Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 110-117
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 21/09/2024 – Selesai revisi: 15/10/2024 – Disetujui: 27/10/2024 – Diterbitkan: 1/11/2024
110
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Trauma Healing Kegiatan Bermain pada Anak Pasca Erupsi Gunung
Ruang Kabupaten Sitaro
Susanti Ch. Aror
1*
, Sherly F Lensun
2
1,2
Japanese Language Education, Universitas Negeri Manado, Manado, Indonesia
e-mail:
1*
susantiaror@unima.ac.id,
2
sherlylensun@unima.ac.id
Abstrak
Gunung Ruang yang terletak di Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara kembali erupsi
pada tanggal 30 maret 2024. Dampak bencana tidak hanya fisik sehingga aspek
psikologis-sosial sekarang ini mulai mendapat perhatian dalam penanggulangan
bencana secara keseluruhan. Letusan gunung berapi menghasilkan efek berbahaya
bagi lingkungan, iklim, dan kesehatan orang yang terpapar, dan terkait dengan
penurunan kondisi sosial dan ekonomi. Tujuan kegiatan yang ingin dicapai melalui
kegiatan pengabdian ini adalah untuk pendampingan kepada masyarakat berupa
kegiatan bermain sebagai metode trauma healing bagi anak-anak pasca erupsi
Gunung Ruang di Kabupaten Sitaro, serta bagaimana pendekatan ini dapat
diimplementasikan secara efektif dalam konteks masyarakat lokal. Melalui kegiatan
ini, anak-anak dapat mengekspresikan perasaan mereka, membangun kembali
kepercayaan diri, dan mengurangi kecemasan yang mereka alami. Selain itu,
dukungan dari orang tua dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan
lingkungan yang aman dan mendukung pemulihan anak-anak. Dengan memahami
dampak psikologis dari bencana dan melibatkan semua pihak dalam proses
pemulihan, kita dapat membantu anak-anak untuk tidak hanya pulih dari trauma,
tetapi juga tumbuh menjadi individu yang lebih kuat dan resilien. Oleh karena itu,
penting untuk terus mengembangkan program-program trauma healing yang
melibatkan kegiatan bermain dan partisipasi aktif dari orang tua serta masyarakat.
Kata Kunci: Erupsi, Gunung, Bahasa Jepang, Terapi, Bermain
Abstract
Mount Ruang, located in Sitaro district, North Sulawesi, erupted again on March 30, 2024.
The impact of disasters is not only physical, so social-psychological aspects are now beginning
to receive attention in overall disaster management. Volcanic eruptions produce harmful
effects on the environment, climate, and health of exposed people, and are associated with a
decline in social and economic conditions. The objectives of this service activity are to provide
assistance to the community in the form of play activities as a trauma healing method for
children after the eruption of Mount Ruang in Sitaro Regency, and how this approach can be
effectively implemented in the context of local communities. Through this activity, children
can express their feelings, rebuild their confidence, and reduce the anxiety they experience. In
addition, support from parents and the community is needed to create a safe and supportive
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 110-117
E-ISSN: 3047-2474 (online) 111
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
environment for children's recovery. By understanding the psychological impact of disasters
and involving all parties in the recovery process, we can help children to not only recover
from trauma, but also grow into stronger and more resilient individuals. Therefore, it is
important to continue developing trauma healing programs that involve play activities and
active participation from parents and communities.
Keywords: Eruption, Mountain, Japan Language, Therapy, Play
Pendahuluan
Erupsi Gunung Ruang yang terjadi di Kabupaten Sitaro membawa dampak
signifikan, terutama bagi anak-anak yang merupakan kelompok rentan. Menurut
data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lebih dari 1.000 anak di
daerah tersebut mengalami trauma akibat bencana ini (Republik Indonesia, 2024).
Trauma yang dialami oleh anak-anak dapat berpengaruh pada perkembangan
psikologis dan emosional mereka, mengganggu proses belajar dan interaksi sosial.
Oleh karena itu, penting untuk melakukan intervensi yang tepat untuk membantu
mereka pulih dari trauma tersebut.
