PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 3, September 2024, page: 140-146
E-ISSN: 3047-2288
140
Ade Suherman et.al (Representasi Nilai-Nilai Karakter....)
Representasi Nilai-Nilai Karakter di Kampung Naga
Sebagai Referensi Pengembangan Bahan Ajar
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Ade Suherman
a,1
, Pipyn Hidroga Sekti
b,2
, Rahmat Hidayat
c,3
, Gilang Muhammad Akbar
d,4
, Dani
Mulyadi Yusup
e,5
, Muhamad Sutisna
f,6
abcdef
STKIP Arrahmaniyah Depok
1
adesuherman@institutpendidikan.ac.id;
2
pendampingCGP14@gmail.com;
3
sherahmatthea1818@gmail.com;
4
gilangmuhammad1503@gmail.com;
5
mulyadidani3@gmail.com;
6
muhamadsutisna290966@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 12 Agustus 2024
Direvisi: 16 Agustus 2024
Disetujui: 24 Agustus 2024
Tersedia Daring: 2 September
2024
Penelitian ini mengkaji representasi nilai-nilai karakter di Kampung Naga
sebagai referensi pengembangan bahan ajar Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan (PPKn). Kampung Naga, sebagai komunitas tradisional di
Jawa Barat, memiliki kearifan lokal yang kaya akan nilai-nilai budaya dan
moral, seperti nilai-nilai lingkungan, menjaga gaya hidup bersih dan sehat,
membina spiritualitas, menerapkan disiplin, dan menunjukkan kepedulian
sosial yang kuat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
metode studi kasus untuk menggali bagaimana nilai-nilai tersebut
terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kampung Naga. Data
diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai karakter di Kampung Naga
sangat relevan dengan tujuan pendidikan PPKn, terutama dalam
pembentukan sikap dan perilaku yang sesuai dengan Pancasila. Oleh karena
itu, nilai-nilai ini dapat dijadikan referensi penting dalam pengembangan
bahan ajar yang kontekstual dan aplikatif bagi siswa, guna memperkuat
pendidikan karakter dan kewarganegaraan di Indonesia.
Kata Kunci:
Kata Kampung Naga
Karakter
Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan
ABSTRACT
Keywords:
Naga Village
Character
Pancasila Education and
Citizenship
This study examines the representation of character values in Naga Village as
a reference for the development of teaching materials for Pancasila and
Citizenship Education (PPKn). Naga Village, as a traditional community in
West Java, has local wisdom that is rich in cultural and moral values, such as
environmental values, maintaining a clean and healthy lifestyle, fostering
spirituality, applying discipline, and showing strong social concern. This study
uses a qualitative approach with a case study method to explore how these
values are integrated in the daily life of the people of Naga Village. Data was
obtained through observation, in-depth interviews, and document analysis.
The results of the study show that the character values in Naga Village are
very relevant to the educational goals of PPKn, especially in the formation of
attitudes and behaviors in accordance with Pancasila. Therefore, these values
can be used as an important reference in the development of contextual and
applicable teaching materials for students, in order to strengthen character
and citizenship education in Indonesia.
©2024, Ade Suherman, Pipyn Hidroga Sekti, Rahmat Hidayat, Gilang Muhammad Akbar,
Dani Mulyadi Yusup, Muhamad Sutisna
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) merupakan mata pelajaran yang
sangat penting dalam sistem pendidikan di Indonesia. Tujuannya adalah untuk membentuk
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 3, September 2024, page: 140-146
E-ISSN: 3047-2288
141
Ade Suherman et.al (Representasi Nilai-Nilai Karakter....)
karakter siswa agar menjadi warga negara yang baik, bertanggung jawab, dan memiliki
pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara. Namun,
tantangan yang sering dihadapi dalam pengajaran PPKn adalah kurangnya bahan ajar yang
kontekstual dan mampu menghubungkan nilai-nilai Pancasila dengan kehidupan nyata siswa.
