PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 66-75
E-ISSN: 3047-2288
66
Sylvia Zakiyyatul Miskiyyah et.al (Integrasi Kearifan Lokal Batik Gedhok dalam....)
Integrasi Kearifan Lokal Batik Gedhok dalam
Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar
a
Sylvia zakiyyatul Miskiyyah, Jl. Trobongso, Tuban 62371, Indonesia
b
Nurul Mahruzah Yulia, Bandarkedungmulyo, Jombang 61462, Indonesia
1
sylviazakiyaaa@gmail.com;
2
mahruzah@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 29 Maret 2025
Direvisi: 24 April 2025
Disetujui: 25 Mei 2025
Tersedia Daring: 1 Juni 2025
Batik Gedhog, sebagai warisan budaya khas Kabupaten Tuban, memiliki nilai-
nilai filosofis dan estetika yang dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata
pelajaran dalam pembelajaran tematik. Melalui pembelajaran kontekstual
berbasis budaya lokal, siswa tidak hanya memahami materi akademik tetapi
juga menumbuhkan sikap cinta budaya, karakter positif, dan penguatan Profil
Pelajar Pancasila. Analisis pustaka menunjukkan bahwa integrasi kearifan
lokal dalam pembelajaran tematik berpotensi meningkatkan relevansi, daya
tarik, dan kebermaknaan dalam proses belajar. meskipun demikian,
penerapan di lapangan masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan
sumber ajar dan pelatihan guru. Oleh karena itu, kolaborasi antara sekolah,
pemerintah, dan masyarakat sangat diperlukan untuk mengembangkan
pembelajaran yang berbasis budaya lokal secara berkelanjutan.
Kata Kunci:
Integrasi kearifan lokal
Kearifan lokal batik Gedhok
Pembelajaran tematik di
Sekolah Dasar
ABSTRACT
Keywords:
Integration of local wisdom
Local wisdom of Gedhok
batik
Thematic learning in
Elementary Schools
Batik Gedhog, as a cultural heritage typical of Tuban Regency, has
philosophical and aesthetic values that can be integrated into various subjects
in thematic learning. Through contextual learning based on local culture,
students not only understand academic materials but also foster an attitude
of love for culture, positive character, and strengthening the Pancasila Student
Profile. Literature analysis shows that the integration of local wisdom in
thematic learning has the potential to increase relevance, attractiveness, and
meaningfulness in the learning process. However, implementation in the field
still faces challenges, such as limited teaching resources and teacher training.
Therefore, collaboration between schools, government, and the community is
needed to develop learning based on local culture in a sustainable manner.
©2025, Sylvia Zakiyyatul Miskiyyah, Nurul Mahruzah Yulia
This is an open access article under CC BY-SA license
1.
Pendahuluan
Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki beragam
budaya lokal yang menakjubkan serta mendalam. Setiap wilayah menampilkan warisan
budaya yang tak hanya merefleksikan identitas masyarakat setempat, tetapi juga memuat nilai-
nilai mulia yang diturunkan dari generasi ke generasi. Salah satu kekayaan budaya tersebut
adalah batik, yang telah diakui sebagai simbol nasional dan identitas budaya bagi rakyat
Indonesia. Batik dapat ditemukan di seluruh nusantara, khususnya di Jawa, sebagai karya seni
yang menggabungkan teknik, filosofi, dan estetika yang tinggi. Sejak bulan Oktober tahun
2009, UNESCO telah mengakui Batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 66-75
E-ISSN: 3047-2288
67
Sylvia Zakiyyatul Miskiyyah et.al (Integrasi Kearifan Lokal Batik Gedhok dalam....)
Kemanusiaan, menegaskan pentingnya perlindungan dan pelestarian budaya ini. Salah satu
jenis batik yang unik dan memiliki nilai tinggi berasal dari Kabupaten Tuban di Jawa Timur,
yaitu Batik Gedhog. Batik ini dibuat dengan menggunakan kain tenun tradisional yang
memiliki pola dan motif kaya makna, menggambarkan filosofi kehidupan masyarakat setempat
seperti kesabaran, ketekunan, serta keseimbangan dengan alam dan aspek spiritualitas. Namun,
di tengah modernisasi dan globalisasi, ketertarikan generasi muda terhadap budaya lokal
seperti Batik Gedhog mengalami penurunan. Banyak anak-anak di sekolah dasar yang belum
mengetahui, apalagi memahami makna yang terkandung dalam batik ini.
