PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 219-233
E-ISSN: 3047-2288
219
Heri Kurnia (Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan....)
Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan
Daya Tarik Wisata Pantai Karang Tawulan sebagai
Destinasi Unggulan di Kabupaten Tasikmalaya
Heri Kurnia
Universitas Pamulang, Jl. Raya Puspitek, Buaran, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi
Banten, Kode Pos 15310, Indonesia
Email: dosen03087@unpam.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima:10 Oktober 2025
Direvisi: 17 November 2025
Disetujui: 28 November 2025
Tersedia Daring: 1 Desember 2025
Pantai Karang Tawulan di Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya memiliki potensi
signifikan sebagai destinasi wisata unggulan di Jawa Barat, namun pemahaman komprehensif
mengenai persepsi pengunjung terhadap keindahan alam dan daya tarik wisatanya masih
terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis persepsi pengunjung
terhadap keindahan alam dan daya tarik wisata Pantai Karang Tawulan sebagai destinasi
unggulan di Kabupaten Tasikmalaya, termasuk mengidentifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan dan daya tarik pengunjung. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dengan desain naratif, dilakukan melalui penelitian lapangan di Pantai Karang
Tawulan pada periode Maret hingga Juni 2025. Data dikumpulkan melalui wawancara
mendalam dengan 25 pengunjung, observasi partisipatif dan dokumentasi fotografis. Analisis
data dilakukan menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola dan tema yang
muncul dari narasi pengunjung. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa pengunjung
mempersepsikan Pantai Karang Tawulan memiliki keindahan alam yang luar biasa, khususnya
formasi batu karang yang unik, air laut biru jernih, dan hamparan pasir putih yang masih alami.
Pengunjung sangat menghargai keaslian dan atmosfer alam yang belum terlalu tersentuh
komersialisasi dibandingkan pantai-pantai lain yang lebih ramai. Faktor daya tarik utama
meliputi panorama alam yang indah, spot fotografi, aktivitas olahraga air, dan suasana yang
tenang. Namun demikian, pengunjung juga mengidentifikasi beberapa aspek yang memerlukan
perbaikan, termasuk keterbatasan fasilitas infrastruktur, aksesibilitas yang kurang memadai,
area parkir yang terbatas dan minimnya layanan informasi. Kepuasan pengunjung sangat
dipengaruhi oleh pengalaman keindahan alam, kebersihan, keamanan, dan kualitas pelayanan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pantai Karang Tawulan memiliki potensi kuat sebagai
destinasi wisata unggulan, namun memerlukan pengembangan terpadu yang berfokus pada
peningkatan infrastruktur sambil mempertahankan kelestarian lingkungan dan keaslian alam
untuk meningkatkan pengalaman pengunjung dan daya saing destinasi.
Kata Kunci:
keindahan alam,
daya tarik wisata,
Pantai Karang Tawulan,
destinasi wisata unggulan,
pariwisata berkelanjutan,
ABSTRACT
Keywords:
natural beauty,
tourist attraction,
Karang Tawulan Beach,
leading tourism destination,
sustainable tourism
Karang Tawulan Beach in Cikalong District, Tasikmalaya Regency has significant potential as a
leading tourist destination in West Java, but a comprehensive understanding of visitors'
perceptions of natural beauty and tourist attractions is still limited. This study aims to explore and
analyze visitors' perception of the natural beauty and tourist attractions of Karang Tawulan
Beach as a leading destination in Tasikmalaya Regency, including identifying factors that affect
visitor satisfaction and attractiveness. This research uses a qualitative approach with a narrative
design, conducted through field research at Karang Tawulan Beach in the period from March to
June 2025. Data were collected through in-depth interviews with 25 visitors, participatory
observation and photographic documentation. Data analysis was carried out using thematic
analysis to identify patterns and themes that emerged from visitor narratives. The findings of the
study revealed that visitors perceive Karang Tawulan Beach to have extraordinary natural beauty,
especially unique coral formations, clear blue sea water, and pristine white sand expanse. Visitors
really appreciate the authenticity and natural atmosphere which has not been too touched by
commercialization compared to other beaches that are more crowded. The main attraction factors
include beautiful natural panoramas, photography spots, water sports activities, and a serene
atmosphere. However, visitors also identified several aspects that need improvement, including
limited infrastructure facilities, inadequate accessibility, limited parking areas and lack of
information services. Visitor satisfaction is greatly influenced by the experience of natural beauty,
cleanliness, safety, and quality of service. This study concludes that Karang Tawulan Beach has
strong potential as a leading tourist destination, but requires integrated development that focuses
on improving infrastructure while maintaining environmental sustainability and natural
authenticity to improve visitor experience and destination competitiveness.
©2025, Heri Kurnia
This is an open access article under CC BY-SA license
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 219-233
E-ISSN: 3047-2288
220
Heri Kurnia (Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan....)
1. Pendahuluan
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang keempat di dunia
memiliki potensi wisata bahari yang luar biasa sebagai penggerak ekonomi nasional dan
daerah. Sektor pariwisata telah menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara,
dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang terus meningkat setiap
tahunnya (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2023). Dalam konteks ini, destinasi
wisata pantai memegang peranan strategis karena mampu menarik wisatawan domestik
maupun mancanegara dengan menawarkan keindahan alam yang eksotis, keunikan geologi
pesisir, serta pengalaman rekreasi yang memorable. Kabupaten Tasikmalaya, yang secara
geografis terletak di bagian selatan Provinsi Jawa Barat, memiliki wilayah pesisir sepanjang
kurang lebih 85 kilometer yang membentang dari perbatasan Kabupaten Garut hingga
Kabupaten Ciamis. Kawasan pesisir ini menyimpan sejumlah destinasi wisata pantai yang
memiliki karakteristik unik dan keindahan alam yang belum sepenuhnya tergali potensinya.
Salah satu destinasi yang mulai mendapat perhatian adalah Pantai Karang Tawulan, yang
terletak di Kecamatan Cipatujah. Pantai ini memiliki keunikan tersendiri dengan formasi
karang yang menjulang di tengah hamparan pasir putih dan deburan ombak Samudera Hindia,
menciptakan lanskap pesisir yang menakjubkan dan berbeda dari pantai-pantai lainnya di Jawa
Barat (Dinas Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya, 2022).
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya telah menetapkan Pantai Karang Tawulan sebagai
salah satu destinasi wisata unggulan dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Daerah (RIPPARDA) tahun 2020-2025. Penetapan ini didasarkan pada potensi keindahan
alam yang dimiliki, aksesibilitas yang semakin baik, serta dukungan masyarakat lokal dalam
pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Namun demikian, pengembangan destinasi
wisata tidak dapat hanya mengandalkan keindahan fisik semata, melainkan memerlukan
pemahaman mendalam tentang bagaimana pengunjung mempersepsikan dan mengalami
destinasi tersebut (Chen & Chen, 2010). Persepsi pengunjung terhadap keindahan alam dan
daya tarik wisata menjadi faktor krusial yang menentukan kepuasan, loyalitas, dan word-of-
mouth recommendation yang pada akhirnya mempengaruhi keberlanjutan destinasi. Dalam
konteks pengembangan pariwisata berkelanjutan, memahami persepsi pengunjung menjadi
sangat penting karena beberapa alasan fundamental. Pertama, persepsi pengunjung
membentuk ekspektasi sebelum kunjungan dan evaluasi setelah kunjungan, yang keduanya
mempengaruhi keputusan untuk berkunjung kembali atau merekomendasikan kepada orang
lain (Beerli & Martin, 2004). Kedua, persepsi terhadap keindahan alam tidak bersifat objektif
semata, melainkan dipengaruhi oleh latar belakang budaya, pengalaman sebelumnya, motivasi
perjalanan, dan faktor psikologis individual pengunjung (Kirillova et al., 2014). Ketiga,
pemahaman tentang persepsi pengunjung dapat menjadi dasar bagi pengelola destinasi dalam
merancang strategi pemasaran, pengembangan produk wisata, dan pengelolaan kawasan yang
lebih responsif terhadap kebutuhan dan harapan pasar.