Kampung Naga merupakan budaya sunda, yang berkembang di wilayah Jawa Barat dan
sekitarnya, merupakan salah satu kebudayaan yang kaya akan nilai-nilai luhur yang diwariskan
secara turun-temurun. Nilai-nilai ini tidak hanya tercermin dalam berbagai aspek kehidupan
sehari-hari, tetapi juga dalam tradisi, adat istiadat, kesenian, dan bahasa Sunda. Masyarakat
Sunda dikenal memiliki karakter yang kuat, seperti gotong royong (kebersamaan), silih asih
(kasih sayang), silih asah (pendidikan), dan silih asuh (saling melindungi). Selain itu, nilai-
nilai seperti hormat kepada orang tua, ketaatan kepada agama, dan rasa tanggung jawab
terhadap komunitas juga menjadi bagian penting dari identitas budaya Sunda.
Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, nilai-nilai budaya Sunda tetap relevan dan
memiliki potensi besar untuk diintegrasikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam
pendidikan karakter di sekolah. Pendidikan karakter yang berbasis pada budaya lokal, seperti
budaya Sunda, dapat menjadi salah satu upaya untuk memperkuat identitas nasional sekaligus
membekali generasi muda dengan moral dan etika yang sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan.
Salah satu solusi untuk mengatasi tantangan ini adalah dengan mengembangkan bahan ajar
yang berakar pada kearifan lokal dan budaya setempat. Kampung Naga, sebuah komunitas
adat di Jawa Barat, menawarkan contoh nyata bagaimana nilai-nilai Pancasila diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai masyarakat yang hidup dalam harmoni dengan alam dan
memegang teguh tradisi leluhur, masyarakat Kampung Naga mengamalkan nilai-nilai seperti
gotong royong, musyawarah, dan kepatuhan pada norma-norma sosial yang mencerminkan
esensi Pancasila. Kampung Naga mampu menjaga adat istiadat walaupun berada dalam era
modernisasi dari sisi mata pencaharian, sistem kemasyarakatan dan organisasi, kesenian, dan
teknologi (Derizal1, Nurbaeti1, Gunawijaya, 2024).
Pendidikan karakter telah menjadi salah satu fokus utama dalam sistem pendidikan di
Indonesia, sejalan dengan upaya pemerintah untuk membangun generasi yang memiliki moral,
etika, dan nilai-nilai kebangsaan yang kuat. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
(PPKn) merupakan salah satu mata pelajaran yang dirancang untuk menginternalisasi nilai-
nilai Pancasila dan membentuk karakter siswa agar menjadi warga negara yang baik dan
bertanggung jawab. Namun, tantangan dalam implementasi PPKn di sekolah sering kali terkait
dengan kurangnya bahan ajar yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari
siswa.
Kampung Naga, sebuah komunitas adat di Jawa Barat, merupakan salah satu contoh
masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai budaya dan kearifan lokal dalam
kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai seperti gotong royong, kebersamaan, toleransi, dan tanggung
jawab telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Kampung Naga. Nilai-nilai ini
sejalan dengan tujuan pendidikan PPKn dan dapat dijadikan referensi penting dalam
pengembangan bahan ajar yang lebih kontekstual dan aplikatif. Pendidikan karakter sebagai
usaha untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (habituation), sehingga peserta didik
mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai positif yang telah menjadi
kepribadiannya.
