Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 70-79
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 23/03/2025 Selesai revisi: 19/05/2025 Disetujui: 25/07/2025 Diterbitkan: 1/08/2025
70
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Pembinaan Pemuda dan Pengelolaan Sampah: Program Kerja Utama
KKN Tematik UCY di Kampung Giwangan
Yenny Anggreini Sarumaha
1*
, Aldi Setiawan
2
, Lulu Sylvianie
3
1,2,3
Universitas Cokroaminoto Yogyakarta, Indonesia
e-mail:
1*
yanggreini@gmail.com,
2
aldysetiawann@gmail.com,
3
lulu.sylvia@yahoo.com
Abstrak
Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik UCY merupakan suatu program yang dikemas
dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat sebagai sinergitas pembelajaran
kampus dengan kehidupan masyarakat. UCY sebagai kampus kebangsaan yang
peduli dengan kemajuan bangsa dan negara Indonesia memiliki tanggung jawab
dalam upaya membangun desa yaitu melalui kegiatan KKN. Dalam pelaksanaan
pengabdian kepada masyarakat ini, terdapat beberapa program unggulan di
antaranya adalah pembinaan pemuda dan olahraga bersama Kampung Giwangan
dan pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat. Program pembinaan pemuda
dan olahraga pagi oleh mahasiswa KKN di Kampung Giwangan dinilai berhasil
karena dapat meningkatkan partisipasi pemuda, memperkuat interaksi sosial, dan
memberikan dampak positif pada kesehatan serta kebersamaan masyarakat
meskipun terdapat beberapa tantangan. Kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah
plastik di Kampung Giwangan, yang berfokus pada remaja dan orang tua
dikategorikan memberikan hasil positif karena meningkatkan kesadaran akan
kebersihan lingkungan. Melalui metode yang interaktif dan partisipasi aktif dari
peserta, pengelolaan sampah menjadi salah satu kegiatan yang bisa diteruskan
walau kegiatan KKN sudah selesai. Meskipun demikian, kelanjutan program ini
memerlukan strategi yang lebih berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa
belajar mengasah softskills yang mereka miliki untuk membangun kemitraan,
kerjasama tim lintas disiplin keilmuan atau lintas kompetensi dan leadership atau
kepemimpinan dalam mengelola potensi desa di wilayah KKN.
Kata Kunci: KKN Tematik, membangun desa, pengabdian masyarakat
Abstract
UCY Thematics Community Service Program (KKN) is a program packaged as community
service, representing a synergy between campus learning and community life. UCY, as a
national campus concerned with the progress of the Indonesian nation and state, has a
responsibility to contribute to village development thru KKN activities. In the
implementation of this community service, there are several falgship programs, including
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 70-79
E-ISSN: 3047-2474 (online) 71
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
youth and sports development in collaboration with Kampung Giwangan and waste
management in the community. The morning youth and sports development program by
KKN students in Kampung Giwangan was considered successful because it increased youth
participation, strengthened social interaction, and had a positive impact on the health and
togetherness of the community, despite some challenges. The socialization activities on plastic
waste management in Kampung Giwangan, which focused on teenagers and parents, were
categorized as yielding positive results because they increased awareness of environmental
cleanliness. Thru interactive methods and active participation from the participants, waste
management becomes an activity that can be continued even after the KKN program is over.
Nevertheless, the continuation of this program requires a more sustainable strategy. Thru this
activity, students learn to hone their soft skills to build partnerships, cross-disciplinary or
cross-competency teamwork, and leadership in managing the potential of the village in the
KKN area.
Keywords: Thematic KKN, village development, community service
Pendahuluan
Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu mata kuliah wajib tempuh
mahasiswa setiap program studi jenjang S-1 di lingkungan Universitas
Cokroaminoto Yogyakarta (UCY). Implementasi kegiatan ini didasari oleh Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional pada Pasal 20 Ayat 2 dan Pasal 24 Ayat 2. Program ini dirancang sebagai
penghubung antara dunia akademik dan realitas sosial, yang mmeungkinkan
mahasiswa untuk belajar langsung dalam masyarakat dengan memberikan
kontribusi nyata melalui kegiatan pengabdian (Damayanti, dkk 2024). Dengan
program KKN, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan disiplin ilmu yang
masih berada pada tataran teori untuk lebih mengembangkan ilmu yang diperoleh.
