PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 65-73
E-ISSN: 3047-2288
65
Doni Pratama et.al (Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Motivasi….)
Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Motivasi Terhadap
Minat Kunjung Wisatawan pada Jeep Lava Tour
Merapi
Doni Pratama
a,1
, Tri Suyud Nusanto
b,2
, Danang Prasetyo
c,3
a, b, c
Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo, Yogyakarta, Indonesia
1
*
tamaynwa@gmail.com;
2
trisuyudnusanto@stipram.ac.id;
3
danangprasetyo@stipram.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 27 Januari 2024
Direvisi: 13 Maret 2024
Disetujui: 16 Mei 2024
Tersedia Daring: 1 Juni 2024
Penelitian ini menggambarkan dan menganalisis pengaruh kualitas
pelayanan dan mtoivasi yang memengaruhi minat kunjung wisatawan pada
Jeep Lava Tour Merapi, dengan menggunakan metode kuantiatif, penelitian
ini mengumpulkan data melalui penyebaran kuesioner kepada pengunjung
yang mengunjungi Lava Tour Merapi. Hasil penelitian ini menjelaskan
bahwa kualitas pelayanan dan motivasi memiliki pengaruh signifikan
terhadap minat kunjung wisatawan. Simpulan dari penelitian ini
menegaskan bahwa kualitas pelayanan dan motivasi berpengaruh positif
terhadap minat kunjung wusatawan. Saran yang diberikan melibatkan
mempertahankan kualitas pelayanan, inovasi terhadap atraksi wisata untuk
lebih menarik banyak wisatawan yang ingin berkunjung.
Kata Kunci:
Kualitas layanan
Motivasi
Minat Kunjungan Wisatawan
Jeep Lava Tour Merapi
ABSTRACT
Keywords:
Service Quality
Motivation
Tourist’s Interest
Merapi Jeep Lava Tour
This research describes and analyzes the influence of service quality and
motivation on tourists' interest in visiting the Merapi Jeep Lava Tour, using a
quantitative method. This study collected data through the distribution of
questionnaires to visitors who visited the Merapi Lava Tour. The results of
this research explain that service quality and motivation have a significant
influence on tourists' interest in visiting. The conclusion of this research
confirms that service quality and motivation have a positive influence on
tourists' interest in visiting. Suggestions given involve maintaining service
quality, innovating attractions to attract more tourists who want to visit.
Β©2024, Doni Pratama, Tri Suyud Nusanto, Danang Prasetyo
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Pariwisata di Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian,
pariwisata mencakup berbagai macam kegiatan wisata dan didukung oleh beragam fasilitas
serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah
Daerah (Kementrian Pariwisata, 2009). Tujuan kepariwisataan salah satunya yaitu
meningkatkan ekonomi, menghapus kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat
(Kementrian Pariwisata, 2009). Wisata merupakan salah satu sektor ekonomi yang semakin
berkembang pesat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir,
terdapat tren meningkatnya minat masyarakat untuk mencari pengalaman wisata yang berbeda
dan menantang. Wisata adventure, yang menawarkan pengalaman petualangan dan eksplorasi
alam, telah menjadi salah satu pilihan utama bagi para wisatawan yang ingin melampaui
batasan dari liburan konvensional. Salah satu bentuk wisata adventure yang semakin populer
adalah wisata jeep adventure, yang menghadirkan pengalaman mengemudi jeep di medan yang
menantang, mengelilingi alam yang indah, serta menawarkan sensasi dan kegembiraan yang
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 65-73
E-ISSN: 3047-2288
66
Doni Pratama et.al (Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Motivasi….)
tak terlupakan. Objek wisata yang dikelola baik oleh pihak swasta, pemerintah maupun
masyrakat berlomba-lomba menyajikan tempat wisata yang menarik bagi wisatawan, namun
tak juga lupa, dalam setiap pengembangan atraksi wisata perlu diperhatikan Standar
Operasional Prosedur guna memastikan keselamatan para wisatawan yang sedang berwisata
diobjek tersebut. Standar Operasional Prosedur yang dimaksud dalam hal ini merupakan suatu
fasilitas keselamatan dalam suatu objek wisata, maupun regulasi mengenai standarisasi
keselamatan yang ada baik dalam hal perlengkapan maupun kondisi kendaran yang di
pergunakan. Dan memperhatikan mengenai pelaksana yang ada dilapangan. Pengembangan
wisata harus di imbangi dengan adanya sinergitas antar stakeholder agar tercipta wisata yang
aman dan menarik untuk para wisatawan. Promosi yang gencar tidak cukup apa bila masih
mengesampingkan faktor keamanan di setiap atraksi wisata yang ada. Berdasarkan
permasalahan yang sudah di jelaskan di atas, lalu sebagai mana objek wisata ini dalam
memperhatikan faktor keselamatan para wisatawan, bagaimana pemerintah dan pihak
penyelenggara bersinergi untuk menangani keselamatan wisatawan sangat diutamakan agar
tidak terjadi insiden atau kecelakaan pada pelaksanaanya. Semua keselamatan sudah di atur
dalam (Kementrian Pariwisata, 2009).