Selanjutnya, Zuchdi (2009: 10) menambahkan bahwa pendidikan karakter adalah
pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan
(feeling), dan indakan (action). Lebih lanjut menyampaikan bahwa secara mikro,
pengembangan karakter dibagi menjadi empat pilar, yaitu melalui integrasi dalam mata
pelajaran, budaya sekolah, ekstrakurikuler, dan kegiatan di rumah dan masyarakat. Dalam
pelaksanaannya di masing-masing sekolah, keempat pilar tersebut diintegrasikan dengan
program yang selayaknya berlaku di sekolah. Melalui keempat pilar tersebut diharapkan nilai-
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 3, September 2024, page: 140-146
E-ISSN: 3047-2288
142
Ade Suherman et.al (Representasi Nilai-Nilai Karakter....)
nilai karakter dapat ditanamkan dengan baik bagi siswa. Pengembangan bahan ajar PPKn yang
mengintegrasikan budaya dan adat Kampung Naga tidak hanya akan memberikan konteks
yang lebih konkret bagi siswa, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar mereka dengan
contoh-contoh nyata dari kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, siswa dapat lebih mudah
memahami dan menginternalisasi nilai-nilai Pancasila, serta melihat relevansi pendidikan
kewarganegaraan dalam membentuk karakter yang sesuai dengan identitas kebangsaan.
Hasil penelitian dari (Yasri, B., Syarief, Y. I., Lubis, A. R., Adoe, C. B., Fahreza, F.,
Aulia, A., & Anggia, K. 2024) Kampung Naga berperan vital dalam memelihara
keharmonisan sosial dan ritus budaya. Adat dan tradisi kampung naga memegang peran
penting dalam mengatur hubungan sosial dan nilai nilai yang dijunjung tinggi. Kampung Naga
terkenal dengan adat dan tradisi yang masih lestari yang mengatur hubungan sosial dan
kehidupan sehari-hari. Ekonomi desa berorientasi pada pertanian dan kerajinan bambu, dengan
beberapa warga mencari penghasilan di luar. Kampung Naga berhadapan dengan tantangan
globalisasi dan berupaya menyeimbangkan pemeliharaan tradisi dengan adaptasi perubahan.
Adat istiadat terdiri dari tradisi wasiat, mandat, larangan, dan konsekuensi; dinamika
masyarakat terdiri dari perubahan teknologi, pekerjaan, pendapatan, dan kepemilikan fasilitas
hidup; dan strategi yang direkomendasikan adalah melalui inovasi adaptif yang sesuai dengan
adat. (Ningrum, E. 2012). Warga Kampung Naga memprioritaskan nilai-nilai lingkungan,
menjaga gaya hidup bersih dan sehat, membina spiritualitas, menerapkan disiplin, dan
menunjukkan kepedulian sosial yang kuat. Nilai-nilai ini mencerminkan sifat seperti
ketahanan karakter, integritas moral, toleransi, dan semangat gotong royong yang semuanya
diwariskan kepada generasi berikutnya melalui pembelajaran budaya lokal dalam keluarga,
(Sarah, L. L., Liliawati, W., & Sriyati, S. 2024).
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis representasi nilai-nilai
karakter di Kampung Naga, serta mengkaji potensi integrasinya dalam pengembangan bahan
ajar PPKn. Melalui pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, penelitian ini diharapkan
dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan karakter di Indonesia yang lebih
berbasis pada kearifan lokal dan relevan dengan konteks sosial budaya siswa. Dengan
memahami dan mengkaji nilai-nilai yang ada dalam budaya Sunda, kita dapat
mengembangkan model pendidikan karakter yang tidak hanya relevan dengan konteks lokal,
tetapi juga mampu membentuk pribadi yang berintegritas, bertanggung jawab, dan memiliki
kepedulian sosial yang tinggi. Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi solusi dalam
menghadapi tantangan-tantangan moral yang dihadapi oleh generasi muda saat ini, serta
memperkaya bahan ajar yang digunakan dalam pendidikan karakter di sekolah-sekolah.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi etnografi sebagai kerangka
konseptual untuk mengetahui kearifan lokal dan dinamika sosial budaya yang ada di
Kampung Naga. Pada penelitian pendekatan kualitatif bentuk data berupa kalimat atau narasi
yang diperoleh melalui teknik pengumpulan data kualitatif yang bertujuan untuk memahami
fenomena sosial (Iswahyudi et al., 2023; Wekke, 2019). Studi etnografi dengan pendekatan
kualitatif mencoba untuk mempelajari dan memahami fenomena sosial dari sudut pandang
subjek. Sehingga memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan nuansa yang lebih kaya
tentang fenomena yang diteliti. Etnografi adalah pendekatan empiris dan teoritis yang
bertujuan mendapatkan deskripsi dan analisis mendalam tentang kebudayaan berdasarkan
peneliti lapangan yang intensif (Yusanto, 2020). Melalui pendekatan etnografi, peneliti dapat
mengeksplorasi dan meneliti budaya dan masyarakat yang merupakan bagian fundamental dari
pengalaman manusia (Nixon & Odoyo, 2020).
