PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 40-49
E-ISSN: 3047-2288
40
Armellia Ulfa et.al (Pengolahan Kupang Desa Balongdowo….)
Pengolahan Kupang Desa Balongdowo Sebagai
Sumber Belajar Berpendekatan Etnosains
di Sekolah Dasar
Armellia Ulfa
a,1
, Wahono Widodo
b,2
, Nurul Istiq’faroh
c,3
a,b,c
Pendidikan Dasar, FIP, Universitas Negeri Surabaya
1
adifaazrina@gmail.com;
2
wahonowidodo@unesa.ac.id;
3
nurulistiqfaroh@unesa.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 6 Januari 2025
Direvisi: 2 Februari 2025
Disetujui: 15 Februari 2025
Tersedia Daring: 1 Maret 2025
Pengolahan kupang sebagai salah satu kearifan lokal menawarkan potensi
besar untuk mengintegrasikan konsep-konsep etnosains ke dalam
kurikulum pendidikan. Dalam ranah etnosains, kajian tentang pengolahan
kupang tidak hanya memiliki nilai budaya yang kaya tetapi juga
menyertakan berbagai konsep ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk
mengeksplorasi bagaimana pendekatan etnosains, khususnya dalam konteks
pengolahan kupang, dapat dijadikan sumber belajar IPA siswa sekolah dasar.
Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian kualitatif deskriptif.
Teknik pengumpulan data dengan penelitian yang digunakan untuk
mengumpulkan informasi mendalam dari berbagai sumber, diantaranya
melalui (1) wawancara, (2) observasi, dan (3) studi dokumentasi. Subjek
penelitiannya adalah pengolah kupang dan pedagang lontong kupang di
Desa Balongdowo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengolahan
kupang dapat dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dasar sebagai
sumber pembelajaran berbasis etnosains, yang memadukan nilai budaya
dan konsep ilmiah. Implementasi ini diharapkan dapat memberikan
wawasan kepada siswa tentang hubungan antara praktik lokal dan prinsip
ilmiah, serta menghargai budaya setempat. Kajian ini menyoroti bahwa
pengolahan kupang, dengan segala prosesnya, dapat dimanfaatkan sebagai
media untuk menanamkan nilai-nilai budaya dan ilmiah sejak dini pada
siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengolahan kupang dapat
dimanfaatkan sebagai sumber belajar berbasis etnosains untuk
menanamkan nilai budaya dan konsep ilmiah pada siswa sejak dini. Hal ini
juga memperkaya kurikulum sekolah dasar dengan memanfaatkan kearifan
lokal, yang pada gilirannya dapat meningkatkan apresiasi siswa terhadap
budaya sendiri serta memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang
konsep-konsep ilmiah yang diajarkan di sekolah. Dengan pendekatan ini,
pendidikan menjadi lebih kontekstual, bermakna, dan menarik bagi siswa.
Kata Kunci:
Etnosains
Pengolahan Kupang
Sumber Belajar
ABSTRACT
Keywords:
Ethnoscience
The processing of mussels
Learning Resources
The processing of mussels as a local wisdom offers great potential to integrate
ethnoscience concepts into the education curriculum. In the realm of
ethnoscience, the study of the processing of kupang not only has rich cultural
value but also includes various scientific concepts. This research aims to
explore how an ethnoscience approach, particularly in the context of
processing clams, can be used as a learning resource for elementary school
science students. This research falls into the category of descriptive qualitative
research. The data collection techniques used in this research to gather in-
depth information from various sources include (1) interviews, (2)
observations, and (3) documentation studies. The subjects of the research are
kupang processors and lontong kupang traders in Balongdowo Village. The
research results indicate that the process of processing kupang can be
incorporated into the elementary school curriculum as a source of
ethnoscience-based learning, which combines cultural values and scientific
concepts. This implementation is expected to provide students with insights
into the relationship between local practices and scientific principles, as well
as to appreciate the local culture. This study highlights that the processing of
clams, with all its processes, can be utilized as a medium to instill cultural and
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 40-49
E-ISSN: 3047-2288
41
Armellia Ulfa et.al (Pengolahan Kupang Desa Balongdowo….)
scientific values in students from an early age. Thus, it can be concluded that
the processing of mussels can be utilized as an ethnoscience-based learning
resource to instill cultural values and scientific concepts in students from an
early age. This also enriches the elementary school curriculum by utilizing
local wisdom, which in turn can enhance students' appreciation of their own
culture and provide a deeper understanding of the scientific concepts taught in
school. With this approach, education becomes more contextual, meaningful,
and engaging for students.