Pelayanan merupakan suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak kasat
mata yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-
hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksud untuk
memecahkan permasalahan pelanggan (Ratminto, 2012). Dengan kata lain, Pelayanan
merupakan salah satu upaya untuk memenuhi ekspektasi pelanggan dalam hal kecepatan
menangani komplain dan keramahan terhadap pelanggan. Seperti yang dijelaskan dalam teori
motivasi wisatawan, motif-motif pribadi seperti eksplorasi, relaksasi, petualangan, dan
pencarian pengalaman budaya dapat mempengaruhi minat berkunjung. Wisatawan yang
memiliki motivasi eksplorasi mungkin lebih tertarik untuk mengunjungi destinasi alam,
sementara yang memiliki motivasi pencarian pengalaman budaya akan lebih tertarik ke
destinasi dengan warisan budaya yang kaya (Prasetyo, 2019). Minat berkunjung kembali
merupakan perilaku wisatawan dimana wisatawan akan, berkeinginan, kemungkinan dan
memastikan bahwa mengunjungi kembali destinasi yang pernah dikunjungi sebelumnya.
Dengan hal itu, bahwa minat berkunjung wisatawan dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang
dapat dijabarkan berdasarkan teori motivasi wisatawan (Viet, 2020). Variabel Kepuasan
Pengunjung dan Minat Berkunjung memiliki hubungan yang kuat dalam konteks destinasi
wisata. Kepuasan pengunjung, seperti dijelaskan dalam uraian sebelumnya, merupakan
refleksi dari sejauh mana wisatawan merasa puas dengan pengalaman mereka di destinasi
tersebut. Faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan pengunjung, seperti kualitas pelayanan,
fasilitas, informasi, harga, lingkungan, dan produk, akan berdampak pada perasaan wisatawan
terhadap destinasi dan minat berkunjung, di sisi lain, berkaitan dengan keinginan dan niat
wisatawan untuk kembali ke destinasi yang sama. Jika wisatawan merasa sangat puas dengan
pengalaman sebelumnya, wisatawan cenderung memiliki minat yang tinggi untuk berkunjung
kembali. Oleh karena itu, hubungan antara Kepuasan Pengunjung (dalam hal ini, tingkat
kepuasan yang tinggi) dengan Minat Berkunjung kembali sangat mungkin positif (Viet, 2020).
Faktor-faktor yang bisa berpengaruh terhadap minat untuk berkunjung lagi ke suatu destinasi
adalah kepuasan saat melakukan kunjungan, ada motivasi tertentu, kecintaan pada destinasi,
dan proses informasi terhadap destinasi tersebut. Jika wisatawan merasa puas, mereka akan
berkunjung kembali di lain waktu dan akan menginformasikan kepada orang lain terhadap
pengalaman yang dirasakan selama melakukan kunjungan (Nuraeni, 2014).
2. Metode
Dalam penelitian yang berjudul pengaruh kualitas pelayanan terhadap minat kunjung
wisatawan pada jeep lava tour merapi penulis menggunakan metode penelitian kuantitatif.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 65-73
E-ISSN: 3047-2288
67
Doni Pratama et.al (Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Motivasi….)
Metode kuantitatif memungkinkan peneliti untuk mengkonversi fenomena yang kompleks
menjadi angka-angka, sehingga memudahkan proses analisis (Apriliawati, 2020). Lava tour
merapi terletak di Jl. Tlogo Putri, Kaliurang, Hargobinangun, Kec. Pakem, Kabupaten Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta 55582. Waktu penelitian dimulai dari Desember 2023 sampai
dengan januari 2024. Penelitian dilakukan kurang lebih selama 3 bulan dimulai dari november
2023 akhir. Dalam kurun waktu tersebut melalui banyak tahap persiapan yang di lakukan di
bulan Desember 2023 1 minggu awal untuk kelokasinya. Tahap pelaksanaan di minggu kedua
bulan desember hingga bulan Januari awal minggu pertama. Tahap ketiga memulai
penyusunan laporan yang di lakukan di minggu ke 4 bulan januari hingga februari awal.