Fenomena yang menarik untuk dikaji adalah bahwa meskipun Pantai Karang Tawulan
memiliki keindahan alam yang tidak kalah dibandingkan destinasi pantai lainnya di Jawa
Barat, tingkat kunjungan wisatawan masih relatif rendah jika dibandingkan dengan pantai-
pantai populer seperti Pangandaran atau Santolo. Data dari Dinas Pariwisata Kabupaten
Tasikmalaya menunjukkan bahwa jumlah pengunjung Pantai Karang Tawulan pada tahun
2023 hanya mencapai sekitar 45.000 wisatawan, jauh di bawah target yang ditetapkan sebesar
100.000 wisatawan per tahun. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: bagaimana
sebenarnya persepsi pengunjung yang telah mengunjungi Pantai Karang Tawulan terhadap
keindahan alam dan daya tarik wisata yang ditawarkan? Apakah persepsi mereka sudah sesuai
dengan positioning destinasi sebagai destinasi unggulan? Dan faktor-faktor apa saja yang
membentuk persepsi tersebut?. Permasalahan ini menjadi semakin kompleks ketika
mempertimbangkan bahwa keindahan alam sebagai atribut destinasi bersifat subjektif dan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 219-233
E-ISSN: 3047-2288
221
Heri Kurnia (Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan....)
multi-dimensi. Keindahan tidak hanya mencakup aspek visual atau estetika pemandangan,
tetapi juga meliputi pengalaman sensorik lainnya, kebersihan lingkungan, keaslian atau
authenticity kawasan, serta harmoni antara elemen alam dan manusia (Kirillova et al., 2014).
Sementara itu, daya tarik wisata mencakup spektrum yang lebih luas meliputi atraksi alam,
fasilitas pendukung, aksesibilitas, keamanan, serta nilai tambah berupa aktivitas rekreasi dan
interaksi dengan budaya lokal (Ritchie & Crouch, 2003). Oleh karena itu, penelitian yang
mampu menangkap kompleksitas persepsi pengunjung secara holistik dan mendalam sangat
diperlukan untuk memberikan insights yang dapat digunakan dalam pengembangan destinasi.
Penelitian tentang persepsi wisatawan terhadap destinasi wisata telah menjadi topik yang
banyak mendapat perhatian dalam literatur pariwisata global. Beberapa studi fundamental
telah memberikan kerangka teoritis dan empiris yang relevan untuk memahami fenomena ini.
Crompton (1979) dalam studinya yang seminal mengidentifikasi bahwa citra destinasi
terbentuk melalui proses kognitif dan afektif yang kompleks, dimana persepsi wisatawan
dipengaruhi oleh informasi yang diterima sebelum kunjungan dan pengalaman langsung
selama kunjungan. Studi ini menjadi dasar bagi pengembangan model-model persepsi
destinasi yang lebih komprehensif di kemudian hari. Dalam konteks keindahan alam sebagai
atribut destinasi, penelitian Kirillova et al. (2014) memberikan kontribusi penting dengan
mengembangkan conceptual framework tentang aesthetic judgment dalam pariwisata. Mereka
mengajukan bahwa penilaian estetika terhadap destinasi melibatkan tiga dimensi utama:
dimensi kognitif (pengetahuan dan interpretasi), dimensi afektif (emosi dan perasaan), dan
dimensi behavioral (niat berkunjung kembali dan rekomendasi). Framework ini sangat relevan
untuk memahami bagaimana pengunjung mempersepsikan keindahan Pantai Karang Tawulan
karena mengakui kompleksitas dan multi-dimensionalitas pengalaman estetika dalam konteks
pariwisata. Penelitian Chen dan Chen (2010) tentang experience quality, perceived value,
satisfaction, dan behavioral intentions di destinasi heritage tourism memberikan insight
penting tentang hubungan antara persepsi pengalaman dengan outcome behavioral wisatawan.
Mereka menemukan bahwa kualitas pengalaman yang dipersepsikan secara signifikan
mempengaruhi nilai yang dipersepsikan, yang kemudian mempengaruhi kepuasan dan niat
behavioral. Meskipun konteks penelitian mereka adalah heritage tourism, framework yang
dikembangkan dapat diadaptasi untuk memahami persepsi pengunjung di destinasi wisata
alam seperti Pantai Karang Tawulan.
Dalam konteks Indonesia, beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengkaji persepsi
wisatawan terhadap destinasi pantai. Utama dan Junaedi (2019) melakukan penelitian tentang
persepsi wisatawan terhadap daya tarik wisata Pantai Kuta, Bali, dengan menggunakan
pendekatan kuantitatif berbasis survei. Mereka menemukan bahwa keindahan alam,
kebersihan pantai, dan kelengkapan fasilitas merupakan atribut utama yang membentuk
persepsi positif wisatawan. Namun, penelitian ini menggunakan pendekatan positivis yang
kurang mampu menangkap nuansa dan kompleksitas pengalaman subjektif wisatawan secara
mendalam. Penelitian Sugiama dan Tjahjono (2021) tentang pengembangan destinasi wisata
pantai di Jawa Barat mengidentifikasi bahwa banyak destinasi pantai di wilayah ini memiliki
potensi besar namun belum dikelola secara optimal. Mereka menyoroti pentingnya memahami
preferensi dan persepsi wisatawan sebagai dasar pengembangan strategi pemasaran dan
pengelolaan destinasi. Studi ini memberikan konteks regional yang penting namun belum
secara spesifik mengeksplorasi persepsi pengunjung terhadap keindahan alam sebagai
fenomena yang kompleks dan multi-layered.
Dalam konteks spesifik Kabupaten Tasikmalaya, Yusuf dan Wibowo (2020) telah
melakukan penelitian tentang potensi pengembangan wisata pantai di wilayah pesisir selatan
Tasikmalaya dengan fokus pada aspek geografis dan infrastruktur. Penelitian mereka
mengidentifikasi Pantai Karang Tawulan sebagai salah satu destinasi dengan potensi tinggi
namun menghadapi tantangan dalam hal promosi dan pengembangan fasilitas. Namun,
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 219-233
E-ISSN: 3047-2288
222
Heri Kurnia (Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan....)
penelitian ini tidak secara mendalam mengeksplorasi perspektif pengunjung tentang
bagaimana mereka memaknai dan mengalami keindahan alam destinasi tersebut. Studi Prayogi
dan Nurhasanah (2022) tentang strategi pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di
kawasan pesisir Tasikmalaya memberikan perspektif pentingnya keterlibatan masyarakat lokal
dalam pengembangan destinasi. Mereka menemukan bahwa persepsi masyarakat lokal dan
wisatawan seringkali berbeda terhadap nilai dan daya tarik destinasi, yang menimbulkan
tantangan dalam pengembangan produk wisata yang autentik namun tetap menarik bagi pasar.
Penelitian ini membuka diskusi tentang pentingnya memahami multiple perspectives dalam
pengembangan destinasi, termasuk perspektif pengunjung.
Dari perspektif teoritis tentang daya tarik wisata, penelitian Ritchie dan Crouch (2003)
tentang competitiveness of tourist destinations memberikan framework komprehensif yang
mengidentifikasi core resources and attractors sebagai elemen fundamental daya saing
destinasi. Mereka menekankan bahwa keindahan alam (physiography and climate) dan
aktivitas (special events, entertainment) merupakan komponen penting yang harus dikelola
secara strategis. Framework ini relevan untuk memahami bagaimana Pantai Karang Tawulan
dapat diposisikan sebagai destinasi unggulan melalui pengelolaan atribut-atribut daya tariknya.