Pendidikan memainkan peran yang krusial dalam menjaga kelestarian budaya. Sekolah
dasar, sebagai tahap awal pengembangan karakter dan identitas anak, merupakan tempat yang
ideal untuk menyampaikan nilai-nilai budaya lokal. Salah satu metode efektif dalam
mengajarkan budaya adalah melalui pembelajaran tematik. Metode ini memungkinkan
penggabungan berbagai subjek dalam satu tema yang terintegrasi, sehingga siswa bisa
mempelajari materi yang relevan dan kontekstual dengan kehidupan mereka. Pembelajaran
tematik yang menyisipkan kearifan lokal seperti Batik Gedhog dapat menjadi cara untuk
menanamkan nilai-nilai sosial, budaya, dan estetika secara lebih mendalam. Penelitian yang
dilakukan oleh Sari dan Gunansyah menunjukkan bahwa Batik Gedhog memiliki potensial
sebagai sumber pembelajaran berbasis etnopedagogi yang bisa diterapkan dalam berbagai mata
pelajaran, seperti IPS, Bahasa Indonesia, Seni Budaya dan Prakarya, serta Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan. Hal ini sejalan dengan tujuan Kurikulum Merdeka yang
mengedepankan pembentukan Profil Pelajar Pancasilayaitu siswa yang beriman, mandiri,
kreatif, bersinergi, berpikir kritis, dan memiliki keberagaman global. Oleh karena itu,
mengembangkan model pembelajaran tematik yang mencakup kearifan lokal seperti Batik
Gedhog merupakan langkah penting untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna
serta berkontribusi pada pelestarian budaya dan penguatan karakter bangsa.
2.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode penelitian pustaka (library research), yaitu
pendekatan yang dilakukan dengan menelaah berbagai sumber tertulis yang relevan. Sumber-
sumber tersebut mencakup buku, jurnal ilmiah, artikel, dokumen resmi, serta hasil penelitian
sebelumnya yang berhubungan dengan integrasi kearifan lokal, khususnya Batik Gedhog,
dalam pembelajaran tematik di jenjang sekolah dasar. Strategi yang diambil bersifat deskriptif
kualitatif, bertujuan untuk menggambarkan, memahami, dan menganalisis secara mendalam
informasi yang diperoleh dari berbagai referensi tertulis. Tujuan utama analisis adalah untuk
menemukan pola, hubungan, dan keterkaitan antara konsep kearifan lokal Batik Gedhog dan
implementasinya dalam konteks pembelajaran tematik. Pengumpulan data dilakukan dengan
metode studi dokumentasi dan pencarian online terhadap sumber-sumber akademik yang
relevan. Data didapatkan dari basis data seperti Google Scholar, Garuda Ristekbrin, dan portal
jurnal ilmiah dari sejumlah universitas. Proses analisis data melibatkan beberapa langkah,
yaitu:
1. Menentukan topik utama yang menjadi pusat perhatian
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 66-75
E-ISSN: 3047-2288
68
Sylvia Zakiyyatul Miskiyyah et.al (Integrasi Kearifan Lokal Batik Gedhok dalam....)
2. Mengategorikan data sesuai dengan tema yang muncul,
3. Menginterpretasikan isi sumber dalam konteks yang sesuai,
4. Menyusun sintesis dari berbagai pandangan yang telah ditemukan,
5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil analisis.
Dengan pendekatan ini, diharapkan bisa diperoleh pemahaman yang mendalam mengenai
potensi Batik Gedhog sebagai sumber belajar yang berbasis pada kearifan lokal dalam konteks
pendidikan dasar.
3.
Hasil dan Pembahasan
Nilai Nilai Kearifan Lokal Batik Gedhok
Batik Gedhog adalah suatu warisan budaya dari masyarakat Kerek di Kabupaten Tuban,
Jawa Timur, yang mengandung banyak nilai lokal yang kaya dan mendalam serta penuh makna
filosofis. Keunikan Batik Gedhog tidak hanya terletak pada cara pembuatannya yang
menggunakan alat tenun tradisional, tetapi juga pada arti simbolis yang ada dalam setiap
motifnya yang mencerminkan cara pandang hidup masyarakat. Seperti yang dijelaskan oleh
Ciptandi pada tahun 2021, Batik Gedhog bukan hanya kain tradisional, tetapi juga representasi
nilai-nilai budaya dan identitas masyarakat Tuban yang memiliki makna kosmologis yang
mendalam. Motif-motifnya sering kali menggambarkan hubungan antara manusia, Tuhan, dan
alam, serta menjadi ungkapan rasa syukur, permohonan untuk keselamatan, dan harapan akan
kesuburan. Secara visual, Batik Gedhog menunjukkan karakter masyarakat pesisir Tuban lewat
pilihan warna, pola-pola, dan teknik pewarnaan alami yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Lebih dari sekadar karya seni tekstil, Batik Gedhog juga berperan sebagai sarana sosial dan
budaya yang hidup dalam tradisi masyarakat. Batik ini sering digunakan dalam berbagai upacara
adat, kegiatan spiritual, dan perayaan agama, sehingga menguatkan ikatan sosial dan identitas
bersama komunitas lokal (Ciptandi, 2021).
