PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 86-94
E-ISSN: 3047-2288
86
Andhika Djalu Sembada (Dimensi Spiritual Keris Dalam....)
Dimensi Spiritual Keris Dalam Perspektif Filsafat
Metafisika
Andhika Djalu Sembada
Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta, Bantul, Yogyakarta, 55198, Indonesia
Email: sembadadjalu@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 29 Maret 2025
Direvisi: 24 April 2025
Disetujui: 25 Mei 2025
Tersedia Daring: 1 Juni 2025
Keris diakui sebagai warisan budaya yang melampaui fungsi material,
diyakini memiliki dimensi spiritual seperti 'tuah' atau 'kekuatan'. Literatur
yang ada cenderung berfokus pada narasi budaya, meninggalkan kesenjangan
(gap) berupa ketiadaan perumusan hakikat ontologis dari fenomena spiritual
keris. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan merumuskan dimensi
spiritual keris menggunakan kerangka Filsafat Metafisika, khususnya
Ontologi dan Hylomorphism, serta menawarkan model interpretasi filosofis
yang dapat menjelaskan interaksi materi dan spiritualitas keris. Penelitian
kualitatif ini menggunakan pendekatan Filsafat Metafisika dan Hermeneutika
Filosofis, dengan data utama berasal dari konsep-konsep inti Metafisika dan
teks-teks budaya/etnografi. Teknik analisis utamanya adalah analisis
konseptual-filosofis dan deskripsi hermeneutik. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dimensi spiritual keris dapat dirumuskan secara
ontologis. Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada usulan Model
Hylomorphism Spiritual Keris, yang mendefinisikan keris sebagai artefak
hylomorphik ganda. 'Tuah' keris diinterpretasikan sebagai aktualisasi potensi
(entelechy) dan Form Spiritualis yang ditransfer melalui Causalitas Efisien
Non-Fisik (laku dan tirakat empu). Temuan ini memberikan dasar teoretis
yang mendalam bagi aspek spiritual keris. Kesimpulan menunjukkan bahwa
keris adalah entitas yang memanifestasikan interaksi antara Substansi
Material dan Substansi Non-Fisik. Penelitian ini berkontribusi pada Filsafat
Budaya dengan memperluas jangkauan Metafisika untuk melegitimasi dan
menganalisis fenomena spiritual lokal.
Kata Kunci:
Filsafat
Keris
Metafisika
Spiritual
ABSTRACT
Keywords:
Philosophy
Keris
Metaphysics
Spiritual
Keris is recognized as a cultural heritage that transcends material functions,
believed to possess spiritual dimensions such as 'tuah' or 'power.' Existing
literature tends to focus on cultural narratives, leaving a gap in the formulation
of the ontological essence of the keris's spiritual phenomenon. This study aims
to analyze and formulate the spiritual dimension of keris using the framework
of Metaphysical Philosophy, especially Ontology and Hylomorphism, and to offer
a philosophical interpretative model that can explain the interaction between
the material and the spirituality of keris. This qualitative research uses the
approach of Metaphysical Philosophy and Philosophical Hermeneutics, with
primary data derived from the core concepts of Metaphysics and
cultural/ethnographic texts. The main analytical techniques are conceptual-
philosophical analysis and hermeneutic description. The research results show
that the spiritual dimension of keris can be formulated ontologically. The
novelty of this study lies in the proposed Spiritual Keris Hylomorphism Model,
which defines the keris as a dual hylomorphic artifact. The 'blessing' of keris is
interpreted as the actualization of potential (entelechy) and the Spiritual Form,
which is transferred through Non-Physical Efficient Causality (the practices and
austerities of the maker). These findings provide a profound theoretical basis for
the spiritual aspects of the keris. The conclusion shows that the keris is an entity
that manifests the interaction between Material Substance and Non-Physical
Substance. This study contributes to the Philosophy of Culture by expanding the
scope of Metaphysics to legitimize and analyze local spiritual phenomena.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 86-94
E-ISSN: 3047-2288
87
Andhika Djalu Sembada (Dimensi Spiritual Keris Dalam....)
©2025, Andhika Djalu Sembada
This is an open access article under CC BY-SA license
1.
