Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 42-49
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 10/03/2024 Selesai revisi: 19/05/2024 Disetujui: 12/07/2024 Diterbitkan: 01/08/2024
42
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Sosialisasi Pemanduan Wisata di
Desa Ekowisata Pancoh
Kurnia Marshanda
1
, Viona Amelia
2*
1,2
Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta, Indonesia
e-mail:
1
k
imniaso08@gmail.com,
2*
viona.amelia@stipram.ac.id
Abstrak
Kawasan perdesaan sebagai lokus pengembangan pariwisata perlu mempersiapkan
diri menyambut kedatangan wisatawan. Dalam rangka mewujudkan masyarakat
desa yang berdaya, salah satu strategi awal yang dapat dilaksanakan adalah melalui
program pengabdian masyarakat melalui kegiatan sosialisasi pemberdayaan
masyarakat melalui pemanduan wisata di desa Ekowisata Pancoh. Kegiatan
sosialisasi kepemanduan wisata disampaikan melalui metode ceramah dan diskusi
tentang pemanduan wisata, hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan oleh pemandu
sebelum bertemu wisatawan, hingga cara-cara mengetahui tipe atau karakteristik
wisatawan. Melalui program pengabdian masyarakat ini, kapasitas SDM lokal
dipersiapkan sebaik mungkin untuk menerima kunjungan wisatawan serta mampu
memberikan layanan dan pemanduan sesuai standar profesional. Program
pengabdian ini terselenggara untuk mewujudkan ruang belajar bagi masyarakat
untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mereka dalam bidang
pemanduan wisata.
Kata Kunci: Pemanduan Wisata, Pemberdayaan, Desa Ekowisata Pancoh.
Abstract
Rural areas as the locus of tourism development need to prepare themselves to welcome the
arrival of tourists. In order to create an empowered village community, one of the initial
strategies that can be implemented is through a community service programme through
socialisation of community empowerment through tour guiding in Pancoh Ecotourism
Village. The socialisation of tour guiding activities is delivered through lecture and discussion
methods about tour guiding, what things the guide needs to prepare before meeting tourists,
and ways to find out the type or characteristics of tourists. Through this community service
programme, the capacity of local human resources is prepared as well as possible to receive
tourist visits and be able to provide services and guides according to professional standards.
This community service programme is held to create a learning space for the community to
improve their knowledge and abilities in the field of tour guiding.
Keywords: Tour Guide, Empowerment, Pancoh Ecotourism Village.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 42-49
E-ISSN: 3047-2474 (online) 43
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Pendahuluan
Sektor pariwisata memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi lokal
dan pemberdayaan masyarakat jika dikelola dengan efektif dan berkelanjutan.
Sebagai sektor yang melibatkan berbagai bidang, pariwisata tidak hanya
memberikan kesempatan kerja dan menghasilkan pendapatan bagi industri tersebut
(Adiwilaga et al., 2022), namun pariwisata juga memiliki dampak positif dalam
meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal, mempromosikan budaya dan warisan,
serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Kondisi ini merupakan
indikasi dari berkembangnya sektor pariwisata di sebuah destinasi yang bersifat
multiplier effect, yakni perubahan yang terjadi di suatu kawasan karena
meningkatnya aktifitas sehingga semakin banyak pihak yang diuntungkan
perekonomiannya (Prakoso, 2022). Peningkatan kunjungan wisatawan terhadap
barang dan jasa, seperti akomodasi, transportasi, makanan dan minuman, serta
kerajinan lokal berbanding lurus dengan munculnya lapangan kerja baru yang
berefek pada meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Selain itu, aktifitas
pariwisata juga mampu memberikan dampak positif pada sektor lain, seperti
pertanian, perdagangan, dan industri kreatif (Kusumah, 2023). Pertumbuhan
perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata di kawasan perdesaaan
merupakan sebuah upaya pembangunan berkelanjutan (Huda, 2020). Lebih lanjut
lagi, ketika suatu desa berubah menjadi kawasan wisata tercipta suatu kondisi
dimana wisatawan yang berkunjung tidak hanya datang untuk melihat, namun
tuntutan wisatawan mulai merambah pada sensor lain, yakni menikmati suasana
pedesaan, mengenal hiruk pikuk aktifitas khas masyarakat pedesaan, hingga
mempelajari cara hidup masyarakat desa (Susyanti & Latianingsih, 2014).