Batik Gedhog bukan hanya objek budaya, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai alat
untuk pendidikan karakter. Satriyani dan Segara (2022) menyatakan bahwa nilai-nilai yang ada
dalam motif Batik Gedhog, seperti ketekunan, kerja sama, spiritualitas, dan harmoni dengan
alam, sejalan dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila. Misalnya, motif "kupat" melambangkan
rasa syukur dan kebersamaan, sedangkan motif "lokcan" menunjukkan keseimbangan antara
manusia dan alam. Dengan memasukkan nilai-nilai ini dalam pembelajaran, terutama dalam
mata pelajaran IPS di sekolah dasar, siswa dapat diajak untuk memahami pentingnya empati,
tanggung jawab sosial, dan menghargai budaya lokal. Penggunaan Batik Gedhog dalam
pendidikan tidak hanya membantu melestarikan budaya, tetapi juga membentuk karakter
generasi muda yang memiliki akhlak baik, spiritual, dan nasionalis. Dengan menjadikan Batik
Gedhog sebagai media pembelajaran berbasis kearifan lokal, proses pendidikan bisa menjadi
lebih relevan, menyenangkan, dan bermakna. Melestarikan dan menggunakan Batik Gedhog
secara kreatif merupakan bagian dari usaha untuk mempertahankan identitas budaya daerah dan
memperkuat jati diri bangsa di tengah arus globalisasi yang semakin besar (Satriyani & Segara,
2022).
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 66-75
E-ISSN: 3047-2288
69
Sylvia Zakiyyatul Miskiyyah et.al (Integrasi Kearifan Lokal Batik Gedhok dalam....)
Oleh sebab itu, Batik Gedhog tidak hanya pantas dihargai sebagai barang budaya, tetapi
juga berfungsi sebagai alat pendidikan yang dapat mengubah karakter anak-anak muda. Nilai-
nilai baik yang ada di dalamnya sesuai dengan tujuan pendidikan di negara kita dan menjadi
dasar penting dalam membentuk Profil Pelajar Pancasila. Maka dari itu, memasukkan Batik
Gedhog ke dalam pembelajaran tema tidak hanya merupakan cara baru dalam pendidikan, tetapi
juga sebagai langkah cerdas untuk merawat dan menjaga warisan budaya negara kita. Usaha ini
diharapkan dapat terus dikembangkan melalui kurikulum yang fleksibel, peran guru yang
inovatif, serta partisipasi masyarakat dalam menjaga budaya lokal tetap hidup dan relevan untuk
generasi sekarang dan yang akan datang.
Relevansi Nilai Budaya dengan Profil Pelajar Pancasila
Nilai-nilai budaya setempat memiliki peran penting dalam pembentukan karakter siswa,
terutama dalam mencapai Profil Pelajar Pancasila. Penerapan kearifan lokal dalam pendidikan
sudah terbukti tidak hanya memperkuat identitas budaya para peserta didik, tetapi juga
mendukung pengembangan karakter yang sesuai dengan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila:
beriman dan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkehidupan majmuk, kerjasama,
mandiri, berpikir kritis, dan berinovasi. Salah satu bentuk kearifan lokal yang bisa diintegrasikan
dalam proses belajar mengajar adalah Batik Gedhog. Sebagai warisan budaya masyarakat Kerek,
Tuban, Batik Gedhog mengandung nilai filosofi dan etnopedagogis yang mendalam. Sari dan
Gunansyah (2018) mengemukakan bahwa Batik Gedhog dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar
berbasis etnopedagogi dalam pembelajaran tematik di tingkat sekolah dasar. Nilai-nilai seperti
ketekunan, penghormatan terhadap tradisi, dan keseimbangan dengan alam dapat diintegrasikan
ke dalam berbagai mata pelajaran seperti IPS, Bahasa Indonesia, IPA, dan PPKn melalui model
pembelajaran terintegrasi, seperti pendekatan terpadu, sehingga siswa tidak hanya mendapatkan
pengetahuan akademis, tetapi juga mengembangkan karakter sosial dan budaya.