Selain itu, mereak juga diharapkan memiliki kemampuan untuk membantu,
menerapkan dan meningkatkan kesejahteraan dan kreativitas pembelajaran bagi
masyarakat, sesuai dengan nilai tridarma perguruan tinggi (Meyer, dkk 2023).
Sebagai mata kuliah wajib universitas, KKN mengajak mahasiswa belajar mengatasi
dan memecahkan masalah di masyarakat, belajar membangun hubungan manusia
yang terintegrasi dalam masyarakat (Fauzi dkk, 2023). Secara eksplisit, hal-hal yang
diperoleh melalui kegiatan KKN adalah memberikan pengalaman belajar bagi
mahasiswa tentang pembangunan dan pengalaman kerja nyata di tengah masyrakat,
menumbuhkan kepribadian dan meningkatkan wawasan dan pola pikir mahasiswa,
dan mendekatkan Perguruan Tinggi kepada masyarakat (Kurnia dkk, 2020).
Kelurahan Giwangan merupakan wilayah bagian selatan dari kota Yogyakarta, yang
merupakan kawasan potensial untuk terus berkembang dan menjadi pintumamsuk
kota Yogyakarta dari arah selatan. Wilayah kelurahan Giwangan terbagi menjadi 7
kampung, yaitu kampung Giwangan, kampung Ponggalan, kampung Mendungan,
kampung Mrican, kampung Sanggrahan Pemukti, kampung Malangan, dan
kampung Ngaglik. Wilayang kelurahan Giwangan terbagi lagi ke dalam 13 Rukun
Warga (RW) dan 44 Rukun Tetangga (RT). Selain memiliki terminal bus yang
menghubungan antar kota-kota sekitarnya, kelurahan ini memiliki pasar buah dan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 70-79
E-ISSN: 3047-2474 (online) 72
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
sayur terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu Pasar Induk Giwangan.
Partisipasi dan kesadaran masyakarat untuk peningkatan kulaitas diri dan
lingkungan bersifat aktif, terbukti dengan hadirnya program literasi kampung dan
deklarasi Giwangan sebagai kampung literasi. Selain itu, program penghijauan juga
sangat diperhatikan dengan adanya usaha penanman berbagai macam bibit tanaman
di setiap rumah sehingga kampung Giwangan juga disebut dengan Kampung Hijau.
Pada tahun 2023, kampung Giwangan juga dikukuhkan sebagai Kelurahan Ramah
Perempuan dan Anak oleh Pemerintah Kota Yogyakarta.
Masyarakat Giwangan adalah masyarakat heterogen ditinjau dari beberapa aspek.
Dari segi pendidikan, masyarakat Giwangan memiliki tingkat pendidikan dan
literasi yang baik. Masyarakat memiliki kesadaran tinggi untuk membuat kelompok
edukasi seperti kelompok baca atau literasi. Dari segi agama, mayoritas penduduk
Giwangan memeluk agama Islam. Kegiatan keagamaan di kampung Giwangan
berlangsung harmonis dengan kegiatan adat. Jenis pekerjaan yang dimiliki
masyarakat Giwangan adalah pada sektor informal. Terdapat ratusan Usaha
Mengengah Kecil Masyarakat (UMKM) yang dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu
makanan, fashion, dan craft. Dengan besarnya jumlah UMKM ini kegiatan-kegiatan
yang terkait dengan pelatihan bisnis menjadi salah satu kegiatan yang sangat
dibutuhkan masyarakat. Pemasaran UMKM menjadi isu penting. Setelah
dilakukannya survei di lapangan, ditemukan bahwa pelaku UMKM belum mehamai
dengan baik manajemen usaha dan manajemen keuangan UMKM. Keberadaan
fasilitas wisata terbaru yang sedang dalam masa pembangunan, Taman Embung
Giwangan merupakan sebuah harapan baru bagi masyarakat untuk dapat
menghasilkan keuntungan ekonomis. Masyarakat menghendaki adanya akses untuk
dapat bekerja dan tidak menjadi penonton saja. Melihat fenomena ini, maka
emberdaayan UMKM di wilayah ini dan peningkatan kualitas sumber daya manusia
dari segi keterampilan berbahasa Inggris dapat menjadi modal untuk memasuki
peluang bergabung dengan tempat wisata tersebut.