Populasi adalah wilayah generalisasi terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu, ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulan (Sugiyono, 2019) Populasi penelitian ini adalah seluruh wisatawan yang pernah
atau sedang berkunjung ke destinasi wisata Lava Tour Merapi. Berdasarkan data kunjungan
wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik pada periode 2016-2023 dengan jumlah
kunjungan selama lima tahun sebanyak 2.350.642 wisatawan, namun populasi yang diambil
hanya jumlah kunjungan wisatawan tahun 2023 sebanyak 327.211 wisatawan yang berkunjung
dengan sampel 100 responden yang diperoleh dari metode Slovin. Analisis data menggunakan
uji validitas, relibilitas serta analisis regresi.
3. Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan di Destinasi Wisata Lava tour merapi terletak di Jl. Tlogo
Putri, Kaliurang, Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa
Yogyakarta. Lava Tour Merapi merupakan atraksi wisata yang diperkenalkan oleh masyarakat
yang mengalami dampak dari erupsi Merapi tahun 2010. Atraksi wisata ini menawarkan
pengalaman alam yang memungkinkan para pengunjung untuk menjelajahi konsekuensi dari
erupsi Merapi tahun 2010. Para peserta diajak untuk melihat secara langsung kerusakan akibat
bencana tersebut. Wisatawan memiliki kesempatan untuk menyaksikan secara dekat material
yang tersisa dari letusan gunung Merapi serta mengunjungi bunker tempat dua relawan
kehilangan nyawa sebagai tempat perlindungan. (Izzatun, 2021). Rata-rata usia responden
dalam penelitian ini berada pada umur 21-40 tahun, dengan usia 17-20 tahun sebanyak 8%,
usia 20-41 tahun sebanyak 88% dan usia lebih dari 40 tahun sebanyak 4%. Dapat disimpulkan
bahwa responden berdasarkan usia didominasi oleh usia 21-40 tahun dengan perolehan jumlah
sebanyak 88%.
Berdasarkan pekerjaan pada penelitian ini dimulai dengan pekerjaan karyawan swasta,
perolehan setiap pekerjaan yaitu karyawan swasta sebanyak 21%, Pegawai PNS/TNI/Polri
sebanyak 6%, Pelajar/ Mahasiswa sebanyak 30%, Wirausahawan sebanyak 13%,
Petani/Pedagang/ Nelayan sebanyak 2%, Seniman sebanyak 4% dan pekerjaaan lain sebanyak
24%. Dapat disimpulkan bahwa responden berdasarkan pekerjaan pada penelitian ini
didominasi oleh pelajar/mahasiswa dengan perolehan sebanyak 30%. Berdasarkan hasil olah
data uji validitas pada tabel diatas menunjukkan bahwa setiap item pernyataan pada variabel
kualitas pelayanan (X1), Motivasi (X2) dan minat kunjung (Y) memiliki nilai r hitung lebih
besar daripada r tabel (0,361). Dapat disimpulkan bahwa item dalam penyataan ini valid dan
dapat digunakan dalam penelitian selanjutnya.
3.1 Uji Reliabelitas
Tabel 1. Uji Reliabelitas
Variabel
Cronbach’s Alpha
N of Items
X1
.706
5
X2
.732
5
Y
.737
5
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 65-73
E-ISSN: 3047-2288
68
Doni Pratama et.al (Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Motivasi….)
Hasil Uji Reliabelitas variabel X1 (kualitas pelayanan) memiliki nilai Cronbach's Alpha
sebesar 0,706 yang lebih besar dari 0,60. Hasil Uji Reliabelitas variabel X2 (motivasi)
memiliki nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,732 yang lebih besar dari 0,60. Hasil Uji
Reliabelitas variabel Y (minat kunjung) memiliki nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,737 yang
lebih besar dari 0,60. Dapat disimpulkan semua pernyataan yang digunakan untuk semua
variabel dalam penelitian ini adalah reliabel. Dengan demikian instrumen tersebut layak untuk
digunakan dalam penelitian ini.