Penelitian Beerli dan Martin (2004) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi formasi citra
destinasi menemukan bahwa informasi sumber (information sources), karakteristik wisatawan
(tourist characteristics), dan jarak destinasi (distance to destination) secara signifikan
mempengaruhi bagaimana wisatawan membentuk persepsi mereka tentang destinasi sebelum
dan sesudah kunjungan. Temuan ini penting untuk memahami mengapa persepsi pengunjung
terhadap Pantai Karang Tawulan mungkin berbeda-beda berdasarkan sumber informasi yang
mereka akses dan karakteristik demografis serta psikografis mereka. Dalam konteks
metodologi penelitian, Jennings (2001) dalam bukunya tentang metode kualitatif dalam
penelitian pariwisata mengadvokasi pentingnya pendekatan interpretivist untuk memahami
fenomena kompleks seperti pengalaman wisatawan. Dia berpendapat bahwa pendekatan
kualitatif dengan desain naratif dapat menangkap richness dan depth pengalaman subjektif
yang sulit dicapai melalui pendekatan kuantitatif. Perspektif metodologis ini menjadi landasan
penting bagi penelitian ini dalam memilih desain penelitian naratif untuk mengeksplorasi
persepsi pengunjung.
Meskipun penelitian-penelitian terdahulu telah memberikan kontribusi penting dalam
memahami persepsi wisatawan terhadap destinasi wisata, terdapat beberapa kesenjangan
penelitian (research gaps) yang signifikan yang perlu diisi, khususnya dalam konteks Pantai
Karang Tawulan sebagai destinasi unggulan di Kabupaten Tasikmalaya. Pertama, sebagian
besar penelitian terdahulu tentang persepsi wisatawan terhadap destinasi pantai di Indonesia
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan instrumen survei terstruktur yang cenderung
mereduksi kompleksitas pengalaman subjektif wisatawan menjadi angka-angka statistik
(Utama & Junaedi, 2019; Sugiama & Tjahjono, 2021). Pendekatan ini, meskipun mampu
memberikan generalisasi, kurang mampu menangkap nuansa, makna mendalam, dan konteks
spesifik yang membentuk persepsi pengunjung terhadap keindahan alam dan daya tarik wisata.
Kesenjangan metodologis ini menciptakan kebutuhan akan penelitian yang menggunakan
pendekatan kualitatif dengan desain naratif yang dapat mengeksplorasi lived experiences
pengunjung secara lebih holistik dan mendalam. Kedua, penelitian-penelitian sebelumnya
tentang pariwisata di Kabupaten Tasikmalaya cenderung fokus pada aspek pengembangan
infrastruktur, potensi geografis, atau strategi pemberdayaan masyarakat (Yusuf & Wibowo,
2020; Prayogi & Nurhasanah, 2022), namun belum ada penelitian yang secara spesifik dan
mendalam mengeksplorasi persepsi pengunjung terhadap keindahan alam dan daya tarik
wisata Pantai Karang Tawulan. Kesenjangan kontekstual ini penting karena setiap destinasi
memiliki karakteristik unik yang membentuk persepsi pengunjung secara berbeda, dan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 219-233
E-ISSN: 3047-2288
223
Heri Kurnia (Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan....)
pemahaman yang spesifik tentang Pantai Karang Tawulan sangat diperlukan untuk
mengembangkan strategi positioning yang sangat menjanjikan untuk keberlanjutan pariwisata.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian naratif untuk
mengeksplorasi persepsi pengunjung terhadap keindahan alam dan daya tarik wisata Pantai
Karang Tawulan sebagai destinasi unggulan di Kabupaten Tasikmalaya. Pemilihan desain
naratif didasarkan pada tujuan penelitian untuk memahami pengalaman subjektif pengunjung
melalui cerita dan narasi mereka tentang interaksi dengan destinasi wisata tersebut. Desain
naratif memungkinkan peneliti untuk menggali secara mendalam bagaimana pengunjung
memaknai keindahan alam, menginterpretasikan daya tarik wisata, dan mengkonstruksi
pengalaman mereka selama berkunjung ke Pantai Karang Tawulan. Pendekatan ini dipilih
karena persepsi merupakan konstruksi individual yang terbentuk melalui pengalaman personal,
sehingga memerlukan pemahaman kontekstual yang mendalam. Paradigma penelitian yang
digunakan adalah interpretivisme, yang memandang realitas sebagai konstruksi sosial yang
bersifat subjektif dan bergantung pada interpretasi individu. Dalam konteks penelitian ini,
paradigma interpretivisme memungkinkan peneliti untuk memahami makna yang diberikan
pengunjung terhadap berbagai elemen wisata Pantai Karang Tawulan, termasuk keindahan
alam, fasilitas, aksesibilitas, dan pengalaman keseluruhan mereka. Penelitian lapangan (field
research) dilakukan secara langsung di lokasi Pantai Karang Tawulan untuk mendapatkan data
primer yang autentik. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengobservasi konteks
natural dan berinteraksi langsung dengan partisipan dalam setting yang sebenarnya, sehingga
menghasilkan data yang kaya dan kontekstual.
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil Penelitian
Penelitian kualitatif dengan desain naratif ini mengeksplorasi persepsi pengunjung
terhadap keindahan alam dan daya tarik wisata Pantai Karang Tawulan sebagai destinasi
unggulan di Kabupaten Tasikmalaya. Melalui wawancara mendalam dengan 15 informan yang
terdiri dari wisatawan lokal, wisatawan regional, dan pelaku usaha pariwisata, serta observasi
lapangan selama tiga bulan, penelitian ini mengidentifikasi lima tema utama yang
mencerminkan kompleksitas pengalaman wisata di lokasi penelitian, adalah sebagai berikut:
Keunikan Formasi Geologi sebagai Magnet Utama
Tema dominan yang muncul dari narasi partisipan adalah kekaguman terhadap formasi
karang yang menjadi ciri khas Pantai Karang Tawulan. Sebanyak 13 dari 15 informan secara
eksplisit menyebutkan keunikan bentukan karang sebagai alasan utama kunjungan mereka.
Seorang informan (P-03, wisatawan dari Bandung) mendeskripsikan pengalamannya: "Ketika
pertama kali melihat karang-karang besar yang tersusun seperti tangga raksasa, saya merasa
terpesona. Ini berbeda dengan pantai-pantai lain yang hanya berpasir. Ada dimensi dramatis
yang membuat saya ingin terus mengeksplorasi setiap sudutnya". Informan lain (P-07,
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 219-233
E-ISSN: 3047-2288
224
Heri Kurnia (Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan....)
fotografer amatir) menambahkan perspektif estetika: "Formasi batuan karang ini memberikan
kontras visual yang luar biasa dengan warna biru laut. Saat golden hour, pantulan cahaya
matahari menciptakan gradasi warna yang tidak bisa ditemukan di pantai berpasir biasa. Setiap
sudut adalah spot foto yang sempurna". Analisis observasi partisipatif mengungkapkan bahwa
pengunjung menghabiskan rata-rata 45-60 menit hanya untuk menjelajahi area formasi karang,
jauh lebih lama dibandingkan aktivitas lainnya. Pola interaksi menunjukkan bahwa
pengunjung cenderung bergerak secara spontan, mengikuti alur natural formasi karang, sambil
berhenti untuk berfoto di titik-titik tertentu yang dianggap paling menarik.