Proses pengenalan wisatawan terhadap objek yang dikunjungi diterjemahkan
sebagai proses belajar atau pengenalan terhadap nilai-nilai lokal yang masih sangat
kuat dianut oleh masyarakat inilah yang harus disampaikan secara tepat oleh
masyarakat lokal sebagai pemandu wisata dalam proses pemanduan wisata (Izaati
et al., 2023). Pemanduan wisata memberikan ruang bagi pemandu wisata dalam
memberikan panduan, penjelasan maupun arahan yang dibutuhkan oleh
wisatawan ketika berada di suatu kawasan yang belum dikenal atau tidak pernah
dikunjungi sebelumnya (Wira, 2021). Adapun dalam hal ini, kawasan perdesaan
sebagai lokus pengembangan pariwisata perlu mempersiapkan diri menyambut
kedatangan wisatawan, maka dibutuhkan kemampuan dan ketrampilan
masyarakat lokal untuk memberi panduan, penjelasan maupun arahan kepada
wisatawan secara profesional. Dalam rangka mewujudkan masyarakat desa yang
berdaya, salah satu strategi awal yang dapat dilaksanakan adalah melalui program
pengabdian masyarakat sosialisasi pemanduan wisata. Program pengabdian
masyarakat ini bermanfaat untuk mengenalkan profesi pemandu wisata dikalangan
masyarakat desa, agar mereka memiliki kemauan dan kemampuan untuk
memberikan pelayanan kepada wisatawan secara optimal. Program ini
diselenggarakan juga bertujuan untuk mempersiapkan sumber daya manusia lokal
serta memberikan wawasan ilmu pengetahuan tentang pemanduan terutama di
kawasan ekowisata. Selain memberikan pengalaman positif bagi para wisatawan,
program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 42-49
E-ISSN: 3047-2474 (online) 44
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
terhadap lingkungan dan meningkatkan partisipasi masyarakat lokal dalam
pengelolaan destinasi wisata yang ada di sekitar mereka.
Pelaksanaan program pengabdian masyarakat tersebut bertempat di Desa
Ekowisata Pancoh, Kalurahan Girikerto, Kepanewon Turi, Kabupaten Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepanewon Turi memiliki luas wilayah seluas 4.309
Ha yang berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Gunung Merapi di sebelah
utara, Kepanewon Pakem di sebelah timur, Kepanewon Sleman di sebelah selatan,
dan Kepanewon Tempel di sebelah barat. Pemerintahan Kecamatan Turi menaungi
4 desa, yaitu Desa Girikerto, Desa Wonokerto, Desa Donokerto, dan Desa
Bangunkerto. Desa Ekowisata Pancoh merupakan salah satu desa yang berada di
Desa Girikerto. Batas wilayah daerah ini, yakni:
1. Sebelah Barat : Desa Wonokerto
2. Sebelah Timur : Desa Purwobinangun, Kepanewon Pakem
3. Sebelah Utara : Gunung Merapi
4. Sebelah Selatan : Desa Donokerto Banguntapan
Pada mulanya Desa Girikerto merupakan satu wilayah yang terdiri dari empat
kalurahan, yaitu kalurahan Ngandong, Tanggung, Nangsri Lor, dan Kemirikebo.