Kampung Giwangan adalah kampung yang sadar akan kebersigan dan pengelolaan
sampah, Kampung ini juga memiliki semboyan sebagai kampung hijau karena
memiliki kesadaran yang cukup tinggi dalam memilah bahkan mengelola sampah
khususnya sampah non-organik. Keranjang sampah untuk pemisahan sampah juga
telah tersedia dan terdapat usaha pengelolaan sampah non-organik. Setiap rumah
memiliki keranjang sampah dan selokan dibersihkan secara berala. Selain itu
kampung Giwangan emiliki fasilitas Puskesmas yang dekat dengan terminal
Giwangan, terdapat program senam lansia, kegiatan rutin pemantauan jentik-jentik
nyamuk, dan secara rutin mengontrol kesehatan anak usia dini.
Berdasarkan informasi mengenai kampung Giwangan, dapat kita simpulkan bahwa
Kelurahan Giwangan, khususnya Kampung Giwangan, merupakan lokasi yang
sangat strategis dan ideal untuk pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa
UCY. Lingkungan ini menawarkan berbagai potensi dan tantangan yang relevan.
Masyarakatnya dikenal proaktif dan sadar akan isu-isu penting, terbukti dari adanya
program literasi kampung dan inisiatif Kampung Hijau yang berfokus pada
lingkungan. Partisipasi aktif ini menjadi modal berharga bagi mahasiswa, karena
mereka dapat berkolaborasi langsung dengan warga yang sudah memiliki inisiatif.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 70-79
E-ISSN: 3047-2474 (online) 73
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Selain itu, kondisi sosial dan budaya yang heterogen dan harmonis memudahkan
mahasiswa untuk beradaptasi, membangun hubungan, dan memastikan program
KKN dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.
Selain itu, Giwangan juga menyediakan berbagai peluang bagi mahasiswa untuk
mengaplikasikan ilmu mereka, terutama di bidang pengembangan ekonomi. Dengan
ratusan UMKM yang beroperasi, terdapat kebutuhan nyata akan pelatihan
manajemen usaha dan keuangan serta pemasaran. Terlebih lagi, pembangunan
Taman Embung Giwangan membuka pintu bagi potensi ekonomi baru, di mana
masyarakat berharap untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga terlibat aktif
dalam pengembangan dan pengelolaannya. Peluang ini sangat sesuai untuk
mahasiswa yang ingin memberikan dampak nyata melalui program pelatihan bisnis,
pemasaran digital, atau pengembangan keterampilan. Karenanya, Giwangan tidak
hanya menjadi tempat KKN, tetapi juga laboratorium nyata bagi mahasiswa UCY
untuk mengaplikasikan teori dan memberikan kontribusi yang berkelanjutan.
Metode
Kegiatan KKN Tematik ini dilakukan di Kampung Giwangan dengan melibatkan 13
orang mahasiswa aktif UCY dari berbagai disiplin ilmu. Kegiatan ini berlangsung
selama 6 minggu dengan program kerja utama dan program kerja pendukung
(LPPM UCY, 2025). Metode pengabdian yang dilakukan oleh kelompok KKN
Tematik didasarkan pada pendekatan partisipatif dan berkelanjutan. Beberapa
metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan KKN adalah.