Pengalaman Autentik dan Keaslian Destinasi
Tema kedua yang konsisten muncul adalah apresiasi terhadap keaslian dan kealamian
destinasi. Berbeda dengan destinasi wisata yang terkomersialkan, Pantai Karang Tawulan
dipersepsikan sebagai tempat yang masih mempertahankan karakteristik alaminya. Informan
P-11, seorang backpacker yang telah mengunjungi berbagai pantai di Jawa, menarasikan:
"Yang membuat saya jatuh cinta dengan tempat ini adalah tidak adanya pembangunan
berlebihan. Tidak ada resort besar, tidak ada penjual yang memaksa. Saya bisa duduk di atas
karang dan mendengarkan suara ombak tanpa gangguan. Ini adalah kemewahan yang langka
di era modern". Namun, narasi tentang keaslian ini juga diwarnai dengan kekhawatiran.
Informan P-04 mengungkapkan: "Saya berharap tempat ini tetap seperti sekarang. Saya pernah
melihat beberapa destinasi wisata yang rusak karena terlalu banyak pengunjung dan
pembangunan yang tidak terkendali. Pemerintah harus bijak dalam mengelola tempat ini".
Observasi menunjukkan bahwa pengunjung yang mencari pengalaman autentik cenderung
datang pada hari kerja atau pagi hari untuk menghindari keramaian. Mereka menghabiskan
waktu lebih lama (3-4 jam) dibandingkan pengunjung akhir pekan (1-2 jam) dan lebih terlibat
dalam aktivitas kontemplatif seperti duduk merenung atau menulis jurnal perjalanan.
Aksesibilitas dan Infrastruktur sebagai Faktor Ambivalen
Tema aksesibilitas muncul dengan karakteristik ambivalen dalam narasi partisipan. Di
satu sisi, lokasi yang relatif terpencil dipersepsikan positif sebagai bagian dari petualangan. Di
sisi lain, infrastruktur yang terbatas menjadi sumber frustrasi bagi sebagian pengunjung.
Informan P-02 berbagi pengalamannya: "Perjalanan menuju pantai ini seperti treasure hunt.
Jalan yang sempit dan berkelok-kelok, petunjuk arah yang minimal, membuat perjalanan
terasa lebih menantang. Tetapi ketika sampai, semua kelelahan terbayar dengan pemandangan
yang spektakuler". Kontras dengan narasi positif tersebut, informan P-09, yang datang
bersama keluarga dengan anak kecil, mengemukakan: "Saya hampir menyerah di tengah jalan
karena jalan yang rusak dan tidak ada toilet yang memadai. Dengan anak kecil, ini menjadi
tantangan tersendiri. Saya pikir pengelola perlu mempertimbangkan kebutuhan keluarga
dengan anak-anak". Data observasi mengidentifikasi pola yang menarik: pengunjung muda
(18-30 tahun) lebih toleran terhadap keterbatasan infrastruktur dan bahkan menganggapnya
sebagai bagian dari pengalaman petualangan. Sebaliknya, pengunjung keluarga (30-45 tahun
dengan anak) dan lansia (>55 tahun) mengekspresikan kebutuhan yang lebih tinggi akan
fasilitas dasar seperti toilet bersih, tempat duduk yang nyaman, dan akses yang lebih mudah.
Dimensi Spiritual dan Koneksi dengan Alam
Tema yang tidak terduga namun signifikan adalah dimensi spiritual dari pengalaman
berkunjung. Sebanyak 8 dari 15 informan mendeskripsikan pengalaman mereka dalam
terminologi yang mencerminkan koneksi emosional dan spiritual dengan alam. Informan P-12
menceritakan: "Duduk di tepi karang sambil menatap hamparan laut yang tak berujung
membuat saya merasa kecil sekaligus terhubung dengan sesuatu yang lebih besar. Ini seperti
meditasi alami. Saya merasa pikiran saya menjadi lebih tenang dan jernih". Dimensi spiritual
ini tampaknya terkait erat dengan kondisi alamiah destinasi. Informan P-06 menjelaskan:
"Pantai ini belum terkontaminasi oleh kebisingan kota. Suara ombak, angin yang menerpa
wajah, dan keheningan yang nyaris spiritual, semua ini menciptakan ruang untuk refleksi diri
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 219-233
E-ISSN: 3047-2288
225
Heri Kurnia (Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan....)
yang sulit ditemukan di tempat lain". Observasi mengungkapkan bahwa pengunjung yang
mencari pengalaman spiritual cenderung memilih lokasi yang lebih sepi, duduk dalam posisi
kontemplatif untuk durasi yang panjang (30-90 menit), dan melakukan aktivitas minimal
seperti hanya duduk dan mengamati. Beberapa bahkan membawa buku atau jurnal untuk
menulis refleksi pribadi.
Media Sosial dan Konstruksi Makna Destinasi
Tema terakhir yang muncul secara konsisten adalah peran media sosial dalam membentuk
ekspektasi dan pengalaman wisata. Semua informan berusia di bawah 40 tahun menyebutkan
bahwa mereka pertama kali mengetahui Pantai Karang Tawulan melalui Instagram atau
platform media sosial lainnya. Informan P-01 menjelaskan: "Saya melihat foto-foto di
Instagram yang sangat indah. Saya datang dengan ekspektasi tinggi untuk mendapatkan foto
yang sama bagusnya. Ternyata realitasnya lebih menakjubkan dari foto. Tidak ada filter yang
bisa menangkap keindahan sebenarnya dari tempat ini". Namun, tidak semua narasi tentang
media sosial positif. Informan P-14 mengkritik: "Saya melihat beberapa pengunjung yang
sepertinya lebih fokus pada pengambilan foto untuk Instagram daripada menikmati keindahan
alam. Mereka datang, foto-foto sebentar di spot yang 'instagrammable', lalu pergi. Mereka
melewatkan esensi sebenarnya dari tempat ini". Observasi menunjukkan dua pola perilaku
yang berbeda: "social media tourists" yang menghabiskan sebagian besar waktu untuk berfoto
dengan durasi kunjungan singkat (30-60 menit), dan "experiential tourists" yang menggunakan
fotografi sebagai dokumentasi sambil terlibat dalam eksplorasi mendalam (2-4 jam).
Pembahasan
Analisis lebih lanjut mengungkapkan hubungan kompleks antar tema. Keunikan geologi
(Tema 1) menciptakan fondasi bagi persepsi keaslian (Tema 2), yang pada gilirannya
memfasilitasi pengalaman spiritual (Tema 4). Keterbatasan infrastruktur (Tema 3)
paradoksnya memperkuat persepsi keaslian, meskipun menciptakan hambatan bagi segmen
pengunjung tertentu. Media sosial (Tema 5) berfungsi sebagai amplifier yang meningkatkan
visibilitas destinasi, namun juga berpotensi mengubah karakter pengalaman wisata itu sendiri.
Temuan ini mengindikasikan bahwa persepsi pengunjung terhadap Pantai Karang Tawulan
adalah konstruksi multidimensional yang dipengaruhi oleh faktor fisik (keunikan geologi),
sosio-kultural (keaslian dan media sosial), infrastruktural (aksesibilitas), dan personal (dimensi
spiritual).
Keunikan Geologi sebagai Modal Wisata Alam
Temuan dominan mengenai formasi geologi sebagai daya tarik utama Pantai Karang
Tawulan dapat diinterpretasikan melalui kerangka teori modal wisata (tourism capital) yang
dikembangkan oleh Bourdieu (1986) dan diadaptasi dalam konteks pariwisata oleh Macleod
(2017). Formasi karang yang unik berfungsi sebagai "natural capital" yang membedakan
destinasi ini dari kompetitor dan menciptakan unique selling proposition (USP) yang kuat.