Adapun kemudian empat kalurahan tersebut kemudian bergabung menjadi satu
desa otonom yakni Desa Girikerto. Nama Girikerto ditetapkan berdasarkan
maklumat Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang terbit pada tahun 1946
mengenai pemerintahan kalurahan. Setelah itu, berdasarkan Maklumat Pemerintah
Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 Tahun 1948 mengenai perubahan daerah
kalurahan, Desa Girikerto resmi ditetapkan. Desa Ekowisata Pancoh pertama kali
didirikan oleh LSM LPTP Solo pada tahun 2010 yang bekerjasama dengan
Kementrian Lingkungan Hidup dan Pusat Studi Pariwisata UGM (Endiyanti &
Sarwadi, 2021). Pada saat itu, desa tersebut diberdayakan dengan tujuan untuk
membantu masyarakat pasca erupsi Gunung Merapi. LPTP Solo telah membantu
masyarakat Dusun Pancoh sejak mereka mengungsi hingga mereka aman dari
erupsi, yang berlangsung hingga tahun 2011 (Jadesta Kemenparekraf, 2024). Pada
akhirnya, tim LPTP Solo menemukan bahwa ada potensi untuk mengembangkan
daya tarik wisata dari sumber daya yang ada di Dusun Pancoh. Potensi alam Desa
Girikerto cukup beragam, khususnya di kawasan Desa Ekowisata Pancoh. Kawasan
desa ekowisata ini memiliki luasan lahan pertanian padi serta area perkebunan
salak dan cabai yang sangat potensial dikembangkan menjadi daya tarik agro.
Selain area cocok tanam, kawasan ini juga mengembangkan peternakan sapi,
kambing, dan budidaya ikan. Keseluruhan potensi tersebut sangat mendukung
keberadaan Dusun Pancoh sebagai desa berbasis ekowisata.
Desa Ekowisata Pancoh menganut lima prinsip dalam pengelolaannya, yakni
adil, mandiri, keterlibatan masyarakat, lokalitas, terbuka dan bertanggung jawab.
Selain itu, Desa Ekowisata Pancoh memiliki tujuan menciptakan desa ekowisata
yang bersih, nyaman, sehat, berbudaya, serta menjadi media atau wadah
pembelajaran kelestarian lingkungan melalui peningkatan kualitas sumber daya
manusia (SDM) dan penataan lingkungan untuk meningkatkan ekonomi
masyarakat. Ekowisata dikawasan pedesaan merupakan merupakan jenis
pariwisata baru yang dibuat agar wisatawan memperoleh pengalaman yang
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 42-49
E-ISSN: 3047-2474 (online) 45
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
berbeda dari pengalaman berwisata di masa lampau. Oleh karena itu, analisis
perencanaan yang menyeluruh harus dilakukan untuk memastikan bahwa
ekowisata perdesaan terus berkembang (Shang et al., 2020). Ekowisata juga dapat
dianggap sebagai pendekatan yang berguna untuk mengurangi masalah kelalaian
lingkungan dengan melibatkan kegiatan ekonomi yang bertanggung jawab yang
menghubungkan konservasi dan pemberdayaan social (Pujar & Mishra, 2021).
Metode
Kegiatan pengabdian masyarakat melalui program Sosialisasi Pemanduan
Wisata di Desa Ekowisata Pancoh diselenggarakan pada bulan Agustus 2023.
Program ini merupakan bagian dari program kerja (proker) individu mahasiswa
KKN Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo. Berdasarkan hasil koordinasi dan
kesepakatan secara internal maupun eksternal dengan warga setempat dan
pengelola wisata, telah disepakati bahwa lokasi pelaksanaan sosialisasi pemandu
wisata berada di joglo pusung Desa Ekowisata Pancoh. Peserta kegiatan sosialisasi
pemanduan wisata terdiri dari berbagai usia produktif dan berjumlah kurang lebih
30 peserta. Sosialisasi pemanduan wisata diberikan oleh pemateri pemandu wisata
profesional yang tergabung dalam asosiasi pramuwisata Indonesia yakni HPI dan
APGI. Metode yang digunakan oleh pemateri adalah ceramah mengenai materi
dasar kepemanduan dan dilanjutkan dengan diskusi, yakni diskusi tentang
pemanduan wisata, hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan oleh pemandu
sebelum bertemu wisatawan, hingga cara-cara mengetahui tipe atau karakteristik
wisatawan. Metode ini juga lebih efektif bagi peserta kegiatan sosialisasi agar
mereka berani memberikan pandangan atau argumen dari pengalaman pemanduan
yang pernah dilakukan sebelumnya.