©2025, Armellia Ulfa, Wahono Widodo, Nurul Istiq’faroh
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Pada abad ke-21, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi berlangsung
cepat dan penuh persaingan. Pesatnya pertumbuhan tersebut memicu derasnya arus globalisasi.
Globalisasi yang terjadi saat ini dapat menggerus nilai -nilai budaya dan kearifan lokal
sehingga siswa akan kehilangan jati dirinya di masa mendatang (Widiatmaka, 2022). Terkait
dengan peristiwa itu, pembelajaran di sekolah selama ini juga kurang memperhatikan aspek
budaya dan kearifan lokal, sehingga siswa belajar ilmu pengetahuan dengan pendekatan yang
cenderung universal dan kurang relevan dengan konteks kehidupannya. Kejadian ini
mengakibatkan siswa kurang bangga dan menganggap budaya sendiri kurang penting
dibandingkan budaya dan pengetahuan dari luar (Iswati, 2017). Oleh karena itu, keadaan ini
harus segera diatasi oleh pemerintah terutama pada sistem pendidikan dasar.
Peran pendidikan dasar memiliki peran krusial dalam memberikan pemahaman yang kuat
akan budaya dan kearifan lokal serta menanamkan nilai-nilai tersebut kepada generasi muda.
(Rosala, 2016). Perlu upaya pemerintah mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal
ke kurikulum pendidikan nasional (Shufa, 2018). Dengan pendekatan yang tepat, pemerintah
dapat memastikan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologi, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan kearifan lokal. Seperti prinsip
teori "Tunas Muda" menghargai keberagaman budaya dan kekayaan lokal. Pembelajaran
mencakup pemahaman tentang budaya, tradisi, dan sejarah lokal, sehingga siswa dapat
menghargai dan memahami identitas mereka sendiri serta identitas orang lain (Harini &
Istiq’faroh, 2023). Pemberlakuan Kurikulum Merdeka di sekolah dasar sekarang ini, memberi
ruang pengintegrasian nilai-nilai budaya dan kearifan lokal ke dalam proses pembelajaran.
Kurikulum Merdeka Belajar di sekolah dasar menawarkan kemerdekaan kepada siswa
untuk belajar sesuai dengan potensi dan karakteristik masing-masing siswa. Salah satu
pendekatan yang relevan dan efektif dalam mencapai tujuan ini adalah pendekatan etnosains
(Wae & Kaleka, 2022). Etnosains adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan
pengetahuan lokal sebagai sumber/objek belajar dimana dapat dintegrasikan dalam
pembelajaran yang disajikan secara kontekstual (Itu dkk, 2024). Paradigma etnosains dalam
pembelajaran adalah memberikan dukungan untuk memanipulasi langsung benda-benda
konkret dari lingkungan sekitar siswa sebagai elemen/ alat penting dalam pengembangan
pembelajaran, penguasaan konseptual dan keterampilan proses sains (Ibe & Nwosu, 2017).
Sehingga, pendekatan etnosains sangat efektif dijadikan sebagai sumber belajar dalam
menanamkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
Kearifan lokal dibutuhkan dalam tradisi yang berkembang dan bertumbuh dalam
masyarakat guna melakukan pengelolaan untuk manusia serta sumber daya alam supaya
kelestariannya tetap terjaga dan terlindungi (Indayati, 2023). Proses pengolah kupang di Desa
Balongdowo merupakan salah satu contoh kearifan lokal yang kaya akan nilai budaya dan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 40-49
E-ISSN: 3047-2288
42
Armellia Ulfa et.al (Pengolahan Kupang Desa Balongdowo….)
tradisi setempat. Kupang sering disebut dengan kupang jawa atau bahasa ilmiah Musculitas
senhausia merupakan salah satu jenis binatang laut yang mempunyai cangkang yang termasuk
dalam pylum Mollusca. Pylum Mollusca memiliki tubuh yang lunak, yang dilindungi oleh
cangkang penyusun utamanya adalah kapur (Yuniar, 2019). Pengolahan kupang di Desa
Balongdowo telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan mewakili warisan budaya
yang diwariskan secara turun-temurun (Arisky & Hermawan, 2022). Dengan belajar proses
pengolahan kupang di Desa Balongdowo secara langsung, siswa berarti belajar dengan
pendekatan kearifan lokal yang kaya nilai budaya dan tradisi setempat.