3.2 Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menentukan apakah variabel X dan variabel Y memiliki
distribusi yang normal atau tidak. Normalitas distribusi dapat dievaluasi dengan melihat nilai
signifikansi yang diperoleh dari uji Kolmogorov-Smirnov. Apabila nilai signifikansi dari uji
tersebut lebih besar atau sama dengan 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut
memiliki distribusi normal. Sebaliknya, jika nilai signifikansi kurang dari 0,05, maka data
tersebut tidak memiliki distribusi normal.
Tabel 2. Uji Normalitas
Unstandardiz
ed Residual
N
100
Normal
Parameters
a,b
Mean
.0000000
Std. Deviation
2.27854801
Most
Extreme
Differences
Absolute
.054
Positive
.054
Negative
-.049
Test Statistic
.054
Asymp. Sig. (2-tailed)
c
.200
d
Monte Carlo
Sig. (2-
tailed)
e
Sig.
.684
99% Confidence
Interval
Lower Bound
.672
Upper Bound
.696
Hasil uji normalitas ditunjukan pada kolom Asymp. Sig. (2-tailed) didapatakan hasil
sebesar 0,200 yang berarti bahwa lebih besar dari 0,05, dapat disimpulkan bahwa data yang
digunakan dalam penelitian ini berdistribusi normal.
3.3 Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menilai apakah ada korelasi antara variabel bebas
(independen) dalam model regresi. Dalam model regresi yang baik, tidak seharusnya terdapat
korelasi antara variabel bebas. Untuk menentukan apakah multikolinieritas terjadi, dapat
digunakan nilai tolerance (Ξ±) dan nilai faktor inflasi varians (VIF). Tolerance merupakan
ukuran dari seberapa banyak varians dalam variabel independen yang tidak dijelaskan oleh
variabel independen lainnya, sedangkan VIF mengindikasikan seberapa banyak varians
dalam koefisien regresi yang disebabkan oleh multikolinieritas. Jika nilai tolerance lebih
besar dari 0,100 dan VIF kurang dari 10,00, maka tidak terdapat indikasi multikolinieritas
dalam model.
Tabel 3. Uji Multikolinieritas
Coefficients
a
Model
Collinearity
Statistics
Tolerance
VIF
1
(Constant)
X1
.551
1.815
X2
.551
1.815
a. Dependent Variable: Y
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 65-73
E-ISSN: 3047-2288
69
Doni Pratama et.al (Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Motivasi….)
Hasil uji multikolinieritas diperoleh hasil bahwa untuk semua variabel nilai tolerance
lebih besar dari 0,100 yaitu sebesar 0,551 dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) lebih
kecil dari 10,00 yaitu 1,815. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala
multikolinieritas.
3.4 Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas dilakukan untuk menentukan apakah terjadi ketidaksamaan atau
penyimpangan dari asumsi-asumsi klasik dalam model regresi. Metode yang sering
digunakan untuk uji ini adalah uji Glejser. Keputusan dalam uji heteroskedastisitas
didasarkan pada nilai signifikansi. Jika nilai signifikansi dari uji tersebut lebih besar atau
sama dengan 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas dalam
model. Sebaliknya, jika nilai signifikansi kurang dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa
terjadi heteroskedastisitas dalam model.
Tabel 4. Heteroskedastisitas
Coefficients
a
Model
Unstandardize
d Coefficients
Standardized
Coefficients
T
Sig.
B
Std.
Error
Beta
1
(Constant)
2.263
.734
3.084
.003
X1
-.059
.087
-.092
-.672
.503
X2
.007
.086
.012
.086
.932
Hasil uji heteroskedastisitas diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi dari semua variabel
independen lebih dari 0,05 yang ditunjukkan dengan nilai signifikansi kualitas pelayanan (𝑋1)
0,503 dan daya tarik wisata (𝑋2) 0,932 yang lebih besar dari 0,05. Maka, dapat disimpulkan
bahwa model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas.
3.5 Analisis Regresi Linier Berganda
Tabel 5. Uji Regresi Linier Berganda
Coefficients
a
Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
t
Sig.
B
Std. Error
Beta
1
(Constant)
2.385
1.176
2.028
.045
X1
.396
.140
.321
2.827
.006
X2
.353
.139
.289
2.546
.012
Beradasarkan tabel 5, dari persamaan regresi berganda diperoleh nilai konstanta (2,385)
menunjukkan nilai minat kunjung (Y) ketika kedua variabel independen (kualitas pelayanan
dan motivasi) memiliki nilai nol. Koefisien regresi untuk variabel kualitas pelayanan (0,396)
yang positif menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan sebesar 1% dalam variabel kualitas
pelayanan (X1), maka minat kunjung (Y) akan meningkat sebesar 0,396 atau 39,6%. Koefisien
regresi untuk variabel motivasi (0,353) yang positif menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan
sebesar 1% dalam variabel motivasi (X2), maka minat kunjung (Y) akan meningkat sebesar
0,353 atau 35,3%.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 65-73
E-ISSN: 3047-2288
70
Doni Pratama et.al (Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Motivasi….)