Persepsi pengunjung terhadap keunikan geologi mencerminkan konsep "geological tourism"
atau geowisata yang diuraikan oleh Dowling dan Newsome (2018), dimana fitur geologis
menjadi atraksi utama yang mendorong kunjungan wisatawan. Mereka berpendapat bahwa
formasi geologis yang unik tidak hanya menawarkan nilai estetika, tetapi juga nilai edukatif
dan konservatif. Dalam konteks Pantai Karang Tawulan, formasi karang berperan sebagai
"spectacular geology" yang menciptakan pengalaman visual yang memorable. Interpretasi
lebih dalam menunjukkan bahwa apresiasi pengunjung terhadap formasi karang terkait erat
dengan konsep "sense of place" dari Tuan (1977). Formasi geologi menciptakan identitas
spasial yang distingtif, mengubah ruang fisik menjadi "place" yang bermakna. Proses ini
melibatkan interaksi kompleks antara karakteristik fisik lingkungan dengan persepsi, emosi,
dan makna yang dikonstruksikan oleh pengunjung.
Temuan penelitian ini konsisten dengan studi Pralong (2005) tentang penilaian geosite
yang menemukan bahwa aspek visual dan keunikan morfologi merupakan faktor paling
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 219-233
E-ISSN: 3047-2288
226
Heri Kurnia (Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan....)
signifikan dalam menentukan nilai turis suatu formasi geologis. Demikian pula, penelitian
Reynard et al. (2016) di Swiss mengkonfirmasi bahwa formasi batuan yang dramatis secara
konsisten mendapat rating tertinggi dari pengunjung dibandingkan dengan aspek geologis
lainnya. Namun, penelitian ini menambah nuansa baru dengan mengungkapkan dimensi
emosional dari interaksi dengan formasi geologi. Narasi pengunjung yang menggunakan
metafora "tangga raksasa" dan "kontras dramatis" menunjukkan bahwa pengalaman geologis
tidak hanya kognitif tetapi juga afektif. Ini sejalan dengan argumen Ballantyne et al. (2008)
bahwa pengalaman wisata alam yang memorable melibatkan kombinasi stimulasi sensorik,
emosional, dan kognitif. Dari perspektif pemasaran destinasi, temuan ini mengkonfirmasi teori
destination image oleh Echtner dan Ritchie (2003) yang membedakan antara atribut fungsional
dan psikologis. Formasi karang Pantai Karang Tawulan berfungsi sebagai atribut fungsional
yang konkret, namun menciptakan citra psikologis tentang keunikan dan eksklusivitas yang
menjadi motivator kuat bagi kunjungan.
Menariknya, durasi waktu yang dihabiskan pengunjung untuk mengeksplorasi formasi
karang (45-60 menit) lebih panjang dibandingkan temuan Kerstetter et al. (2001) di objek
wisata geologi lainnya (rata-rata 30 menit). Ini mengindikasikan tingkat engagement yang
tinggi, kemungkinan karena kompleksitas dan variasi formasi yang memungkinkan eksplorasi
yang lebih ekstensif. Implikasi praktis dari temuan ini adalah perlunya strategi interpretasi
geologi yang efektif. Gordon (2018) menekankan bahwa tanpa interpretasi yang tepat, nilai
edukatif dari geosite tidak akan terealisasi sepenuhnya. Saat ini, Pantai Karang Tawulan belum
memiliki sistem interpretasi formal seperti signage atau pemandu yang menjelaskan proses
geologis pembentukan karang, yang dapat memperkaya pengalaman pengunjung.
Gambar 1, 2 dan 3 terlihat Pantai dengan tumpukan batu karang yang indah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keunikan formasi geologi berupa bentukan karang di
Pantai Karang Tawulan merupakan magnet utama yang secara signifikan memengaruhi
keputusan kunjungan wisatawan. Dominasi narasi partisipan, yakni 13 dari 15 informan yang
secara eksplisit menyebut formasi karang sebagai alasan utama berkunjung, mengindikasikan
bahwa elemen geologis bukan sekadar pelengkap lanskap, melainkan daya tarik inti destinasi.
Deskripsi informan mengenai susunan karang yang menyerupai “tangga raksasa”
menggambarkan persepsi monumentalitas dan dramatisasi ruang yang membedakan pantai ini
dari pantai berpasir pada umumnya. Perbandingan spontan dengan pantai lain memperlihatkan
bahwa diferensiasi visual menjadi faktor kunci dalam membentuk citra dan identitas destinasi.
Selain aspek bentuk fisik, dimensi estetika turut memperkuat daya tarik formasi karang
tersebut. Kontras antara tekstur batuan dan birunya laut, terutama saat momen golden hour,
menciptakan komposisi visual yang kuat dan bernilai fotografis tinggi. Hal ini menjadikan
kawasan formasi karang sebagai ruang produksi pengalaman visual sekaligus konten digital, di
mana setiap sudut dipersepsikan sebagai spot foto yang menarik. Dalam konteks pariwisata
kontemporer yang dipengaruhi media sosial, karakter visual yang unik berpotensi
menghasilkan promosi tidak langsung melalui dokumentasi dan unggahan pengunjung.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 219-233
E-ISSN: 3047-2288
227
Heri Kurnia (Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan....)
Temuan observasi partisipatif yang menunjukkan bahwa wisatawan menghabiskan rata-
rata 4560 menit untuk mengeksplorasi area karang memperlihatkan tingkat keterlibatan yang
tinggi terhadap lanskap tersebut. Pola pergerakan yang spontan mengikuti alur natural formasi
karang menunjukkan bahwa struktur geologi berfungsi sebagai pemandu eksplorasi alami,
menciptakan pengalaman yang dinamis dan multidimensional. Berbeda dengan pantai berpasir
yang cenderung menawarkan aktivitas pasif, formasi karang di Pantai Karang Tawulan
mendorong interaksi aktif, eksploratif, dan reflektif. Pengalaman ini tidak hanya bersifat
visual, tetapi juga emosional, sebagaimana tergambar dari ungkapan rasa terpesona dan kagum
yang muncul dalam narasi partisipan.
Keaslian Destinasi dan Paradoks Pengembangan
Tema keaslian dan kealamian destinasi yang muncul kuat dalam narasi pengunjung dapat
dipahami melalui konsep authenticity dalam tourism studies. MacCannell (1976) dalam
teorinya tentang "staged authenticity" berpendapat bahwa wisatawan modern mencari
pengalaman yang autentik sebagai antitesis dari kehidupan sehari-hari yang terasing dan
artifisial. Pantai Karang Tawulan, dengan minimnya komersialisasi, dipersepsikan sebagai
"front stage" yang masih mempertahankan karakteristik "back stage"-nya. Tema pengalaman
autentik dan keaslian destinasi pada Pantai Karang Tawulan menunjukkan bahwa nilai utama
yang dicari pengunjung bukan sekadar rekreasi, melainkan pengalaman yang bersifat reflektif
dan personal. Keaslian dalam konteks ini dimaknai sebagai minimnya intervensi pembangunan
modern serta absennya komersialisasi berlebihan. Narasi P-11 memperlihatkan bahwa daya
tarik utama pantai ini terletak pada kesederhanaannya, tidak adanya resort besar, tidak adanya
praktik penjualan agresif, serta ruang terbuka yang memungkinkan interaksi langsung dengan
alam. Dalam perspektif pariwisata berkelanjutan, kondisi ini mencerminkan bentuk
“kemewahan baru” di era modern, yakni kesempatan untuk menikmati ketenangan, suara
ombak, dan lanskap alami tanpa distraksi. Pengalaman ini memberikan ruang bagi wisatawan
untuk melakukan pelepasan dari rutinitas urban dan memperoleh ketenangan psikologis, yang
pada akhirnya memperkuat keterikatan emosional terhadap destinasi.