Pada proses pengolahan kupang ada tahap-tahap yang perlu dilakukan antara lain seperti
pembersihan, perebusan, pengambilan daging, pengolahan dengan bumbu tradisional, serta
penyajian atau pengemasan. Pada proses tersebut terdapat hubungan yang erat dengan konsep
etnosains karena pengolahan kupang mencakup pemahaman proses tradisional yang
dipraktikkan oleh masyarakat setempat, serta bagaimana hal tersebut bisa dihubungkan dengan
pengetahuan ilmiah untuk meningkatkan kualitas atau mengedukasi masyarakat tentang
manfaatnya. Penelitian yang sama dilakukan mengenai kajian etnosains dalam pengolahan
pada Makanan Khas Usaku (Tepung Jagung) (Silla dkk, 2023). Serta penelitian kajian
Etnosains Masyarakat tentang Pembuatan Pupuk Kompos (Sastria dkk, 2024). Berdasarkan
latar belakang ini, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi proses pengolahan kupang
sebagai sumber belajar etnosains di sekolah dasar. Diharapkan penelitian ini dapat
memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan sumber belajar berbasis budaya
lokal yang tidak hanya memperkaya pengetahuan siswa tetapi juga memperkuat rasa bangga
siswa terhadap identitas budaya lokalnya.
2. Metode
Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan
untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang fenomena melalui
pengumpulan data deskriptif. Penelitian yang menggali kedalaman sebuah fenomena yang
terjadi pada sebuah lokasi tertentu (Sugiono, 2019). Selain itu ada juga yang menjelaskan
bahwa metode penelitian kualitatif deskriptif merupakan metode yang bertujuan untuk
mendapatkan pemahaman kontekstual tentang pengalaman, perilaku, dan emosi manusia. Ini
memungkinkan pemahaman yang lebih baik tentang interpretasi peserta sesuai dengan
lingkungan sosiokultural mereka (Cissé & Rasmussen, 2022). Jadi dapat disimpulkan bahwa
metode penelitian kualitatif deskriptif merupakan metode yang bertujuan untuk memahami
fenomena sosial secara mendalam sesuai dengan sosiokultural daerah tertentu.
Penelitian ini berkonsentrasi pada mengeksplorasi dan memahami secara menyeluruh
proses pengolahan kupang Desa Balongdowo sebagai sumber belajar berbasis etnosains di
sekolah dasar. Penelitian ini berusaha menggali dan mendokumentasikan proses pembersihan,
perebusan, pengambilan daging, pengolahan dengan bumbu tradisional, serta penyajian atau
pengemasan kupang sebelum siap dikonsumsi. Penelitian ini tidak hanya mencatat fakta tetapi
juga berupaya memahami pengalaman, perspektif, dan interpretasi siswa, guru, dan
masyarakat tentang nilai-nilai budaya yang ada pada proses pengolahan kupang Desa
Balongdowo.
Berikut ini adalah teknik pengumpulan data dengan penelitian kualitatif deskriptif yang
digunakan untuk mengumpulkan informasi mendalam dari berbagai sumber, diantaranya
melalui (1) wawancara, (2) observasi, dan (3) studi dokumentasi. Sedangkan langkah-langkah
penelitian meliputi perumusan masalah dan tujuan penelitian, pengumpulan data, analisis data,
dan penarikan kesimpulan (Yuliani, 2018). Teknik analisis data menggunakan langkah reduksi
data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Rijali, 2019). Diharapkan bahwa penelitian
ini akan menunjukkan bagaimana proses pengolahan kupang Desa Balongdowo dapat
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 40-49
E-ISSN: 3047-2288
43
Armellia Ulfa et.al (Pengolahan Kupang Desa Balongdowo….)
berfungsi sebagai sumber belajar etnosains yang efektif untuk meningkatkan pemahaman
siswa tentang nilai-nilai budaya lokal.