Kegiatan bermain sebagai metode terapi telah terbukti efektif dalam membantu
anak-anak mengatasi trauma. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Karimah
(2015), kegiatan bermain tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga membantu
anak-anak mengekspresikan perasaan mereka. Melalui bermain, anak-anak dapat
mengatasi kecemasan dan ketakutan yang mereka alami pasca bencana. Hal ini
penting untuk mendukung pemulihan psikologis mereka. Dalam konteks pasca
bencana, kegiatan bermain dapat diintegrasikan dengan pendekatan kreatif untuk
menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung. Sebagai contoh, di desa
Tagulandang, kegiatan kreatif terapi bermain dilakukan dengan melibatkan berbagai
elemen seni, seperti menggambar dan bercerita. Kegiatan ini tidak hanya membantu
anak-anak merasa terhibur, tetapi juga memberikan kesempatan bagi mereka untuk
berinteraksi dan membangun kembali kepercayaan diri mereka yang mungkin
hilang akibat pengalaman traumatis. Selain itu, penting untuk melibatkan orang tua
dan masyarakat dalam proses pemulihan anak-anak. Menurut Martam (2009),
dukungan sosial dari orang tua dan komunitas sangat berpengaruh terhadap proses
penyembuhan anak. Oleh karena itu, kegiatan bermain juga harus melibatkan
partisipasi orang tua agar mereka dapat memahami dan mendukung proses
pemulihan anak-anak mereka.
Metode
Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Tagulandang, Kabupaten Sitaro, Provinsi
Sulawesi Utara, Indonesia, dengan Ibukota Ondong Siau pada tanggal 19 dan 20
September 2024. Kegiatan ini juga dilakukan di tempat pengungsian di Balai Kerja
Kota Bitung.
Metode kegiatan bermain dalam trauma healing melibatkan berbagai
pendekatan yang dirancang untuk membantu anak-anak mengatasi pengalaman
traumatis mereka. Pendekatan yang digunakan adalah approche communicative
dengan metode langsung yakni : mendengar rekaman, ceramah, tanya jawab dan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 110-117
E-ISSN: 3047-2474 (online) 112
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
bermain peran dengan menggunakan media dan bahan pelatihan berupa buku
sumber, LCD Projector, dan komputer.
Hasil dan Pembahasan
1. Dampak Psikologis Erupsi Gunung Ruang
Erupsi Gunung Ruang tidak hanya menyebabkan kerugian fisik, tetapi juga
dampak psikologis yang mendalam pada anak-anak. Menurut penelitian yang
dilakukan oleh Mendatu (2010), anak-anak yang mengalami bencana sering kali
mengalami gejala-gejala PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), seperti mimpi buruk,
kecemasan berlebihan, dan kesulitan berkonsentrasi. Data dari BNPB menunjukkan
bahwa sekitar 30% anak-anak yang mengalami bencana menunjukkan tanda-tanda
PTSD dalam jangka waktu panjang (Republik Indonesia, 2007).
Dampak psikologis ini dapat mengganggu perkembangan sosial dan emosional
anak. Anak-anak yang mengalami trauma cenderung menarik diri dari interaksi
sosial, yang dapat menyebabkan isolasi dan kesepian. Hal ini diperparah oleh
kurangnya pemahaman orang tua dan masyarakat tentang trauma yang dialami
anak-anak. Sebuah studi yang dilakukan oleh Putra dan Dwilestari (2013)
menunjukkan bahwa banyak orang tua tidak menyadari bahwa anak-anak mereka
membutuhkan dukungan emosional pasca bencana. Oleh karena itu, penting untuk
memberikan edukasi kepada orang tua dan masyarakat tentang dampak psikologis
bencana dan pentingnya dukungan emosional. Kegiatan bermain dapat menjadi
sarana untuk membangun kesadaran ini. Melalui kegiatan ini, orang tua dapat
belajar untuk memahami perasaan anak-anak mereka dan memberikan dukungan
yang diperlukan. Sebagai contoh, program pelatihan bagi orang tua tentang cara
berkomunikasi dengan anak-anak mereka setelah bencana dapat membantu mereka
lebih peka terhadap kebutuhan emosional anak.