Selanjutnya, Amalia dan Mariana (2022) menyelidiki potensi Batik Gedhog dalam
pembelajaran matematika yang berbasis etnomatematika. Dengan menjelajahi motif geometris
batik, siswa dipandu untuk memahami konsep simetri, pola, dan bangun datar dalam konteks
budaya lokal. Pembelajaran ini bukan hanya meningkatkan kemampuan kognitif, tetapi juga
memperkuat nilai budaya lewat pendekatan lima domain pengetahuan budaya, sehingga siswa
menjadi lebih-reflektif, kritis, dan inovatif. Studi lain oleh Atiqoh dan Jauhariyah (2021)
berfokus pada pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang berbasis Batik Tulis
Gedhog untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis. LKPD ini mencakup kegiatan seperti
analisis pola batik, diskusi mengenai nilai-nilai kehidupan, dan interpretasi konteks sosial-
budaya. Temuan menunjukkan bahwa media pembelajaran yang berasal dari kearifan lokal dapat
menghubungkan pencapaian akademik dengan pembentukan karakter siswa yang bertanggung
jawab dan menghargai budaya. Ketiga penelitian tersebut menekankan bahwa Batik Gedhog
bukan hanya sekadar objek visual, melainkan juga alat pendidikan yang memiliki nilai tinggi
dalam pengembangan karakter siswa. Integrasi nilai-nilai lokal ke dalam pembelajaran menjadi
strategi yang penting untuk membentuk generasi muda yang berpengetahuan luas, memiliki
karakter yang baik, dan memiliki semangat kebangsaan di tengah tantangan globalisasi.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 66-75
E-ISSN: 3047-2288
70
Sylvia Zakiyyatul Miskiyyah et.al (Integrasi Kearifan Lokal Batik Gedhok dalam....)
Integrasi dalam Pembelajaran Tematik
Para peneliti sangat tertarik dengan integrasi Batik Gedhog ke dalam pendidikan tematik,
karena potensinya yang luar biasa untuk membuat pembelajaran lebih efektif dan menjaga
warisan budaya daerah. Menurut Sari dan Dewi (2020), memakai Batik Gedhog sebagai alat
belajar tematik dapat meningkatkan minat dan semangat siswa, dan juga memperdalam
pengetahuan mereka tentang seni dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Batik Gedhog,
yang memiliki banyak makna filosofis, dapat menghubungkan berbagai bidang studi seperti
sejarah, seni, dan pendidikan karakter, menghasilkan pengalaman belajar yang komprehensif dan
bermakna. Rahmawati (2021) mendukung gagasan ini dengan menunjukkan bahwa saat siswa
menjelajahi motif Batik Gedhog selama pelajaran, mereka menjadi lebih baik dalam berpikir
kritis, lebih imajinatif, dan mengembangkan kemampuan kognitif secara keseluruhan. Selain
membantu siswa berpikir dan berkreasi, menggabungkan Batik Gedhog juga penting untuk
membentuk identitas budaya dan karakter mereka. Menurut Putri dan Hidayat (2022), ketika
pelajaran menggunakan elemen Batik Gedhog, hal itu membuat siswa lebih bangga dengan
budaya lokal mereka dan menanamkan nilai-nilai tradisional seperti tanggung jawab, kerja sama,
dan menghormati tradisi. Dalam hal ini, Santoso (2023) menekankan bahwa pendidikan berbasis
budaya lokal sangat penting untuk membangun kesadaran nasional dan cinta tanah air, karena
siswa menyadari betapa pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya sebagai bagian
dari identitas nasional mereka.
Selain itu, Wulandari dan Susanto (2024) menekankan bahwa agar pembelajaran tematik
berbasis Batik Gedhog berhasil, guru, siswa, masyarakat, dan pengrajin batik harus bekerja sama.