Penelitian ini berfokus pada cara masyarakat adat mempertahankan nilai-nilai tradisional
dan bagaimana hal tersebut berdampak pada pemeliharaan alam dan lingkungan hidup.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 3, September 2024, page: 140-146
E-ISSN: 3047-2288
143
Ade Suherman et.al (Representasi Nilai-Nilai Karakter....)
Pengumpulan data kualitatif dibantu dengan pedoman wawancara, lembar observasi, dan studi
dokumentasi. Untuk mendapatkan data yang lebih terstruktur dan mudah dipahami, data yang
diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan kuncen dan pemandu yang merupakan
masyarakat adat Kampung Naga, kemudian dibuat menjadi sederhana dan ringkas. Setelah
data dikumpulkan, peneliti melakukan analisis untuk menginterpretasikannya dan
mengaitkannya dengan teori yang relevan. Data disajikan dalam bentuk teks yang bersifat
naratif. Tahap terakhir dari penelitian ini yaitu penarikan kesimpulan dari hasil analisis data
dan verifikasi untuk memeriksa kesimpulan tersebut. Verifikasi dilakukan dengan triangulasi,
yang berarti pengumpulan data dengan menggunakan teknik yang berbeda, seperti observasi,
wawancara, dan intisari dokumen. Setelah data diperoleh, peneliti melakukan analisis data dan
menarik kesimpulan.
3. Hasil dan Pembahasan
Identifikasi Nilai-Nilai Karakter di Kampung Naga
Kampung Naga memiliki jumlah penduduk sebanyak 293 jiwa yang terdiri atas 147 laki-
laki dan 146 perempuan. Dalam kehidupan masyarakatnya, bertumbuh sebuah struktur
kemasyarakatan yang terdiri dari beberapa lembaga adat yang masing-masing ketua lembaga
adatnya disebut dengan kuncen, lebe adat, dan pundhuh. Lembaga adat di Kampung Naga
memiliki peran yang lebih dominan dalam kehidupan masyarakat Kampung Naga dalam proses
pelestarian budaya. Lembaga adat ini saling bekerjasama dan bahu membahu untuk menjaga
keharmonisan masyarakat, memimpin ritual adat dan keagamaan, memberikan informasi,
memelihara warisan tradisi leluhur dan menjaga alam. Dapat disimpulkan bahwa peran lembaga
adat ini dapat mempengaruhi perilaku masyarakat adat dalam melestarikan budaya (Yasri, B.,
Syarief, Y. I., Lubis, A. R., Adoe, C. B., Fahreza, F., Aulia, A., ... & Anggia, K. 2024).