Selain itu, kegiatan bermain juga dapat membantu anak-anak untuk
mengekspresikan perasaan mereka. Melalui permainan, anak-anak dapat
menggambarkan pengalaman traumatis mereka dengan cara yang lebih aman dan
menyenangkan. Hal ini dapat membantu mereka memproses perasaan yang sulit
dan mengurangi kecemasan yang mereka rasakan. Sebuah penelitian oleh
Moeslichatoen (2004) menunjukkan bahwa permainan yang melibatkan bercerita dan
menggambar dapat menjadi media yang efektif untuk mengekspresikan emosi anak-
anak.
Dengan memahami dampak psikologis yang dialami anak-anak pasca erupsi,
kita dapat merancang kegiatan bermain yang lebih efektif dan relevan untuk
mendukung proses pemulihan mereka. Kegiatan ini tidak hanya akan membantu
anak-anak merasa lebih baik, tetapi juga memperkuat ikatan antara mereka dan
orang tua serta komunitas.
2. Permainan Kretif
Bermain merupakan kegiatan yang spontan dilakukan oleh anak (Andayani,
2021). Bermain merupakan kegiatan mengekspresikan diri tanpa paksaan dengan
perasaan senang. Pada anak usia dini, bermain dapat memberikan banyak manfaat
terhadap perkembangannya. Adapun manfaat bermain dapat mengembangkan
aspek moral, motorik, kognitif, bahasa, serta perkembangan sosial anak. Manfaat
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 110-117
E-ISSN: 3047-2474 (online) 113
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
bermain tidak hanya dirasakan ketika dilakukan bersama sekelompok teman, namun
bermain sendiri juga dapat memberikan manfaat tersendiri bagi anak-anak untuk
menyisipkan unsur edukasi dalam setiap kegiatan bermain anak. Tanpa disadari
anak-anak, kegiatan bermain yang anak-anak lakukan dapat memberikan suatu
penilaian kepada pendidik atau orangtua. Sampai ditahap manakah perkembangan
anak tersebut? Penilaian tersebut, dapat dilihat ketika anak-anak sedang asyik
bermain dan tanpa disadari oleh anak bahwa ia sedang diamati proses tumbuh
kembangnya.
Bermain adalah hak setiap anak. Bermain merupakan lahan anak-anak
dalammengekspresikan segala bentuk tingkah laku yang menyenangkan dan tanpa
paksaan. Pada mulanya, bermain dianggap sebagai kegiatan yang dipandang
sebelah mata. Awalnya kegiatan bermain belum mendapat perhatian khusus dari
para ahli ilmu jiwa, mengingat masih kurangnya pengetahuan tentang psikologi
perkembangan anak dan kurangnya perhatian terhadap perkembangan anak pada
masa lalu (Sugianto 1995:4). Namun, dengan kemajuan teknologi dan dukungan
hasil penelitian mutakhir menjadikan kegiatan bermain menempati urutan wahid
pada kegiatan untuk anak-anak. Kegiatan bermain selalu kita temui dimana ada
anak-anak, baik disekolah, di rumah, maupun di tempat fasilitas umum. Anak-anak
dan bermain bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Anak-anak tak akan
lepas dengan kegiatan bermain dan bermain tidak akan terjadi ketika tidak ada anak-
anak yang ingin bersendau gurau. Bagi orang dewasa kegiatan bermain yang
dilakukan anak-anak merupakan hal sepele dan membuang waktu. Namun, tidak
untuk anak-anak, dengan bermain mereka dapat mengembangkan aspek sosial,
membangun kreativitas, serta mengasah kemampuan fikir dan kebahasaan anak
dalam berkomunikasi. Melalui bermain pula anak memahami kaitan antara dirinya
dan lingkungan sosialnya (Sugianto 1995: 11).
Salah satu metode yang populer adalah penggunaan permainan kreatif, di
mana anak-anak diajak untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang merangsang
imajinasi dan kreativitas mereka. Menurut Morrison (2012), permainan kreatif dapat
membantu anak-anak mengekspresikan diri dan membangun keterampilan sosial
yang penting. Dalam konteks pasca bencana, kegiatan bermain dapat mencakup
berbagai aktivitas, seperti menggambar, bercerita, dan permainan kelompok.