3.6 Uji Parsial (Uji T)
Tabel 6. Uji Parsial (Uji T)
Coefficients
a
Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
t
Sig.
B
Std. Error
Beta
1
(Constant)
2.385
1.176
2.028
.045
X1
.396
.140
.321
2.827
.006
X2
.353
.139
.289
2.546
.012
Uji t atau uji parsial digunakan untuk menguji variabel independen memiliki pengaruh
secara parsial atau sendiri-sendiri terhadap variabel dependen. Untuk pengambilan
kesimpulannya dinyatakan dengan melihat signifikansi dan membandingkan dengan taraf
kesalahan (signifikansi) yang dipakai yakni jika nilai probabilitas < nilai alpha (Ξ± = 0,05),
maka variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Berdasarkan tabel 4,
diperoleh hasil uji t dengan nilai signifikansi kualitas pelayanan (𝑋1) terhadap minat kunjung
(Y) sebesar 0,006 atau artinya nilai probabilitas 0,006 < 0,05 sehingga 𝐻0 ditolak dan 𝐻1
diterima. Artinya bahwa variabel kualitas pelayanan (𝑋1) berpengaruh signifikan terhadap
minat kunjung (Y) pada jeep Lava Tour Merapi. Dimana nilai signifikansi motivasi (𝑋2)
terhadap minat kunjung (Y) sebesar 0,012 atau artinya nilai probabilitas 0,012 < 0,05 sehingga
𝐻0 ditolak dan 𝐻2 diterima. Artinya bahwa variabel motivasi (𝑋2) berpengaruh signifikan
terhadap minat kunjung (Y) pada jeep Lava Tour Merapi.
3.7 Uji Simultan (Uji F)
Uji F, juga dikenal sebagai uji serentak, uji model, atau uji ANOVA, adalah uji statistik
yang digunakan untuk mengevaluasi pengaruh bersama-sama dari semua variabel bebas
terhadap variabel terikat dalam model regresi. Uji ini dilakukan dengan membandingkan
signifikansi (nilai p) dengan tingkat kepercayaan yang biasanya ditetapkan pada 0,05. Jika
nilai signifikansi (p-value) dari uji F kurang dari atau sama dengan 0,05, hal ini menunjukkan
bahwa variabel bebas secara bersama-sama (simultan) memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap variabel terikat.
Tabel 5. Uji F
ANOVA
a
Model
Sum of
Squares
df
Mean
Square
F
Sig.
1
Regression
231.974
2
115.987
21.889
<,001
b
Residual
513.986
97
5.299
Total
745.960
99
Dari tabel hasil 5 uji F diatas diperoleh nilai signifikansi sebesar <0,001 artinya nilai
probabilitas <0,001 < 0,05. Artinya bahwa variabel kualitas pelayanan (𝑋1) dan motivasi
(𝑋2) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap minat kunjung (Y) pada jeep
Lava Tour Merapi.
3.8 Uji Koefisien Determinasi
Tabel 6. Uji Koefisien Determinasi
Model Summary
Mo
del
R
R
Square
Adjusted R
Square
Std. Error of
the Estimate
1
.558
a
.311
.297
2.30192
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 65-73
E-ISSN: 3047-2288
71
Doni Pratama et.al (Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Motivasi….)
Berdasarkan tabel, diperoleh nilai Adjusted R Square adalah 0.297, hal ini berarti 29,7%
variasi variabel terikat yaitu minat kunjung dapat dijelaskan oleh 2 variasi variabel bebas
yaitu kualitas pelayanan dan motivasi, Sedangkan sisanya (100% - 29,7% = 70,3%)
dijelaskan oleh variabel lain di luar penelitian. Uji asumsi klasik dilakukan untuk
memastikan bahwa data memenuhi persyaratan regresi berganda. Hasil uji normalitas
menunjukkan bahwa data berdistribusi normal. Tidak terdapat indikasi multikolinieritas
dalam model, dan model regresi tidak mengalami heteroskedastisitas, menegaskan bahwa
asumsi klasik telah terpenuhi. Pada hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa
kualitas layanan (X1) dan motivasi (X2) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat
kunjung wisatawan (Y). Hal ini diperkuat oleh hasil uji T, yang menunjukkan penolakan
terhadap hipotesis nol untuk kedua variabel tersebut, menegaskan bahwa kualitas layanan
dan motivasi secara individu berkontribusi secara signifikan terhadap minat kunjung
wisatawan. Uji F menunjukkan bahwa secara bersama-sama, kualitas pelayanan dan motivasi
memberikan kontribusi yang signifikan terhadap minat kunjung wisatawan pada Jeep Lavar
Tour Merapi. Dengan nilai Adjusted R Square sebesar 0,297, hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa 29,7% variasi minat kunjung wisatawan dapat dijelaskan oleh kualitas
pelayanan dan motivasi, sedangkan sisanya mungkin dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.
