PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 183-196
E-ISSN: 3047-2288
183
Ayu Ning Tyas Hartianti et.al (Simbolisme Integrasi Islam dan....)
Simbolisme Integrasi Islam dan Budaya Jawa dalam
Tradisi Nyadran: Studi di Desa Ngayung Lamongan
Ayu Ning Tyas Hartianti
a,1
,
Abdul Halim
b,2
a,b
F
akultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
1
ayutyas739@gmail.com
;
2
halim@uinsasby.ac.id
*
Corresponding Author:
ayutyas739@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima:10 Oktober 2025
Direvisi: 17 November 2025
Disetujui: 28 November 2025
Tersedia Daring: 1 Desember
2025
Tradisi merupakan salah satu wujud budaya yang diwariskan secara turun-
temurun dan menjadi identitas sosial masyarakat. Di Jawa, akulturasi budaya
lokal dengan Islam sejak masa Walisongo melahirkan tradisi yang sarat
simbolisme, salah satunya adalah Nyadran. Penelitian ini bertujuan
menganalisis makna simbol-simbol dalam tradisi Nyadran di Desa Ngayung,
Lamongan, serta menjelaskan bagaimana simbol tersebut merepresentasikan
integrasi Islam dan budaya Jawa. Metode yang digunakan adalah kualitatif
dengan pendekatan antropologi budaya dan antropologi Islam. Data diperoleh
melalui observasi, wawancara mendalam dengan tokoh agama, sesepuh, dan
masyarakat, serta dokumentasi, dengan validitas diuji melalui triangulasi
sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nyadran terbagi menjadi dua
jenis, yaitu Nyadran kecil (menjelang Ramadhan) dan Nyadran besar (setelah
panen kedua). Simbol utama dalam prosesi ini meliputi penyembelihan kerbau
sebagai lambang pembersihan diri dari sifat malas dan bodoh, pembuatan
ketan sebagai simbol kebersamaan dan syukur, serta doa, tahlil, dan pengajian
yang mencerminkan religiusitas Islam. Tradisi ini berfungsi sebagai sarana
pendidikan sosial, penguatan solidaritas, dan pemeliharaan harmoni
masyarakat. Dengan demikian, Nyadran di Desa Ngayung tidak hanya bernilai
historis dan religius, tetapi juga menjadi instrumen integrasi Islam dan budaya
Jawa sekaligus memperkokoh identitas keagamaan serta kebudayaan
masyarakat setempat.
Kata Kunci:
Nyadran
Simbolisme
Integrasi Islamic dan
solidaritas sosial
ABSTRACT
Keywords:
Nyadran
Symbolism
Integration Islamic and social
solidarity
Tradition is a form of culture that is passed down from generation to generation
and serves as a marker of social identity. In Java, the acculturation of local culture
with Islam since the Walisongo era gave rise to traditions rich in symbolism, one
of which is Nyadran. This study aims to analyze the symbolic meanings within the
Nyadran tradition in Ngayung Village, Lamongan, and to explain how these
symbols represent the integration of Islam and Javanese culture. The research
employed a qualitative method with cultural and Islamic anthropological
approaches. Data were collected through observation, in-depth interviews with
religious leaders, community elders, and local residents, as well as documentation,
with validity tested through source triangulation. The findings reveal that
Nyadran is divided into two types: the small Nyadran (held before Ramadan) and
the large Nyadran (after the second harvest). The main symbols include buffalo
slaughter as a representation of cleansing oneself from laziness and ignorance,
sticky rice as a symbol of togetherness and gratitude, as well as prayers, tahlil,
and religious gatherings reflecting Islamic spirituality. This tradition functions as
a medium of social education, reinforcement of solidarity, and maintenance of
communal harmony. Thus, Nyadran in Ngayung Village is not only of historical
and religious value but also serves as an instrument of integration between Islam
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 183-196
E-ISSN: 3047-2288
184
Ayu Ning Tyas Hartianti et.al (Simbolisme Integrasi Islam dan....)
and Javanese culture while strengthening the community’s religious and cultural
identity.
©2025, Ayu Ning Tyas Hartianti, Abdul Halim
This is an open access article under CC BY-SA license
1.
Pendahuluan
Budaya merupakan keseluruhan warisan sosial yang lahir dari hasil cipta, rasa, dan karsa
manusia, meliputi aspek material, keterampilan, pemikiran, gagasan, kebiasaan, serta nilai-nilai
tertentu yang tersusun secara teratur. Kebudayaan tidak hanya hadir sebagai kumpulan ide,
norma, dan aturan, tetapi juga tercermin dalam pola perilaku masyarakat. Pola perilaku tersebut
terbentuk melalui proses belajar yang kemudian dimanifestasikan dalam berbagai karya sebagai
hasil budi daya. Manifestasi tersebut sering kali diwujudkan melalui simbol-simbol tertentu,
misalnya upacara keagamaan yang merepresentasikan ekspresi religius masyarakat.(Soniatin
2021) Proses akulturasi antara budaya Jawa dan Islam mulai tampak sejak masa penyebaran
Islam di Nusantara yang dilakukan oleh para Walisongo. Dalam menyebarkan ajarannya, para
wali memanfaatkan tradisi dan kebudayaan Jawa sebagai sarana dakwah dengan
mengintegrasikan nilai-nilai Islam di dalamnya. Strategi tersebut menjadikan penyebaran Islam
lebih efektif tanpa meniadakan unsur budaya lokal. Akulturasi ini dapat diterima karena tetap
mempertahankan identitas budaya Jawa yang telah melekat kuat dalam kehidupan masyarakat.
Budaya yang diwariskan secara turun-temurun tersebut terus dijalankan karena diyakini
memiliki keterkaitan dengan ajaran leluhur. Salah satu bentuk akulturasi Jawa dan Islam yang
masih terjaga hingga kini adalah tradisi Nyadran (Rosydiana 2023)
.
Nyadran merupakan tradisi masyarakat Jawa yang berkaitan dengan kegiatan ziarah
kubur dan doa bersama untuk mendoakan leluhur yang telah meninggal. Tradisi ini umumnya
dilaksanakan menjelang bulan Ramadan atau menjelang perayaan tertentu dalam kalender Islam.
Dalam masyarakat Jawa, tradisi Nyadran memiliki makna spiritual dan budaya yang dalam,
karena mencerminkan nilai-nilai penghormatan kepada leluhur serta ikatan kekeluargaan yang
erat. Di dalam masyarakat Islam Kejawen yaitu masyarakat Jawa yang memadukan
ajaran Islam dengan budaya lokal Jawa Nyadran memiliki tempat istimewa sebagai bentuk
integrasi antara keyakinan Islam dengan adat tradisional Jawa. Secara historis, Nyadran berasal
dari kata "Sraddha," yang dalam bahasa Sanskerta mengacu pada ritual penghormatan bagi
leluhur dalam kepercayaan Hindu-Buddha. Ketika agama Islam mulai berkembang di Jawa
sekitar abad ke-15 hingga 16, praktik ini kemudian mengalami akulturasi dengan nilai-nilai
Islam.(Aminudin 2024) Keunikan tradisi Nyadran terletak pada simbolisme yang terkandung di
dalamnya. Sesaji yang disiapkan masyarakat bukanlah persembahan dalam arti animistis,
melainkan simbol rasa syukur dan bentuk sedekah. Kenduri yang dilaksanakan bukan hanya
ajang makan bersama, tetapi juga simbol kebersamaan dan perekat sosial. Prosesi doa dan tahlil
menunjukkan aspek religiusitas Islam, sementara gotong royong dalam mempersiapkan acara
mencerminkan nilai budaya Jawa yang menekankan solidaritas sosial. Dengan demikian,
Nyadran menjadi ruang integrasi yang mempertemukan dua dimensi penting: spiritualitas Islam
dan kearifan lokal Jawa.(Wajdi 2010) Kajian tentang tentang tradisi local yang berkaitan dengan
islam, antara lain di lakukan oleh penelitian terdahulu. Yessy Soniatin, Makna dan fungsi budaya
tradisi nyadran dalam kearifan lokal masyarkat dusun sawen, desa Sendangrejo, kecamatan
Ngimbang, Kabupaten Lamongan. fokus penelitian yaitu Makna dan fungsi budaya tradisi
Nyadran dalam kearifan lokal masyarakat. Temuan umum Tradisi Nyadran di Sawen masih
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 183-196
E-ISSN: 3047-2288
185
Ayu Ning Tyas Hartianti et.al (Simbolisme Integrasi Islam dan....)