Hasil dan Pembahasan
Seiring berkembangnya dusun Pancoh menjadi desa Ekowisata Pancoh telah
berhasil mendapatkan berbagai macam penghargaan diantaranya adalah Pada tahun
2017, desa ini mendapatkan penghargaan sebagai Desa Wisata Berkelanjutan dari
Kementerian Pariwisata. Kemudian, pada tahun 2020, Desa Ekowisata Pancoh
ditetapkan sebagai Desa Mandiri Budaya oleh Dinas Pariwisata Sleman (Mulyasari et
al., 2024). Juara Festival Desa Wisata Sleman tahun 2016 dan 2017, serta Lomba Desa
dan Kampung Wisata 2022 yang diadakan oleh Dinas Pariwisata DIY. Pengelola
Desa Wisata Pancoh menawarkan berbagai jenis kegiatan wisata, seperti Live In
Desa Wisata Pancoh, Wisata Edukasi Alam dan Budaya, Kegiatan Outdoor, dan
Wisata Kuliner Tradisional (Sushartami et al., 2021). Selain berbagai macam
penghargaan yang diterima, desa wisata Ekowisata Pancoh juga turut menjadi lokasi
pelaksanaan PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) dari beberapa Universitas di
Yogyakarta, salah satu diantaranya adalah program PKM berjudul “Virtual Tour
Sebagai Media Promosi Wisata” oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang
bermanfaat sebagai media promosi (Sushartami et al., 2021), langkah tersebut
merupakan wujud dukungan akademisi dalam rangka membantu masyarakat
bersiap menerima kedatangan wisatawan pasca pandemi Covid-19. Tentu saja
program PKM tersebut perlu langkah keberlanjutan, yakni melalui program kegiatan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 42-49
E-ISSN: 3047-2474 (online) 46
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
sosialisasi pemanduan wisata. Program sosialisasi Pemanduan Wisata di Desa
Ekowisata Pancoh merupakan salah satu agenda dalam program KKN individu
mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo yang bertujuan untuk
mewujudkan harapan masyarakat desa terkait pengetahuan dan kemampuan dalam
pemanduan wisata yang profesional. Adapun masyarakat lokal dusun Pancoh
pernah mendapatkan pelatihan pemanduan wisata sebelumnya, namun pelatihan
tersebut tidak diberikan secara berkala dan materi yang diberikan belum mengarah
pada pemanduan khusus di kawasan ekowisata. Sehingga masyarakat memiliki
keinginan agar pelatihan pemanduan wisata dapat dilaksanakan secara rutin agar
pengetahuan dan kemampuan para pemandu lokal yang sudah ada maupun
masyarakat umum yang ingin bergabung dalam profesi pemandu wisata juga
memperoleh skill yang memadai. Adapun dalam kegiatan sosialisasi tersebut,
masyarakat cukup antusias dengan pengalaman dari narasumber dan materi yang
diberikan. Kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk
memecahkan beberapa masalah dalam dunia kepemanduan yang harus dihadapi
ketika sedang berhadapan dengan wisatawan. Selain diberikan pemahaman tentang
teknik-teknik pemanduan diantaranya, arti kepemanduan wisata, tujuan
pemanduan wisata, hal-hal yang harus dipersiapkan dalam pemanduan wisata serta
hal-hal yang harus dipersiapkan sebagai pemandu wisata kemudian cara
menganalisis tipe atau karakteristik wisatawan. Peserta juga diberikan pengetahuan
bagaimana menjelaskan suatu objek wisata kepada wisatawan dengan
menggunakan konsep 5W+1H. Konsep 5W+1H yang digunakan berupa what (daya
tarik apa yang disedikan oleh suatu destinasi wisata), who (siapa pengelola atau
pihak terkait yang mendirikan dan mengembangkan destinasi wisata), when (kapan
destinasi tersebut didirikan), where (dimana lokasi wisata itu berada), why (alasan
mengapa destinasi tersebut didirikan atau dikembangkan), dan how (bagaimana
sejarah dan latar belakang berdirinya destinasi wisata). Setelah peserta melakukan
latihan cara mendefinisikan suatu objek, narasumber memberikan pengalaman
memandunya dengan wisatawan domestik maupun mancanegara serta memberikan
kesempatan kepada peserta untuk bertanya tentang hal yang belum dipahami atau
meminta saran kepada narasumber. Sesi terakhir adalah sesi penutup dan foto
bersama.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 42-49
E-ISSN: 3047-2474 (online) 47
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Gambar 1: Penjelasan Materi oleh Narasumber
Sumber: Dokumentasi Penelitian
Pelaksanaan pengabdian masyarakat melalui program pemberdayaan
masyarakat melalui sosialisasi pemanduan wisata ini bertujuan untuk meningkatkan
kapasitas soft skill SDM di Desa Ekowisata Pancoh. Kegiatan pendampingan dan
pelatihan khususnya kepemanduan sangat dibutuhkan oleh masyarakat Desa
Ekowisata Pancoh, terlebih bahwa desa ekowisata ini memiliki potensi pariwisata
yang cukup menjanjikan di masa yang akan datang. Kesiapan SDM dalam
memberikan layanan dan pemanduan bagi wisatawan domestik maupun
mancanegara perlu dipersiapkan sebaik mungkin. Adapun tujuan lain dari
penyelenggaraan program sosialisasi tersebut adalah partisipasi aktif masyarakat
lokal yang diharapkan dapat bertumbuh seiring berkembangnya desa wisata ini.