1. Survei dan observasi awal di lingkungan. Sebelum merumuskan program
kerja, tim KKN UCY melakukan survei dan observasi lingkungan secara
menyeluruh. Langkah ini bertujuan untuk mengumpulkan data akurat
mengenai kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan di Kampung
Giwangan. Survei awal ini memungkinkan tim untuk memahami secara
mendalam isu-isu dan potensi yang ada di masyarakat, sehingga setiap
program yang dirancang tidak hanya relevan, tetapi juga dapat menjadi solusi
efektif bagi masalah yang benar-benar dihadapi oleh warga. Kegiatan ini juga
melibatkan pemuka masyarakat dan beberapa pejabat berwenang di
lingkungan Kampung Giwangan. Adanya dialog interaktif, tinjauan ke
lapangan, informasi dari berbagai sumber, menjadi beberapa pilihan yang
digunakan. Hasil dari survei dan observasi ini menjadi landasan utama bagi
tim KKN untuk merancang program yang tepat sasaran dan relevan. Dengan
data yang komprehensif, mahasiswa dapat menghindari program yang tidak
dibutuhkan dan fokus pada inisiatif yang paling mendesak. Proses ini
menunjukkan komitmen untuk tidak hanya sekadar menjalankan kegiatan,
tetapi juga membangun program yang benar-benar berlandaskan kebutuhan
dan data faktual di lapangan serta menitikberatkan pada teori-teori yang
sudah mereka peroleh di bangku perkuliahan.
2. Pendekatan partisipatif. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menerapkan
pendekatan partisipatif dengan menjalin kerja sama bersama warga.
Keterlibatan aktif ini mencakup seluruh tahapan kegiatan, mulai dari
perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Kolaborasi ini sangat penting
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 70-79
E-ISSN: 3047-2474 (online) 74
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
karena bisa memberdayakan masyarakat sebagai subjek pembangunan, bukan
hanya objek, sehingga mereka memiliki rasa kepemilikan dan tanggung jawab
terhadap keberhasilan program dengan tujuan yang berkelanjutan.
Pendekatan ini tidak hanya bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang ada
di lapangan, tetapi juga untuk memastikan bahwa program yang dijalankan
didukung oleh masyarakat dan dapat berkelanjutan setelah masa KKN
berakhir. Dengan melibatkan warga sejak awal, tim KKN dapat membangun
hubungan yang kuat, menanamkan keterampilan, dan mendorong inisiatif
mandiri dari komunitas untuk melanjutkan program yang telah dimulai.
3. Edukasi dan Pemberdayaan. Mahasiswa KKN secara aktif terlibat dalam
kegiatan edukasi dan pemberdayaan masyarakat melalui berbagai sosialisasi,
pelatihan, maupun bimbingan. Melalui kegiatan ini, tim berupaya
meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap isu-isu penting seperti
kesehatan, lingkungan, dan ekonomi yang menjadi perhatian pemerintah saat
ini. Program edukasi ini dirancang agar informatif dan mudah dipahami,
sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat secara
luas. Selain itu, program pelatihan yang dirancang khusus untuk bidang
usaha mikro, pertanian, dan pengembangan keterampilan bertujuan untuk
memperkuat kemandirian warga. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya
meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membekali masyarakat dengan
kemampuan praktis untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan
peluang di masa depan. Pemberdayaan ini adalah kunci untuk menciptakan
perubahan yang berkelanjutan, di mana masyarakat memiliki alat dan
pengetahuan untuk terus berkembang setelah kegiatan KKN selesai.
Hasil dan Pembahasan
Dalam artikel ini akan dibahas kegiatan utama KKN Tematik di Kampung
Giwangan. Sesuai namanya, kegiatan unggulan yang merupakan program kerja
utama kelompok KKN melibatkan seluruh mahasiswa dalam pelaksanaannya. KKN
biasanya dilakukan dengan tiga tujuan utama. Pertama, memberikan peserta KKN
lapangan pembelajaran di mana mereka dapat menerapkan ilmu dan keahlian
mereka dengan cara yang terstruktur, yang mereka peroleh selama pendidikan di
institusi perguruan tinggi. Kedua, memberikan mahasiswa kesempatan baru untuk
berkontribusi pada kemajuan masyarakat secara keseluruhan. Ketiga, KKN adalah
dalah kesempatan untuk membangun hubungan kerja antara universitas dan orang-
orang di masyarakat (Hasugian, dkk 2023). Dalam kegiatan ini, mahasiswa bersama
warga masyarakat secara langsung terlibat melakukan kegiatan edukasi, sosialisasi,
dan inovasi sebagai strategi untuk membangun desa menjadi lebih baik. Selain
keterlibatan seluruh peserta, dana, dan waktu yang digunakan atau dipakai selama
kegiatan, kegiatan ini merupakan kegiatan yang berkesinambungan atau
berlangsung selama waktu pelaksanaan KKN dan harapannya akan tetap diteruskan
walaupun kegiatan resmi telah selesai.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 70-79