Misalnya, dalam kegiatan menggambar, anak-anak dapat diminta untuk
menggambarkan perasaan mereka tentang pengalaman bencana. Aktivitas ini tidak
hanya memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan
mereka, tetapi juga memungkinkan pendamping untuk memahami lebih baik apa
yang mereka alami.
Selain itu, permainan kelompok dapat membantu anak-anak membangun
kembali hubungan sosial yang mungkin terganggu akibat trauma. Menurut
Mendatu (2010), interaksi sosial yang positif dapat membantu anak-anak merasa
lebih aman dan mendukung proses pemulihan mereka. Dengan bermain bersama,
anak-anak dapat belajar untuk saling mendukung dan memahami satu sama lain,
yang sangat penting dalam konteks pemulihan pasca bencana. Penting juga untuk
melibatkan elemen edukasi dalam kegiatan bermain. Sebagai contoh, melalui
permainan yang mengajarkan tentang kebencanaan, anak-anak dapat belajar tentang
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 110-117
E-ISSN: 3047-2474 (online) 114
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
cara menghadapi situasi darurat di masa depan. Hal ini tidak hanya memberikan
rasa aman, tetapi juga membantu mereka merasa lebih siap dan percaya diri. Sebuah
studi oleh Rahayu (2013) menunjukkan bahwa anak-anak yang terlibat dalam
kegiatan edukatif pasca bencana cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik
tentang situasi darurat.
Dengan demikian, metode kegiatan bermain yang dirancang dengan baik dapat
menjadi alat yang efektif dalam proses trauma healing bagi anak-anak pasca erupsi
Gunung Ruang. Melalui pendekatan yang kreatif dan edukatif, anak-anak tidak
hanya dapat mengatasi trauma mereka, tetapi juga mengembangkan keterampilan
sosial dan emosional yang penting untuk masa depan mereka.
3. Peran Orang Tua dan Masyarakat dalam Trauma Healing
Peran orang tua dan masyarakat sangat penting dalam proses trauma healing
anak-anak pasca bencana. Dukungan dari lingkungan terdekat dapat mempercepat
proses pemulihan psikologis dan emosional anak. Menurut penelitian oleh Karimah
(2015), keterlibatan orang tua dalam kegiatan bermain dapat meningkatkan rasa
aman dan kepercayaan diri anak. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua tidak hanya
sebagai pengamat, tetapi juga sebagai pendukung aktif dalam proses pemulihan
anak.
Gambar 1. Kegiatan bermain di Sekolah
Orang tua perlu dilibatkan dalam setiap tahap kegiatan trauma healing. Mereka
dapat diberikan pelatihan tentang cara mendukung anak-anak mereka selama proses
pemulihan. Misalnya, orang tua dapat diajarkan untuk mengenali tanda-tanda
trauma pada anak dan cara berkomunikasi yang efektif. Dengan memahami
kebutuhan emosional anak, orang tua dapat memberikan dukungan yang lebih baik.
Sebuah studi oleh Putra dan Dwilestari (2013) menunjukkan bahwa orang tua yang
teredukasi mengenai trauma lebih mampu membantu anak-anak mereka dalam
mengatasi rasa cemas dan ketakutan.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 110-117
E-ISSN: 3047-2474 (online) 115
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Gambar 2. Kegiatan bermain di tempat Pengungsian BLK Bitung
Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang
mendukung pemulihan anak. Kegiatan komunitas yang melibatkan anak-anak,
seperti festival atau acara bermain, dapat membantu anak-anak merasa lebih
terhubung dengan lingkungan mereka. Hal ini dapat mengurangi rasa isolasi yang
sering dialami anak-anak pasca bencana. Menurut Martam (2009), dukungan sosial
dari komunitas dapat mengurangi dampak negatif dari trauma.
Selain itu, masyarakat dapat berperan dalam memberikan informasi dan
sumber daya yang diperlukan untuk mendukung proses pemulihan. Misalnya,
masyarakat dapat bekerja sama dengan lembaga pemerintah atau organisasi non-
pemerintah untuk mengadakan kegiatan trauma healing. Dengan melibatkan
berbagai pihak, proses pemulihan anak-anak dapat menjadi lebih efektif dan
berkelanjutan. Dengan melibatkan orang tua dan masyarakat dalam proses trauma
healing, kita tidak hanya membantu anak-anak pulih dari trauma, tetapi juga
memperkuat ikatan sosial yang ada di dalam komunitas. Hal ini penting untuk
menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak-anak, sehingga
mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik meskipun mengalami bencana.