sangat dijunjung tinggi; makna dan fungsi budaya diteruskan secara turun-temurun, sebagai
cerminan identitas lokal dan kearifan komunitas.
Ayu Karina, Repa Hudan Lisalam, Muhammad Alif , Living Hadis dalam Tradisi Nyadran:
Melacak Jejak Islam dalam Kearifan Lokal (Desa Singkil Wetan, Jawa Tengah) fokus utama
Konsep Living Hadis dalam tradisi Nyadran integrasi nilai-nilai Islam dan budaya lokal. Nyadran
sebagai praktik yang mencerminkan hadis hidup nilai silaturahmi, syukur, penghormatan leluhur.
Tradisi ini memperkuat solidaritas sosial melalui elemen Islam dan budaya lokal yang bersinergi.
Temuan utama Nyadran sebagai praktik yang mencerminkan hadis, hidup, nilai silaturahmi,
syukur, penghormatan leluhur. Tradisi ini memperkuat solidaritas sosial melalui elemen Islam
dan budaya lokal yang bersinergi. Nur Qomari & Roihanah,
(Desa Pringu, Bululawang, Malang)
Analisis Nilai Pendidikan Agama Islam dalam Tradisi Nyadran: Studi di Desa Pringu
Bululawang Malang.
fokus penelitian Nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam tradisi Nyadran
hubungan antara budaya dan pendidikan agama. Temuan utama Nyadran sebagai media
penghormatan leluhur melalui doa dan pengajian; tradisi ini membantu menanamkan nilai-nilai
agama seperti penghormatan kepada orang mati, solidaritas antar generasi, dan akulturasi
budaya-islam.
Ina Ar’yanti dan Akbar Al Masjid meneliti tradisi Nyadran di Dusun Jalan dan Jonggranan,
Desa Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Fokus penelitian
mereka adalah prosesi pelaksanaan, peralatan dan perlengkapan (uborampe), serta makna
simbolik dalam tradisi Nyadran. Temuan menunjukkan bahwa uborampe yang digunakan terdiri
dari ingkung ayam, nasi uduk, ketan putih, kolak pisang ubi, pisang raja, apem, ambengan,
hingga uang wajib. Masing-masing uborampe memiliki makna religius dan sosial, misalnya
ingkung sebagai simbol kepasrahan kepada Tuhan, nasi uduk sebagai lambang persaudaraan,
serta apem sebagai perlambang permohonan maaf. Hal ini memperlihatkan bahwa tradisi
Nyadran tidak hanya dimaknai sebagai ritual turun-temurun, tetapi juga mengandung pesan
moral, religius, dan sosial bagi masyaraka.
Sementara itu, Wildan Novia Rosysiana mengkaji tradisi Nyadran di Desa Giyanti,
Wonosobo. Fokus penelitian ini adalah kontribusi nilai-nilai yang terkandung dalam Nyadran
terhadap terwujudnya perdamaian sosial. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Nyadran
berfungsi sebagai sarana integrasi sosial yang mampu menyatukan keberagaman masyarakat
dalam bingkai perdamaian positif. Nilai-nilai tersebut terangkum dalam tiga aspek: pertama,
kegiatan pra-acara yang menonjolkan kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial;
kedua, acara inti yang meneguhkan hubungan harmonis dengan Tuhan sekaligus menjaga relasi
sosial agar terhindar dari konflik; dan ketiga, penutupan berupa Merti Dusun dengan pagelaran
wayang kulit yang merepresentasikan kecintaan masyarakat pada budaya Jawa
sekaligus
pembentukan karakter yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Dengan demikian, Nyadran di Giyanti
tidak hanya bernilai religius, tetapi juga menjadi instrumen sosial untuk merawat harmoni masyarakat.
Penelitian ini menggunakan kerangka teori integrasi sosial. Istilah integrasi berasal dari
bahasa Inggris integration yang secara umum berarti keutuhan atau keseluruhan. Dalam konteks
sosial, integrasi dipahami sebagai suatu proses penyelarasan berbagai unsur yang berbeda dalam
masyarakat agar tercipta keserasian fungsi. Terbentuknya integrasi sosial sangat bergantung pada
adanya kesepakatan bersama di antara mayoritas anggota masyarakat mengenai batas-batas
teritorial maupun nilai-nilai yang dianut., norma-norma dan pranata-pranata sosial. Di Indonesia
istilah integrasi masih sering disamakan dengan istilah pembauran atau asimilasi, padahal kedua
istilah tersebut memiliki perbedaan. Integrasi diartikan dengan integrasi kebudayaan, integrasi
sosial dan pluralisme sosial. Sementara pembauran dapat berarti penyesuaian antar dua atau lebih
kebudayaan mengenai berapa unsur kebudayaan (cultural traits) mereka yang berbeda atau
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 183-196
E-ISSN: 3047-2288
186
Ayu Ning Tyas Hartianti et.al (Simbolisme Integrasi Islam dan....)
bertentangan, agar dapat dibentuk menjadi suatu sistem kebudayaan yang selaras (harmonis)
menurut (Idrus 2016).
Integrasi sosial dapat dipahami sebagai suatu proses penyelarasan unsur-unsur yang
berbeda dalam kehidupan bermasyarakat sehingga membentuk suatu kesatuan yang harmonis.
Terwujudnya integrasi sosial tidak dapat dilepaskan dari keberadaan keteraturan sosial yang
menjadi dasar terciptanya stabilitas dalam masyarakat. Konsep urban sendiri merujuk pada hal-
hal yang berkaitan dengan perkotaan, baik dalam bentuk karakteristik kehidupan kota maupun
fenomena perpindahan penduduk dari wilayah pedesaan ke kota. Dalam kerangka masyarakat
urban, integrasi sosial dapat dikategorikan ke dalam tiga bentuk utama, yaitu integrasi normatif,
fungsional, dan koersif. Ketiga bentuk ini berperan penting dalam menjaga kohesi sosial di
tengah kompleksitas kehidupan perkotaan. Perbedaan yang ada di masyarakat bukan semata-
mata menjadi pemicu konflik, melainkan dapat menjadi faktor yang memperkuat solidaritas
sosial dan mempererat hubungan antarindividu. Lebih jauh, masuknya budaya dari luar yang
kemudian diolah dan disesuaikan dengan budaya lokal menghasilkan suatu bentuk akulturasi
yang unik serta memperkaya khazanah kebudayaan masyarakat (Mais, Tasik, and Purwanto
2019).