E-ISSN: 3047-2474 (online) 75
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
1. Pembinanan pemuda dan olahraga pagi bersama Kampung Giwangan.
Program pembinaan pemuda dan olahraga pagi bersama Kampung
Giwangan merupakan program unggulan yang dirancang oleh kelompok KKN
Tematik di kampung Giwangan. Observasi lapangan mencatat adanya peningkatan
jumlah peserta pemuda dari minggu awal pelaksanaan hingga akhir pelaksanaan.
Hal ini mengindikasikan adanya ketertarikan atau daya tarik terhadap kegiatan dan
relevansi kegiatan tersebut dengan kebutuhan mereka. Terutama pada akhir minggu
atau libur nasional, partisipasi aktif warga menjadi lebih tinggi dibanding hari-hari
biasanya. Interaksi sosial yang terjalin selama sesi olahraga tidak hanya terbatas
pada aktivitas fisik semata, namun juga menjadi wahana pertukaran ide, penguatan
solidaritas, dan pembentukan jejaring sosial di antara para pemuda. Sejalan dengan
apa yang dinyatakan Dwiansyah, dkk (2024) bahwa kegiatan KKN memperkuat
solidaritas dan kemandirian komunitas melalui diskusi atau pertemuan rutin dengan
masyarakat.
Keberhasilan program ini tidak terlepas dari sinergi berbagai faktor
pendukung. Keterlibatan aktif dan dukungan moril dari warga Kampung Giwangan
menciptakan lingkungan kondusif dan rasa memiliki terhadap kegiatan ini. Selain
itu, kehadiran tokoh masyarakat dan dukungan dari perangkat kampung
memberikan legitimasi dan memperkuat jangkauan program. Antusiasme dari para
pemuda untuk terlibat dalam aktivitas fisik yang terstruktur dan berinteraksi dengan
teman sebaya menjadi motor penggerak utama partisipasi. Mereka memandang
kegiatan ini sebagai alternatif positif untuk mengisi waktu luang dan meningkatkan
kebugaran. Meskipun fasilitas olahraga yang tersedia relatif sederhana, seperti
lapangan serbaguna kampung, namun ketersediaannya dapat dikatakan sudah
sangat memadai dan aman yang menjadi prasyarat penting bagi kelancaran
pelaksanaan. Selain itu, peran kepemimpinan efektif dari tim KKN, yang mampu
mengorganisir, memotivasi, dan mengakomodasi aspirasi peserta, serta kolaborasi
dengan tokoh pemuda setempat juga dirasa memiliki pengaruh di komunitas. Inilah
yang menjadi katalisator penting dalam menjaga momentum dan semangat
partisipan.
Gambar.1 Kegiatan Olahraga Pagi
Di sisi lain, beberapa faktor penghambat perlu dipertimbangkan dalam interpretasi
hasil. Keterbatasan waktu yang disebabkan oleh jadwal kerja atau kegiatan rutin
lainnya menjadi tantangan utama dalam memastikan partisipasi yang konsisten dari
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 70-79
E-ISSN: 3047-2474 (online) 76
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
sebagian warga dan tim KKN. Hal ini mengindikasikan perlunya fleksibilitas dalam
penjadwalan dan variasi jenis kegiatan yang dapat dilakukan agar dapat
mengakomodasi ketersediaan waktu peserta yang beragam. Karena tujuannya
adalah kegiatan yang berkeanjutan, adanya potensi keterbatasan variasi fasilitas
olahraga dapat menjadi pertimbangan untuk pengembangan program jangka
panjang. Investasi atau pemanfaatan fasilitas olahraga yang lebih beragam dan dapat
menarik minat kelompok pemuda yang lebih luas dengan preferensi olahraga yang
berbeda perlu lebih diakomodasi, terutama untuk fasilitas yang dapat menampung
banyak orang. Meskipun secara umum kurangnya motivasi tidak menjadi isu
dominan, penting untuk terus melakukan evaluasi dan inovasi dalam kegiatan agar
tetap relevan dan menarik bagi peserta dari waktu ke waktu.