Pendahuluan
Keris sebagai warisan budaya tak benda Indonesia yang diakui oleh UNESCO, telah lama
dipelajari dari berbagai sudut pandang, mulai dari aspek historis, seni, hingga teknologi
metalurgi. Secara kasat mata, keris merupakan sebuah senjata tradisional yang dibentuk melalui
proses penempaan logam khusus. Selain itu, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tetapi
juga sebagai benda antik, bagian upacara tradisional, dan bahkan dianggap sebagai benda sakral
(Kusumatatwa et al., 2021). Namun, dalam konteks kebudayaan Nusantara, keris jauh
melampaui fungsinya sebagai artefak material, keris diposisikan sebagai objek yang memiliki
nilai simbolis, filosofis, dan bahkan dimensi spiritual yang mendalam. Keyakinan masyarakat
Jawa dan daerah lain mengenai adanya "isi," "tuah," atau "kekuatan gaib" pada keris, yang sering
dikaitkan dengan proses penciptaannya (melalui tirakat dan laku spiritual sang empu),
menunjukkan adanya entitas non-fisik yang melekat pada benda fisik tersebut. Keris selain
memiliki unsur seni yang tinggi, juga dipercaya memiliki daya magis (Nurnaningsih, 2020).
Pembahasan terkait keris cenderung berfokus pada narasi etnografi, mitologi, atau
pendekatan semiotika budaya. Sebagai contoh, pelestarian budaya keris di Surakarta dengan
fokus etnografi, menggambarkan transformasi peran keris dari senjata menjadi pusaka dan
simbol budaya yang dikeramatkan (Afifah, 2022). Namun, belum banyak kajian yang secara
sistematis dan detail menempatkan fenomena spiritual keris ini dalam kerangka ilmu yang lebih
fundamental, yaitu Filsafat Metafisika. Metafisika, sebagai cabang filsafat yang mengkaji
hakikat realitas di luar pengalaman indrawi (seperti substansi, kausalitas, ruang, dan waktu,
termasuk eksistensi entitas spiritual), menawarkan kerangka konseptual yang tepat untuk
menganalisis dan mendiskusikan bagaimana dan mengapa suatu benda fisik dapat dipercaya
mengandung dimensi non-fisik. Metafisika berurusan dengan segala sesuatu sebagaimana
adanya dalam relasinya dengan level realitas, di mana manifestasi realitas ditentukan oleh tingkat
universalitasnya (Furqon & Hannah, 2020).
Penelitian mengenai keris dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok. Pertama,
studi historis dan metalurgi (misalnya, karya Bambang Harsrinuksmo dan Garret Solyom) yang
membahas pada teknik pembuatan pamor dan sejarahnya. Kedua, studi semiotik dan budaya
(misalnya, kajian oleh H. Soerono dan Moeljanto) yang menginterpretasikan makna simbolis
bentuk dhapur dan filosofi hidup Jawa yang terkandung di dalamnya. Ketiga, kajian etnografi
dan mitologi (misalnya, penelitian Soedarso) yang mendokumentasikan praktik dan keyakinan
spiritual masyarakat terhadap keris. Namun, telaah literatur menunjukkan adanya kekosongan
metodologis dan filosofis. Meskipun telah didokumentasikan secara ekstensif bahwa keris
memiliki dimensi spiritual, tidak ada satu pun penelitian yang menggunakan konsep-konsep inti
Filsafat Metafisika, seperti dualisme substansi (pikiran-materi), teori aktualisasi, atau konsep
Aether dalam ontologi Aristotelian, untuk membedah dan mengartikulasikan hakikat spiritual
keris. Konsep spiritual dalam karya Ronggowarsito, menunjukkan pentingnya dimensi spiritual
untuk mencapai kedamaian dan kedekatan dengan Sang Pencipta (Fitri, 2023).
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 86-94
E-ISSN: 3047-2288
88
Andhika Djalu Sembada (Dimensi Spiritual Keris Dalam....)
Kesenjangan utama yang nampak terletak pada ketiadaan perumusan dimensi spiritual
keris sebagai subjek metafisik. Studi-studi sebelumnya menerima dimensi spiritual ini sebagai
fakta budaya atau keyakinan tanpa mempertanyakan hakikat ontologis dari tuah atau kekuatan
yang dipercayai tersebut. Masyarakat modern mulai menyadari bahwa kebutuhan manusia
terhadap dimensi spiritualnya adalah suatu hal yang sifatnya alamiah (Haryanto, 2022). Filsafat
Metafisika, melalui konsep seperti substansi non-fisik, potensi dan aktualisasi, serta causality
spiritual, dapat menjembatani kesenjangan antara deskripsi budaya dan analisis filosofis.