Teori integrasi sosial pada dasarnya membahas bagaimana suatu masyarakat dapat hidup
bersama secara harmonis dengan mengedepankan nilai, norma, dan praktik budaya yang diterima
bersama, meskipun masyarakat tersebut memiliki latar belakang yang berbeda. Menurut Émile
Durkheim (1982), integrasi sosial terbentuk melalui kesadaran kolektif (collective conscience)
yang mengikat individu dalam masyarakat sehingga tercipta keteraturan sosial. Tradisi, upacara,
dan simbol budaya memiliki peran penting dalam memperkuat kesadaran kolektif tersebut
(Ahmad 2021)
.
Dalam konteks Jawa, tradisi Nyadran dapat dipandang sebagai wujud akulturasi
antara ajaran Islam dan kebudayaan lokal. Koentjaraningrat (2009) menjelaskan bahwa
akulturasi merupakan suatu proses sosial yang terjadi ketika suatu komunitas dengan kebudayaan
tertentu berinteraksi dengan unsur-unsur dari kebudayaan luar, kemudian unsur-unsur tersebut
diterima dan disesuaikan ke dalam kebudayaan yang ada tanpa harus menghilangkan jati diri
aslinya.. Hal ini tampak dalam praktik Nyadran di Desa Ngayung, di mana nilai-nilai Islam
seperti doa, tahlil, dzikir, dan sedekah dipadukan dengan simbol-simbol budaya Jawa seperti
pemotongan kerbau, kenduri, dan gotong royong (Winarni et al. 2015).
Teori integrasi sosial dalam penelitian ini berfungsi tidak hanya sebagai kerangka
konseptual, tetapi juga sebagai instrumen analisis terhadap data lapangan. Melalui teori ini,
peneliti dapat melihat dinamika bagaimana nilai-nilai keislaman dan budaya lokal berinteraksi,
berintegrasi, dan membentuk praktik budaya yang khas. Dengan demikian, penelitian ini
memberi manfaat ganda: teoritis dan praktis. Secara teoritis, penelitian menguatkan pemahaman
bahwa ilmu keislaman dan ilmu budaya tidak berdiri terpisah, melainkan saling melengkapi
dalam memperkaya ilmu sosial keagamaan-khususnya dalam kerangka akulturasi, internalisasi
nilai, dan kesadaran kolektif. Secara praktis, penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai lokal
yang telah mewarnai kehidupan sehari-hari masyarakat sesungguhnya tidak bertentangan dengan
ajaran Islam; sebaliknya, nilai-nilai tersebut melalui proses adaptasi, seleksi, dan integrasi
mampu memperkuat identitas keislaman yang kontekstual dan relevan.
Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, tradisi Nyadran memiliki variasi bentuk,
makna, dan fungsi sosial yang berbeda sesuai dengan konteks budaya masing-masing daerah.
Namun, kajian yang menyoroti secara khusus simbolisme integrasi antara Islam dan budaya Jawa
dalam tradisi Nyadran di Desa Ngayung, Kabupaten Lamongan, masih jarang ditemukan.
Penelitian ini difokuskan pada pemahaman simbol-simbol yang terdapat dalam tradisi Nyadran
di Desa Ngayung, serta bagaimana simbol-simbol tersebut merepresentasikan integrasi ajaran
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 183-196
E-ISSN: 3047-2288
187
Ayu Ning Tyas Hartianti et.al (Simbolisme Integrasi Islam dan....)
Islam dengan budaya Jawa. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis makna simbolik dalam
tradisi Nyadran dan menjelaskan relevansinya dalam memperkuat identitas religius maupun
kebudayaan masyarakat setempat.
2.
Metode
Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif melalui pendekatan antropologi budaya
serta antropologi Islam. Antropologi budaya dipahami sebagai cabang antropologi yang
menelaah manusia dalam hubungannya dengan kebudayaan, meliputi sistem nilai, simbol,
norma, kepercayaan, bahasa, seni, ritual, dan tradisi. Koentjaraningrat (2009) menjelaskan
bahwa kebudayaan mencakup sistem ide, aktivitas, serta hasil karya manusia yang berfungsi
sebagai pedoman dalam kehidupan sosial. Dalam konteks penelitian tradisi Nyadran, antropologi
budaya memandang praktik ritual seperti doa, kenduri, penyembelihan hewan, sesaji, dan ziarah
kubur sebagai fenomena simbolik yang sarat makna, bukan sekadar aktivitas lahiriah. Simbol-
simbol tersebut mengandung pesan identitas sosial, solidaritas, dan penghormatan leluhur,
misalnya ketan sebagai simbol kebersamaan, kerbau sebagai lambang penyucian diri, dan ziarah
kubur sebagai bentuk penghormatan kepada pendahulu. Sementara itu, antropologi Islam
digunakan untuk memahami fenomena sosial-budaya masyarakat Muslim dengan menjadikan
Islam sebagai kerangka nilai dan norma (Mazid et al. 2024).
Antropologi Islam berusaha melihat bagaimana ajaran Islam ditafsirkan dan diwujudkan
dalam praktik budaya lokal. Dalam tradisi Nyadran, perspektif ini tidak hanya menyoroti dimensi
ritual, tetapi juga bagaimana doa, tahlil, dzikir, sedekah, dan ziarah kubur terintegrasi dengan
tradisi Jawa. Dengan demikian, antropologi Islam memandang Nyadran sebagai praktik simbolik
yang meneguhkan sinergi antara ajaran Islam dan budaya lokal. Pendekatan ini memungkinkan
penelitian menyingkap dimensi religius yang melekat pada simbol-simbol, seperti tahlil yang
dimaknai sebagai doa bagi arwah leluhur, serta sedekah makanan yang merepresentasikan ajaran
Islam tentang kepedulian sosial. Pemilihan kedua pendekatan ini dimaksudkan agar penelitian
dapat mengkaji Nyadran secara komprehensif, baik dari segi nilai budaya Jawa maupun integrasi
ajaran Islam di dalamnya. Data penelitian diperoleh melalui observasi langsung terhadap
pelaksanaan Nyadran, wawancara mendalam dengan tokoh agama, sesepuh, dan masyarakat,
serta dokumentasi berupa catatan dan foto kegiatan. Analisis data dilakukan melalui proses
reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, sementara validitas diuji dengan triangulasi
sumber, yaitu membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi.
3.
Hasil dan Pembahasan
Asal Usul-Usul Nyadran
Tradisi Nyadran di Desa Ngayung masih terpelihara hingga saat ini. Tradisi ini menjadi
salah satu warisan budaya yang tidak hanya bernilai historis, tetapi juga memiliki makna religius
dan sosial bagi masyarakat setempat. Tradisi Nyadran diyakini telah berlangsung sejak masa pra-
Islam. Beliau menjelaskan bahwa praktik Nyadran di Desa Ngayung diperkirakan sudah ada
sejak berdirinya Katidoyok, yang sejajar dengan periode awal Kesultanan Demak pada akhir
abad ke-15 Masehi. Pada masa tersebut, Katidoyok berfungsi sebagai tempat pemujaan, di mana
masyarakat setempat mempersembahkan bunga, dupa, dan hasil bumi sebagai sesaji. Prosesi
ritual kala itu kental dengan nuansa kejawen, diawali dengan penyembelihan kerbau, yang
kemudian sesajinya dibawa ke lokasi prosesi sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur
(Supratman, 2025).