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil
Hasil penelitian ini dilakukan melalui beberapa teknik pengumpulan data yaitu observasi,
wawancara, dan studi dokumentasi. Obsevasi dilakukan untuk mengetahui teknik dan proses
pengolahan kupang mulai dari pembersihan, perebusan, pengambilan daging. Sedangkan
wawancara dilakukan untuk mengetahui cara pengolahan kupang dengan mencampurkan
bumbu tradisional untuk dijadikan makanan lontong kupang. Sementara itu studi dokumentasi
dilakukan untuk mengetahui jenis kupang yang dikelola dan proses pengolahannya oleh
masyarakat desa Balongdowo.
a. Proses Pengolahan Kupang Mentah
Pengumpulan data yang pertama dilakukan melalui observasi kepada 2 pengolah
kupang Desa Balongdowo yaitu Bapak Kusaeni dan Bapak Lius Pongo.
Observasi pertama dilakukan pada tanggal 7 Oktober 2024 kepada Bapak Kusaeni.
Bapak Kusaeni adalah warga asli Desa Balongdowo yang sudah berusia 54 tahun. Sebelum
berprofesi menjadi pengolah kupang, 20 tahun Bapak Khusaeni menjadi nelayan kupang.
Karena semakin tahun hasil pencarian kupang semakin menurun, maka Bapak Kusaeni
berganti profesi menjadi pengolah kupang di rumahnya. Berikut hasil observasi kepada
Bapak Kusaeni:
Table 1. Hasil Observasi Pengolahan Kupang Mentah Narasumber 1
Proses Pengolahan Kupang
Mentah
Hasil Observasi
Pembersihan
Kupang yang diolah Pak Kusaeni adalah jenis kupang putih. Kupang putih
bentuknya lebih kecil daripada kupang merah dan proses pembersihannya
juga lebih mudah karena ketika didapat dari nelayan kupang hidupnya
sudah terpisah dari koloninya. Sehingga pada saat pembersihan tinggal
ditaruh di dalam keranjang dan dibersihkan dengan air yang mengalir.
Perebusan
Setelah dibersihkan dimasukkan ke dalam panci/dandang besar dan direbus
di atas tungku kayu. Ketika air mulai mendidih, rebusan kupang beserta air
tersebut diaduk menggunakan tongkat kayu kurang lebih selama 10 menit.
Jika sudah banyak cangkang yang terbuka dan isi kupang keluar dari
cangkangnya, selanjutnya kupang tersebut ditiriskan dengan erek bambu
dan dimasukkan ke dalam bak besar yang terbuat dari tanah liat yang berisi
air untuk dioyek.
Pengambilan Daging
Pengambilan daging kupang dimulai dengan proses pengoyekan
(pemisahan cangkang dan dagingnya). Proses pengoyekan dilakukan
berkali-kali dengan menggunakan bakul bambu yang berbeda kerapatannya.
Setelah isi kupang bersih dari cangkang kemudian kupang ditiriskan di
bakul bambu yang sudah disiapkan.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 40-49
E-ISSN: 3047-2288
44
Armellia Ulfa et.al (Pengolahan Kupang Desa Balongdowo….)
Observasi kedua dilakukan pada tanggal 12 Oktober 2024 kepada Bapak Lius Pongo.
Bapak Lius Pongo adalah warga asli Desa Balongdowo yang berusia 45 tahun. Bapak Luis
Pongo adalah penerus pengolah kupang mentah terkenal dari Balongdowo yaitu Bapak
Naim. Berikut hasil observasi kepada Luis Pongo:
Tabel 2. Hasil Observasi Pengolahan Kupang Mentah Narasumber 2
Proses Pengolahan Kupang
Mentah
Hasil Observasi
Pembersihan
Kupang yang diolah Pak Luis Pongo adalah jenis kupang merah. Kupang
merah bentuknya lebih besar daripada kupang putih dan proses
pembersihannya juga lebih sulit karena ketika didapat dari nelayan kupang
hidupnya masih berkoloni. Sehingga sebelum proses pembersihan, maka
Pak Luis Pongo harus memisahkan koloni kupang tersebut menggunakan
alat bor dan bambu. Setelah terpisah dengan koloninya, kupang tersebut
dicuci bersih dengan air yang mengalir.