Namun demikian, apresiasi terhadap keaslian tersebut berjalan beriringan dengan
kekhawatiran akan potensi degradasi di masa depan. Pernyataan P-04 mengindikasikan adanya
kesadaran kolektif bahwa destinasi yang mulai dikenal publik berisiko mengalami tekanan
akibat lonjakan kunjungan dan pembangunan yang tidak terkendali. Kekhawatiran ini bukan
tanpa dasar, mengingat banyak destinasi alam yang kehilangan karakter aslinya karena
orientasi ekonomi jangka pendek. Dalam konteks ini, pengunjung tidak hanya berperan
sebagai konsumen pengalaman, tetapi juga sebagai pengamat kritis yang memiliki harapan
terhadap tata kelola pemerintah. Harapan agar pengelolaan dilakukan secara bijak
menunjukkan bahwa persepsi autentisitas tidak berdiri sendiri, melainkan sangat bergantung
pada kebijakan, regulasi, dan komitmen terhadap prinsip keberlanjutan. Observasi lapangan
memperkuat temuan tersebut melalui pola perilaku pengunjung. Wisatawan yang mencari
pengalaman autentik cenderung memilih waktu kunjungan yang lebih sepi, seperti hari kerja
atau pagi hari. Mereka mengalokasikan waktu lebih lama di lokasi dan terlibat dalam aktivitas
kontemplatif seperti merenung atau menulis jurnal perjalanan. Pola ini menunjukkan bahwa
autentisitas tidak hanya terkait dengan kondisi fisik destinasi, tetapi juga dengan kualitas
pengalaman yang dibangun melalui waktu, ketenangan, dan kedalaman interaksi. Dengan
demikian, Pantai Karang Tawulan dipersepsikan bukan semata sebagai objek wisata,
melainkan sebagai ruang pengalaman yang memungkinkan refleksi diri. Implikasi dari temuan
ini menegaskan pentingnya strategi pengelolaan berbasis keberlanjutan yang mampu menjaga
keseimbangan antara aksesibilitas, pelestarian lingkungan, dan perlindungan nilai autentik
yang menjadi inti daya tarik destinasi.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 219-233
E-ISSN: 3047-2288
228
Heri Kurnia (Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan....)
Aksesibilitas dan Infrastruktur sebagai Faktor Ambivalen
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa aksesibilitas dan infrastruktur berfungsi
sebagai faktor ambivalen yang secara simultan memperkaya sekaligus membatasi pengalaman
wisata. Bagi sebagian partisipan, khususnya pengunjung muda, keterpencilan lokasi dan
keterbatasan akses justru dimaknai sebagai elemen autentik yang memperkuat sensasi
eksplorasi. Narasi P-02 menggambarkan bagaimana perjalanan yang menantang, ditandai
dengan jalan sempit, berkelok, serta minimnya petunjuk arah, dikonstruksi sebagai “treasure
hunt” yang membangun ekspektasi dan rasa pencapaian. Dalam konteks ini, hambatan fisik
tidak dipersepsikan sebagai kekurangan, melainkan sebagai bagian integral dari pengalaman
wisata berbasis petualangan. Tantangan perjalanan menjadi proses yang memberi nilai tambah
emosional; kelelahan yang dialami bertransformasi menjadi kepuasan ketika tujuan tercapai
dan pemandangan yang spektakuler tersaji. Dengan demikian, keterbatasan infrastruktur bagi
segmen ini justru memperkuat narasi eksklusivitas dan keaslian destinasi.
Namun, persepsi tersebut tidak bersifat universal. Bagi pengunjung keluarga dan lansia,
keterbatasan infrastruktur memunculkan dimensi risiko dan ketidaknyamanan yang lebih
dominan dibandingkan nilai petualangan. Pernyataan P-09 menegaskan bahwa kondisi jalan
yang rusak dan ketiadaan fasilitas dasar seperti toilet memadai dapat menggeser pengalaman
dari yang semula rekreatif menjadi penuh frustrasi, bahkan hampir membatalkan kunjungan.
Dalam konteks keluarga dengan anak kecil, faktor keamanan, kenyamanan, dan aksesibilitas
menjadi prioritas utama. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman wisata sangat dipengaruhi
oleh tahap siklus kehidupan dan tanggung jawab sosial yang melekat pada individu. Jika bagi
kaum muda tantangan fisik dapat dimaknai sebagai self-challenge atau pencarian sensasi,
maka bagi keluarga dan lansia tantangan yang sama justru dipandang sebagai hambatan
struktural yang mengurangi kualitas pengalaman.
Data observasi memperkuat adanya diferensiasi kebutuhan antarsegmen usia. Kelompok
usia 1830 tahun cenderung memiliki toleransi lebih tinggi terhadap ketidaknyamanan fisik
dan fasilitas terbatas, kemungkinan karena motivasi utama mereka berorientasi pada
eksplorasi, pencarian pengalaman unik, dan aktualisasi diri. Sebaliknya, kelompok usia 3045
tahun dengan anak serta pengunjung lansia menunjukkan ekspektasi yang lebih tinggi terhadap
ketersediaan fasilitas dasar seperti toilet bersih, tempat duduk yang nyaman, dan akses jalan
yang layak. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa aksesibilitas bukan semata isu teknis, tetapi
juga isu segmentasi pasar dan manajemen pengalaman pengunjung.
Dimensi Spiritual dan Koneksi dengan Alam
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi spiritual bukan sekadar elemen tambahan
dalam pengalaman berkunjung, melainkan menjadi inti makna bagi sebagian besar informan.
Delapan dari lima belas partisipan secara eksplisit menggambarkan pengalaman mereka
dengan bahasa yang mencerminkan keterhubungan eksistensial, perasaan kecil di hadapan
luasnya alam, namun sekaligus merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Ungkapan seperti “meditasi alami” dan “pikiran menjadi lebih tenang dan jernih”
mengindikasikan bahwa interaksi dengan lanskap pantai bukan hanya pengalaman sensorik,
tetapi juga proses internal yang bersifat reflektif dan transformatif. Dalam konteks ini, alam
berfungsi sebagai medium kontemplasi yang memfasilitasi regulasi emosi dan pemaknaan diri.
Kondisi alamiah destinasi tampak memainkan peran krusial dalam memunculkan pengalaman
spiritual tersebut. Ketiadaan kebisingan kota, minimnya distraksi buatan manusia, serta
dominasi elemen alami, suara ombak, hembusan angin, cakrawala laut yang tak berujung
menciptakan ruang psikologis yang memungkinkan individu mengalami keheningan batin.
Keheningan ini bukan sekadar absennya suara, tetapi sebuah kualitas ruang yang
menghadirkan rasa sakral dan intim. Dengan kata lain, lanskap pantai yang relatif “murni”
menjadi katalis bagi munculnya kesadaran diri yang lebih dalam.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 219-233
E-ISSN: 3047-2288
229
Heri Kurnia (Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan....)
Observasi perilaku pengunjung memperkuat temuan tersebut. Mereka yang mencari
pengalaman spiritual cenderung memilih area yang lebih sepi dan mempertahankan posisi
kontemplatif dalam durasi yang cukup panjang, berkisar antara 30 hingga 90 menit. Aktivitas
yang dilakukan minimalis dengan duduk diam, memandang laut, atau menulis refleksi dalam
jurnal. Pola ini menunjukkan bahwa pengalaman spiritual tidak bersifat impulsif atau instan,
melainkan membutuhkan waktu, kesadaran, dan keterbukaan. Kehadiran buku atau jurnal
menandakan adanya proses integrasi pengalaman, dari sensasi eksternal menuju refleksi
internal. Secara konseptual, temuan ini mengindikasikan bahwa destinasi wisata alam dapat
berfungsi sebagai ruang liminal, yaitu ruang peralihan yang memungkinkan individu keluar
dari rutinitas keseharian dan memasuki kondisi kesadaran yang berbeda. Dalam ruang ini,
identitas sosial dan tekanan peran sehari-hari menjadi sementara tereduksi, memberi peluang
bagi individu untuk merefleksikan makna hidup, tujuan, dan relasi dengan lingkungan. Dengan
demikian, dimensi spiritual dalam pengalaman berkunjung bukan hanya berdampak pada
kepuasan wisata, tetapi juga berpotensi berkontribusi pada kesejahteraan psikologis dan
pertumbuhan personal pengunjung.