Sejalan dengan uraian tersebut. Menjelaskan bahwa pada masa Hindu-Buddha, tradisi
Nyadran di Desa Ngayung tidak hanya berfokus pada praktik ritual persembahan, tetapi juga
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 183-196
E-ISSN: 3047-2288
188
Ayu Ning Tyas Hartianti et.al (Simbolisme Integrasi Islam dan....)
disertai dengan pertunjukan wayang dan gamelan. Kehadiran kesenian tersebut berfungsi ganda,
yakni sebagai sarana hiburan serta sebagai media yang memperkuat kohesi sosial antarwarga.
Dengan demikian, pada periode tersebut, Nyadran memainkan peran ganda sebagai praktik ritual
keagamaan sekaligus ruang interaksi sosial-budaya masyarakat. Namun, setelah masuknya Islam
ke Desa Ngayung, prosesi Nyadran mengalami transformasi signifikan, baik dari segi bentuk
maupun maknanya (Supratman, 2025).
Penjelasan senada juga disampaikan prosesi Nyadran tidak lagi dimaknai sebagai
persembahan kepada roh leluhur, melainkan bergeser menjadi bentuk syukuran, doa bersama,
tahlil, dan pengajian. Ajaran Islam masuk dan memberi warna baru pada prosesi ini tanpa
sepenuhnya menghapus simbol-simbol lama. Sebaliknya, simbol-simbol tersebut diberi
penafsiran ulang agar sesuai dengan nilai-nilai Islam. Misalnya, penyembelihan kerbau yang
pada masa pra-Islam dianggap sebagai persembahan, kini dimaknai sebagai simbol pembersihan
diri dari sifat malas dan bodoh (Tamlihan, 2025). Berdasarkan hasil wawancara di lapangan,
prosesi Nyadran pada masa kini diawali dengan pembuatan ketan yang diberi taburan parutan
kelapa oleh para penyapen, yaitu kelompok perempuan yang memiliki peran khusus dalam
tradisi ini. Tahapan selanjutnya berupa penyembelihan kerbau, di mana dagingnya dimasak oleh
kaum laki-laki dan kemudian didistribusikan kepada seluruh masyarakat. Hidangan tersebut
tidak dikonsumsi secara individual, melainkan dibagikan secara merata sebagai representasi nilai
kebersamaan dan solidaritas sosial.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama, tahlil, serta pengajian yang
dipimpin oleh tokoh agama setempat. Dengan demikian, tradisi Nyadran tidak hanya berfungsi
sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah serta
menjaga kohesi sosial masyarakat. Berdasarkan wawancara tradisi Nyadran di Desa Ngayung
saat ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu Nyadran kecil dan Nyadran besar.
Nyadran kecil dilaksanakan setiap menjelang bulan Ramadhan, tepatnya pada bulan Ruwah
dalam kalender Jawa. Prosesi ini dipusatkan di makam Syekh Abdul Qodir Hamid, tokoh
yang dipercaya sebagai pembawa ajaran Islam pertama di Desa Ngayung. Dalam kegiatan ini,
masyarakat membawa makanan sederhana untuk didoakan bersama. Setelah itu, acara
dilanjutkan dengan tahlil dan doa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus
permohonan berkah menjelang bulan suci.
Nyadran besar dilaksanakan setelah panen kedua, biasanya bertepatan dengan bulan Agustus.
Acara dipusatkan di lapangan voli desa yang berdekatan dengan makam umum (gedong).
Prosesi ini melibatkan seluruh warga desa dengan skala yang lebih besar dibandingkan
Nyadran kecil. Salah satu rangkaian utama adalah penyembelihan kerbau yang dimaknai
sebagai simbol penghapusan sifat malas dan bodoh. Daging kerbau dimasak oleh para laki-
laki, sedangkan kaum perempuan menyiapkan ketan sebagai simbol kebersamaan. Seluruh
hidangan kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir dalam acara pengajian, doa
bersama, dan tahlil.
Dengan demikian, tradisi Nyadran di Desa Ngayung, baik dalam bentuknya yang lama maupun
dalam wujud yang telah beradaptasi dengan nilai-nilai Islam, menunjukkan bahwa budaya
masyarakat senantiasa bersifat dinamis. Budaya tidak sepenuhnya hilang ketika bertemu dengan
agama, melainkan bertransformasi menjadi praktik baru yang lebih kontekstual dengan
keyakinan yang dianut. Menjadikan Nyadran tidak hanya sekadar ritual turun-temurun, tetapi
juga sebagai simbol integrasi antara ajaran Islam dengan budaya Jawa, sekaligus wujud
penghormatan terhadap leluhur serta rasa syukur kepada Allah SWT.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 183-196
E-ISSN: 3047-2288
189
Ayu Ning Tyas Hartianti et.al (Simbolisme Integrasi Islam dan....)
Makna dan Simbol Hewan Kerbau
Dalam Tradisi Nyadran di Desa Ngayung
Penyembelihan kerbau merupakan salah satu
rangkaian utama dalam tradisi Nyadran. Prosesi ini tidak hanya sekadar menyembelih hewan
untuk dimakan, melainkan sarat dengan makna simbolis yang mendalam. Bagi masyarakat
setempat, kerbau dipandang sebagai hewan yang memiliki nilai filosofis sekaligus religius. Ia
bukan hanya hewan ternak yang bernilai ekonomis, melainkan juga simbol dari sifat-sifat
manusia yang harus dikendalikan dan dibersihkan. Kerbau dalam tradisi Nyadran diyakini
melambangkan sifat malas dan bodoh. Dua sifat ini dipandang sebagai penghalang utama bagi
kehidupan yang sejahtera, baik secara individu maupun kolektif. Kemalasan akan membuat
seseorang enggan bekerja keras, sedangkan kebodohan mengakibatkan ketidakmampuan untuk
mengambil keputusan yang bijak. Oleh karena itu, penyembelihan kerbau dipahami sebagai
sebuah upaya simbolis untuk menyingkirkan kedua sifat buruk tersebut. Dengan mengorbankan
kerbau, masyarakat berharap sifat malas dan bodoh juga ikut hilang dari kehidupan mereka
(Supratman, 2025).
Dalam pandangan ini, kerbau bukan sekedar hewan yang dikorbankan, tetapi sarana
penyucian diri dan pengingat bagi masyarakat agar selalu menghindari sifat-sifat yang
merugikan.
Makna penyembelihan kerbau ini dapat dikaitkan dengan konsep tazkiyatun nafs
dalam ajaran Islam, yaitu penyucian jiwa dari sifat tercela. Proses pengurbanan kerbau menjadi
media pembelajaran moral, di mana masyarakat diingatkan bahwa untuk meraih kehidupan yang
baik, mereka harus senantiasa membersihkan diri dari sifat-sifat yang menghambat kemajuan.
Dengan demikian, prosesi ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual adat, melainkan juga sebagai
sarana penginternalisasian nilai-nilai agama. Nyadran kemudian menjadi bukti nyata adanya
proses integrasi antara budaya lokal Jawa dengan ajaran Islam, di mana simbol-simbol lama
diberi makna baru sesuai dengan nilai religius.