Meskipun memiliki perannya masing-masing, tiap-tiap lembaga adat memiliki fokusnya
masing-masing. Kepemimpinan dari lembaga adat ini adalah kepemimpinan informal yang
didapatkan sebagai warisan atau turun-temurun (Kuncen Kampung Naga, 2024). Seperti Kuncen
atau yang biasa disebut dengan ketua adat ini memiliki wewenang untuk menyelesaikan masalah
yang dihadapi masyarakat Kampung Naga. Selain itu, kuncen bertugas untuk menjaga,
melaksanakan dan memimpin acara-acara adat. Kuncen biasanya mengetahui riwayat dari
tempat-tempat yang dijaganya. Lebe adat berperan untuk mengatur masalah keagamaan dalam
kehidupan masyarakat Kampung Naga. Lebe adat juga memiliki peran untuk memimpin ritual-
ritual yang berhubungan dengan ajaran ajaran agama Islam, memimpin upacara pernikahan,
maulidan, upacara kematian mulai dari tahap awal hingga akhir. Punduh adat berperan untuk
mengatur jalannya kehidupan masyarakat dan mengkoordinasi dan menjaga ketertiban kampung
adat. Punduh juga memiliki wewenang untuk menegur dan memberikan sanksi kepada
masyarakat yang melenceng dari ketentuan adat yang ada di Kampung Naga.Sebagian besar
penduduk Kampung Naga adalah petani yang menggarap sawah mereka. Mereka mematuhi
pantangan tradisional, tidak menanam varietas padi hibrida, tetapi memilih varietas lokal seperti
pare ageung dan pare alit. Siklus hidup tanaman padi ini, dari penanaman hingga panen,
berlangsung selama sekitar enam bulan, memungkinkan dua kali penanaman dalam setahun.
Dalam proses panen, penduduk menggunakan alat tradisional, ani-ani, bukan mesin pemotong
atau perontok padi. Padi yang telah dipotong kemudian dijemur hingga kering dan ditumbuk
dengan lesung dan alu. Metode ini dianggap menghasilkan nasi yang lebih enak dan
menimbulkan kerugian hasil yang lebih sedikit dibandingkan dengan metode modern. Hasil
panen disimpan dalam leuit, sebuah lumbung padi yang berfungsi sebagai sistem ketahanan
pangan untuk mengatasi kegagalan panen atau periode paceklik. Selain bertani, penduduk
Kampung Naga juga mengisi waktu luang mereka dengan membuat kerajinan tangan dari
bambu, yang mereka pelajari secara turun-temurun, seperti tas, topi, gelang, peralatan rumah
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 3, September 2024, page: 140-146
E-ISSN: 3047-2288
144
Ade Suherman et.al (Representasi Nilai-Nilai Karakter....)
tangga, dan hiasan lainnya yang unik dan memiliki nilai jual tinggi, sering dijual kepada para
wisatawan yang berkunjung (Apiati et al., 2019).
Adat dan tradisi kampung naga memegang peran penting dalam mengatur hubungan sosial
dan nilai nilai yang dijunjung tinggi. Kampung Naga terkenal dengan adat dan tradisi yang
masih lestari yang mengatur hubungan sosial dan kehidupan sehari hari. Dalam sistem
pernikahan, adat istiadat kampung naga pada awalnya melarang warga Kampung Naga untuk
menikah dengan orang-orang di luar Kampung Naga agar menjaga tradisi tetap murni. Selain itu
hal tersebut dilakukan untuk menghindari kesenjangan sosial dan merusak kepribadian atau adat
istiadat yang masih ada di Kampung Naga. Namun, sekarang sistem pernikahan lebih fleksibel
yang memungkinkan warga untuk menikahi orang-orang di luar Kampung Naga asalkan mereka
mengikuti dan menghormati adat dan tradisi yang ada. Mereka juga dapat memilih untuk tetap
tinggal di Kampung Naga atau pergi setelah menikah. Sebagai acara sakral, hari pernikahan
harus dipilih dengan cermat sesuai dengan warisan nenek moyang. Pernikahan tidak boleh
dilakukan pada bulan tertentu atau pada hari yang tidak baik. Misalnya, tidak boleh dilakukan
pada bulan Muharram, Sapar, atau Mulud, atau pada hari kelahiran atau kematian orang tua.
Sejak abad ke-16, masyarakat di Kampung Naga telah menganut ajaran agama Islam.