Kolaborasi semacam ini menciptakan pengalaman belajar yang asli dan relevan di mana siswa
belajar langsung dari orang-orang yang terlibat dalam budaya, sehingga mereka memiliki
pemahaman yang lebih dalam dan lebih praktis tentang makna dan teknik batik. Pendekatan ini
tidak hanya meningkatkan kualitas pengajaran, tetapi juga meningkatkan upaya untuk
melestarikan budaya dalam jangka panjang. Dapat disimpulkan dari seluruh temuan penelitian
bahwa mengintegrasikan Batik Gedhog ke dalam pembelajaran tematik memiliki efek positif
dalam empat bidang utama. Pertama, itu membuat siswa lebih terlibat dan antusias dalam proses
pembelajaran melalui metode yang relevan dan menyenangkan. Kedua, kegiatan eksplorasi motif
dan simbol batik menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas. Ketiga, itu
memperkuat identitas budaya dan membentuk karakter siswa yang menghargai nilai-nilai lokal.
Keempat, ini mendorong sekolah dan komunitas budaya untuk bekerja sama sebagai bagian dari
pendidikan berbasis masyarakat. Akhirnya, integrasi Batik Gedhog adalah strategi pendidikan
yang secara harmonis menyatukan aspek kognitif, afektif, dan sosial, menciptakan generasi muda
yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan
pemahaman budaya yang mendalam. Oleh karena itu, penerapan model pembelajaran ini perlu
terus dikembangkan dan diperluas pada tingkat pendidikan dasar dan menengah untuk
memperkuat pendidikan karakter sekaligus pelestarian budaya bangsa.
Manfaat bagi Penguatan Karakter Siswa
Di tengah arus globalisasi yang terus meluas dan dampak budaya asing yang semakin
mendalam, usaha untuk menjaga budaya lokal tidak cukup hanya melalui kegiatan seremoni atau
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 66-75
E-ISSN: 3047-2288
71
Sylvia Zakiyyatul Miskiyyah et.al (Integrasi Kearifan Lokal Batik Gedhok dalam....)
perayaan tradisional. Diperlukan strategi yang lebih berarti dan berkelanjutan, salah satunya
melalui pendidikan yang secara sistematis mengajarkan nilai-nilai budaya sejak dini. Dalam hal
ini, pengintegrasian batik Gedhogsalah satu warisan budaya dari Tuban, Jawa Timurke
dalam pembelajaran tematik di sekolah dasar adalah langkah nyata yang tidak hanya memiliki
makna simbolis, tetapi juga berfungsi dalam pengembangan karakter siswa. Batik Gedhog,
dengan desain dan teknik khas yang sarat makna, menyimpan potensi besar sebagai alat edukatif
yang menanamkan nilai-nilai seperti kesabaran, ketekunan, tanggung jawab, dan rasa cinta tanah
air yang mendalam. Penelitian oleh Sari dan Gunansyah (2018) menunjukkan bahwa batik
Gedhog bisa dimanfaatkan sebagai materi pembelajaran berdasarkan etnopedagogi, yaitu
pendekatan pendidikan yang menyertakan kearifan lokal dalam proses belajar. Pendekatan ini
memungkinkan pengajaran budaya seperti batik Gedhog dilakukan secara lintas disiplin. Dalam
pelajaran IPS, misalnya, siswa mempelajari sejarah dan perkembangan batik Gedhog sebagai
bagian dari identitas lokal; dalam pelajaran Bahasa Indonesia, mereka dapat mengasah
kemampuan bercerita dengan menuliskan pengalaman dalam membatik; sementara dalam SBdP
(Seni Budaya dan Prakarya), siswa berpartisipasi langsung dalam pembuatan batik menggunakan
teknik tradisional. Proses pembelajaran tematik ini tidak hanya mendorong aspek kognitif siswa,
tetapi juga meningkatkan kesadaran afektif dan psikomotorik yang memperkuat rasa memiliki
terhadap budaya mereka.
Dari sudut pandang matematika, Amalia dan Mariana pada tahun (2021) memberikan
sudut pandang menarik melalui penerapan etnomatematika, yaitu pengintegrasian unsur budaya
dalam pengajaran matematika. Dalam konteks batik Gedhog, motif geometris dan simetris
menjadi instrumen nyata untuk mengajarkan konsep seperti pola, bangun datar, dan simetri.
Aktivitas mengamati, menghitung, dan meniru pola batik tidak hanya membuat pembelajaran
lebih relevan dan menyenangkan, tetapi juga melatih keterampilan berpikir logis, ketelitian, dan
kesabaran. Dengan metode ini, siswa tidak hanya belajar angka dan rumus, tetapi juga
memahami matematika sebagai bagian dari budaya yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-
hari mereka. Meskipun tidak membahas batik Gedhog secara khusus, Handayani dan rekan-
rekannya (2020) dalam kajiannya tentang batik dari Ngawi memberikan penekanan bahwa setiap
motif dan warna pada batik tradisional mengandung pesan moral serta nilai karakter yang
mendalam. Ketika siswa dipaparkan pada filosofi di balik motif batik, mereka tidak hanya belajar
teknik seni visual, tetapi juga dihadapkan pada refleksi tentang nilai-nilai perjuangan,
nasionalisme, dan tanggung jawab sosial. Ini berarti bahwa pembelajaran berbasis budaya bukan
hanya menumbuhkan apresiasi estetis dan seni, namun juga memperkuat dimensi moral dan
spiritual siswa dalam konteks kehidupan berbangsa.