Selain itu, pemilihan kerbau untuk prosesi Nyadran tidak dilakukan secara sembarangan.
Kerbau yang dipilih harus sehat, kuat, dan memenuhi kriteria tertentu. Salah satu syarat utama
adalah berat kerbau minimal mencapai 175 kilogram. Kesehatan kerbau dijadikan syarat agar
daging yang dihasilkan dapat dinikmati oleh masyarakat tanpa menimbulkan penyakit. Aturan
ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa ritual tidak boleh merugikan, melainkan harus
membawa kebaikan bagi semua pihak. Dengan demikian, aspek kesehatan dan kebermanfaatan
turut menjadi bagian penting dalam prosesi Nyadran.
Daging kerbau yang telah disembelih kemudian dimasak bersama-sama oleh kaum laki-
laki, sementara kaum perempuan menyiapkan ketan sebagai pelengkap. Hasil masakan tersebut
tidak dikonsumsi secara pribadi, melainkan dibagikan secara merata kepada seluruh masyarakat.
Proses pembagian daging ini memiliki makna simbolis yang kuat, yakni sebagai lambang
kebersamaan dan solidaritas sosial. Semua orang, tanpa memandang status sosial maupun tingkat
ekonomi, memiliki hak yang sama untuk menikmati hasil dari prosesi tersebut. Hal ini
memperkuat ikatan antar warga, sekaligus menegaskan bahwa Nyadran adalah ruang
kebersamaan yang inklusif. Selain melambangkan penghilangan sifat malas dan bodoh, kerbau
juga dipandang sebagai hewan yang memiliki karakter kuat namun penurut. Sifat ini dipahami
sebagai simbol harapan agar masyarakat Desa Ngayung memiliki daya tahan, ketekunan, dan
kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Namun, kekuatan tersebut harus tetap
diiringi dengan kerendahan hati dan kepatuhan terhadap norma-norma agama maupun adat.
Dengan kata lain, kerbau menjadi cerminan ideal masyarakat, kuat bekerja, tidak malas, memiliki
daya juang tinggi, namun tetap tunduk pada aturan yang berlaku.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 183-196
E-ISSN: 3047-2288
190
Ayu Ning Tyas Hartianti et.al (Simbolisme Integrasi Islam dan....)
Aturan mengenai pemilihan kerbau yang sehat dan berbobot besar juga mencerminkan
adanya komitmen sosial dan kedisiplinan kolektif. Untuk memenuhi syarat tersebut, masyarakat
harus bergotong royong, bermusyawarah, dan saling membantu. Hal ini menunjukkan bahwa
prosesi penyembelihan kerbau tidak hanya menyentuh dimensi spiritual, tetapi juga dimensi
sosial. Setiap warga desa memiliki tanggung jawab yang sama dalam mewujudkan
keberlangsungan tradisi, sehingga lahirlah rasa memiliki dan keterikatan yang kuat antarwarga.
Dengan demikian, prosesi ini sekaligus menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial dan
menjaga kohesi masyarakat. Perspektif antropologi budaya, praktik penyembelihan kerbau
dalam tradisi Nyadran dapat dipahami sebagai bentuk simbolisme ritual yang memuat pesan
moral, sosial, dan religius. Simbol berfungsi sebagai media untuk menyampaikan makna yang
melampaui tindakan lahiriah. Dalam kerangka ini, penyembelihan kerbau tidak hanya dipandang
sebagai aktivitas fisik, tetapi juga sebagai simbol yang merepresentasikan upaya pembersihan
diri dari sifat tercela, penguatan nilai kebersamaan, serta pemeliharaan harmoni sosial dalam
kehidupan Masyarakat (Nurus Syarifah 2022).
Dengan demikian, penyembelihan kerbau dalam tradisi Nyadran di Desa Ngayung
memiliki fungsi ganda. Di satu sisi, berfungsi sebagai sarana penyucian diri melalui simbol
penghilangan sifat malas dan bodoh, sejalan dengan konsep tazkiyatun nafs dalam Islam. Di sisi
lain, berfungsi sebagai media sosial yang memperkokoh solidaritas, gotong royong, dan kohesi
masyarakat. Simbolisme kerbau yang kuat, sehat, dan penurut juga menjadi pengingat bahwa
masyarakat harus memiliki kekuatan, semangat kerja keras, serta ketundukan pada nilai-nilai
luhur. Hal ini menjadikan tradisi Nyadran bukan sekadar ritual turun-temurun, tetapi juga praktik
budaya yang dinamis, penuh makna, dan tetap relevan dengan kehidupan masyarakat hingga saat
ini.
Ketan Sebagai Simbol Kebersamaan dan Syukur
Pembuatan dan pembagian ketan merupakan elemen penting yang mengandung nilai
simbolis. Proses pembuatan ketan dilaksanakan secara gotong royong oleh para penyapen
(panitia tradisi) yang memiliki tanggung jawab khusus dalam menyiapkan sajian tersebut.
Setelah selesai, ketan dikumpulkan dan didoakan secara kolektif sebelum kemudian dibagikan
kepada seluruh warga (Supratman & Taslim, 2025). Praktik ini memperlihatkan bahwa makanan
dalam tradisi Nyadran tidak semata-mata diposisikan sebagai konsumsi fisik, melainkan juga
sebagai representasi simbolik dari nilai kebersamaan, rasa syukur, dan persaudaraan. Tekstur
ketan yang lengket dipahami sebagai simbol persatuan, di mana setiap butir beras yang melekat
erat mencerminkan kohesi sosial masyarakat Desa Ngayung. Pemaknaan filosofis ini
menegaskan bahwa keberlangsungan kehidupan sosial hanya dapat terjaga apabila terdapat
solidaritas dan rasa keterikatan yang kuat antarwarga.
Lebih jauh, pembagian ketan kepada seluruh masyarakat mencerminkan nilai sedekah
sekaligus wujud syukur atas hasil panen yang diperoleh. Praktik berbagi tersebut dapat dipahami
sebagai ekspresi religius yang berakar pada ajaran Islam tentang pentingnya saling berbagi rezeki
sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Allah SWT. Dengan demikian, ketan dalam konteks
Nyadran berfungsi sebagai media simbolik yang meneguhkan nilai kebersamaan sekaligus
memperkuat ikatan sosial-religius masyarakat. Hal tersebut tidak hanya mengandung makna
sosial, tetapi juga religius, karena secara langsung terkait dengan ajaran Islam yang menekankan
nilai ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam) serta pentingnya menebar manfaat bagi
sesama. Dengan cara demikian, masyarakat Desa Ngayung memadukan tradisi lokal dengan
nilai-nilai keislaman yang mengakar, sehingga tradisi Nyadran tetap relevan sekaligus bernuansa
religius. Praktik berbagi ketan dalam Nyadran dapat dipahami sebagai bentuk living tradition
atau tradisi hidup yang terus dipertahankan lintas generasi. Kehadirannya tidak hanya
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 183-196
E-ISSN: 3047-2288
191
Ayu Ning Tyas Hartianti et.al (Simbolisme Integrasi Islam dan....)
memperkaya khazanah budaya lokal, tetapi juga berfungsi sebagai media pendidikan nilai-nilai
moral, seperti gotong royong, kepedulian sosial, dan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan
adanya simbolisme ketan, masyarakat tidak sekadar melakukan ritual, tetapi juga merefleksikan
ajaran agama dan budaya Jawa yang saling berintegrasi dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Nyadran sebagai sekolah kehidupan
Salah satu anggota Karang Taruna Desa Ngayung, menunjukkan bahwa generasi muda
memandang tradisi Nyadran sebagai sarana penting untuk memperkuat nilai kebersamaan,
syukur, dan identitas budaya-religius masyarakat. Menurutnya, Nyadran tidak hanya sekadar
ritual keagamaan yang berisi doa dan ziarah kubur, tetapi juga berfungsi sebagai media sosial
yang mampu mempertemukan seluruh lapisan masyarakat dalam suasana persaudaraan.
