PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 210-218
E-ISSN: 3047-2288
210
Jussac Maulana Masjhoer et.al (Pola Perjalanan Wisatawan di Pantai....)
Pola Perjalanan Wisatawan di Pantai Kesirat
Gunungkidul
Jussac Maulana Masjhoer
a,1
, Rukmini A.R.
b,2
a
Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta, Bantul, Indonesia
b
Institut Teknologi Yogyakarta, Bantul, Indonesia
1
jussacmaulana@stipram.ac.id;
2
rukminiwirianto@gmail.com
*
Jussacmaulana@stipram.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima:10 Oktober 2025
Direvisi: 17 November 2025
Disetujui: 28 November 2025
Tersedia Daring: 1 Desember
2025
Pengembangan destinasi wisata bahari dengan banyak pilihan pantai yang
berada dalam satu garis pesisir seperti di Gunungkidul perlu memperhatikan
pola pergerakan spasial wisatawan. Wisatawan kini cenderung beralih dari
destinasi massal yang padat seperti Baron menuju destinasi hidden gem yang
menawarkan privasi dan pengalaman visual baru, menciptakan pergeseran
pola pergerakan spasial yang signifikan di kawasan pesisir selatan.
Ketidakjelasan struktur perjalanan menghambat upaya pengelolaan arus
pengunjung dan merancang konektivitas antar-destinasi yang efisien.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola perjalanan wisatawan di
Pantai Kesirat Gunungkidul yang mulai ramai dikunjungi wisatawan meski
tidak menawarkan pasir putih layaknya pantai di Gunungkidul. Sebanyak 97
orang yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti diberikan kuesioner
dengan pertanyaan tertutup. Data diolah menggunakan software SPSS yang
selanjutnya dianalisis menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pola pergerakan wisatawan didominasi oleh
pola stopover (78%), dengan durasi kunjungan yang singkat (57% satu hari
penuh dan 43% kurang dari satu hari). Hal ini mengindikasikan Pantai Kesirat
sebagai titik singgah atau bagian dari rute perjalanan yang lebih panjang,
bukan sebagai tujuan akhir tunggal. Dari sisi gaya perjalanan, seluruh
responden (100%) teridentifikasi sebagai wisatawan mandiri yang
melakukan pengaturan perjalanan secara mandiri tanpa bantuan tur
operator. Karakteristik ini didukung oleh tingginya penggunaan kendaraan
pribadi (90%) dan preferensi bepergian dalam kelompok sosial teman (56%)
yang sangat mengutamakan fleksibilitas waktu dan rute. Temuan ini
menyarankan perlunya strategi pengelolaan destinasi yang berfokus pada
aksesibilitas, efisiensi layanan, dan fasilitas pendukung bagi wisatawan
transit bermobilitas tinggi.
Kata Kunci:
Gaya perjalanan
Pola perjalanan
Rute perjalanan
Wisata Bahari
Wisatawan
ABSTRACT
Keywords:
Marine tourism
Tourists
Travel patterns
Travel routes
Travel styles
The development of marine tourism destinations with numerous beaches along
a single coastline, such as those in Gunungkidul, must consider tourists' spatial
movement patterns. Now, tourists are shifting from crowded destinations, such
as Baron Beach, to hidden gems that offer privacy and new visual experiences.
This creates a significant shift in spatial movement patterns in the southern
coastal region. Uncertainty in travel patterns hinders efforts to manage visitor
flows and design efficient connections between destinations. This study aims to
identify tourists' travel patterns to Kesirat Beach in Gunungkidul, which is
becoming increasingly popular despite not offering white-sand beaches like
those in other parts of Gunungkidul. A total of 97 people who encountered the
researchers were given a questionnaire with closed-ended questions. The data
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 210-219
E-ISSN: 3047-2288
211
Jussac Maulana Masjhoer et.al (Pola Perjalanan Wisatawan di Pantai....)
were processed in SPSS and analyzed using a descriptive, quantitative approach.
The results showed that tourist movement patterns were dominated by
stopovers (78%), with short visit durations (57% for one whole day and 43% for
less than one day). These results suggest that Kesirat Beach serves as a stopover
point or as part of a longer travel route rather than as a final destination.
Highlighting the high use of private vehicles (90%) and the preference for
traveling in groups of friends (56%) underscores the importance of improving
accessibility. This can help the audience feel responsible for creating inclusive
and convenient access, encouraging better management of tourist flows.