Secara keseluruhan, integrasi batik Gedhog dalam pendidikan tematik terbukti sebagai
metode yang tidak hanya memperkenalkan kekayaan budaya setempat, namun juga berfungsi
sebagai alat yang efektif untuk menanamkan karakter pada siswa. Ketika proses pembelajaran
melibatkan keterlibatan langsung dengan warisan budaya melalui pendekatan tematik yang
komprehensif, pendidikan akan menghasilkan individu yang cerdas secara intelektual dan
memiliki integritas, rasa peduli sosial, serta kebanggaan terhadap kultur nasional. Oleh karena
itu, sangat penting bagi para pengajar, pembuat kebijakan, dan orang tua untuk mendukung
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 66-75
E-ISSN: 3047-2288
72
Sylvia Zakiyyatul Miskiyyah et.al (Integrasi Kearifan Lokal Batik Gedhok dalam....)
pengembangan dan implementasi pembelajaran yang berorientasi pada kearifan lokal seperti
batik Gedhog. Dengan cara ini, pendidikan bukan hanya sekadar tempat untuk mentransfer ilmu,
tetapi juga sebagai wadah untuk melestarikan nilai-nilai luhur bangsa.
4.
Kesimpulan
Penelitian ini membuktikan bahwa batik Gedhog, yang merupakan bagian dari warisan
budaya Tuban, memiliki potensi yang signifikan untuk dijadikan sebagai alat pembelajaran
tematik yang dapat membentuk karakter siswa di tingkat sekolah dasar. Nilai-nilai mulia seperti
ketekunan, kesederhanaan, keagamaan, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat disertakan
dalam berbagai mata pelajaran dan mendukung pencapaian Profil Pelajar Pancasila.
Implementasi batik Gedhog dalam proses belajar tidak hanya dapat meningkatkan prestasi
akademik, tetapi juga memupuk kecintaan pada budaya lokal dan meningkatkan rasa
nasionalisme di kalangan siswa. Meskipun ada beberapa kendala, seperti kurangnya sumber
pembelajaran dan pemahaman guru mengenai pendekatan berbasis budaya, ada banyak
kesempatan untuk pengembangan yang masih terbuka lebar apabila didukung oleh kerjasama
antara sekolah, pemerintah, dan komunitas. Oleh karena itu, para pendidik perlu merancang
bahan ajar yang berbasis budaya lokal yang sesuai dan kontekstual, sementara pemerintah daerah
dan dinas pendidikan diharapkan untuk menyediakan dukungan melalui pelatihan dan modul
pendukung pembelajaran. Penelitian lebih lanjut juga dianjurkan untuk secara langsung menilai
efektivitas model pembelajaran tematik yang menggunakan batik Gedhog dalam memperkuat
karakter siswa di ruang kelas.
5.
Ucapan Terima Kasih
Dengan rasa hormat dan penuh terima kasih, penulis ingin mengungkapkan apresisasi
kepada Ibu Nurul Mahruzah Yulia, M.Pd selaku dosen pembimbing yang telah memberikan
bimbingan, arahan, dan masukan yang sangat berarti selama proses penulisan ini. Penulis juga
ingin menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tua penulis atas doa, motivasi, dan
dukungan mental yang selalu diberikan tanpa henti. Semoga semua bantuan yang telah diberikan
menjadi amal yang penuh kebaikan yang berarti.
6.
Daftar Pustaka
Ariasmara, S., & Muhammad, A. (2025). THE EFFECT OF FAMILY SUPPORT ON THE
STRESS LEVEL OF INMATES IN CLASS IIA CORRECTIONAL INSTITUTION
YOGYAKARTA. Jurnal Kajian Pendidikan Dan Psikologi, 2(3), 19.
https://doi.org/10.61397/JKPP.V2I3.69;
Azryasalam, A., Friska, S. Y., & Purwanto, K. (2020). PENGARUH MODEL COOPERATIVE
LEARNING TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP MINAT
DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS V SEKOLAH
DASAR. Dharmas Education Journal (DE_Journal), 1(1), 4047.
https://doi.org/10.56667/DEJOURNAL.V1I1.58
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 66-75
E-ISSN: 3047-2288
73
Sylvia Zakiyyatul Miskiyyah et.al (Integrasi Kearifan Lokal Batik Gedhok dalam....)