Media Sosial dan Konstruksi Makna Destinasi
Temuan penelitian menunjukkan bahwa media sosial, khususnya Instagram, berperan
signifikan dalam membentuk konstruksi makna dan ekspektasi terhadap destinasi Pantai
Karang Tawulan. Seluruh informan berusia di bawah 40 tahun mengenal destinasi ini pertama
kali melalui representasi visual di media sosial. Artinya, pengalaman wisata tidak lagi dimulai
ketika wisatawan tiba di lokasi, tetapi sejak mereka mengonsumsi citra digital yang beredar
secara masif. Gambar-gambar yang estetis, komposisi cahaya matahari terbenam, serta sudut
pengambilan foto dari tebing-tebing karang membentuk ekspektasi visual yang kuat sebelum
kunjungan dilakukan. Dalam konteks ini, media sosial berfungsi sebagai agen pembingkai
realitas (framing agent) yang menciptakan standar keindahan dan pengalaman yang “ideal”.
Namun menariknya, ekspektasi tinggi yang dibangun oleh media sosial tidak selalu berujung
pada kekecewaan.
Seperti disampaikan oleh informan P-01, realitas di lapangan justru melampaui
representasi digital. Pernyataan bahwa “tidak ada filter yang bisa menangkap keindahan
sebenarnya dari tempat ini menunjukkan adanya momen dekonstruksi makna: wisatawan
menyadari keterbatasan media digital dalam merepresentasikan pengalaman sensorik dan
emosional secara utuh. Ini mengindikasikan bahwa media sosial memang membentuk pintu
masuk kognitif terhadap destinasi, tetapi pengalaman langsung tetap memiliki otoritas
tertinggi dalam membangun makna yang autentik. Di sisi lain, penelitian juga mengungkap
dampak ambivalen media sosial terhadap perilaku wisatawan. Kritik dari informan P-14
menyoroti fenomena performativitas wisata, di mana kunjungan lebih berorientasi pada
produksi konten dibandingkan internalisasi pengalaman. Observasi lapangan memperkuat
temuan ini melalui identifikasi dua pola perilaku: social media tourists dan “experiential
tourists”. Kelompok pertama menunjukkan karakteristik kunjungan singkat (3060 menit),
fokus pada spot yang dianggap “instagrammable”, dan menjadikan lanskap sebagai latar
produksi identitas digital. Sementara itu, kelompok kedua memanfaatkan fotografi sebagai
dokumentasi, bukan tujuan utama, dengan durasi kunjungan lebih panjang (24 jam) serta
keterlibatan eksploratif yang lebih mendalam terhadap ruang dan suasana. Seperti postingan
dimedia sosial berikut ini:
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 219-233
E-ISSN: 3047-2288
230
Heri Kurnia (Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan....)
Gambar 4, 5 dan 6 postingan pengunjung di media sosial
Gambar di atas memperlihatkan bahwa media sosial tidak secara tunggal menentukan
kualitas pengalaman, tetapi memediasi cara wisatawan memaknai ruang. Bagi sebagian orang,
destinasi menjadi panggung representasi diri; bagi yang lain, ia tetap menjadi ruang
kontemplasi dan interaksi dengan alam. Secara teoritis, hal ini menegaskan bahwa konstruksi
makna destinasi bersifat negosiasional yang terjadi dalam interaksi antara representasi digital,
motivasi personal, dan pengalaman empiris di lokasi.
4. Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami secara mendalam persepsi
pengunjung terhadap keindahan alam dan daya tarik wisata Pantai Karang Tawulan sebagai
destinasi unggulan di Kabupaten Tasikmalaya. Melalui pendekatan kualitatif dengan desain
narasi, penelitian ini berhasil mengungkap pengalaman autentik dan makna subjektif yang
dikonstruksi oleh para pengunjung dalam menikmati keindahan alam pantai ini. Penelitian ini
menjembatani kesenjangan pengetahuan mengenai pemahaman komprehensif tentang
persepsi wisatawan terhadap destinasi wisata pantai berbasis keindahan alam di wilayah
Tasikmalaya yang belum banyak terdokumentasi secara akademis. Berdasarkan analisis
mendalam terhadap narasi dan pengalaman pengunjung, penelitian ini menghasilkan beberapa
temuan utama yang signifikan. Pertama, keindahan alam Pantai Karang Tawulan
dipersepsikan secara multidimensional oleh pengunjung, meliputi aspek estetika visual dari
formasi karang unik, keindahan panorama laut selatan yang dramatis, serta keunikan
ekosistem pesisir yang masih alami. Pengunjung mendeskripsikan pengalaman mereka
dengan narasi yang kaya akan emosi positif, mencerminkan keterikatan mendalam antara
keindahan alam dengan kesejahteraan psikologis. Kedua, daya tarik wisata Pantai Karang
Tawulan tidak hanya bersumber dari aspek fisik alamnya, tetapi juga dari dimensi pengalaman
yang mencakup ketenangan, keaslian, dan nilai spiritual yang dirasakan pengunjung saat
berinteraksi dengan lingkungan pantai. Pengunjung mengkonstruksi makna personal yang
beragam, mulai dari tempat pelarian dari rutinitas urban hingga ruang kontemplasi dan
reconnection dengan alam.
Ketiga, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi pengunjung terhadap daya tarik Pantai
Karang Tawulan mencakup aksesibilitas, keaslian destinasi yang belum terlalu komersial,
keramahan masyarakat lokal, serta ketersediaan fasilitas dasar yang memadai namun tidak
berlebihan. Pengunjung menghargai keseimbangan antara pengembangan pariwisata dengan
pelestarian keaslian alam dan budaya lokal. Keempat, penelitian ini menemukan bahwa
persepsi positif terhadap keindahan alam berkorelasi dengan intensi untuk revisit dan word-of-
mouth positif, mengindikasikan potensi besar Pantai Karang Tawulan sebagai destinasi
berkelanjutan jika dikelola dengan bijaksana. Temuan-temuan ini secara langsung menjawab
pertanyaan penelitian tentang bagaimana pengunjung mempersepsikan keindahan alam dan
daya tarik wisata Pantai Karang Tawulan, serta faktor-faktor apa yang membentuk persepsi
tersebut. Penelitian ini mengkonfirmasi bahwa persepsi wisatawan terhadap destinasi wisata
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 219-233
E-ISSN: 3047-2288
231
Heri Kurnia (Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan....)
alam merupakan konstruksi kompleks yang dipengaruhi oleh interaksi antara karakteristik
fisik destinasi, pengalaman personal, ekspektasi, serta konteks sosial-budaya pengunjung.
Pantai Karang Tawulan memiliki potensi luar biasa untuk menjadi destinasi wisata
unggulan yang berkelanjutan di Kabupaten Tasikmalaya. Keindahan alam yang dipersepsikan
secara positif oleh pengunjung, dikombinasikan dengan keaslian dan nilai-nilai lokal yang
masih terpelihara, merupakan aset berharga yang harus dijaga dan dikembangkan secara
bijaksana. Penelitian ini telah memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana
pengunjung mengkonstruksi makna dan nilai terhadap destinasi wisata alam, yang dapat
menjadi fondasi bagi pengembangan strategi pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada
pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Kesuksesan pengembangan Pantai Karang Tawulan sebagai destinasi unggulan akan sangat
bergantung pada komitmen kolektif semua stakeholder untuk mengadopsi prinsip-prinsip
pariwisata berkelanjutan, di mana keindahan alam yang menjadi daya tarik utama dapat terus
dinikmati oleh generasi mendatang. Dengan pendekatan yang tepat, Pantai Karang Tawulan
tidak hanya akan menjadi sumber pendapatan ekonomi, tetapi juga ruang di mana pengunjung
dapat menemukan makna, ketenangan, dan koneksi dengan alam yang semakin langka di era
modern ini.