Analisis dampak awal menunjukkan bahwa program Pembinaan Pemuda dan
Olahraga Pagi memberikan kontribusi positif yang signifikan terhadap komunitas
Kampung Giwangan. Secara fisik, peserta yang rutin berolahraga melaporkan
adanya peningkatan kebugaran dan kesehatan secara umum. Aspek penguatan
kebersamaan dan kohesi sosial terlihat jelas melalui interaksi yang intens dan
dukungan antar peserta selama kegiatan. Program ini juga secara implisit
menanamkan nilai peningkatan disiplin melalui komitmen untuk berpartisipasi
secara teratur (Fauzi dkk, 2023). Lebih lanjut, kegiatan ini berpotensi menjadi wadah
pengembangan potensi dan bakat di bidang olahraga bagi pemuda yang memiliki
minat dan kemampuan, yang dapat ditindaklanjuti dengan pembentukan kelompok
atau pelatihan yang lebih terstruktur. Tingginya tingkat partisipasi masyarakat pada
fase awal menunjukkan adanya kesadaran kolektif akan pentingnya kesehatan dan
interaksi sosial. Kerjasama yang sinergis dengan organisasi kepemudaan (misalnya,
dalam penyediaan instruktur atau peralatan), tokoh masyarakat (sebagai figur
panutan dan pendukung), dan pemerintah setempat (dalam penyediaan izin dan
potensi dukungan sumber daya) menciptakan ekosistem yang mendukung
keberlanjutan program ini di masa depan. Tidak terdapat sub-kegiatan yang
direncanakan dalam program ini yang tidak dapat dilaksanakan.
2. Sosialiasai pengelolaan sampah
Implementasi kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Sampah, dengan fokus pada
edukasi mengenai limbah plastik, berhasil menjangkau kelompok sasaran yang
terdiri dari anak-anak dan orang tua di Kampung Giwangan. Penggunaan metode
penyampaian yang interaktif, seperti presentasi visual yang menarik, sesi diskusi
kelompok yang melibatkan pengalaman sehari-hari, dan demonstrasi praktis
mengenai pemilahan dan potensi daur ulang sampah plastik skala rumah tangga,
terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan peserta. Observasi selama kegiatan
menunjukkan tingkat antusiasme yang tinggi, terutama di kalangan anak-anak yang
aktif bertanya dan berpartisipasi dalam demonstrasi. Respon positif dari orang tua
juga terlihat dari keterlibatan mereka dalam diskusi dan pertanyaan yang diajukan.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 70-79
E-ISSN: 3047-2474 (online) 77
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Gambar. 2 Kegiatan Pengelolaan Sampah
Keberhasilan sosialisasi ini didukung oleh beberapa faktor krusial. Keterlibatan aktif
dan pendampingan dari orang tua terhadap anak-anak selama kegiatan
menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya pendidikan lingkungan sejak dini.
Kerjasama yang efektif antara tim KKN sebagai penyelenggara dan potensi pihak
sekolah (jika kegiatan dilakukan di lingkungan sekolah atau melibatkan siswa secara
terstruktur) memfasilitasi mobilisasi peserta dan penyampaian informasi yang
relevan (Putri, dkk 2024). Ketersediaan materi sosialisasi yang visual dan mudah
dipahami, serta tempat pelaksanaan yang kondusif dan mendukung interaksi, turut
berkontribusi pada efektivitas kegiatan. Pendekatan pemberian dorongan positif dan
penggunaan bahasa yang sederhana dan menarik bagi anak-anak membantu dalam
menyampaikan pesan-pesan penting mengenai pengelolaan sampah. Selain itu, di
akhir kegiatan materi dan video juga dibagian kepada seluruh peserta dilengkapi
dengan buku saku atau buku kecil yang merangkum hal-hal terkait kegiatan yang
telah dilakukan. Tujuannya agar apabila kegiatan ingin dilakukan kembali, peserta
dapat dengan mudah mengakses materi dan melakukannya.