Generasi muda merasa bahwa melalui Nyadran mereka dapat belajar arti kebersamaan, gotong
royong, dan pentingnya melestarikan warisan leluhur. Sebagaimana disampaikan selaku anggota
karang taruna:
Generasi muda ikut serta secara aktif dalam acara ini. Kami biasanya terlibat
dalam kepanitiaan, mulai dari persiapan tempat, pengaturan jalannya doa bersama, hingga
membantu membagikan ketan dan makanan kepada warga. Ada juga yang bertugas
mengurus dokumentasi kegiatan atau menjadi penghubung antara panitia dan warga.
Dengan cara ini, generasi muda merasa ikut memiliki tradisi ini, bukan hanya sekadar
penonton”. (Ardi Dwi, 2025)
Lebih lanjut, ia mengatakan: “Maknanya besar sekali. Nyadran mengajarkan kami
untuk tidak melupakan akar budaya sekaligus nilai agama yang terkandung di dalamnya.
Kami belajar menghormati leluhur, menjaga kebersamaan, serta menumbuhkan rasa peduli
terhadap sesama. Bagi kami, tradisi ini seperti ‘sekolah kehidupan’ yang mengajarkan nilai
gotong royong, tanggung jawab, dan penghormatan kepada Allah SWT melalui doa dan
syukur”. (Ardi Dwi, 2025)
Keterlibatan Karang Taruna dalam berbagai aspek teknis mulai dari persiapan tempat,
pengaturan acara, dokumentasi, hingga distribusi ketan dan makanan menunjukkan adanya
proses transfer nilai dan tanggung jawab dari generasi tua kepada generasi muda. Hal ini selaras
dengan konsep cultural continuity (kelangsungan budaya), di mana nilai-nilai budaya diwariskan
melalui praktik nyata, bukan sekadar melalui cerita. Partisipasi aktif pemuda juga menjadi bukti
bahwa tradisi Nyadran tetap hidup (living tradition) dan terus beradaptasi dengan perkembangan
zaman. Makna filosofis tersebut memperlihatkan bahwa Nyadran berfungsi sebagai “pendidikan
sosial” bagi generasi muda. Melalui tradisi ini, pemuda diajak untuk memahami arti gotong
royong, kepedulian terhadap sesama, serta menjaga keseimbangan antara nilai budaya lokal
dengan ajaran Islam. Dengan demikian, Nyadran memiliki peran ganda: sebagai ritual spiritual
yang memperkuat religiusitas sekaligus sebagai sarana internalisasi nilai sosial yang mempererat
ikatan masyarakat.
Optimisme generasi muda terhadap keberlanjutan Nyadran di masa depan mencerminkan
kesadaran pemuda akan pentingnya menjaga warisan budaya. Meski ia mengakui adanya
tantangan modernisasi seperti meningkatnya ketertarikan generasi muda pada dunia digital
keterlibatan aktif Karang Taruna dalam kepanitiaan menjadi bukti nyata bahwa generasi muda
masih berperan strategis dalam menjaga tradisi. Dengan ikut serta secara langsung, generasi
muda dapat menunjukkan bahwa mereka tidak hanya patuh secara seremonial, tetapi juga
memahami makna mendalam dari setiap prosesi. Selama ada komitmen bersama untuk
melibatkan pemuda dalam setiap tahap pelaksanaan, kekuatan sosial masyarakat akan tetap
terjaga, dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Nyadran akan terus lestari lintas generasi.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 183-196
E-ISSN: 3047-2288
192
Ayu Ning Tyas Hartianti et.al (Simbolisme Integrasi Islam dan....)
Pemaknaan Kerbau: Antara Mitos dan Realita
Tradisi larangan penyembelihan sapi pada saat Idul Adha merupakan salah satu praktik
budaya yang khas di Kota Kudus, Jawa Tengah. Pada perayaan tersebut, masyarakat tidak
menyembelih sapi sebagaimana lazimnya umat Islam di daerah lain, melainkan menggantinya
dengan hewan kerbau. Latar belakang tradisi ini berhubungan dengan sejarah masa lampau ketika
mayoritas penduduk Kudus masih menganut agama Hindu. Sebagaimana diketahui, dalam ajaran
Hindu, sapi dipandang sebagai hewan yang suci dan tidak boleh dikonsumsi. Oleh karena itu, demi
menjaga keharmonisan sosial serta menghormati keyakinan umat Hindu, masyarakat Kudus
memilih kerbau sebagai alternatif hewan kurban (Winarto et al. 2024).
Tradisi ini berakar dari ajaran Sunan Kudus yang menekankan pentingnya toleransi dan
penghormatan terhadap keyakinan agama lain. Melalui kebijakan ini, Sunan Kudus berupaya
menyebarkan ajaran Islam dengan cara damai yang selaras dengan budaya lokal. Pendekatan
dakwah yang dilandasi sikap bijaksana tersebut berhasil menciptakan kerukunan umat beragama,
sekaligus memperlihatkan kearifan dalam mengakomodasi nilai-nilai kemanusiaan. Keunikan
tradisi ini tampak dari pemilihan kerbau sebagai hewan kurban. Secara biologis, sapi dan kerbau
termasuk dalam rumpun yang sama sebagai hewan ternak, sehingga kerbau dapat menjadi
pengganti yang tepat tanpa mengurangi makna ibadah kurban. Dengan demikian, larangan
penyembelihan sapi tidak dimaksudkan untuk mengurangi esensi kurban, melainkan untuk
menjaga toleransi antarumat beragama. Contoh nyata dari prinsip toleransi yang diajarkan Sunan
Kudus ini masih bertahan hingga kini. Melalui tradisi larangan penyembelihan sapi, masyarakat
Kudus mampu menjaga hubungan yang harmonis di tengah keberagaman etnis dan agama. Hal
tersebut menjadi bukti konkret bahwa pendekatan dakwah yang mengedepankan nilai toleransi
dapat mewujudkan kehidupan sosial yang damai, rukun, dan bebas dari konflik keagamaan
meskipun berada dalam lingkungan masyarakat yang plural.(Rachmayanti and Bissalam 2025)
Simbol Integrasi Islam
Doa, Tahlil, Dzikir, dan Khataman Qur’an
Prosesi doa bersama, pembacaan tahlil, dzikir, hingga khataman Al-Qur’an dalam tradisi
Nyadran memperlihatkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara ritual budaya lokal dengan
ajaran Islam. Nyadran tidak sekadar dipahami sebagai bentuk pelestarian warisan leluhur
masyarakat Jawa, tetapi juga berfungsi sebagai wadah internalisasi nilai-nilai religius yang
termanifestasi dalam kehidupan sosial sehari-hari. Hal ini membuktikan bahwa tradisi bukanlah
sesuatu yang kaku, melainkan dapat bertransformasi sekaligus beradaptasi dengan nilai agama
yang dianut masyarakat. Sebelum rangkaian prosesi dimulai, masyarakat terlebih dahulu
mengadakan khataman Al-Qur’an. Kegiatan ini memiliki makna mendalam karena menandai
dimulainya tradisi Nyadran dengan lantunan firman Allah SWT. Khataman tidak hanya
berfungsi sebagai doa penutup dari bacaan kitab suci, tetapi juga sebagai simbol bahwa seluruh
kegiatan Nyadran didasarkan pada nilai-nilai Islam. Dengan demikian, khataman Al-Qur’an
menjadi pintu spiritual yang menghubungkan masyarakat dengan ajaran agama, sekaligus
mempertegas bahwa Nyadran bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan bentuk ibadah
kolektif yang diridhai Allah SWT.