5. Daftar Pustaka
Adiakurnia, M. I., & Hyacintha, M. (2018). Persepsi wisatawan terhadap daya tarik wisata
pantai di Jawa Barat. Jurnal Pariwisata Terapan, 2(1), 78-92.
https://doi.org/10.22146/jpt.35789
Andrianto, T., & Sugiama, A. G. (2016). Analisis kualitas pelayanan dan kepuasan
pengunjung di objek wisata alam. Penerbit Alfabeta.
Arida, I. N. S., & Pujani, L. K. (2017). Kajian perkembangan pariwisata berkelanjutan
berbasis keindahan alam dan budaya. Tourism and Hospitality Essentials Journal, 7(1),
1225-1232.
Assaker, G., Vinzi, V. E., & O'Connor, P. (2011). Examining the effect of novelty seeking,
satisfaction, and destination image on tourists' return pattern: A two factor, non-linear
latent growth model. Tourism Management, 32(4), 890-901.
https://doi.org/10.1016/j.tourman.2010.08.004
Beerli, A., & Martin, J. D. (2004). Factors influencing destination image. Annals of Tourism
Research, 31(3), 657-681. https://doi.org/10.1016/j.annals.2004.01.010
Chen, C. F., & Chen, F. S. (2010). Experience quality, perceived value, satisfaction and
behavioral intentions for heritage tourists. Tourism Management, 31(1), 29-35.
https://doi.org/10.1016/j.tourman.2009.02.008
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing
among five approaches (4th ed.). SAGE Publications.
Ghozali, M., Wardhani, W., & Kartini, D. (2021). Strategi pengembangan destinasi wisata
pantai berbasis persepsi wisatawan di Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
24(3), 245-260. https://doi.org/10.22146/jsp.56789
Hallmann, K., Zehrer, A., & Müller, S. (2015). Perceived destination image: An image
model for a winter sports destination and its effect on intention to revisit. Journal of
Travel Research, 54(1), 94-106. https://doi.org/10.1177/0047287513513161
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 219-233
E-ISSN: 3047-2288
232
Heri Kurnia (Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan....)
Hermawan, H. (2016). Dampak pengembangan desa wisata Nglanggeran terhadap ekonomi
masyarakat lokal. Jurnal Pariwisata, 3(2), 105-117.
https://doi.org/10.31311/par.v3i2.1383
Hidayat, M. W., Hakim, L., & Afrianto, W. F. (2022). Visitor perception and satisfaction of
coastal tourism attractions in West Java Province. Journal of Indonesian Tourism and
Development Studies, 10(2), 89-104. https://doi.org/10.21776/jitode.2022.10.2.89
Inskeep, E. (1991). Tourism planning: An integrated and sustainable development approach.
Van Nostrand Reinhold.
Kim, S., Lee, Y. K., & Lee, C. K. (2017). The moderating effect of place attachment on the
relationship between festival quality and behavioral intentions. Asia Pacific Journal of
Tourism Research, 22(1), 49-63. https://doi.org/10.1080/10941665.2016.1176060
Lee, C. K., Lee, Y. K., & Wicks, B. E. (2004). Segmentation of festival motivation by
nationality and satisfaction. Tourism Management, 25(1), 61-70.
https://doi.org/10.1016/S0261-5177(03)00060-8
Mansur, A., & Khotimah, K. (2020). Analisis persepsi wisatawan terhadap atribut daya tarik
wisata pantai di Kabupaten Tasikmalaya. Jurnal Manajemen Resort dan Leisure, 17(1),
35-48. https://doi.org/10.17509/jurel.v17i1.23456
Maulana, F., & Budiman, M. S. (2019). Potensi dan strategi pengembangan wisata bahari di
Jawa Barat. In A. Yusuf & R. Firmansyah (Eds.), Pembangunan pariwisata
berkelanjutan di Indonesia (pp. 156-178). Penerbit Universitas Indonesia.
Merriam, S. B., & Tisdell, E. J. (2016). Qualitative research: A guide to design and
implementation (4th ed.). Jossey-Bass.
Moscardo, G. (2017). Stories as a tourist experience design tool. In N. Morgan, A. Pritchard,
& R. Pride (Eds.), Destination brands: Managing place reputation (3rd ed., pp. 97-110).
Routledge.
Pramanik, P. D., & Ingkadijaya, R. (2018). The impact of tourism on village society and its
environmental. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 145,
012060. https://doi.org/10.1088/1755-1315/145/1/012060
Pratiwi, S. R., Darmawan, D., & Ramadhan, K. W. (2023). Daya tarik wisata alam pantai
terhadap minat berkunjung wisatawan domestik. Jurnal Destinasi Pariwisata, 11(1), 67-
81. https://doi.org/10.24843/JDEPAR.2023.v11.i01.p06
Prayag, G., & Ryan, C. (2012). Antecedents of tourists' loyalty to Mauritius: The role and
influence of destination image, place attachment, personal involvement, and
satisfaction. Journal of Travel Research, 51(3), 342-356.
https://doi.org/10.1177/0047287511410321
Primadany, S. R., Mardiyono, & Riyanto. (2013). Analisis strategi pengembangan pariwisata
daerah: Studi pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batu. Jurnal Administrasi
Publik, 1(4), 135-143.
Raharja, S. J., Muhyi, H. A., & Herawati, A. (2020). Pengembangan destinasi wisata pantai
berbasis masyarakat di Jawa Barat. Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and
Recreation, 3(2), 98-112. https://doi.org/10.17509/jithor.v3i2.27891
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 4, Desember 2025, page: 219-233
E-ISSN: 3047-2288
233
Heri Kurnia (Persepsi Pengunjung terhadap Keindahan Alam dan....)
Ritchie, J. R. B., & Crouch, G. I. (2003). The competitive destination: A sustainable tourism
perspective. CABI Publishing.
Setiawan, B., Rijanta, R., & Baiquni, M. (2017). Sustainable tourism development: The
adaptation and resilience of rural communities in tourism. Forum Geografi, 31(2), 232-
245. https://doi.org/10.23917/forgeo.v31i2.5141
Stylos, N., Vassiliadis, C. A., Bellou, V., & Andronikidis, A. (2016). Destination images,
holistic images and personal normative beliefs: Predictors of intention to revisit a
destination. Tourism Management, 53, 40-60.
https://doi.org/10.1016/j.tourman.2015.09.006
Sugiama, A. G. (2011). Ecotourism: Pengembangan pariwisata berbasis konservasi alam.
Guardaya Intimarta.
Suwantoro, G. (2004). Dasar-dasar pariwisata. Penerbit Andi.
Utami, N. D., & Kurniawati, E. (2021). Persepsi wisatawan tentang keindahan lanskap alam
terhadap keputusan berkunjung ke destinasi wisata pantai. Jurnal Lanskap Indonesia,
13(1), 23-35. https://doi.org/10.29244/jli.v13i1.35678
Wang, Y., & Davidson, M. C. G. (2010). A review of micro-analyses of tourist expenditure.
Current Issues in Tourism, 13(6), 507-524.
https://doi.org/10.1080/13683500903406359
Yoeti, O. A. (2016). Perencanaan dan pengembangan pariwisata (Edisi Revisi). PT Pradnya
Paramita.
Yoon, Y., & Uysal, M. (2005). An examination of the effects of motivation and satisfaction
on destination loyalty: A structural model. Tourism Management, 26(1), 45-56.
https://doi.org/10.1016/j.tourman.2003.08.016