Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 80-88
E-ISSN: 3047-2474 (online) 83
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Hasil dan Pembahasan
Pelaksanan kegiatan Bina Desa ini dilakukan melalui berbagai kegiatan yang
tergabung dalam 3 divisi utama, yaitu lingkungan, kesehatan dan pendidikan. Tujuan
adanya pembagian setiap divisi ini adalah untuk memaksimalkan potensi masyarakat
yang ada, melalui pengorganisasian individu yang disesuaikan dengan keahlian,
minat, dan bakat mereka. Adanya struktur dan pengorganisasian dalam setiap divisi
nantinya, maka setiap orang dapat lebih fokus untuk mendalami bidangnya masing-
masing dan tentunya ini akan berdampak pada output hasil pekerjaan yang lebih
berkualitas. Kejelasan peran dan tanggung jawab di setiap anggota juga akan sangat
berperan penting untuk menghindari tumpang tindih pekerjaan dan memastikan
semua tugas dapat diselesaikan secara efektif dan efisien (Andrie Setiawan A.Darise
et al., 2023). Secara jelasnya, berikut ini merupakan hasil Kegiatan Bina Desa yang
dilaksanakan di Dusun 3 Pulau Semambu yang terbagi dalam 3 divisi, yaitu
lingkungan, kesehatan dan pendidikan.
1. Divisi Lingkungan
Divisi lingkungan berperan dalam mengoptimalkan potensi di lingkungan Dusun
3 Pulau Semambu. Kegiatan Bina Desa dalam divisi lingkungan ini mencakup
beberapa kegiatan, yaitu pertanian terpadu, pembuatan tanaman obat keluarga dan
senam bersama.
1). Pembuatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA)
Menurut Kuncoro dalam (Taufik & Harli, 2023), Tanaman Obat Keluarga
(TOGA) adalah tanaman herbal yang dibudidayakan di lingkungan rumah dan
memiliki manfaat untuk meningkatkan kesehatan, baik untuk pencegahan,
promosi kesehatan, maupun pengobatan. Bagian tanaman yang dapat
dimanfaatkan sebagai obat meliputi daun, kulit, buah, biji, dan akar. TOGA
umumnya digunakan sebagai minuman untuk kebugaran, ramuan untuk
keluhan kesehatan ringan, formula khusus untuk lansia, menjaga kesehatan ibu,
serta meningkatkan gizi anak.
Pembuatan TOGA dalam Kegiatan Bina Desa ini dilakukan dengan
pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang memfokuskan pada aspek
lokal masyrakat. Dimana, masyarakat Dusun 3, Desa Pulau Semambu memiliki
potensi lokal pertanian dengan tanah yang subur sehingga cocok untuk
dibudidayakan dengan tanaman apapun, termasuk halnya tanaman obat-
obatan. Pada kegiatan ini juga masyarakat diarahkan untuk aktif terlibat dalam
pembuatan tanaman termasuk dalam pengambilan keputusan jenis tanaman
yang akan dibuat, potensi lahan penempatan hingga pembudidayaan tanaman.
Pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) pada kegiatan pembuatan
Toga ini bertujuan untuk memastikan adanya pendekatan aktif masyarakat yang
selaras dengan potensi lokal yang ada. Melalui pendekatan ini, masyarakat
dilibatkan secara langsung dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
kegiatan pembuatan TOGA, sehingga dapat meningkatkan rasa memiliki dan
keberlanjutan program. Participatory Rural Appraisal (PRA) memungkinkan
identifikasi kebutuhan, potensi, dan kendala yang terjadi dengan memanfaatkan
pengetahuan dan sumber daya yang sudah ada di komunitas. Olah karena itu,