©2025, Jussac Maulana Masjhoer, Rukmini A.R.
This is an open access article under CC BY-SA license
1.
Pendahuluan
Mobilitas wisatawan dalam berkunjung ke suatu destinasi tidak dapat dilepaskan dari konsep
pola perjalanan. Pola perjalanan wisatawan merujuk pada urutan spasial, temporal, dan
perilaku yang menggambarkan cara individu dan kelompok bergerak, memilih destinasi, dan
berpartisipasi dalam aktivitas selama perjalanan (Zillinger, 2008). Pola-pola ini menjadi inti
dalam studi pariwisata dan manajemen destinasi, memberikan masukan untuk perencanaan
infrastruktur, strategi pemasaran, dan inisiatif keberlanjutan (Shoval et al., 2015). Memahami
pola perjalanan memungkinkan pemangku kepentingan untuk memprediksi permintaan,
mengelola kemacetan, dan menyesuaikan pengalaman dengan segmen wisatawan yang
beragam (Aarabe et al., 2024). Menurut (Lue et al., 1993), pola perjalanan adalah konfigurasi
spasial yang terbentuk dari keputusan wisatawan dalam mengalokasikan waktu dan rute
kunjungan. Lebih spesifik, (Mckercher & Lau, 2008) mengklasifikasikan pergerakan
wisatawan ini ke dalam beberapa tipologi seperti Single Point, Base Camp, dan Stopover.
Pengklasifikasian tipologi perjalanan wisatawan dapat dijadikan sebagai dasar dalam
merancang paket wisata yang mengintegrasikan beberapa daya Tarik wisata sehingga dapat
meningkatkan ketertarikan wisatawan untuk berwisata sekaligus memunculkan loyalitas
terhadap destinasi (Kadek et al., 2025; Masjhoer et al., 2018; Masjhoer & Tyas, 2020).
Pariwisata bahari di Kabupaten Gunungkidul telah mengalami transformasi signifikan dalam
satu dekade terakhir. Transformasi tersebut terkatalisasi dengan adanya pembangunan jalan
lingkar selatan Yogyakarta yang secara langsung telah membuka akses bagi pantai-pantai baru
dan pengembangan fasilitas pariwisata (Masjhoer et al., 2020).
Meskipun Pantai Baron telah lama menjadi ikon pariwisata Gunungkidul, data beberapa tahun
terakhir menunjukkan fluktuasi kunjungan yang mengindikasikan adanya stagnasi. Studi yang
dilakukan oleh (Kiswantoro & Susanto, 2020) mencatat adanya tren penurunan kunjungan
yang dipicu oleh kurangnya diversifikasi atraksi. Kondisi ini diperparah dengan fenomena
menjamurnya destinasi pantai baru yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat lokal
(Lestari, 2017). Pengembangan destinasi wisata Bahari dengan banyak pilihan pantai yang
berada dalam satu garis pesisir seperti di Gunungkidul perlu memperhatikan pola pergerakan
spasial wisatawan. Pola perpindahan wisatawan dalam suatu kawasan destinasi akan
menggambarkan minat dan keputusan berkunjung. Pola perjalanan mencakup struktur pilihan
antar destinasi wisata yang disusun secara sistematis. Meski sarana prasarana di setiap Pantai
tidak memiliki kualitas yang seragam namun dengan memahami pola pergerakan wisatawan,
maka minimnya fasilitas pariwisata dapat secara komplementer tersubstitusi oleh Pantai yang
berbeda. Berdasarkan hasil penelitian, keberadaan fasilitas yang menunjang kegiatan berwisata
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 210-219
E-ISSN: 3047-2288
212
Jussac Maulana Masjhoer et.al (Pola Perjalanan Wisatawan di Pantai....)
akan menentukan kepuasan dan membentuk pengalaman wisatawan (Ardana et al., 2024;
Masjhoer et al., 2024; Subeni & Febriyanti, 2024). Keberadaan informasi pendukung seperti
fasilitas, aktivitas, dan layanan wisata turut melengkapi pola tersebut. Dengan pola perjalanan
yang jelas, pengalaman wisata menjadi lebih terarah, efisien, dan menyenangkan (Putri et al.,
2019).