Bahkan setelah dokumen yang menunjukkan penyebaran agama ini dibakar, petilasan
pangsolatan menunjukkan bagaimana agama Islam menyebar di kampung ini. Namun, dalam
kesehariannya mereka masih melakukan beberapa kegiatan keagamaan/kepercayaan yang
dipengaruhi oleh ajaran leluhur (karuhun). Misalnya dalam upacara Hajat Sasih yang masih rutin
dilaksanakan dan dipercaya sama dengan perayaan hari raya agama Islam lainnya (Purnama,
2021). Masjid di Kampung Naga menjadi pusat kerukunan umat karena digunakan untuk shalat
dan mengaji serta tempat untuk upacara atau ritual keagamaan. Ustad berperan membantu
masyarakat dalam mengaji dan beribadah. Lembaga adat, seperti kuncen, lebe, dan puduh,
memainkan peran penting dalam pelaksanaan praktik keagamaan dan membina kerukunan umat
Wilayah Kampung Naga dibagi menjadi tiga bagian yaitu kawasan hutan, kawasan permukiman,
dan kawasan luar kampung (Maharlika & Fatimah, 2019).
Masyarakat kampung naga hanya diperbolehkan membangun rumah di kawasan
permukiman yang dikelilingi oleh pagar bambu. Umumnya bentuk atau konstruksi rumah di
Kampung sama, yaitu berbentuk rumah panggung yang dibangun di atas umpak dengan tinggi
sekitar 40-60 cm (Salsabila, 2023). Satu faktor yang menjadi pembeda dari rumah yang dimiliki
adalah ukuran rumah. Ukuran rumah masyarakat disesuaikan dengan luas lahan yang dimiliki,
namun ukuran rumahnya tidak boleh melebihi bangunan utama di kampung adat seperti Bumi
Ageung, Masjid, dan Balai patemon (Saepitri, 2019). Model rumah di kampung naga memiliki
dua pintu dengan desain dan fungsi yang berbeda. Pintu pertama mempunyai desain polos yang
dikhususkan untuk pintu ruang tamu. Sedangkan pintu kedua mempunyai desain anyaman
bambu yang dinamakan anyam sasak. Pintu dengan desain anyam sasak ini dikhususkan sebagai
pintu untuk ruang dapur. Kamar atau ruang untuk beristirahat berada di belakang rumah. Setiap
rumah warga saling berhadapan, yaitu ruang depan bertemu dengan ruang depan, sebaliknya
ruang belakang bertemu dengan ruang belakang. Hal tersebut dilakukan agar setiap aktivitas
warga tidak mengganggu tetangga lain. Setiap bangunan rumah hanya ditempelkan dengan
pondasi dengan tujuan agar dapat memindahkan rumah sewaktu waktu.
Relevansi Nilai-Nilai Karakter dengan Kurikulum PPKn
Analisis terhadap kurikulum PPKn menunjukkan bahwa nilai-nilai karakter dari Kampung
Naga memiliki relevansi yang tinggi dengan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar PPKn.
Beberapa contoh integrasi:
1. Nilai kepemimpinan (Adat Kampung Naga, Silih Asuh) dapat diintegrasikan ke dalam
materi tentang sistem pemerintahan dan partisipasi warga negara.
2. Nilai kebijaksanaan (Adat Kampung Naga, Gotong Royong) relevan dengan materi
tentang proses pengambilan keputusan dalam konteks demokrasi.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 3, September 2024, page: 140-146
E-ISSN: 3047-2288
145
Ade Suherman et.al (Representasi Nilai-Nilai Karakter....)
3. Harmoni sosial (Adat Kampung Naga, Silih Asih) selaras dengan materi tentang
persatuan dan kesatuan bangsa.
4. Tanggung jawab (Adat Kampung Naga, Pamali) dapat dikaitkan dengan materi tentang
pelaksanaan hak dan kewajiban warga negara.