Pertama, nilai tauhid (keyakinan kepada Allah SWT) tercermin dalam seluruh rangkaian
kegiatan spiritual. Doa yang dipanjatkan bersama, lantunan ayat suci Al-Qur’an, serta bacaan
tahlil menegaskan bahwa pusat orientasi dari tradisi ini adalah Allah SWT. Nyadran menjadi
media pengingat bahwa segala keberkahan hidup, termasuk hasil panen yang melimpah, berasal
dari kuasa-Nya. Dengan demikian, ritual ini tidak hanya bermakna budaya, tetapi juga menjadi
sarana syukur kolektif masyarakat terhadap Sang Pencipta.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 183-196
E-ISSN: 3047-2288
193
Ayu Ning Tyas Hartianti et.al (Simbolisme Integrasi Islam dan....)
Kedua, nilai amal shaleh yang diwujudkan melalui sedekah dan berbagi tampak dalam
pembagian ketan, makanan, hingga daging kerbau kepada masyarakat. Tindakan ini tidak
sekadar simbol berbagi rezeki, melainkan merupakan praktik nyata ajaran Islam yang
menekankan kepedulian sosial. Melalui tradisi ini, masyarakat dilatih untuk menginternalisasi
semangat memberi, memperhatikan sesama, dan menjaga keseimbangan sosial antara yang
mampu dengan yang kurang mampu.
Ketiga, nilai ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam) sangat kentara dalam suasana
kebersamaan yang tercipta. Doa dan dzikir yang dilaksanakan secara kolektif mampu menghapus
sekat-sekat sosial, baik perbedaan status maupun kedudukan, karena seluruh warga duduk
bersama dalam satu majelis doa. Nyadran pada titik ini menjadi sarana memperkuat solidaritas,
mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa keberagamaan tidak hanya
bersifat individual, tetapi juga kolektif. Seperti yang disampaikan:
“Tradisi Nyadran ini bukan sekadar adat istiadat, tapi di dalamnya terkandung nilai-
nilai Islam. Bacaan tahlil, dzikir, doa, sampai khataman Al-Qur’an itu semua jelas
ajaran Islam. Jadi, kami melihat Nyadran sebagai cara masyarakat untuk mendekatkan
diri kepada Allah SWT sambil tetap menjaga warisan leluhur. Justru dengan tradisi ini,
anak-anak muda bisa belajar agama sekaligus belajar budaya”. (Tamlihan, 2025)
Kutipan ini memperlihatkan bagaimana tokoh agama menekankan dimensi spiritual dan
edukatif dari tradisi Nyadran. Ritual tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, melainkan
juga sebagai ruang pembelajaran yang menanamkan nilai syukur, persaudaraan, dan kepedulian
sosial sesuai dengan ajaran Islam. Dengan demikian, tradisi ini menjadi jembatan antara
pelestarian budaya lokal dan pengamalan nilai religius, sehingga mampu bertahan lintas
generasi.
Pengajian sebagai symbol religusitas dalam Tradisi Nyadran
Puncak dari rangkaian tradisi Nyadran di Desa Ngayung adalah pengajian malam hari yang
dihadiri oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk para perantau yang sengaja pulang untuk
mengikuti acara tersebut. Kehadiran perantau memperlihatkan bahwa Nyadran memiliki daya
ikat sosial yang kuat, tidak hanya bagi masyarakat yang tinggal di desa, tetapi juga bagi mereka
yang berada jauh dari kampung halaman. Dengan demikian, pengajian malam hari menjadi
momentum kebersamaan sekaligus memperkokoh ikatan emosional dan spiritual seluruh warga
Desa Ngayung.
Dalam pelaksanaannya, pengajian menghadirkan seorang kiai sebagai penceramah.
Kehadiran kiai tidak hanya memberi kedalaman materi keagamaan, tetapi juga berfungsi sebagai
bentuk legitimasi religius bahwa tradisi Nyadran selaras dengan ajaran Islam. Ceramah yang
disampaikan umumnya berisi tausiyah tentang syukur, pentingnya ukhuwah Islamiyah, serta
refleksi atas perjalanan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa pengajian berfungsi sebagai media
dakwah, yang memperkuat iman masyarakat sekaligus memberikan pemahaman bahwa tradisi
dan agama dapat berjalan beriringan. Pengajian juga menjadi sarana refleksi spiritual kolektif, di
mana masyarakat diajak untuk merenungkan makna hidup, hubungan dengan Allah SWT, serta
tanggung jawab sosial sebagai umat beragama. Nilai religiusitas semakin ditekankan melalui
lantunan sholawat dan doa bersama yang mengiringi acara, sehingga tradisi ini tidak hanya
berhenti pada aspek budaya, tetapi juga memberi ruang pembinaan akhlak dan keimanan.
Dengan demikian, pengajian malam hari dapat dipandang sebagai puncak religiusitas
tradisi Nyadran. Imenegaskan orientasi utama dari tradisi ini, yakni mendekatkan diri kepada
Allah SWT, memperkuat solidaritas sosial, dan memperkaya praktik keberagamaan masyarakat.
Kehadiran perantau yang turut serta menambah makna simbolis bahwa Nyadran adalah ruang
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 183-196
E-ISSN: 3047-2288
194
Ayu Ning Tyas Hartianti et.al (Simbolisme Integrasi Islam dan....)
pemersatu, yang menjembatani perbedaan usia, status sosial, bahkan jarak geografis, dalam
bingkai kebersamaan dan nilai-nilai Islam.
Gambar 1. Pemotongan kerbau
Gambar Pemotongan Kerbau
Dokumentasi prosesi pemotongan hewan kerbau dalam rangkaian tradisi Nyadran yang
dilaksanakan oleh masyarakat desa. Kerbau yang menjadi bagian dari ritual adat tampak diikat
pada batang pohon besar sebagai tahap awal sebelum prosesi penyembelihan dilakukan. Lokasi
kegiatan berada di area terbuka yang rindang, sehingga menciptakan suasana yang sakral dan
khidmat sesuai nilai budaya setempat. Kerbau dalam tradisi ini memiliki makna simbolik sebagai
bentuk rasa syukur masyarakat serta penghormatan terhadap leluhur. Kehadiran hewan tersebut
bukan sekadar proses teknis, tetapi bagian penting dari rangkaian ritual yang sudah turun-
temurun dilaksanakan. Keterlibatan masyarakat dalam setiap tahap menunjukkan kuatnya nilai
kebersamaan dan gotong royong yang masih dipertahankan hingga saat ini. Masyarakat dari
berbagai kelompok usia terlihat berkumpul mengelilingi area prosesi, menunjukkan tingginya
antusiasme serta peran aktif warga dalam melestarikan tradisi lokal. Para tokoh masyarakat dan
panitia adat tampak mengawasi jalannya ritual agar berlangsung tertib dan sesuai tata cara
tradisional. Dokumentasi ini menunjukkan bagaimana tradisi Nyadran tetap menjadi bagian
penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat desa.