Wisatawan kini cenderung beralih dari destinasi massal yang padat seperti Baron menuju
destinasi hidden gem yang menawarkan privasi dan pengalaman visual baru, menciptakan
pergeseran pola pergerakan spasial yang signifikan di kawasan pesisir selatan. Salah satu
fenomena menarik adalah munculnya popularitas Pantai Kesirat. Berbeda dengan karakteristik
umum pantai di Gunungkidul, Pantai Kesirat tidak memiliki hamparan pasir putih untuk
berenang, melainkan menawarkan topografi tebing curam, pemandangan matahari terbenam,
berkemah, dan pemancingan tebing (rock fishing) (Pabubung et al., 2024). Minimnya
pemahaman mengenai konfigurasi perjalanan wisatawan menuju destinasi non-konvensional
ini perlu menjadi perhatian. Pantai Kesirat secara geografis terletak agak terpisah dari jalur
utama pantai popular di Gunungkidul, sehingga dengan adanya kunjungan menimbulkan
pertanyaan mengenai posisi destinasi ini dalam pola perjalanan wisatawan. Apakah Pantai
Kesirat menjadi tujuan utama yang disengaja atau hanya sekadar persinggahan dalam
rangkaian perjalanan wisata yang lebih besar? Ketidakjelasan mengenai struktur perjalanan ini
menghambat upaya manajemen destinasi dalam mengelola arus pengunjung dan merancang
konektivitas antar-destinasi yang efisien. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi pola perjalanan wisatawan di Pantai Kesirat Gunungkidul.
2.
Metode
Penelitian ini mengambil tempat di Pantai Kesirat, yang secara administratif termasuk dalam
wilayah Kalurahan Girikarto, Gunungkidul. Pantai ini memiliki karakteristik yang berbeda
dibandingkan dengan pantai-pantai lain di pesisir Gunungkidul. Pantai Kesirat tidak memiliki
hamparan pasir putih, hanya berupa tebing curam dengan pemandangan ke arah laut dan
topografi tebing-tebing pesisir. Keunikan topografi alami ini yang menjadikan Pantai Kesirat
justru memiliki magnet tersendiri (Pabubung et al., 2024).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menjawab permasalahan penelitian.
Metode utama yang akan digunakan adalah survei lapangan untuk mendalami teori pola
perjalanan yang mencakup rute perjalanan oleh (Mckercher & Lau, 2008) dan gaya perjalanan
wisatawan (Cohen, 1972). Data primer dikumpulkan sepanjang bulan Mei 2025 menggunakan
kueisoner dengan pertanyaan tertutup karena penelitian ini tidak berusaha menggali opini
wisatawan, namun memverifikasi teori yang sudah ada (lihat tabel 1).
Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh wisatawan yang berkunjung ke lokasi penelitian.
Namun demikian, jumlah populasi belum diketahui sehingga penelitian ini menggunakan
Rumus Lemeshow untuk menentukan jumlah sampel (Sarah & Purba, 2021). Tingkat
kesalahan yang digunakan sebesar 10% dan asumsi proporsi 50%, sehingga ditentukan sampel
sebesar 97 orang. Sampel yang diambil oleh peneliti yaitu responden yang secara kebetulan
bertemu di lokasi penelitian. Menurut (Sugiyono, 2013) teknik accidental sampling
menentukan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu responden yang secara kebetulan bertemu
dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui
cocok sebagai sumber data. Data yang telah terkumpul selanjutnya diolah menggunakan
software SPSS untuk kemudian dianalisis menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif.
Tabel 1
. Variabel Penelitian
No
Variabel
Pertanyaan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 210-219
E-ISSN: 3047-2288
213
Jussac Maulana Masjhoer et.al (Pola Perjalanan Wisatawan di Pantai....)
1
Rute perjalanan (Mckercher & Lau, 2008)
Total durasi perjalanan wisata
Merupakan perjalanan utama atau bagian dari perjalanan
yang lebih panjang
Jumlah daya tarik utama yang direncanakan atau
kunjungi selama perjalanan
Gambaran rute perjalanan secara keseluruhan
Jenis transportasi yang digunakan untuk berpindah antar
destinasi
2
Gaya perjalanan (Cohen, 1972)
Cara mengatur perjalanan wisata
Kelompok perjalanan
Fleksibilitas perjalanan
3.
Hasil dan Pembahasan
3.1
Karakteristik Wisatawan
Berdasarkan rekapitulasi kuesioner, sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Pantai
Kesirat berjenis kelamin Perempuan dengan persentase sebesar 64%, sisanya berjenis kelamin
laki-laki dengan persentase sebesar 36%. Jenis kelamin tidak menjadi indikator seseorang
melakukan aktivitas berwisata (Azizah, 2018; Kesumo, 2017). Lebih jauh, Pitrianasary et al.