Basiran, B., & Ningsih, T. (2023). Kreativitas Guru dalam Mengembangkan Media
Pembelajaran IPS. Jurnal Kependidikan, 11(2), 226239.
https://doi.org/10.24090/JK.V11I2.8679
Batik Gedog Tuban. Sanggar Batik Sekar Ayu Simpan Ratusan Batik Kuno Berusia Ratusan
Tahun - Radar Bonang. (n.d.). Retrieved June 9, 2025, from
https://radarbonang.jawapos.com/budaya/2333770887/batik-gedog-tuban-sanggar-batik-
sekar-ayu-simpan-ratusan-batik-kuno-berusia-ratusan-tahun#google_vignette
Ciptandi, F. (2020). The Identity Transformation of Gedog Batik Tuban, East Java. Journal of
Urban Society's Arts.
https://www.academia.edu/77142812/The_Identity_Transformation_of_Gedog_Batik_Tu
ban_East_Java
Implementasi Kurikulum Merdeka - Prof. Dr. H. E. Mulyasa, M.Pd. - Google Buku. (n.d.).
Retrieved June 9, 2025, from
https://books.google.co.id/books/about/Implementasi_Kurikulum_Merdeka.html?id=ec_
hEAAAQBAJ&redir_esc=y
Industri Kreatif Pada Batik Tulis Tenun Gedog: Kondisi Sosial-Ekonomi Pasca Covid-19 Umpo
Repository. (n.d.). Retrieved June 9, 2025, from https://eprints.umpo.ac.id/5877/
Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar. (n.d.). Retrieved June 9, 2025, from
https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-penelitian-pgsd/index
Khoeriyah, N., Khoeriyah, N., & Mawardi, M. (2023). Penerapan Desain Pembelajaran Tematik
Integratif Alternatif Berbasis Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Hasil dan
Kebermaknaan Belajar. Mimbar Sekolah Dasar, 5(2), 6374.
https://doi.org/10.53400/mimbar-sd.v5i2.11444
Lihat artikel. (n.d.). Retrieved June 13, 2025, from
https://scholar.google.com/citations?view_op=view_citation&hl=id&user=Zbpuz2kAAA
AJ&citation_for_view=Zbpuz2kAAAAJ:UeHWp8X0CEIC
Nandang Rukanda, Anik Yuliani, Agus Hasbi Noor, Ika Mustika, Mega Nur Prabawati, Eva
Mulyani, Siska Ryane Muslim, A. Ismail Lukman, Aflich Yusnita Fitrianna, Ema
Aprianti, Via Nugraha, Ratna Sariningsih, Sharina Munggaraning Westhisi, Arwin
Sanjaya, Dadan, S. H. (2024). Pengembangan Karakter Melalui Pembelajaran Berbasis
Kearifan Lokal. 112116.
Nuraini, L. (2019). INTEGRASI NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM PEMBELAJARAN
MATEMATIKA SD/MI KURIKULUM 2013. Jurnal Pendidikan Matematika (Kudus),
1(2). https://doi.org/10.21043/JPM.V1I2.4873
Model dan Strategi Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Kekinian | Universitas Negeri Malang
(UM). (n.d.). Retrieved June 9, 2025, from https://um.ac.id/rilis/model-dan-strategi-
pembelajaran-berbasis-kearifan-lokal-kekinian/
Paranita, S. (2023). Nilai-Nilai Nuju Jerami Sebagai Sumber Pendidikan dalam Penguatan Profil
Pelajar Pancasila Berbasis Kearifan Lokal Bangka. Jurnal Pendidikan Dan Konseling
(JPDK), 5(1), 19921998. https://doi.org/10.31004/JPDK.V5I1.11168
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 66-75
E-ISSN: 3047-2288
74
Sylvia Zakiyyatul Miskiyyah et.al (Integrasi Kearifan Lokal Batik Gedhok dalam....)
Pembelajaran Tematik Berbasis Kearifan Lokal Malang Selatan - Google Books. (n.d.).