Penelitian ini bertujuan mengisi kesenjangan tersebut dengan menarik fenomena budaya ke
dalam diskursus filsafat yang lebih tinggi. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan
Filsafat Metafisika, khususnya Ontologi dan Hylomorphism, sebagai lensa utama untuk
mengkaji dimensi spiritual keris. Melalui pendekatan fenomenologis untuk menganalisis konsep
dinamis dan metaforis dalam filsafat, yang berkontribusi pada pemahaman holistik tentang
dimensi fisik, emosional, dan spiritual (Viktor et al., 2024). Penelitian ini tidak hanya
mendokumentasikan kepercayaan masyarakat (seperti studi etnografi), tetapi berusaha
menjawab pertanyaan: "Apa hakikat ontologis dari 'tuah' atau 'khodam' yang dipercayai melekat
pada keris?" Dengan menggunakan kerangka Metafisika, penelitian ini akan mengusulkan model
konseptual (misalnya, melalui reinterpretasi konsep Form Aristoteles yang ditanamkan melalui
laku spiritual empu) untuk menjelaskan interaksi antara entitas material (bilah keris) dan entitas
non-material (spiritualitasnya), sebuah pendekatan yang belum pernah dilakukan dalam studi
keris sebelumnya.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah (1) Menganalisis dan mengartikulasikan dimensi
spiritual keris menggunakan kerangka konsep dasar Filsafat Metafisika (Ontologi, Kosmologi,
dan Teori Kausalitas). (2) Mengidentifikasi dan merumuskan hakikat ontologis dari "tuah" atau
"kekuatan" yang dipercayai melekat pada keris berdasarkan prinsip-prinsip metafisika. (3)
Menawarkan model interpretasi filosofis yang dapat menjelaskan interaksi antara proses material
(penempaan) dan proses spiritual (laku empu) dalam pembentukan keris yang "berisi."
Kontribusi penelitian ini bersifat ganda, yaitu pertama sebagai kontribusi filosofis: penelitian ini
memberikan kontribusi yang signifikan dengan memperluas jangkauan aplikasi Filsafat
Metafisika ke dalam konteks objek budaya Nusantara. Hal ini membantu mendialogkan
pengetahuan lokal (kepercayaan spiritual pada keris) dengan tradisi pemikiran Barat yang
mendasar. Kedua, kontribusi ilmu budaya
:
penelitian ini meningkatkan status studi keris dari
sekadar deskripsi budaya menjadi analisis filosofis yang mendalam, memberikan dasar teoretis
yang kuat bagi kepercayaan yang selama ini hanya dianggap sebagai mitos atau takhayul.
Hasilnya akan memperkaya substansi pemikiran dalam bidang Filsafat Budaya dan Metafisika
Terapan.
2.
Metode
Metode penelitian ini dirancang secara kualitatif dengan fokus pada analisis filosofis yang
mendalam terhadap teks, konsep, dan keyakinan budaya yang berkaitan dengan dimensi spiritual
keris. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi
filosofis dan interpretatif. Penelitian kualitatif tetap relevan di era transformasi digital, terutama
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 86-94
E-ISSN: 3047-2288
89
Andhika Djalu Sembada (Dimensi Spiritual Keris Dalam....)
melalui pendekatan studi kasus yang mampu memberikan pemahaman holistik terhadap
fenomena tertentu dengan menggunakan wawancara mendalam dan observasi partisipatif
(Wiraguna & Widjaja, 2024). Penelitian ini tidak bertujuan menguji hipotesis statistik, melainkan
untuk membangun kerangka konseptual dan memberikan interpretasi baru terhadap fenomena
budaya (dimensi spiritual keris) menggunakan disiplin ilmu filsafat (Metafisika). Pendekatan
penelitian utama yang digunakan adalah Filsafat Metafisika, khususnya cabang ontologi dan
hylomorphism (materi dan bentuk/esensi). Pendekatan ontologi digunakan untuk
menginvestigasi hakikat keberadaan (being) dari tuah atau entitas spiritual yang dipercayai
melekat pada keris. Hal ini melibatkan analisis terhadap konsep-konsep substansi non-fisik dan
eksistensi dalam konteks budaya keris. Pendekatan hylomorphism (Materi-Form) digunakan
untuk menganalisis bagaimana bilah keris (sebagai materi) dapat diisi atau diperkaya dengan
dimensi spiritual (sebagai form/ esensi non-fisik) melalui ritual dan proses penciptaan oleh empu.