(2024) berpendapat bahwa wisatawan yang berwisata di Gili Trawangan tidak dipengaruhi
oleh jenis kelamin. Namun demikian, penelitian (Hudiono, 2022) menunjukkan bahwa
kecenderungan berwisata di saat pandemi COVID 19 didominasi oleh perempuan.
Di sisi usia, sebanyak 84% wisatawan yang mengunjungi Pantai Kesirat berada di rentang usia
18-25 tahun dan kedua terbanyak di usia 26-45 tahun. Rentang usia tersebut menunjukkan
bahwa wisatawan masuk dalam kategori generasi Z dan Milenial. Segmen usia ini berada pada
segmen pasar muda, produktif, dan sejalan dengan tren global pasar wisatawan yang
berkembang saat ini. Menurut Yusuf & Veranita (2021), generasi yang berkembang sat ini
andal dalam menggerakkan sektor pariwisata karena mereka dekat dengan teknologi digital,
bisnis daring, dan media sosial sehingga mampu mendorong penyebaran informasi tentang
pariwisata. (Mazaya et al., 2023) menambahkan, bahwa aktivitas wisata bahari dan wisata
petualangan disukai oleh wisatawan pada rentang usia produktif. Usia menjadi salah satu
variabel analisis dalam memahami karakteristik wisatawan di destinasi wisata. Hudiono
(2022a) berpendapat bahwa, usia mempengaruhi pengambilan keputusan dalam mengunjungi
dan mencerminkan kemampuan untuk memilih destinasi wisata.
Tabel 2.
Karakteristik Responden
Indikator
Laki-laki
Perempuan
18-25
26-45
46-65
SMA sederajat
Pendidikan tinggi
Pegawai
(PNS/Swasta)
Pelajar
Lainnya
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 210-219
E-ISSN: 3047-2288
214
Jussac Maulana Masjhoer et.al (Pola Perjalanan Wisatawan di Pantai....)
Sebanyak 58% wisatawan yang berkunjung berprofesi sebagai pelajar atau mahasiswa dan
31% sudah bekerja baik sebagai pegawai negeri sipil atau swasta. (Sari et al., 2018)
berpendapat bahwa kejenuhan akan pekerjaan sehari-hari mendorong wisatawan untuk
melakukan aktivitas berwisata. Sehingga dapat diartikan bahwa pekerjaan sebagai salah satu
pendorong munculnya motivasi berwisata seseorang.
Berdasarkan karakteristik wisatawan, maka pola perjalanan yang dianalisis memiliki sudut
pandang dari wisatawan yang sebagian besar berjenis kelamin perempuan, berada dalam
rentang usia muda dan produktif, berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa, dan berasal dari
luar Yogyakarta. Karakteristik wisatawan tersebut sejalan dengan pasar wisatawan yang saat
ini sedang berkembang. Penelitian Nurina et al. (2023) menyatakan bahwa penggerak
pertumbuhan pariwisata dunia dengan minat berwisata paling tinggi saat ini dipegang oleh
generasi Z dan milenial. Dengan demikian, penelitian ini memberikan informasi pola
perjalanan dari perspektif wisatawan yang sedang berkembang saat ini.
3.2
Rute Perjalanan
Data menunjukkan bahwa mayoritas perjalanan yang dilakukan oleh wisatawan berdurasi
singkat. Wisatawan yang melakukan perjalanan selama satu hari penuh sebanyak 57%,
sedangkan yang menghabiskan waktu berwisata kurang dari satu hari sebesar 43%. Temuan
ini berhubungan erat dengan fungsi perjalanan wisatawan yang menyatakan bahwa kunjungan
ke Pantai Kesirat merupakan "bagian dari perjalanan yang lebih panjang (57%). Hanya sebesar
43% wisatawan yang menjadikan perjalanan ke Pantai Kesirat sebagai perjalanan utamanya
(detail lihat tabel 2). Dominasi durasi pendek dan status perjalanan sebagai bagian dari rute
yang lebih panjang mengindikasikan karakteristik wisata singgah. Dalam konteks ini, Pantai
Kesirat berfungsi sebagai titik transit rekreasi bagi wisatawan yang sedang menuju tujuan akhir
lain. Secara geografis, pola pergerakan wisatawan didominasi oleh pola Stopover (78%),
diikuti oleh Single point (12%) dan Basecamp (9%). Sesuai dengan teori (Mckercher & Lau,
2008), maka sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Pantai Kesirat menggunakan pola
Stopover karena wisatawan mengunjungi daya tarik wisata yang berada di sepanjang jalur
utama menuju tujuan lain. Menurut (Kadek et al., 2025), destinasi wisata sekunder yang
dikunjungi oleh wisatawan pada tipe pola pergerakan stopover umumnya berada di rute
perjalanan yang sama dengan rute destinasi tujuan utama yang akan dikunjungi. Tingginya
persentase pola stopover memperkuat argumen bahwa destinasi ini diakses karena aksesibilitas
Pantai Kesirat berada di sepanjang rute perjalanan utama. Berbeda dengan pola Basecamp
yang akan menjadikan Pantai Kesirat sebagai titik kumpul untuk mengeksplorasi area sekitar.