4.
Kesimpulan
Tradisi Nyadran di Desa Ngayung merupakan salah satu wujud nyata akulturasi budaya
Jawa dan ajaran Islam yang telah berlangsung sejak abad ke-15 hingga kini. Tradisi ini tidak
hanya berfungsi sebagai ritual ziarah kubur dan doa bersama untuk leluhur, tetapi juga sarat
dengan simbolisme yang mengandung nilai religius, sosial, dan budaya. Penyembelihan kerbau,
pembuatan ketan, serta doa dan tahlil bersama merupakan rangkaian yang merepresentasikan
proses integrasi antara kearifan lokal Jawa dengan nilai-nilai Islam. Makna simbolis kerbau
sebagai penghilangan sifat malas dan bodoh, serta ketan sebagai lambang persatuan dan syukur,
memperlihatkan bahwa setiap elemen tradisi memiliki fungsi moral dan spiritual. Selain itu,
keterlibatan generasi muda dalam pelaksanaan Nyadran menunjukkan adanya kesinambungan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 183-196
E-ISSN: 3047-2288
195
Ayu Ning Tyas Hartianti et.al (Simbolisme Integrasi Islam dan....)
budaya (cultural continuity) yang menjamin kelestariannya di tengah arus modernisasi
.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa Nyadran bukan sekadar warisan leluhur, tetapi juga media
pendidikan nilai, perekat sosial, serta penguat identitas religius-budaya masyarakat Jawa.
Dengan memadukan nilai solidaritas, gotong royong, penghormatan kepada leluhur, dan
penghayatan religius, Nyadran berperan penting dalam menjaga harmoni sosial sekaligus
memperkokoh kesadaran kolektif masyarakat. Hal ini sejalan dengan konsep integrasi sosial, di
mana perbedaan nilai budaya dan agama justru melahirkan perpaduan yang harmonis dan
kontekstual. Dengan demikian, tradisi Nyadran di Desa Ngayung dapat dipahami sebagai ruang
simbolik yang mengikat masyarakat dalam kebersamaan, memperkuat religiusitas Islam yang
adaptif, serta menjaga kelestarian budaya Jawa. Tradisi ini menunjukkan bahwa budaya lokal
tidak bertentangan dengan Islam, melainkan menjadi medium efektif untuk menanamkan nilai-
nilai keagamaan sekaligus mempertahankan identitas kultural masyarakat.
5.
Daftar Pustaka
Ardi Dwi. (2025). Wawancara mengenai keterlibatan generasi muda dalam tradisi Nyadran.
Anggota Karang Taruna Desa Ngayung, Lamongan.
Ahmad, Sulthan. 2021. “Totem, Ritual Dan Kesadaran Kolektif: Kajian Teoritik Terhadap
Pemikiran Keagamaan Emile Durkheim.” Al-Adyan: Journal of Religious Studies 2 (2):
15361. https://doi.org/10.15548/al-adyan.v2i2.3384.
Aminudin, Muhamad. 2024. “Nyadran Dalam Tradisi Islam Kejawen: Integrasi Budaya Dan
Religi Dalam Masyarakat Jawa.” Konferensi Nasional Mahasiswa Sejarah Peradaban
Islam 1: 93444. https://proceedings.uinsa.ac.id/index.php/konmaspi/article/view/2747.
Idrus, Rezky Lutfiah. 2016. “Integrasi Sosial Masyarakat Urban Pendahuluan Tinjauan Pustaka.”
Integarsi Sosial Masyarakat 6 (september): 112.
Mais, Yehezkiel, Femmy C M Tasik, and Antonius Purwanto. 2019. “Integrasi Sosial Antara
Masyarakat Pendatang Dengan Masyarakat Setempat Di Desa Trans Kecamatan Sahu
Timur.” Holistik 12 (1): 119.
Mazid, Sukron, Kokom Komalasari, Aim Abdul Karim, Rahmat , and Atsani Wulansari. 2024.
“Nyadran Tradition as Local Wisdom of the Community to Form Civic Disposition.” KnE
Social Sciences 2024: 23344. https://doi.org/10.18502/kss.v9i19.16503.
Nurus Syarifah. 2022. “Studi Kasus Keagamaan Masyarakat Bali Dan Maroko.” Humanis 14
(2): 6574. http://e-jurnal.unisda.ac.id/index.php/Humanis/article/view/3186.
Rachmayanti, Amalia Cahya, and Ummu Bissalam. 2025. “Dekonstruksi Tradisi Kudus
Membaca Larangan Penyembelihan Sapi Dalam Penyembelihan Sapi Dalam Perspektif
Pemikiran Mohammad Arkoun.” Mukaddimah: Jurnal Studi Islam 10 (1): 81100.
https://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/mukaddimah/article/view/4240.
Rosydiana, Wildan Novia. 2023. “Nyadran: Bentuk Akulturasi Agama Dengan Budaya Jawa.”
HUMANIS: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Dan Humaniora 15 (1): 1523.
https://doi.org/10.52166/humanis.v15i1.3305.
Soniatin, Yessy. 2021. “Humanis Vol. 13 No. 2.” HUMANIS: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Dan
Humaniora, 2021 13 (2): 19399.
Supratman. (2025). Wawancara mengenai asal-usul tradisi Nyadran di Desa Ngayung. Kepala
Desa Ngayung, Lamongan.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 183-196
E-ISSN: 3047-2288
196
Ayu Ning Tyas Hartianti et.al (Simbolisme Integrasi Islam dan....)
Tamlihan. (2025, 29 Agustus). Wawancara mengenai transformasi makna tradisi Nyadran di
Desa Ngayung. Tokoh agama Desa Ngayung, Lamongan.
Taslim. (2025). Wawancara mengenai prosesi pembuatan dan pembagian ketan dalam tradisi
Nyadran. Sesepuh Desa Ngayung, Lamongan.
Wajdi, Muh. Barid Nizarudin. 2010. “Budaya Jawa ( Fenomena Sosial Keagamaan Nyadranan
Di Daerah Baron Kabupaten Nganjuk ).” Jurnal Lentera, .hlm.124.
Winarni, Sri, Galih Widjil Pangarsa, Antariksa Antariksa, and Lisa Dwi Wulandari. 2015.
“AKULTURASI BUDAYA ISLAM DAN JAWA: Ruang Komunal Pada Budaya Nyadran
Dukuh Krajan, Desa Kromengan, Kabupaten Malang.” El-HARAKAH (TERAKREDITASI)
15 (1): 80. https://doi.org/10.18860/el.v15i1.2674.
Winarto, Winarto, Ahmad Shuhada, Adika Arifin Matlawi, and Nazwa Aulia Fitriyana. 2024.
“The Motive of the Ban on Cow Slaughter by Sunan Kudus and Its Relevance to
Strengthening Religious Moderation.” Muttaqien; Indonesian Journal of Multidiciplinary
Islamic Studies 5 (2): 11333. https://doi.org/10.52593/mtq.05.2.02.