Perebusan
Setelah dibersihkan kupang-kupang tadi dimasukkan ke dalam
panci/dandang besar dan direbus di atas tungku kayu. Ketika air mulai
mendidih, rebusan kupang beserta air tersebut diaduk menggunakan tongkat
kayu kurang lebih selama 15 menit leboih lama karena ukuran kupang yang
lebih besar. Jika sudah banyak cangkang yang terbuka dan isi kupang keluar
dari cangkangnya, selanjutnya kupang tersebut ditiriskan dengan erek
bambu dan dimasukkan ke dalam bak besar yang terbuat dari tanah liat
yang berisi air untuk dioyek.
Pengambilan Daging
Pengambilan daging kupang dimulai dengan proses pengoyekan
(pemisahan cangkang dan dagingnya). Proses pengoyekan dilakukan
berkali-kali dengan menggunakan bakul bambu dengan kerapatan yang
berbeda sehingga diperoleh kupang bersih dari cangkang dan lumut yang
tercampur sebelumnya. Kemudian kupang ditiriskan sampai kesat di bakul
bambu yang sudah disiapkan.
b. Proses Pengolahan Kupang menjadi Makanan Khas Lontong Kupang
Pengumpulan data yang kedua yaitu dengan wawancara kepada Bu Silvi penjual
makanan khas Desa Balongdowo yaitu lontong kupang. Lama Bu Silvi berjualan lontong
kupang di Pasar Balongdowo sudah 5 tahun. Bu Silvi berjualan meneruskan usaha dari
mertuanya yang dulunya penjual lontong kupang terkenal dari Balondowo, yaitu Pak
Nurhasan. Berikut hasil wawancara dengan Bu Silvi:
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 40-49
E-ISSN: 3047-2288
45
Armellia Ulfa et.al (Pengolahan Kupang Desa Balongdowo….)
Tabel 3. Hasil Wawancara Pembuatan Lontong Kupang dengan Narasumber
Pertanyaan
Jenis kupang apa yang digunakan
dalam lontong kupang yang dijual?
Bagaimana cara memilih kupang yang
segar dan berkualitas sebagai bahan
dasar membuat lontong kupang?
Bahan-bahan pelengkap selain kupang
apa saja yang digunakan? Apakah ada
bahan rahasia?
Bumbu-bumbu yang digunakan apa
saja? Apakah ada perbandingan khusus
untuk setiap bumbu?
Jenis petis apa yang digunakan dalam
lontong kupang yang dijual
Tolong dijelaskan cara membuat kuah
dan meracik lontong kupang sebelum
siap disajikan secara detail!
Pengumpulan data yang ketiga yaitu dengan studi dokumentasi. Studi dokumentasi ini
mengumpulkan informasi dari sumber tertulis, seperti buku, artikel jurnal, dan publikasi
lokal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis kupang yang diolah
Masyarakat Balongdowo.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 40-49
E-ISSN: 3047-2288
46
Armellia Ulfa et.al (Pengolahan Kupang Desa Balongdowo….)
Sumber Dokumentasi: Analisis Hasil Produksi Dan Pendapatan Nelayan Kupang Di
Desa Balongdowo Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo (Izzah, 2018).
Tabel 4. Jenis- jenis Kupang
Jenis Kupang
Kupang Putih
(Corbula faba Hinds)
Kupang Merah
Kupang Renteng (Musculitas Senhausia)
Gambar
Ciri-ciri
Jenis kupang ini berbentuk cembung
leteral dan mempunyai cangkang dengan
dua belahan serta engsel dorsal yang
menutup daerah seluruh tubuh. Kupang
putih (Corbula Faba Hinds) ini
mempunyai bentuk kaki seperti bagian
tubuh lainnya, yaitu cembung leteral
sehingga disebut Pelecypoda kaki kapak.
Panjang rumah kupang ini antara 1 cm 2
cm dan lebarnya antara 5 mm 12 mm.