Tabel 2
. Rute perjalanan wisatawan
Total Durasi
Frequency
Percent
Valid
Kurang 1 Hari
42
43%
1 Hari Penuh
55
57%
2-3 Hari
97
100%
Total
42
43%
Bagian Perjalanan
Frequency
Percent
Valid
Perjalanan Utama
42
43%
Bagian dari
perjalanan yang
lebih panjang
55
57%
Total
97
100%
Bagian Daya Tarik Wisata
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 210-219
E-ISSN: 3047-2288
215
Jussac Maulana Masjhoer et.al (Pola Perjalanan Wisatawan di Pantai....)
Frequency
Percent
Valid
1 DTW
35
36%
2 DTW
52
54%
3-4 DTW
10
10%
Total
97
100%
Gambaran Rute
Frequency
Percent
Valid
Stopover
76
78%
Single point
12
12%
Basecamp
9
9%
Total
97
100%
Berdasarkan jumlah daya tarik wisata yang dikunjungi, sebanyak lebih dari 60% wisatawan
mengunjungi antara dua hingga empat daya tarik wisata. Bila melihat dari bagian perjalanan,
maka Pantai Kesirat dapat sebagai perjalanan utama namun juga menjadi bagian dari
perjalanan untuk ke daya tarik lainnya untuk sebagian wisatawan. Rendahnya diversifikasi
kunjungan atraksi menunjukkan perilaku perjalanan yang fokus dan efisien, khas wisatawan
transit yang memiliki keterbatasan waktu. Selain itu faktor ekonomi wisatawan juga
menentukan rute perjalanan berwisata. Kondisi perekonomian wisatawan akan menentukan
durasi waktu berwisata di setiap daya tarik wisata (Kadek et al., 2025). Selain itu, kondisi
kelengkapan infrastruktur dan fasilitas pariwisata turut menentukan sebuah daya tarik wisata
sebagai tujuan utama atau hanya singgah.
3.3
Gaya Perjalanan
Gaya perjalanan wisatawan yang berkunjung ke Pantai Kesirat menunjukkan kecenderungan
kuat pada segmen wisatawan mandiri. Hal ini merujuk pada 100% wisatawan merancang
perjalanan secara mandiri dan tidak ada yang menggunakan tur wisata. (Yang, 2021)
mengungkapkan bahwa wisatawan mandiri merupakan tipe orang yang merencanakan dan
mengatur perjalanan mereka sendiri secara mandiri, tanpa terikat pada jadwal paket wisata
grup atau pemandu wisata tetap dari agen perjalanan. Perkembangan teknologi AI dan media
sosial saat ini turut medorong wisatawan untuk mulai beralih dari jasa agen perjalanan.
Teknologi dan AI memberikan kemudahan dalam merencanakan perjalanan secara mandiri
dan personalisasi promosi sehingga secara signifikan mengurangi terhadap travel agent (Ratna
et al., 2025).
Tabel 3.
Gaya perjalanan wisatawan
Transportasi
Frequency
Percent
Valid
Mobil Pribadi
34
35%
Motor Pribadi
53
55%
Sewa motor/mobil
10
10%
Total
97
100%
Kelompok perjalanan
Frequency
Percent
Valid
Sendiri
2
2%
Bersama pasangan
27
28%
Bersama keluarga
14
14%
Bersama teman
54
56%
Total
97
100%
Pengaturan perjalanan
Frequency
Percent
Valid
Perjalanan mandiri
97
100%
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 210-219
E-ISSN: 3047-2288
216
Jussac Maulana Masjhoer et.al (Pola Perjalanan Wisatawan di Pantai....)
