sangat dijunjung tinggi; makna dan fungsi budaya diteruskan secara turun-temurun, sebagai
cerminan identitas lokal dan kearifan komunitas.
Ayu Karina, Repa Hudan Lisalam, Muhammad Alif , Living Hadis dalam Tradisi Nyadran:
Melacak Jejak Islam dalam Kearifan Lokal (Desa Singkil Wetan, Jawa Tengah) fokus utama
Konsep Living Hadis dalam tradisi Nyadran integrasi nilai-nilai Islam dan budaya lokal. Nyadran
sebagai praktik yang mencerminkan hadis hidup nilai silaturahmi, syukur, penghormatan leluhur.
Tradisi ini memperkuat solidaritas sosial melalui elemen Islam dan budaya lokal yang bersinergi.
Temuan utama Nyadran sebagai praktik yang mencerminkan hadis, hidup, nilai silaturahmi,
syukur, penghormatan leluhur. Tradisi ini memperkuat solidaritas sosial melalui elemen Islam
dan budaya lokal yang bersinergi. Nur Qomari & Roihanah,
(Desa Pringu, Bululawang, Malang)
Analisis Nilai Pendidikan Agama Islam dalam Tradisi Nyadran: Studi di Desa Pringu
Bululawang Malang.
fokus penelitian Nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam tradisi Nyadran
hubungan antara budaya dan pendidikan agama. Temuan utama Nyadran sebagai media
penghormatan leluhur melalui doa dan pengajian; tradisi ini membantu menanamkan nilai-nilai
agama seperti penghormatan kepada orang mati, solidaritas antar generasi, dan akulturasi
budaya-islam.
Ina Ar’yanti dan Akbar Al Masjid meneliti tradisi Nyadran di Dusun Jalan dan Jonggranan,
Desa Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Fokus penelitian
mereka adalah prosesi pelaksanaan, peralatan dan perlengkapan (uborampe), serta makna
simbolik dalam tradisi Nyadran. Temuan menunjukkan bahwa uborampe yang digunakan terdiri
dari ingkung ayam, nasi uduk, ketan putih, kolak pisang ubi, pisang raja, apem, ambengan,
hingga uang wajib. Masing-masing uborampe memiliki makna religius dan sosial, misalnya
ingkung sebagai simbol kepasrahan kepada Tuhan, nasi uduk sebagai lambang persaudaraan,
serta apem sebagai perlambang permohonan maaf. Hal ini memperlihatkan bahwa tradisi
Nyadran tidak hanya dimaknai sebagai ritual turun-temurun, tetapi juga mengandung pesan
moral, religius, dan sosial bagi masyaraka.
Sementara itu, Wildan Novia Rosysiana mengkaji tradisi Nyadran di Desa Giyanti,
Wonosobo. Fokus penelitian ini adalah kontribusi nilai-nilai yang terkandung dalam Nyadran
terhadap terwujudnya perdamaian sosial. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Nyadran
berfungsi sebagai sarana integrasi sosial yang mampu menyatukan keberagaman masyarakat
dalam bingkai perdamaian positif. Nilai-nilai tersebut terangkum dalam tiga aspek: pertama,
kegiatan pra-acara yang menonjolkan kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial;
kedua, acara inti yang meneguhkan hubungan harmonis dengan Tuhan sekaligus menjaga relasi
sosial agar terhindar dari konflik; dan ketiga, penutupan berupa Merti Dusun dengan pagelaran
wayang kulit yang merepresentasikan kecintaan masyarakat pada budaya Jawa
sekaligus
pembentukan karakter yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Dengan demikian, Nyadran di Giyanti
tidak hanya bernilai religius, tetapi juga menjadi instrumen sosial untuk merawat harmoni masyarakat.
Penelitian ini menggunakan kerangka teori integrasi sosial. Istilah integrasi berasal dari
bahasa Inggris integration yang secara umum berarti keutuhan atau keseluruhan. Dalam konteks
sosial, integrasi dipahami sebagai suatu proses penyelarasan berbagai unsur yang berbeda dalam
masyarakat agar tercipta keserasian fungsi. Terbentuknya integrasi sosial sangat bergantung pada
adanya kesepakatan bersama di antara mayoritas anggota masyarakat mengenai batas-batas
teritorial maupun nilai-nilai yang dianut., norma-norma dan pranata-pranata sosial. Di Indonesia
istilah integrasi masih sering disamakan dengan istilah pembauran atau asimilasi, padahal kedua
istilah tersebut memiliki perbedaan. Integrasi diartikan dengan integrasi kebudayaan, integrasi
sosial dan pluralisme sosial. Sementara pembauran dapat berarti penyesuaian antar dua atau lebih
kebudayaan mengenai berapa unsur kebudayaan (cultural traits) mereka yang berbeda atau