5. Toleransi (Adat Kampung Naga, Silih Asih Silih Asuh silih Pikanyaah) sangat relevan
dengan materi tentang keberagaman dan pluralisme di Indonesia.
Sejalan dengan hasil penelitian (Suherman, A., Nurlaela, W. S., Dimyati, E., & Maulana, A.
(2023), Nilai-nilai kearifan lokal yang relevan di Kampung Naga yang digunakan sebagai
sumber pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di era 4.0, yaitu; cinta lingkungan, gotong
royong, kebersamaan, kesederhanaan dan kesetaraan, kemandirian, kreativitas, tanggung jawab,
serta konsistensi dan prinsip; Aktualisasi nilai-nilai kearifan lokal Kampung Naga dalam
pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMAN 8 Garut, yaitu: Guru harus memahami
kearifan lokal yang akan dikembangkan dalam pembelajaran; Guru menentukan materi;
Menetapkan tujuan pembelajaran berdasarkan indikator yang ditentukan dari Kompetensi Inti
dan Kompetensi Dasar dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan;
Strategi Pengembangan Bahan Ajar
Berdasarkan temuan penelitian, beberapa strategi pengembangan bahan ajar PPKn berbasis
nilai-nilai karakter Kampung Naga diusulkan:
1. Penggunaan Studi Kasus
Mengembangkan studi kasus berdasarkan peristiwa historis atau kontemporer di
Kampung Naga yang mencerminkan nilai-nilai karakter tertentu.
2. Integrasi Multimedia
Memanfaatkan video, animasi, dan infografis untuk mengilustrasikan konsep-konsep
abstrak dan praktik nilai-nilai karakter di Kampung Naga.
3. Pembelajaran Berbasis Proyek
Merancang proyek-proyek yang mengharuskan siswa mengaplikasikan nilai-nilai karakter
dalam konteks modern, misalnya merancang solusi untuk isu-isu sosial kontemporer
menggunakan prinsip-prinsip kepemimpinan Jawa.
4. Pendekatan Interdisipliner
Mengintegrasikan materi PPKn dengan sejarah, seni, dan budaya untuk memberikan
pemahaman yang lebih komprehensif tentang nilai-nilai karakter.
4. Kesimpulan
Penelitian ini telah mengeksplorasi representasi nilai-nilai karakter di Kampung Naga dan
potensinya sebagai referensi dalam pengembangan bahan ajar PPKn. Temuan utama penelitian
menunjukkan bahwa Kampung Naga menyimpan kekayaan nilai-nilai karakter yang sangat
relevan dengan tujuan pembelajaran PPKn, seperti kepemimpinan, kebijaksanaan, harmoni
sosial, tanggung jawab, dan toleransi.
Integrasi nilai-nilai karakter Kampung Naga ke dalam bahan ajar PPKn memiliki potensi
signifikan untuk memperkaya pembelajaran dan membuat materi lebih kontekstual bagi siswa.
Strategi pengembangan bahan ajar yang diusulkan, seperti penggunaan studi kasus, integrasi
multimedia, dan pembelajaran berbasis proyek, dapat membantu menjembatani gap antara nilai-
nilai tradisional dan kebutuhan pembelajaran modern. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan
untuk melakukan studi implementasi bahan ajar yang telah dikembangkan untuk mengevaluasi
efektivitasnya dalam meningkatkan pemahaman dan internalisasi nilai-nilai karakter pada siswa.
Selain itu, penelitian komparatif dengan pusat-pusat kebudayaan lain di Indonesia dapat
memberikan wawasan yang lebih luas tentang potensi integrasi kearifan lokal dalam pendidikan
nasional. Kesimpulannya, penelitian ini menegaskan pentingnya menjembatani warisan budaya
tradisional dengan kebutuhan pendidikan kontemporer. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai
karakter dari Kampung Naga ke dalam bahan ajar PPKn, kita tidak hanya memperkaya proses
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 3, September 2024, page: 140-146
E-ISSN: 3047-2288
146
Ade Suherman et.al (Representasi Nilai-Nilai Karakter....)
pembelajaran, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian dan revitalisasi kearifan lokal melalui
pendidikan. Hal ini pada akhirnya diharapkan dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya
memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan global,
tetapi juga memiliki karakter yang kuat yang berakar pada nilai-nilai luhur budaya bangsa.