Kupang merah mempunyai bentuk yang
agak memanjang, bercangkang tipis,
tembus cahaya serta memiliki ukuran
panjang antara 11-18 mm dan lebar 5-8
mm serta mempunyai warna cangkang
hitam kemerah-merahan sehingga disebut
kupang merah.
Habitat
Habitat Kupang putih (Corbula faba
Hinds) termasuk biota pantai yang hidup
menetap di dasar perairan berlumpur atau
berpasir dan kosentrasi terbesar terdapat di
muara-muara sungai. Kupang putih hidup
menancap pada lumpur sedalam kurang
lebih 5mm, dengan kedudukan tegak pada
ujung kulitnya yang berbentuk oval. Bila
air surut dan keadaanya menjadi dingin.
Kupang merah hidup di tepi pantai
(kurang lebih 80 m dari pantai) dengan
dasar lumpur halus yang bercampur pasir.
Kupang merah hidup secara bergerombol
yang sangat padat dan saling mengikat
satu dengan yang lainnya
Kandungan Gizi
Kandungan gizi kupang putih yang
terkandung dalam otot kupang putih
meliputi 72,96% , kadar abu 3,09 %,
protein 9,05 %, lemak 2,68 % dan
karbohidrat 1,02 %
Kupang merah memiliki kadar air 75,70%
sehingga memacu kupang merah
mengalami kebusukan. Harganya pula
lebih mahal tetapi rasanya lebih enak.
Kupang merah memiliki protein lebih
tinggi dibandingkan kupang putih.
kandungan protein kupang merah sebesar
10,85 %
Pembahasan
Hasil observasi pada kedua narasumber ada perbedaan dalam proses pengolahan kupang
merah dan kupang putih sebelum proses pembersihan. Tetapi untuk proses selanjutnya,
pembersihan hingga pengambilan daging kupang sama antara proses pengolahan kupang
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 40-49
E-ISSN: 3047-2288
47
Armellia Ulfa et.al (Pengolahan Kupang Desa Balongdowo….)
merah dan kupang putih. Secara umum proses pengolahan kupang dari kupang mentah
mengandung pendekatan etnosains. Hal ini dibuktikan proses pembersihan hingga
penngambilan daging kupang mengandung pengetahuan tradisional dan ilmu pengetahuan.
Proses pembersihan secara tradisional masyarakat Balongdowo biasanya merendam kupang yg
didapat dari laut secara langsung tanpa membilasnya, dengan tujuan air yang mengandung
garam dapat membantu kupang membersihkan diri dari kotoran secara alami. Berdasarkan
ilmu pengetahuan, proses perendaman dalam air garam membantu osmosis sehingga pasir dan
kotoran terdorong keluar (Mastuti, 2017). Selanjutnya proses perebusan secara tradisional
kupang direbus dengan air, ketika air mendidih sambil diaduk hingga semua cangkang kupang
terbuka secara merata. Berdasarkan ilmu pengetahuan, proses perebusan dilakukan untuk
membantu membunuh bakteri atau mikroorganisme berbahaya (Susanti, 2021). Kemudian
proses pengambilan daging kupang secara tradisional dilakukan dengan cara manual yaitu
dengan mengoyek untuk memisahkan daging dengan kulitnya. Berdasarkan ilmu pengetahuan,
pengambilan manual memastikan bahwa jaringan daging tetap utuh sehingga kandungan gizi
tetap terjaga.
Hasil wawancara dalam proses pengolahan kupang mentah menjadi lontong kupang juga
mengandung pendekatan etnosains yaitu dalam membuat lontong kupang diberi bumbu
tradisional seperti bawang putih, cabai, dan rempah lainnya. Resep ini telah digunakan secara
turun-temurun untuk menciptakan cita rasa khas, secara ilmu pengetahuan memberi banyak
rempah memiliki manfaat kesehatan yang telah diidentifikasi, seperti kandungan antioksidan
pada bawang putih dan cabai (Tarigan, 2023). Pengolahan yang tepat memastikan bahwa
senyawa bioaktif ini tetap terjaga, memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan. Selain itu
secara tradisional lontong kupang biasanya disajikan dengan siraman kuah kaldu yang terbuat
dari campuran air kelapa dan perasan jeruk nipis. Secara ilmu pengetahuan Air kelapa
mengandung senyawa yang memiliki sifat anti mikroba (Gondokesumo, 2023). Jeruk nipis
juga kaya akan vitamin C dan memiliki sifat asam yang membantu menyeimbangkan rasa
sekaligus mengurangi potensi kontaminasi mikroba .