Tur wisata
0
0%
Total
97
100%
Fleksibilitas dalam perjalanan
Frequency
Percent
Valid
Penting
91
94%
Tidak Penting
6
6%
Total
97
100%
Pilihan moda transportasi wisatawan menuju ke Pantai Kesirat di dominasi oleh kendaraan
pribadi (>80%). Hal ini cukup beralasan karena pantai ini belum memiliki transportasi umum
yang secara khusus mengantar wisatawan. Pantai-pantai baru di pesisir Gunungkidul belum
difasilitasi oleh transportasi umum (Mazaya et al., 2024). Selain belum tersedianya transportasi
umum, penggunaan kendaraan pribadi dirasa lebih fleksibel dalam mobilitas wisatawan.
Sebanyak 91% menyatakan bahwa fleksibilitas dalam berwisata menjadi suatu hal yang
penting. Penggunaan kendaraan pribadi sangat berkorelasi positif dengan kebutuhan akan
fleksibilitas. Berdasarkan tipologi wisatawan (Cohen, 1972), wisatawan yang berkunjung ke
Pantai Kesirat masuk dalam kategori wisatawan Explorer atau Drifter skala ringan. Mereka
menghindari paket wisata massal yang kaku demi kebebasan mengatur waktu dan rute secara
mandiri. Tingginya penggunaan sepeda motor (55%) mengindikasikan segmen pasar yang
didominasi oleh kelompok usia muda atau mereka yang memprioritaskan mobilitas tinggi dan
biaya rendah.
Wisatawan di Pantai Kesirat cenderung melakukan perjalanan dalam kelompok sosial yang
akrab. Mayoritas wisatawan bepergian bersama teman dengan persentase sebesar 56% dan
bersama pasangan sebesar 28%, sementara sisanya berupa perjalanan keluarga dan perjalanan
sendiri. Dominasi perjalanan bersama teman, mendukung asumsi bahwa destinasi ini populer
di kalangan anak muda atau komunitas. Hal ini sejalan dengan (Mazaya et al., 2023) yang
menyatakan bahwa wisata bahari disukai oleh wisatawan dalam segmen usia produktif dan
aktif. Dinamika kelompok teman sering kali mempengaruhi pengambilan keputusan yang
impulsif dan fleksibel, sesuai dengan pola rute linear dan durasi singkat yang ditemukan pada
bagian sebelumnya.
4.
Kesimpulan
Pergeseran pola pergerakan spasial yang signifikan di kawasan pesisir Selatan ditandai dengan
mulai ditinggalkannya destinasi wisata bahari massal yang padat menuju destinasi hidden gem
yang menawarkan privasi dan pengalaman visual baru. Pantai Kesirat, Gunungkidul, telah
memposisikan dirinya sebagai destinasi wisata bahari non-konvesional dengan panorama laut
beserta tebing-tebing karst. Pemahaman mengenai konfigurasi perjalanan wisatawan menuju
destinasi non-konvensional ini perlu menjadi perhatian. Belum jelasnya pergerakan perjalanan
wisatawan yang mengunjungi Pantai Kesirat, menghambat upaya pengelola dalam menata arus
pengunjung dan merancang konektivitas antar-destinasi yang efisien.
Pantai Kesirat secara umum didatangi oleh wisatawan yang memiliki profil mandiri, mobilitas
tinggi, dan berorientasi pada transit. Mereka cenderung bergerak dalam pola linear
menggunakan kendaraan pribadi baik motor atau mobil, bersama teman, dengan tujuan
menikmati satu atau dua atraksi wisata dalam waktu yang singkat sebelum melanjutkan
perjalanan atau kembali. Pantai Kesirat belum berfungsi sebagai destinasi utama dengan
kunjungan yang lebih panjang, namun hanya sebagai pemberhentian yang strategis.
Secara teoritis, temuan ini memberikan kontribusi dalam pengayaan teori pola perjalanan
wisatawan terkhusus dalam konteks wisata Bahari. Secara praktis, maka hasil temuan ini dapat
menjadi dasar bagi pengelola untuk meningkatkan kualitas daya Tarik agar wisatawan dapat
lebih lama berwisata di Pantai Kesirat. Penelitian selanjutnya dapat menganalisis kualitas
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 210-219
E-ISSN: 3047-2288
217
Jussac Maulana Masjhoer et.al (Pola Perjalanan Wisatawan di Pantai....)