Kekuatan sebuah desa wisata selain bersumber dari daya tarik yang dimiliki juga
berasal dari masyarakat yang berdaya. Masyarakat atau sumber daya manusia
memiliki peran penting dalam keberlanjutan pengelolaan suatu destinasi. Oleh
karena itu dalam program pengabdian masyarakat ini, kapasitas SDM lokal dapat
dipersiapkan sebaik mungkin untuk menerima kunjungan wisatawan serta mampu
memberikan layanan dan pemanduan sesuai standar profesional.
Pemanduan wisata di kawasan-kawasan khusus seperti desa ekowisata
membutuhkan kemampuan kepemanduan yang berbeda dengan kawasan umum,
terdapat beberapa aspek penting yang harus dipahami oleh pemandu wisata
diantaranya adalah kealamiahan alam/ lingkungan, prinsip keberlanjutan,
kelompok-kelompok kecil pemerhati ekowisata, serta interpretasi ekowisata
terhadap wisatawan (Izaati et al., 2023). Interpretasi dalam ekowisata merupakan
suatu proses pembelajaran berupa komunikasi antara interpreter (yakni pemandu)
dan pendengar (yakni wisatawan) dengan tujuan membuat pendengar memiliki
ketertarikan baik secara emosional dan intelektual terhadap sumber daya alam yang
dimiliki oleh suatu wilayah (Izaati et al., 2023). Proses memberikan pemahaman
terhadap kelestarian lingkungan dan keberlanjutan suatu destinasi harus benar-
benar sampai dan dapat dipahami oleh pengunjung. Kualitas kunjungan wisatawan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 42-49
E-ISSN: 3047-2474 (online) 48
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
akan sangat terlihat ketika mereka memperoleh pengalaman yang positif dari
kunjungan tersebut, kemudian mampu merubah pola pikir dan gaya hidup setelah
selesai berkunjung ke suatu destinasi. Maka dapat dikatakan bahwa peran pemandu
wisata dalam bersikap maupun dalam proses menyampaikan informasi secara tepat
dan akurat sesuai dengan karakteristik destinasi dapat membantu meningkatkan
kualitas pengalaman wisatawan sekaligus dapat membentuk citra suatu destinasi
menjadi lebih positif.
Simpulan dan Rekomendasi
Pencapaian kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui sosialisasi
kepemanduan wisata tidak hanya dirasakan sukses bagi mahasiswa KKN namun
juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa. Masyarakat Desa Ekowisata
Pancoh turut menyambut positif dengan adanya kegiatan tersebut, berbagai ucapan
terima kasih dari pihak desa khususnya pengelola diberikan sebagai bentuk
dukungan dari para akademisi dan praktisi dan rangka meningkatkan kapasitas
SDM desa ekowisata Pancoh. Meskipun demikian, ada beberapa faktor yang dapat
dijadikan sebagai motivasi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat sekaligus
sebagai rekomendasi untuk penyelenggaraan pelatihan kepemanduan wisata
selanjutnya, yakni :
1. Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berkelanjutan: Sosialisasi pemanduan
wisata dapat membantu mengedukasi wisatawan tentang pentingnya menjaga
lingkungan dan budaya setempat. Hal ini dapat mencakup pemahaman tentang
flora dan fauna yang dilindungi, teknik berkeliling yang ramah lingkungan, serta
pentingnya meminimalisir jejak karbon.