Pendekatan hermeneutika filosofis digunakan untuk menafsirkan teks-teks kuno (primbon, serat,
babad) dan wawancara yang mengandung pandangan spiritual mengenai keris, dengan tujuan
mengungkap makna terdalam dan konteks filosofisnya.
Data dalam penelitian ini bersifat kualitatif dan terdiri dari dua jenis utama, yaitu data
primer (data filosofis): Konsep-konsep inti Filsafat Metafisika, terutama yang berasal dari tradisi
Aristotelian dan skolastik, yang berkaitan dengan substansi, kausalitas, dan entelekhi (aktualisasi
potensi). Data sekunder (data budaya dan tekstual): Sumber tertulis seperti jurnal ilmiah, buku-
buku referensi, dan dokumentasi UNESCO mengenai keris sebagai warisan budaya. Sumber
lisan: (Hasil wawancara mendalam dengan para pakar keris (kurator/kolektor senior) dan
budayawan/filsuf Jawa yang memiliki pemahaman mendalam tentang dimensi spiritual keris.
Teknik pengumpulan data utama yang digunakan adalah studi pustaka (Library Research) dan
kajian teks filosofis. Studi pustaka mendalam: Melakukan penelusuran literatur secara
komprehensif terhadap sumber-sumber metafisika untuk mengidentifikasi konsep-konsep kunci
yang relevan. Dokumentasi dan koleksi teks: Mengumpulkan dan mengorganisasi naskah kuno,
transkrip wawancara, dan data etnografi yang relevan dengan spiritualitas keris. Wawancara
semi-terstruktur (opsional): Wawancara dilakukan untuk mendapatkan pandangan otentik dari
para ahli mengenai ritual, keyakinan, dan penamaan dimensi spiritual keris, untuk kemudian
dianalisis dengan kerangka Metafisika.
Teknik analisis data yang diterapkan adalah analisis konseptual-filosofis dan deskripsi
hermeneutik. Reduksi data filosofis: Mengidentifikasi dan memilah konsep-konsep metafisika
yang paling relevan untuk diterapkan pada fenomena spiritual keris. Interpretasi hermeneutika:
Melakukan penafsiran berulang terhadap data budaya dan tekstual. Tujuannya adalah untuk
menjembatani bahasa budaya dengan terminologi filosofis yang rigorus. Analisis konseptual
kritis: Menetapkan dan mendefinisikan hubungan logis dan ontologis antara keris (materi), laku
empu (kausalitas spiritual), dan dimensi spiritual (ontologi). Pada tahap ini, peneliti akan
membangun model konseptual metafisika keris yang merupakan kontribusi utama penelitian.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 86-94
E-ISSN: 3047-2288
90
Andhika Djalu Sembada (Dimensi Spiritual Keris Dalam....)
3.
Hasil dan Pembahasan
Analisis Kausalitas Spiritual dalam Proses Penciptaan Keris
Analisis terhadap narasi kultural dan naskah kuno menunjukkan bahwa proses pembuatan
keris oleh empu tidak hanya melibatkan proses material (penempaan logam) tetapi juga aktivitas
kausalitas spiritual (laku dan tirakat). Pada jaman dahulu seorang Empu dalam membuat bilah
keris pusaka benar-benar memperhitungkan saat yang tepat untuk memulai pekerjaan dalam
membuat keris tersebut, biasanya seorang empu akan menghitung wariga atau dauh ayu
pembuatan keris sebab didalam membuat bilah keris tayuh atau pusaka yang akan menjadi
piandel, penentuan waktu yang tepat untuk memulai pekerjaan dan mengakhiri /finishing
pekerjaan sangatlah penting karena ada hari-hari tertentu yang tidak boleh untuk memulai
pekerjaan memande/ menempa bilah pusaka karena akan membawa dampak majal/tumpul dan
mengakibatkan kegagalan dalam mengolah ketiga unsur logam yang akan menjadi bahan utama
keris biasanya jadi megat waja, tidak memiliki daya magis, dan membawa aura negative (Yasa,
2023). Temuan kunci dalam tahapan ini adalah:
Pembedaan causa materialis dan causa spiritualis: Bilah keris yang telah ditempa secara
material (besi dan nikel/baja) dikategorikan sebagai Causa Materialis (penyebab materi).
