bermain menempati urutan wahid
pada kegiatan untuk anak-anak. Kegiatan bermain selalu kita temui dimana ada
anak-anak, baik disekolah, di rumah, maupun di tempat fasilitas umum. Anak-anak
dan bermain bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Anak-anak tak akan
lepas dengan kegiatan bermain dan bermain tidak akan terjadi ketika tidak ada anak-
anak yang ingin bersendau gurau. Bagi orang dewasa kegiatan bermain yang
dilakukan anak-anak merupakan hal sepele dan membuang waktu. Namun, tidak
untuk anak-anak, dengan bermain mereka dapat mengembangkan aspek sosial,
membangun kreativitas, serta mengasah kemampuan fikir dan kebahasaan anak
dalam berkomunikasi. Melalui bermain pula anak memahami kaitan antara dirinya
dan lingkungan sosialnya (Sugianto 1995: 11).
Salah satu metode yang populer adalah penggunaan permainan kreatif, di
mana anak-anak diajak untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang merangsang
imajinasi dan kreativitas mereka. Menurut Morrison (2012), permainan kreatif dapat
membantu anak-anak mengekspresikan diri dan membangun keterampilan sosial
yang penting. Dalam konteks pasca bencana, kegiatan bermain dapat mencakup
berbagai aktivitas, seperti menggambar, bercerita, dan permainan kelompok.
Misalnya, dalam kegiatan menggambar, anak-anak dapat diminta untuk
menggambarkan perasaan mereka tentang pengalaman bencana. Aktivitas ini tidak
hanya memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan
mereka, tetapi juga memungkinkan pendamping untuk memahami lebih baik apa
yang mereka alami.
Selain itu, permainan kelompok dapat membantu anak-anak membangun
kembali hubungan sosial yang mungkin terganggu akibat trauma. Menurut
Mendatu (2010), interaksi sosial yang positif dapat membantu anak-anak merasa
lebih aman dan mendukung proses pemulihan mereka. Dengan bermain bersama,
anak-anak dapat belajar untuk saling mendukung dan memahami satu sama lain,
yang sangat penting dalam konteks pemulihan pasca bencana. Penting juga untuk
melibatkan elemen edukasi dalam kegiatan bermain. Sebagai contoh, melalui
permainan yang mengajarkan tentang kebencanaan, anak-anak dapat belajar tentang