Berdasarkan studi hasil dokumentasi, macam kupang ada 2 yaitu kupang putih dan
kupang merah. Dalam pendekatan etnosains Kupang Putih secara karakteristik biologis
memiliki ukuran yang lebih kecil, penggunaan tradisional sering digunakan dalam hidangan
tradisional seperti lontong kupang di wilayah Jawa Timur, khususnya di Surabaya dan
Sidoarjo, dan masyarakat setempat memahami bahwa kupang putih lebih mudah dicerna dan
memiliki rasa yang lembut. Dalam sains, daging kupang putih diketahui mengandung protein
tinggi serta mineral penting seperti zat besi dan kalsium (Izzah, 2018). Sedangkan kupang
merah memiliki karakteristik biologis cangkang yang cenderung berwarna kemerahan atau
kecokelatan, dengan daging yang lebih gelap dibandingkan kupang putih, secara tradisional
sering dijadikan alternatif untuk berbagai olahan hidangan laut misalnya sambal goreng
kupang dan kupang krispi, serta Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa kupang merah
memiliki kandungan omega-3 yang tinggi dan antioksidan yang baik untuk kesehatan jantung
(Abdullah dkk, 2021).
4. Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengolahan kupang Desa Balongdowo dapat
dimasukkan ke dalam kurikulum SD sebagai sumber pembelajaran berbasis etnosains yang
kaya akan nilai-nilai budaya, filosofi, dan pembelajaran sosial. Siswa dapat lebih menghargai
budaya lokal, belajar nilai-nilai yang baik, dan memahami pentingnya pelestarian tradisi
pengolahan kupang saat belajar. Penelitian ini menyarankan bahwa sekolah dasar di Sidoarjo
dapat menggunakan proses pengolahan kupang di Desa Balongdowo sebagai sumber belajar
berbasis etnosains untuk untuk menanamkan nilai budaya dan konsep ilmiah pada siswa sejak
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 40-49
E-ISSN: 3047-2288
48
Armellia Ulfa et.al (Pengolahan Kupang Desa Balongdowo….)
dini serta memperkaya kurikulum dengan memanfaatkan kearifan lokal. Dampak penelitian ini
adalah siswa memahami dan menghargai kearifan lokal melalui pembelajaran yang kontekstual.
5. Daftar Pustaka
Abdullah, A., Hidayat, T., & Seulalae, A. V. (2021). Moluska: Karakteristik, Potensi dan
Pemanfaatan Sebagai Bahan Baku Industri Pangan dan Non Pangan. Syiah Kuala
University Press.
Arisky, Y., & Hermawan, E. S. 2022.Perkembangan Kehidupan Sosial Ekonomi Nelayan
Kupang Di Desa Balongdowo Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo Tahun 1990-2020.
Avatara, e-Journal Pendidikan Sejarah.12(4).
Cissé, A., & Rasmussen, A. (2022). Qualitative Methods. Comprehensive Clinical Psychology,
Second Edition, 3, 91103. ( https://doi.org/10.1016/B978-0-12-818697-8.00216-8 )
Gondokesumo, M. E., Sapei, L., Wahjudi, M., & Suseno, N. (2023). Virgin Coconut Oil.
Harini, R., & Istiq’faroh, N. (2023). Konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan
implementasinya di Sekolah Dasar di Indonesia. Journal of Contemporary Issues in
Primary Education, 1(2), 81-94.
Ibe, E and Nwosu, A. A. (2017). Effects of Ethnoscience and Traditional Laboratory Practical
on Science Process Skills Acquisition of Secondary School Biology Students in Nigeria.
British journal of Multidisciplinary and Advanced Studies, 1(1), 10-21.
Itu, M. A., Soro, V. M., Lawe, Y. U., & Ferdinandus, M. S. (2024). Penerapan Media
Pembelajaran Berbasis Etnosains Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah
Ipas Pada Siswa Kelas Iv. Jurnal Ilmiah Mandalika Education (MADU), 2(1), 300-309.