Sementara itu, laku spiritual (puasa, meditasi, doa) yang dilakukan empu
dikonseptualisasikan sebagai Causa Efficiens (Penyebab Efisien) Non-Fisik.
Intensi sebagai form awal: Intensi (niat) spiritual empu saat menempa berfungsi sebagai
Form Awal (Bentuk Awal) yang berusaha ditransfer ke dalam materi keris. Intensi ini
adalah cetak biru energi atau karakter non-fisik keris.
Hakikat Ontologis Dimensi Spiritual Keris
Melalui pendekatan Ontologi dan Hermeneutika, temuan menunjukkan bahwa "tuah" atau
"kekuatan" pada keris dapat dirumuskan secara ontologis, bukan sekadar kepercayaan takhayul.
Penelitian terkini menunjukkan bahwa keris dapat dimodelkan menggunakan semantic web dan
ontologi untuk merepresentasikan pengetahuan tentang komponen-komponennya seperti bilah,
warangka, dhapur, pamor, dan tangguh (Susanto et al., 2024). Penjelasan terkait temuan dalam
tahapan ini adalah sebagai berikut:
Tuah sebagai entelechy teraktualisasi: Dimensi spiritual keris (tuah) diinterpretasikan
sebagai aktualisasi potensi (entelechy) yang ditanamkan melalui Causa Efficiens non-fisik
(laku empu). Bilah keris yang awalnya hanya materi (potensi), menjadi teraktualisasi
keberadaan spiritualnya setelah proses ritual dan penempaan.
Dualisme substansi terapan: Keris tidak hanya eksis sebagai substansi material (bilah
logam) tetapi juga mengandung Substansi Non-Fisik (tuah/esensi) yang berinteraksi
dengannya. Substansi Non-Fisik ini adalah entitas riil yang mematuhi logika metafisika
meskipun tidak dapat diukur secara fisik.
Model Interpretasi Filosofis: Hylomorphism Spiritual
Keris memiliki makna spiritual dan budaya yang penting dalam masyarakat Indonesia,
khususnya di Jawa dan Bali. Dalam budaya Jawa, keris dianggap suci, sakral, dan memiliki
kekuatan luar biasa, diyakini dapat mempengaruhi karier, kesehatan, dan perkembangan karakter
melalui dimensi metafisik dan trans-personalitas (Kusumatatwa et al., 2021). Temuan akhir
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 86-94
E-ISSN: 3047-2288
91
Andhika Djalu Sembada (Dimensi Spiritual Keris Dalam....)
adalah usulan model hylomorphism spiritual keris. Model ini menjelaskan bahwa keris terdiri
dari:
1. Materi (Hyle): Bilah, pamor, dan warangka.
2. Form (Morphe):
Form Materialis (bentuk fisik dhapur).
Form Spiritualis: Esensi non-fisik yang ditransfer dari empu, yang memberikan ciri,
fungsi, atau energi spiritual spesifik pada keris.
Membandingkan Temuan dengan Penelitian Terdahulu
Penelitian sebelumnya telah banyak membahas dan mendokumentasikan keris secara luas
berkaitan dengan adanya keyakinan masyarakat terhadap tuah, kekuatan keris, estetika keris,
keris sebagai simbol, dan lain sebagainya. Temuan penelitian ini menemukan keunikan lain dari
sebuah keris yang dikaji melalui perspektif filsafat metafisika dalam dimensi spiritualnya, yaitu:
Perbedaan: Jika penelitian sebelumnya hanya menyatakan bahwa keris dipercaya memiliki
tuah, penelitian ini menjelaskan hakikat ontologis tuah tersebut. Kami mengubah
interpretasi budaya dari "keyakinan" menjadi "fenomena yang dapat dianalisis secara
metafisik." Pendekatan filosofis dalam memahami fenomena spiritual dapat
mengintegrasikan perspektif epistemologis dan ontologis untuk menganalisis hakikat
keberadaan dan realitas (Sahid et al., 2024).