Pantai Kesirat dari sudut pandang komponen produk wisata, persepsi wisatawan terhadap
komponen tersebut, pengembangan paket wisata dan strategi pemasaran yang ideal.
5.
Daftar Pustaka
Aarabe, M., Bouizgar, M., Khizzou, N. B., Alla, L., & Benjelloun, A. (2024). Technology-
Driven and Personality in the Travel Experience Within a Destination: Literature Review
and Proposal for Analysis Model. In Adapting to Evolving Consumer Experiences in
Hospitality and Tourism (pp. 267300). https://doi.org/10.4018/979-8-3693-7021-6.ch010
Ardana, N. S., Sembada, A. D., & Ananti, D. D. (2024). Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan
Terhadap Minat Berkunjung Kembali di Lawang Sewu Semarang. PANUNTUN (Jurnal
Budaya, Pariwisata, Dan Ekonomi Kreatif), 1(2), 7489.
https://doi.org/10.61476/1j7fc262
Azizah, H. I. (2018). Studi Perbedaan Motivasi Berwisata ke Lombok Berdasarkan Jenis
Kelamin, Usia dan Jenis Kunjungan Wisata. CALYPTRA, 7(1), 19751992.
Cohen, E. (1972). Toward a sociology of international tourism. Social Research, 164182.
Hudiono, R. (2022). Gender dan Usia Muda: Kecenderungan Berwisata Selama Pandemi
COVID-19. Jurnal Kewarganegaraan, 6(2), 43484356.
Kadek, N., Suryautami, O., Wirawan, K., & Indonesia, U. H. (2025). Pola Pergerakan
Wisatawan Menuju Daya Tarik Wisata di Kecamatan Sukawati. 06, 1522.
Kesumo, L. N. (2017). Studi Perbedaan Motivasi Berwisata ke Bali Berdasarkan Jenis Kelamin,
Usia, dan Kelompok Komunitas. CALYPTRA, 5(2), 841853.
Kiswantoro, A., & Susanto, D. R. (2020). Strategi Pengelolaan Pantai Baron Sebagai Pariwisata
Berkelanjutan Dalam Menyongsong Abad Samudra Hindia. Jurnal Ilmiah Pariwisata,
25(3), 249257.
Lestari, R. W. S. (2017). Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Obyek Wisata Pantai Baron.
PARADIGMA: Jurnal Ilmu Administrasi, 6(1), 1934.
Lue, C.-C., Crompton, J. L., & Fesenmaier, D. R. (1993). Conceptualization of multi-destination
pleasure trips. Annals of Tourism Research, 20(2), 289301.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/0160-7383(93)90056-9
Masjhoer, J. M., Retawimbi, A. Y., & Sari, Y. S. (2020). Participation of Local Restaurants in
Solid Waste Management in South Coast of Gunungkidul Regency, Indonesia. Journal of
Community Based Environmental Engineering and Management, 4(1), 18.
https://doi.org/10.23969/jcbeem.v4i1.1978
Masjhoer, J. M., Rukmini, A. R., & Mokodongan, T. (2024). Menakar Tingkat Kepuasan
Wisatawan: Kunci Keberhasilan Pengembangan Amenitas Pantai Slili sebagai Destinasi
Wisata Bahari. PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, Dan Ekonomi Kreatif), 1(1), 52
64.
Masjhoer, J. M., Susetyarini, O., & Nur, P. (2018). Implementasi Sport Tourism dalam
Pemanfaatan Potensi Sungai di Indonesia Studi kasus: International Musi Triboatton 2015.
Conference Paper, May.
Masjhoer, J. M., & Tyas, D. W. (2020). Model Pengembangan International Musi Triboatton
sebagai Atraksi Sport Tourism. Jurnal Pariwisata Terapan, 3(2).
Mazaya, A. F. A., Masjhoer, J. M., & Ananda, D. (2024). Strategi Pengelolaan Wisata Bahari
Berkelanjutan Pantai Drini, Gunung Kidul, Yogyakarta. Jurnal Sains Dan Teknologi
Perikanan, 4(2), 172186. https://doi.org/10.55678/jikan.v4i2.1664
Mazaya, A. F. A., Masjhoer, J. M., & Pramesit, A. A. (2023). Tourism Demand Analysis for
Marine Ecotourism Management in Kukup Beach, Gunung Kidul, Yogyakarta. Berkala
Perikanan Terubuk, 51(3), 9.
https://terubuk.ejournal.unri.ac.id/index.php/JT/article/view/8096
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 210-219
E-ISSN: 3047-2288
218
Jussac Maulana Masjhoer et.al (Pola Perjalanan Wisatawan di Pantai....)