Namun, beberapa potensi kendala perlu diantisipasi untuk keberlanjutan dan
perluasan dampak program ini. Potensi gangguan cuaca buruk tetap menjadi faktor
eksternal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan kegiatan serupa di masa
depan. Keterbatasan alokasi waktu dalam satu sesi sosialisasi mungkin belum cukup
untuk menanamkan pemahaman yang mendalam dan mendorong perubahan
perilaku jangka panjang. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan sesi lanjutan atau
model sosialisasi yang lebih berkelanjutan. Tingkat kesadaran dan pemahaman yang
bervariasi di antara orang tua mengenai isu pengelolaan sampah memerlukan
pendekatan yang lebih personal dan berkelanjutan untuk mencapai perubahan
perilaku yang signifikan di tingkat rumah tangga. Pembiasaan adalah salah satu
kunci dari kesadaran yang diterapkan. Sejalan dengan apa yang disampaikan
Amelia, dkk (2020) bahwa kegiatan KKN menjadi salah satu usaha dalam
meningkatkan sumber daya manusia baik secara keatifan, sikap, pengetahuan,
maupun keterampilan masyarakat.
Analisis dampak awal menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi ini berhasil
meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan peserta, terutama mengenai
dampak negatif sampah plastik dan pentingnya upaya pengelolaan yang
bertanggung jawab. Partisipasi bersama dalam kegiatan ini juga berpotensi
mempererat ikatan keluarga melalui pembelajaran dan aktivitas yang dilakukan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 70-79
E-ISSN: 3047-2474 (online) 78
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
bersama. Sosialisasi sejak dini diharapkan dapat membentuk kebiasaan yang lebih
positif terhadap pengelolaan sampah di masa depan. Untuk meningkatkan
efektivitas jangka panjang, beberapa saran dapat diajukan, termasuk persiapan
rencana kontingensi untuk menghadapi cuaca buruk, pengembangan materi
sosialisasi yang lebih beragam dan berkelanjutan (misalnya, melalui media sosial
atau leaflet), pemberian penghargaan atau apresiasi kepada keluarga atau individu
yang menunjukkan komitmen dalam pengelolaan sampah, serta pelaksanaan
evaluasi berkala melalui survei sederhana atau observasi untuk mengukur
perubahan pemahaman dan praktik pengelolaan sampah di masyarakat.
Simpulan dan Rekomendasi
Keterlibatan langsung mahasiswa dalam masyarakat bukan hanya sekedar kegiatan
pengabdian, melainkan sebuah proses pembelajaran holistik yang memberikan
dampak signifikan pada pengembangan diri dan efektivitas program kerja.
Pengalaman berinteraksi intensif dengan masyarakat memberikan pelajaran penting,
di antaranya:
1. Efektivitas komunikasi sebagai kunci keberhasilan program
Pengalaman terjun langsung ke masyarakat menegaskan bahwa komunikasi
yang efektif dan efisien adalah pondasi utama keberhasilan setiap program kerja.
Komunikasi yang baik membangun pemahaman bersama, mengurangi potensi
kesalahpahaman, dan meningkatkan partisipas aktif dari masyarakat. Dalam hal
ini, mahasiswa belajar bahwa kemampuan berkomunikasi secara efektif adalah
keterampilan penting dalam mewujudkan tujuan program dan membangun
hubungan yang positif dengan masyarakat.
2. Pentingnya kesesuaian program dengan kebutuhan masyarakat
Keterlibatan mahasiswa di masyarakat mengajarkan bahwa program kerja akan
diterima dengan baik dan memberikan dampak positif jika selaras dengan
kebutuhan nyata yang dirasakan oleh masyarakat. Karena itu, mahasiswa
menyadari pentingnya melakukan analisis kebutuhan yang mendalam sebelum
merancang program kerja agar kegiatan yang dirancang memberikan manfaat
dan berkelanjutan dalam masyarakat.
3. Peran krusial persepsi dan kemampuan menggali kebutuhan
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa persepsi awal mahasiswa tentang
kebutuhan masyarakat seringkali tidak akurat. Karenanya, mahasiswa dituntut
untuk memiliki ketajaman dalam melihat dan menganalisis situasi serta kondisi
masyarakat. Lebih dari itu, mahasiswa perlu bersikap proaktif dalam menggali
informasi dan memahami perspektif masyarakat secara langsung. Kemampuan
ini memungkinkan mahasiswa untuk merancang program kerja yang lebih
relevan, efektif, dan sesuai dengan harapan masyarakat, sehingga
memaksimalkan dampak positif dari kegiatan yang mereka lakukan.