Kesenjangan: Dengan merumuskan tuah sebagai entelechy atau Form Spiritualis,
kesenjangan yang diidentifikasi pada ketiadaan perumusan dimensi spiritual sebagai
subjek metafisik telah terisi. Pertumbuhan spiritual adalah kombinasi dari nature and
nurture yaitu sifat alam dan lingkungan yang membentuknya. Ada banyak cara di mana
pertumbuhan ini bisa terjadi, bukan bergantung pada tingkat persepsi kesadaran spiritual
tetapi pada keterlibatan masing-masing pribadi dalam proses pertumbuhan spiritual yang
terus menerus (Mutak, 2020).
Membandingkan Hasil dengan Teori (Filsafat Metafisika)
Temuan ini memperkuat relevansi penerapan Filsafat Metafisika klasik dalam menginterpretasi
fenomena budaya spiritual. Metafisika seringkali sulit untuk diberikan arti dan batas kajian.
Orang-orang abad pertengahan mengikuti Aristoteles yang menjadikan uraian dari disiplin ini
sebagai dua hal. Pertama, identifikasi terhadap sebab pertama lalu kedua, metafisika merupakan
pengetahuan paling umum tentang yang ada sebagaimana adanya. Para rasionalis abad tujuh
belas dan delapan belas secara kontras memperlebar cakupan kajian metafisika (Fadhila Azka &
Vika Andriani, 2021). Penjelasan terkait hasil temuan pada tahapan ini Adalah sebagai berikut:
Konfirmasi Kausalitas Aristotelian: Proses pembuatan keris sangat sesuai dengan empat
jenis kausalitas Aristotelian: Material (besi), Formal (dhapur), Final (tujuan penggunaan),
dan Efisien (empu). Penelitian ini menunjukkan bahwa Causa Efficiens (Penyebab Efisien)
dapat beroperasi secara non-fisik melalui laku spiritual, yang memperluas interpretasi
standar dari teori kausalitas. Sebagai contoh, Keris dengan dhapur Diptanala merupakan
simbol dari puncak perjalanan hidup manjadi seorang manusia, simbol hubungan manusia
dengan Tuhannya untuk senantiasa menekan dan mengendalikan hawa nafsu dan lebih
mengedepankan pada pancaran, pencerahan, hati nurani serta kearifan dalam berperilaku.
Penggambaran pengendalian hawa nafsu, pengendalian atas pikiran, rasa, dan perilaku
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 86-94
E-ISSN: 3047-2288
92
Andhika Djalu Sembada (Dimensi Spiritual Keris Dalam....)
yang telah dibingkai oleh nafsu dunia nantinya akan menjadi tuntunan dan pencerah dalam
kehidupan manusia (Sutyawan & Wiyoko, 2022).
Hylomorphism dan Transfer Esensi: Konsep Hylomorphism Spiritual yang diusulkan
selaras dengan pemikiran Aristoteles mengenai form dan matter. Keris menunjukkan
bahwa matter dapat menerima form bukan hanya melalui proses mekanis, tetapi juga
melalui transmisi esensi spiritual yang terpusat melalui intensi dan praktik seorang subjek
(empu). Kapabilitas empu dalam menciptakan keris tidak hanya melibatkan keterampilan
teknis, tetapi juga kemampuan spiritual yang memungkinkan transmisi esensi melalui
intensi dan praktik khusus (Malik & Rohmatin Yuwono, 2024). Hal ini menunjukkan
bahwa pembentukan keris melibatkan dimensi metafisik yang melampaui proses mekanis
semata.