Mckercher, B., & Lau, G. (2008). Movement Patterns of Tourists within a Destination. Tourism
Geographies, 10(3), 355374. https://doi.org/10.1080/14616680802236352
Nurina, A. R., Lenggogeni, S., & Verinita, V. (2023). Pengaruh Personalitas Destinasi terhadap
Niat Berkunjung Kembali Wisatawan Gen Z dan Milenial. Jurnal Informatika Ekonomi
Bisnis, 5(5), 11211126. https://doi.org/https://doi.org/10.37034/infeb.v5i4.712
Pabubung, M. R., Sulistyawan, A. A., Prasetiyono, C. N., Kusuma, A. T. W., Rini, D. S.,
Kusumajaya, I. W. A., Sari, V. E. M., Leiwakabessy, G. E. N., Sinaga, L., & Tambunan,
C. L. (2024). Pengembangan Desa Girikarto, Kabupaten Gunung Kidul sebagai Desa
Wisata. Jurnal Atma Inovasia, 4(3), 99105.
Pitrianasary, P. V., Susanty, S., & Athar, L. M. I. (2024). Pengaruh Gender Terhadap Wisata
Minat Khusus Staycation Di Royal Regantris Hotel Gili Trawangan Lombok Utara.
Journal Of Responsible Tourism, 4(1), 177180.
Putri, L. N., Sutadji, D. S., & Susanto, E. (2019). E-Catalogue Pola Perjalanan Wisata Bahari Di
Kawasan Wisata Pulau Pisang Dan Labuhan Jukung, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi
Lampung. Barista : Jurnal Kajian Bahasa Dan Pariwisata, 6(2), 6678.
https://doi.org/10.34013/barista.v6i2.183
Ratna, P. A. D., Mustari, N., & Manuhutu, F. (2025). Pengaruh Teknologi AI terhadap
Melemahnya Peran Travel Agent dalam Promosi Pariwisata di Bali. Prosiding Konferensi
Nasional Pariwisata, 136139.
Sarah, E. M., & Purba, R. R. (2021). Pengaruh Word Of Mouth dan Citra Merek Terhadap
Keputusan Membeli Produk Minuman Bear Brand Pada Masa Pandemi Covid-19.
JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS), 3(1), 210214.
Sari, D., Kusumah, A. H. G., & Marhanah, S. (2018). Analisis faktor motivasi wisatawan muda
dalam mengunjungi destinasi wisata minat khusus. Journal of Indonesian Tourism,
Hospitality and Recreation, 1(2), 1122.
Shoval, N., McKercher, B., Birenboim, A., & Ng, E. (2015). The application of a sequence
alignment method to the creation of typologies of tourist activity in time and space.
Environment and Planning B: Planning and Design, 42(1), 7694.
https://doi.org/10.1068/b38065
Subeni, F., & Febriyanti, R. R. N. (2024). Pengaruh Fasilitas dan Kualitas Pelayanan terhadap
Kepuasan Pengunjung New Rivermoon di Desa Pusur, Kabupaten Klaten. PANUNTUN
(Jurnal Budaya, Pariwisata, Dan Ekonomi Kreatif), 1(4), 200208.
https://doi.org/10.61476/fk3p8914
Sugiyono, D. (2013). Metode penelitian kuantitatif. Kualitatif, Dan Tindakan, 189190.
Yang, E. C. L. (2021). What motivates and hinders people from travelling alone? A study of solo
and non-solo travellers. Current Issues in Tourism, 24(17), 24582471.
Yusuf, R., & Veranita, M. (2021). Minat Berwisata Kaum Milenial Di Era New Normal. Jurnal
Kepariwisataan Indonesia: Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Kepariwisataan
Indonesia, 15(2), 158167.
Zillinger, M. (2008). Germans’ tourist behaviour in Sweden. Tourism, 56(2), 143158.
https://www.scopus.com/inward/record.uri?eid=2-s2.0-
47249135343&partnerID=40&md5=be442463645bca5ff9a4e85861b16446