2. Menghormati Budaya Lokal: Sosialisasi pemanduan wisata dapat membantu
wisatawan memahami adat dan kebiasaan setempat, serta etika yang harus
diikuti saat berinteraksi dengan penduduk lokal. Ini termasuk pemahaman
tentang tempat-tempat sakral, kegiatan adat, dan kebijakan kesopanan.
3. Meningkatkan Kesadaran Komunitas Lokal: Sosialisasi pemanduan wisata juga
dapat meningkatkan kesadaran masyarakat lokal tentang pentingnya menjaga
kelestarian lingkungan dan budaya mereka sendiri. Melalui pendidikan dan
pelatihan, penduduk desa dapat menjadi pemandu wisata yang kompeten dan
berperan aktif dalam pelestarian warisan alam dan budaya mereka.
Daftar Pustaka
Adiwilaga, H., Usman, U., Guna, R. P., Iskandar, P. F., Multiretno, D. F., Maharani,
W., Marves, E., & Rosyidi, M. I. (2022). Pariwisata Indonesia: Bertahan Di Masa
Pandemi, Bersiap Bangkit Lebih Kuat. Jakarta: Bank Indonesia Institute.
Endiyanti, S. R., & Sarwadi, A. (2021). Pengelolaan Ekowisata Di Desa Wisata
Pancoh, Turi, Sleman, Yogyakarta. Cakra Wisata, 22(2), 3446.
Huda, R. (2020). Pengembangan Ekonomi Lokal Melalui Sektor Pariwisata di Desa
Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Aspirasi: Jurnal
Masalah-Masalah Sosial, 11(2), 157170.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 1, No. 2, August 2024, page: 42-49
E-ISSN: 3047-2474 (online) 49
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Izaati, I. A., Dalem, A. G. R., & Joni, M. (2023). Interpretasi Ekowisata Oleh Pemandu
Wisata/ Pramuwisata Pada Daya Tarik Wisata Mangrove Tour di Bali.
SIMBIOSIS, 11(2), 138148.
Jadesta Kemenparekraf. (2024). Desa Wisata Ekowisata Pancoh.
https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/ekowisata_pancoh
Kusumah, G. (2023). Membangun Daerah Melalui Pariwisata: Tantangan dan Peluang.
https://mpar.upi.edu/membangun-daerah-melalui-pariwisata-tantangan-dan-
peluang/#:~:text=Industri%20pariwisata%20dapat%20menjadi%20pendorong
%20utama%20pertumbuhan%20ekonomi,budaya%20dan%20keindahan%20ala
m%20suatu%20daerah%20kepada%20wisatawan.
Mulyasari, R., Maizida, K., & Purwandani, I. (2024). Peran Komunitas Seni dan
Budaya dalam Pengembangan Desa Mandiri Budaya di Desa Ekowisata
Pancoh. Gadjah Mada Journal of Tourism, 5(1), 2036.
Prakoso, A. (2022). Konsep & Teori Desa Wisata. Banyumas: Pena Persada.
Pujar, S. C., & Mishra, N. (2021). Ecotourism industry in India: A review of current
practices and prospects. Anatolia, 32(2), 289302.
Shang, Y., Sun, Y., & Xu, A. (2020). Rural ecotourism planning and design based on
SWOT analysis. International Journal of Low-Carbon Technologies, 15(3), 368372.
Sushartami, W., Sari, Y. K., Maizida, K., & Purwandani, I. (2021). Video Wisata
Virtual sebagai Media Promosi Desa Ekowisata Pancoh di Era Kenormalan
Baru. Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 106125.
Susyanti, D. W., & Latianingsih, N. (2014). Potensi desa melalui pariwisata pedesaan.
EPIGRAM (e-Journal), 11(1).
Wira. (2021). Teknik Kepemanduan Wisatawan. Badung: Nila Cakra Publishing House.