Menjawab Tujuan Penelitian dan Menunjukkan Kebaruan
Temuan dan pembahasan ini secara langsung menjawab tiga tujuan penelitian, yaitu (1)
Menganalisis Dimensi Spiritual dengan Metafisika: Terjawab melalui perumusan Causa
Efficiens Non-Fisik dan Form Spiritualis dalam Model Hylomorphism, (2) Merumuskan Hakikat
Ontologis Tuah: Terjawab melalui perumusan tuah sebagai aktualisasi entelechy dan substansi
non-fisik yang melekat pada keris. (3) Menawarkan Model Interpretasi Filosofis: Terjawab
melalui usulan Model Hylomorphism spiritual keris yang memadukan secara sistematis dimensi
fisik dan non-fisik keris. Temuan paling signifikan dan merupakan kebaruan sentral penelitian
ini adalah penciptaan terminologi filosofis yang mendalam untuk dimensi spiritual keris: "Keris
sebagai Artefak Hylomorphik Ganda." Nilai spiritual itu sendiri dapat diperoleh melalui
komunikasi transendental. Komunikasi transendental adalah bentuk komunikasi intrapersonal
yang terjadi dalam diri seseorang dengan sesuatu di luar dirinya yang keberadaannya disadari
oleh individu tersebut. Dengan kata lain, komunikasi transendental adalah komunikasi yang
terjadi antara individu dan sesuatu yang bersifat magis (Novi & Kamaludin, 2021).
Hal ini merupakan temuan signifikan karena menjelaskan pembahasan keris dari wilayah mitos
dan membawanya ke dalam diskursus filosofis yang teruji. Pengkajian tidak hanya mengadopsi
teori, tetapi mengembangkannya, seperti laku seorang empu adalah contoh dari proses kausalitas
efisien di mana entitas material menerima form dari sumber spiritual.
4.
Kesimpulan
Penelitian ini telah mencapai seluruh tujuannya melalui analisis konseptual-filosofis, yakni
Dimensi Spiritual Keris dalam Metafisika: Dimensi spiritual keris, yang dikenal sebagai 'tuah'
atau 'kekuatan', berhasil diartikulasikan menggunakan kerangka Metafisika, khususnya teori
kausalitas Aristotelian. Proses penciptaan keris oleh empu melibatkan Causalitas Efisien Non-
Fisik (laku dan tirakat), yang bertindak sebagai sumber utama transmisi esensi spiritual. Hakikat
Ontologis Tuah: Hakikat ontologis tuah keris dirumuskan sebagai aktualisasi potensi (entelechy)
yang ditanamkan ke dalam materi keris. Tuah adalah Substansi Non-Fisik yang melekat dan
berinteraksi dengan Substansi Material (bilah keris). Model Interpretasi Filosofis: Penelitian ini
berhasil menawarkan Model Hylomorphism Spiritual Keris, yang mendefinisikan keris sebagai
artefak hylomorphik ganda. Keris terdiri dari Materi (Hyle) dan dua jenis Bentuk (Morphe):
Form Materialis (bentuk fisik) dan Form Spiritualis (esensi non-fisik yang ditransfer oleh empu).
Temuan signifikan dalam penelitian ini adalah perumusan ulang dimensi spiritual keris dari
sekadar fenomena budaya menjadi subjek yang dapat dianalisis secara filosofis. Kontribusi
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 86-94
E-ISSN: 3047-2288
93
Andhika Djalu Sembada (Dimensi Spiritual Keris Dalam....)
utama penelitian ini adalah penciptaan terminologi yang mendalam dan jembatan konseptual
antara Filsafat Metafisika klasik dan kearifan lokal. Hal ini meningkatkan status studi keris ke
dalam diskursus filsafat yang lebih tinggi, membuktikan bahwa konsep Metafisika dapat
diterapkan untuk memahami hakikat entitas non-fisik dalam objek budaya. Implikasi utama dari
penelitian ini adalah: Pengayaan Filsafat Budaya: Hasil ini menunjukkan perlunya Filsafat untuk
memperluas cakupannya dalam menganalisis fenomena spiritual yang melekat pada benda-
benda budaya, memberikan legitimasi akademis pada aspek-aspek budaya yang seringkali
dianggap mitos. Reinterpretasi Benda Cagar Budaya: Penelitian ini memberikan dasar teoretis
bagi kurator dan budayawan untuk tidak hanya melihat keris sebagai benda seni atau sejarah,
tetapi juga sebagai entitas yang memanifestasikan interaksi kompleks antara materi dan
spiritualitas.
5.