Indayati, S., Widodo, W., & Sudibyo, E. (2023). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Ipa
Berbasis Etnosains Daerah Pantai Kenjeran Untuk Melatih Keterampilan Berpikir Kritis
Siswa Kelas V Sekolah Dasar. Jurnal Education And Development, 11(3), 375-380.
Iswati, I. (2017). Urgensi Pendidikan Multikultural Sebagai Upaya Meningkatkan Apresiasi
Siswa Terhadap Kearifan Budaya Lokal. Elementary: Jurnal Iilmiah Pendidikan Dasar,
3(1), 15-29.
Izzah Dewita Ni’matul.2018. Analisis Hasil Produksi Dan Pendapatan Nelayan Kupang Di
Desa Balongdowo Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo. Skripsi. Universitas Negeri
Sunan Ampel Surabaya.
Januardi, A., Superman, S., & Nur, S. (2024). Integrasi Nilai-Nilai Tradisi Masyarakat Sambas
dalam Pembelajaran Sejarah. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 4(2),
794-805.
Mastuti, R. (2017). Dasar-dasar kultur jaringan tumbuhan. Universitas Brawijaya Press.
Rijali, A. (2019). Analisis Data Kualitatif. Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah.
https://doi.org/10.18592/alhadharah.v17i33.2374
Rosala, D. (2016). Pembelajaran seni budaya berbasis kearifan lokal dalam upaya membangun
pendidikan karakter siswa di sekolah dasar. Ritme, 2(1), 16-25.
Safrida, R., & Suwardiah, D. (2017). Sejarah dan Keberlanjutan Kupang Lontong di
Kabupaten Sidoarjo. E-Journal Boga, 5(3), 63-68.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 40-49
E-ISSN: 3047-2288
49
Armellia Ulfa et.al (Pengolahan Kupang Desa Balongdowo….)
Sastria, E., Novinovrita, N., & Zebua, D. R. Y. (2024). Kajian Etnosains Masyarakat tentang
Pembuatan Pupuk Kompos sebagai Alternatif Pupuk Anorganik dengan Memanfaatkan
Kotoran Kelelawar di Kawasan Ekowisata Pulau kelelawar Desa Ujung Pasir. Symbiotic:
Journal of Biological Education and Science, 5(2), 131-143.
Shufa, N. K. F. (2018). Pembelajaran berbasis kearifan lokal di sekolah dasar: Sebuah
kerangka konseptual. INOPENDAS: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 1(1).
Silla, E. M., Dopong, M., Teuf, P. J., & Lipikuni, H. F. (2023). Kajian Etnosains pada
Makanan Khas Usaku (Tepung Jagung) sebagai Media Belajar Fisika. Jurnal Literasi
Pendidikan Fisika (JLPF), 4(1), 30-39.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Ke-2). Alfabeta.
Susanti, S. (2021). Teknologi Pengolahan Daging Kelinci Secara Aman, Sehat, Utuh dan Halal
(ASUH).
Tarigan, N. (2023). Monograf: Potensi Tinuktuk (Makanan Tradisional Simalungun) Sebagai
Pangan Fungsional. Penerbit P4I.
Wae, V. P. S. M., & Kaleka, M. B. U. (2022). Implementasi etnosains dalam pembelajaran ipa
untuk mewujudkan merdeka belajar di kabupaten ende. Optika: Jurnal Pendidikan Fisika,
6(2), 206-216.
Widiatmaka, P. (2022). Strategi menjaga eksistensi kearifan lokal sebagai identitas nasional di
era disrupsi. Jurnal Keindonesiaan. 2(2).136-148
Yuliani, W. (2018). Metode penelitian deskriptif kualitatif dalam perspektif bimbingan dan
konseling. Quanta: Jurnal Kajian Bimbingan Dan Konseling Dalam Pendidikan, 2(2), 83-
91.
Yuniar, I. (2019). Kupang Putih (Corbula Faba) &Kupang Merah (Musculista Senhousia),
Bentos Habitat Asli Pantai Surabaya Timur. Hang Tuah University Press