Gambar 3. Kegiatan PKM di Kabupaten Sitaro
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 110-117
E-ISSN: 3047-2474 (online) 116
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Simpulan dan Saran
1. Simpulan
Kegiatan bermain memiliki peran yang sangat penting dalam proses trauma
healing bagi anak-anak pasca erupsi Gunung Ruang di Kabupaten Sitaro. Melalui
kegiatan ini, anak-anak dapat mengekspresikan perasaan mereka, membangun
kembali kepercayaan diri, dan mengurangi kecemasan yang mereka alami. Selain itu,
dukungan dari orang tua dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan
lingkungan yang aman dan mendukung pemulihan anak-anak.
Dengan memahami dampak psikologis dari bencana dan melibatkan semua
pihak dalam proses pemulihan, kita dapat membantu anak-anak untuk tidak hanya
pulih dari trauma, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang lebih kuat dan resilien.
Oleh karena itu, penting untuk terus mengembangkan program-program trauma
healing yang melibatkan kegiatan bermain dan partisipasi aktif dari orang tua serta
masyarakat.
2. Saran
Besarnya manfaat dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat menjadi
contoh atau panduan untuk kegiatan pengabdian berikutnya, seperti (1) selalu
mengadakan pendampingan untuk para korban bencana karena bermanfaat untuk
pemulihan mental korban, dan (2) melakukan kesinambungan program kegiatan
pendampingan masyarakat.
Daftar Pustaka
Andayani, B. (2007). Recovery Kawasan Bencana: Perwujudan Trauma Healing
Melalui Kegiatan Psikologi dan Rohani. Unisia, (63), 3-14.
Andayani, S. (2021). Bermain sebagai sarana pengembangan kreativitas anak usia
dini. JURNAL AN-NUR: Kajian Ilmu-Ilmu Pendidikan Dan Keislaman, 7(01), 230-
238.
Karimah, Resa. 2015. Trauma Healing Oleh Muhammadiyah Disaster Management Center
Untuk Anak Korban Bencana. Skripsi. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta.
Martam, Irma S. 2009. Mengenali Trauma Pasca Bencana.
http://disasterchannel.co/wp-content/uploads/2015/06/news_letter_14.pdf,
diunduh 4 Agustus 2024 pukul 16:03.
Mendatu, Achmanto. (2010). Pemulihan Trauma. Yogyakarta: Panduan.
Moeslichatoen. 2004. Metode Pengajaran Di Taman Kanak-Kanak. Rineka Cipta.
Morrison. 2012. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (Paud). Indeks.
Putra, M. A. (2023). Efek Psikologis dari Perubahan Iklim dan Bencana Alam. literacy
notes, 1(2).
Putra, Nusa dan Ninin Dwilestari. 2013. Penelitian Kualitatif PAUD: Pendidikan Anak
Usia Dini. Jakarta: Rajawali Pers.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 110-117
E-ISSN: 3047-2474 (online) 117
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Rasdini, I. A. (2019). Intervensi kognitif terhadap kecemasan remaja paska erupsi
gunung agung. Jurnal Gema Keperawatan, 12(2).
Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan
Wahyuningtyas, N., Adi, K. R., Yaniafari, R. P., Sa'id, M., & Rizki, M. G. (2022).
Dukungan Psikososial Bagi Penyintas Bencana Pasca Erupsi Gunung
Semeru. JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat), 7(2), 925-933.
Wetik, S. V., & Polii, G. B. (2023). Play Therapy Berbasis Trauma Healing Pasca
Bencana Pada Anak Usia Sekolah. Jurnal Masyarakat Madani Indonesia, 2(4), 385-
391.
Widha, L., & Aulia, A. R. (2019). Play therapy sebagai bentuk penanganan konseling
trauma healing pada anak usia dini. Hisbah: Jurnal Bimbingan Konseling dan
Dakwah Islam, 16(1), 100-111.