5. Daftar Pustaka
Apiati, V., Heryani, Y., & Muslim, S. R. (2019). Etnomatematik dalam Bercocok Tanam Padi
dan Kerajinan Anyaman Masyarakat Kampung Naga. Mosharafa: Jurnal Pendidikan
Matematika, 8(1), 107118.
Derizal, D., Nurbaeti, N., & Gunawijaya, J. (2024). Nilai-Nilai Kearifan Lokal Kampung Naga
di Era Modernisasi. Jurnal Ilmiah Global Education, 5(1), 188-199.
Iswahyudi, M. S., Wulandari, R., Samsuddin, H., Sukowati, I., Nurhayati, S., Makrus, M.,
Amalia, M. M., Faizah, H., Febianingsih, N. P. E., & others. (2023). Buku Ajar Metodologi
Penelitian. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Maharlika, F., & Fatimah, D. F. (2019). Tinjauan Konsep Desain Berkelanjutan Pada Arsitektur
Rumah Tinggal Di Desa Adat Kampung Naga. Waca Cipta Ruang, 5(1), 337342.
Ningrum, E. (2012). Dinamika Masyarakat Tradisional Kampung Naga di Kabupaten
Tasikmalaya. MIMBAR: Jurnal Sosial dan Pembangunan, 28(1), 47-54.
Nixon, A., & Odoyo, C. O. (2020). Ethnography, Its Strengths, Weakness and Its Application in
Information Technology and Communication as a Research Design. Journal Computer
Science and Information Technology, 8(2), 5056.
Purnama, S. (2021). Kearifan Lokal Masyarakat Adat Kampung Naga Sebagai Penguatan
Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat. Jurnal Pendidikan Sosiologi Dan Humaniora,
12(1), 3036.
Saepitri, R. (2019). Perancangan Informasi Perempuan Di “Kampung Naga Tasikmalaya”
Melalui Buku Fotografi.
Salsabila, D. A. (2023). Budaya dan Aktivitas Kehidupan Masyarakat di Kampung Naga: Studi
Pariwisata. Garuda: Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Dan Filsafat, 1(1), 1524.
Sarah, L. L., Liliawati, W., & Sriyati, S. (2024). An Ethnoscience Exploration of Terbang
Gembrung Percussion From Kampung Naga, West Java and the Potential as Local Context
in Physics Education. Jurnal Pijar Mipa, 19(3), 437-444.
Suherman, A., Nurlaela, W. S., Dimyati, E., & Maulana, A. (2023, July). Actualization of the
Value of Local Wisdom in Era 4.0 as a Learning Source for Pancasila and Citizenship
Education. In 3rd International Conference on Education and Technology (ICETECH
2022) (pp. 225-236). Atlantis Press.
Yasri, B., Syarief, Y. I., Lubis, A. R., Adoe, C. B., Fahreza, F., Aulia, A., ... & Anggia, K.
(2024). Kearifan Lokal dan Dinamika Sosial Budaya di Kampung Naga dengan Pendekatan
Etnografi. Jurnal Dimensi, 13(2), 524-536.
Yusanto, Y. (2020). Ragam Pendekatan Penelitian Kualitatif. Journal of Scientific
Communication (Jsc), 1(1), 113. https://doi.org/10.31506/jsc.v1i1.7764
Zuchdi, D. (2010). Pengembangan Model Pendidikan Karakter Terintegrasi dalam Pembelajaran
Bidang Studi di Sekolah Dasar. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 1(3).