Daftar Pustaka
Afifah, A. (2022). Pelestarian Budaya Keris di Surakarta pada Era Masa Kini. Ars: Jurnal Seni
Rupa Dan Desain, 24(3), 149158.
https://journal.isi.ac.id/index.php/ars/article/view/3420
Fadhila Azka, M., & Vika Andriani, N. (2021). KRITIK FENOMENA PEMELIHARAAN
BONEKA ARWAH PERSPEKTIF METAFISIKA, PSIKOLOGI ISLAM DAN TAFSIR
Al-QUR’AN. AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies, 2(1 SE-Articles), 5366.
https://doi.org/10.51875/attaisir.v2i1.86
Fitri, A. (2023). Konsep Spiritual dalam Serat Wirid Hidayat Jati Ronggowarsito. Javano
Islamicus, 1(1 SE-Articles), 4763. https://doi.org/10.15642/Javano.2023.1.1.40-50
Furqon, S., & Hannah, N. (2020). METAFISIKA AL-KINDI DALAM FÎ AL-FALSAFAH AL-ûLA
(FILSAFAT PERTAMA). https://api.semanticscholar.org/CorpusID:234582979
Haryanto, S. (2022). Kerangka pardigmatik psikologi spiritual. 8(4), 11151126.
Kusumatatwa, K. I. I., Suwarna, K. R. T., Nagoro, D., & Setiadi, A. (2021). Estetika Metafisika
pada Seni Keris sebagai Media Pembelajaran. 7(2).
Malik, D. M. A. P., & Rohmatin Yuwono, N. A. L. (2024). PENOKOHAN DRAMATIK DAN
KAPABILITAS PARA EMPU DALAM SERAT EMPU TANGGULING WESI AJI.
Jurnal Online Baradha, 19(4 SE-Articles), 1735.
https://doi.org/10.26740/job.v19n4.p17-35
Mutak, A. A. (2020). Formasi spiritualitas sarana menuju kedewasaan spiritual. SOLA GRATIA:
Jurnal Teologi Biblika Dan Praktika, 6(1), 97113.
Novi, R., & Kamaludin, M. (2021). The Concept of Spiritual Tourism. Satwika : Kajian Ilmu
Budaya Dan Perubahan Sosial, 5(1 SE-Original Research), 142151.
https://doi.org/10.22219/satwika.v5i1.15530
Nurnaningsih, N. (2020). Keadiluhungan Keris dalam Budaya Jawa. Kawruh: Journal of
Language Education, Literature and Local Culture, 2(2 SE-), 145152.
https://doi.org/10.32585/kawruh.v2i2.1582
Sahid, T. A., Maulana, A., Sina, I., & Sadra, M. (2024). Rekonstruksi Konsep Tauhid dalam
Perspektif Filsafat: Pendekatan Epistemologis dan Ontologis. Setyaki Jurnal Studi
Keagamaan Islam, 2(4), 6069.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 2, Juni 2025, page: 86-94
E-ISSN: 3047-2288
94
Andhika Djalu Sembada (Dimensi Spiritual Keris Dalam....)
Susanto, B., Antarani, M. O., Virginia, G., & Proboyekti, U. (2024). Pemodelan Objek Budaya
Keris Berbasis Semantic Web. Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer, 11(1 SE-
Ilmu Komputer), 3746. https://doi.org/10.25126/jtiik.20241116727
Sutyawan, L., & Wiyoko, A. (2022). Lidah Api Sebagai Ide Dasar Penciptaan Keris Dengan
Pamor Untu Walang. Ornamen: Jurnal Kriya ISI Surakarta, 19(1), 6172.
Viktor, Fransiskus Xaverius Eko Armada Riyanto, & Mathias Jebaru Adon. (2024). KRISIS
HARMONI ANTARA MANUSIA DAN ALAM: PENDEKATAN FILOSOFIS
TERHADAP TANTANGAN EKOLOGI MODERNITAS. JURNAL REINHA, 15(2 SE-),
106118. https://doi.org/10.56358/ejr.v15i2.361
Wiraguna, S. A., & Widjaja, R. R. (2024). Metode Penelitian Kualitatifdi Era Transformasi
Digital Qualitative Research Methods in the Era of Digital Transformation. Arsitekta:
Jurnal Arsitektur Dan Kota Berkelanjutan, 6(1), 4660.
Yasa, I. (2023). KAJIAN FILOSOFI KERIS BROJOL. Maha Widya Bhuwana: Jurnal
Pendidikan, Agama Dan Budaya, 6, 34. https://doi.org/10.55115/bhuwana.v6i1.2833