Penghargaan
Terima kasih kepada LPPM UCY dan panitia KKN UCY 2025 yang telah
memberikan kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan
kemampuan yang telah dipelajari di bangku kuliah ke dalam masyarakat. Terima
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 70-79
E-ISSN: 3047-2474 (online) 79
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
kasih telah memberikan kesempatan untuk menjadi bagian dari masyarakat dan
membantu perkembangan kelangsungan hidup dalam masyarakat. Terima kasih
kepada warga Kampung Giwangan yang telah mengizinkan kami menjadi bagian
dari masyarakat dan ikut berpartisipasi pada setiap program kegiatan yang telah
kami rancang.
Daftar Pustaka
Amelia, R., Safitri, R., & Puspita, I. (2020). Peningkatan Sumber Daya Manusia
Melalui Program Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran dan Pemberdayaan (KKN-
PPM) Desa Penagan Kabupaten Bangka. Jurnal Pengabdian Masyarakat
MEDITEG, 5(1), 5059. http://mediteg.politala.ac.id/index.php/mediteg.
Damayanti, A. I., Akbar, M. F. R, & Suparmi. 2024. Manfaat dan Tantangan KKN
sebagai Wadah Pengembangan Diri dan Pengabdian kepada Masyarakat. JIIC:
Jurnal Intelek Insan Cendikia. 1(10): 6676 6688.
Dwiansyah, A., Putri, S.A.E.P., Cahyani, A., Aprani, G., Pernandes, J., Manah, A.A.,
Nisa, F.K., Lestari, R.P., Kaurany, J.R. 2024. Pengabdian Kepada Masyarakat
melalui Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sumber Arum Dusun I.
JICN: Jurnal Intelek dna Cendikiawan Nusantara. 1(4): 5444 5453.
Fauzi, H., Hendayan, Y., Rahmah, N., Febrianti, B., Rizkha, A., Noviyanti, D.,
Permatasari, E., Sayeti, A. B., Ramdan, M., Dannisya, M., Chayani, A. D. 2023.
Pengabdian kepada Masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa
Srimukti Kabupaten Bekasi. SAFARI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia.
3(3): 155 166.
Hasugian, A.H., Pratiwi, A.D., Manurung, A.D., Saragih, H.P.E., Rahmawati. 2023.
Peran Mahasiswa KKN dalam Bidang Pendidikan di Desa Bahjoga Utara Utara.
Modeling: Jurnal Program Studi PGMI. 10(2): 60 69.
Kurnia, M., Jawa, I., Jalil, A. R., Arya, N., Sasuddin., Ilham, M., Fikrang., Ashari, M.,
Kasruddin., A, N. N., J, E. A., R, B. F. R., S, N., Fajar., Zulfikar, M., R, T., R, U.,
Zulfikar., P, B. M., N, A. A., Am, A. H., R, M. A., Aung, M., S, N. M., Basman,
M. H., K, L., A, R. 2020. KKN Tematik Pemberdayaan Masyarakat melalui
Penerapan Teknologi untuk Peningkatan Taraf Hidup Masyarakat di
Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Sinjai. Jurnal Pengabdian Masyrakat
Hasanuddin. 1(1): 1 9.
LPPM UCY. 2025. Buku Panduan Kuliah Kerja Nyata Periode XLIV. Yogyakarta: UCY.
Meyer, F., et al. 2023. Pembelajaran Outdoor Learning Pohon Singgah Berbasis
Lingkungan dan Teknologi pada Anak-Anak di Desa Patti. 2(2): 18.
Putri, P. O., Firdaus, M., Fauziah, R. S., Khasanan, S. N. 2024. Sinergitas Akademika
dan Masyarakat dalam Membangun Desa Bersama Mahasiswa KKN Reguler
UCY di Padukuhan Sindet. Jurnal Gemi. 3(2): 1 10.