Retrieved June 13, 2025, from
https://www.google.co.id/books/edition/Pembelajaran_Tematik_Berbasis_Kearifan_L/U
nRMEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=0
Ramadhana, I., & Kirwani, D. H. (2015). PENGEMBANGAN USAHA SENTRA INDUSTRI
KECIL BATIK TULIS GEDOG SEBAGAI POTENSI EKONOMI LOKAL
KABUPATEN TUBAN. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JUPE), 3(3).
https://doi.org/10.26740/JUPE.V3N3.P
Riset Pembelajaran Matematika Volume, J., Listiana Wati, L., Mutamainah, A., Setianingsih, L.,
& Fadiana, jizatin. (2021a). EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA BATIK
GEDOG. Jurnal Riset Pembelajaran Matematika, 3(1), 2734.
https://doi.org/10.55719/JRPM.V3I1.259
Rohmah, A., Rahmasari, E., Diana, Y., Susanti3, S., Wariin Basyari4, I., Sugiarti5, Y., & Jati,
G. (2024). Local Wisdom of Cirebon Ethnic Megamendung Batik Motifs in the Context of
Ethnopedagogy. International Journal Of Humanities Education and Social Sciences, 4(2),
28081765. https://doi.org/10.55227/IJHESS.V4I2.1192
Salsabela, G., Farial, F., & Aminah, A. (2025). FRUSTRATION IN MOBILE LEGENDS
AND VERBAL AGGRESSION AMONG SMAN 12 STUDENTS. Jurnal Kajian
Pendidikan Dan Psikologi, 2(3), 7787. https://doi.org/10.61397/JKPP.V2I3.204;
Sari, A. N., Nugraha, A. S., Fitri, D. A., & Pertiwi, V. I. (2022). Sosialisasi Permainan Egrang
Batok Kelapa Kepada Anak-Anak di Desa Suka Datang. Jurnal Dharma Pendidikan Dan
Keolahragaan, 2(1), 2127.
https://doi.org/10.33369/DHARMAPENDIDIKAN.V2I1.21495
Sari, D. P., Cahyo, A. W. D. N., Nugraha, B. O., Isnani, C. N., Bunga, E. P., Dwiningtyas, F.,
Warman, F. O., & Wisesa, W. H. (2024b). Pelatihan Pembuatan Totebag Kanvas Tie-dye
Guna Meningkatkan Kreativitas Anak. Bubungan Tinggi: Jurnal Pengabdian Masyarakat,
6(1), 191196. https://doi.org/10.20527/BTJPM.V6I1.10135
SARI, R. N., & GUNANSYAH, G. (2023). Batik Gedhog Desa Kedungrejo-Tuban sebagai
Sumber Belajar Berbasis Etnopedagogi di Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan
Guru Sekolah Dasar, 6(10). https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-penelitian-
pgsd/article/view/24550
Satriyani, D. R. P., & Segara, N. B. (2023). Relevansi Nilai Nilai Kearifan Lokal Pada Batik
Gedog Untuk Menumbuhkan Profil Pelajar Pancasila Pada Pendidikan IPS di Kabupaten
Tuban. SOSEARCH : Social Science Educational Research, 3(1), 3346.
https://doi.org/10.26740/SOSEARCH.V3N1.P33-46
Sejarah Batik Gedog Khas Tuban dari Desa Kedungrejo Kecamatan Kerek - IAINU Tuban.
(n.d.). Retrieved June 9, 2025, from https://iainutuban.ac.id/2024/08/30/sejarah-batik-
gedog-khas-tuban-dari-desa-kedungrejo-kecamatan-kerek/
UNESCO. (2009). Indonesian Batik. Retrieved from https://ich.unesco.org
View article. (n.d.). Retrieved June 13, 2025, from
https://scholar.google.com/citations?view_op=view_citation&hl=en&user=5zhD8CIAA
AAJ&citation_for_view=5zhD8CIAAAAJ:aqlVkmm33-oC
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 66-75
E-ISSN: 3047-2288
75
Sylvia Zakiyyatul Miskiyyah et.al (Integrasi Kearifan Lokal Batik Gedhok dalam....)
Wardani, Laksmi Kusuma. (2013). Batik Gedog Tuban, Easat Java.
https://www.academia.edu/103040456/Batik_Gedog_Tuban_Easat_Java
Yahya, A. I., Nugraha, A., & Sulistiana, D. (2025). CONFIRMATORY ANALYSIS OF
CAREER MATURITY INSTRUMENTS AND GUIDANCE SERVICE
IMPLICATIONS. Jurnal Kajian Pendidikan Dan Psikologi, 2(3), 4453.
https://doi.org/10.61397/JKPP.V2I3.273;