Penelitian ini linier dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Didi Riadi, Lalu
Adi Permadi, dan Weni Retnowati pada tahun 2023, yang berjudul "Pengaruh Kualitas
Pelayanan Terhadap Minat Berkunjung Kembali Ke Desa Wisata Hijau Bilebante yang di
Mediasi Oleh Kepuasan Wisatawan". Penelitian tersebut menyoroti hubungan antara kualitas
pelayanan dan minat kunjung kembali wisatawan, dengan mempertimbangkan variabel
mediasi yaitu kepuasan wisatawan. Temuan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa
kualitas pelayanan secara positif dan signifikan memengaruhi minat kunjung kembali
wisatawan. Implikasi dari temuan tersebut adalah pentingnya fokus pada peningkatan
kualitas pelayanan dalam rangka memperpanjang kunjungan wisatawan dan memperkuat
hubungan jangka panjang dengan mereka. Dalam konteks penelitian ini, fokus ditujukan
pada Jeep Lavar Tour Merapi sebagai destinasi wisata tertentu. Meskipun berbeda dengan
Desa Wisata Hijau Bilebante, namun temuan yang mengindikasikan pengaruh positif kualitas
pelayanan terhadap minat kunjung wisatawan tetap relevan. Hal ini menunjukkan bahwa
aspek-aspek kualitas pelayanan, seperti keramahan staf, kenyamanan fasilitas, keamanan
perjalanan, dan kejelasan informasi, tetap menjadi faktor kunci dalam menarik minat kunjung
wisatawan di berbagai jenis destinasi wisata Oleh karena itu, Dalam penelitian ini, ditemukan
bahwa kualitas layanan dan motivasi memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan
minat kunjung wisatawan pada Jeep Lavar Tour Merapi. Dua faktor ini secara signifikan
memengaruhi keputusan wisatawan untuk mengunjungi destinasi wisata tersebut. Kualitas
layanan yang diberikan oleh penyedia jasa wisata seperti Jeep Lavar Tour Merapi memiliki
dampak yang signifikan terhadap minat kunjung wisatawan. Hal ini menunjukkan bahwa
ketika wisatawan merasa puas dengan kualitas layanan yang mereka terima, mereka
cenderung lebih tertarik untuk mengunjungi tempat wisata tersebut lagi di masa depan.
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kualitas layanan, seperti kemudahan proses
reservasi, keramahan staf, kenyamanan fasilitas, dan keamanan perjalanan, semuanya
memainkan peran dalam membentuk persepsi positif wisatawan terhadap destinasi wisata.
Selain itu, motivasi juga terbukti menjadi faktor yang signifikan dalam menentukan minat
kunjung wisatawan. Motivasi adalah dorongan internal atau eksternal yang mendorong
seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau perilaku tertentu, dalam konteks ini,
berkunjung ke Jeep Lavar Tour Merapi. Motivasi wisatawan dapat bervariasi, mulai dari
motivasi intrinsik seperti keinginan untuk mencari pengalaman baru atau mengeksplorasi
alam, hingga motivasi ekstrinsik seperti tekanan dari teman atau keluarga untuk melakukan
perjalanan. Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat motivasi wisatawan,
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 65-73
E-ISSN: 3047-2288
72
Doni Pratama et.al (Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Motivasi….)
semakin tinggi pula minat mereka untuk mengunjungi destinasi wisata tertentu. Faktor-faktor
yang dapat meningkatkan motivasi wisatawan, seperti promosi yang efektif, testimoni positif
dari wisatawan sebelumnya, dan adanya daya tarik unik dari tempat wisata itu sendiri,
semuanya dapat mempengaruhi keputusan wisatawan untuk memilih Jeep Lavar Tour
Merapi sebagai destinasi perjalanan mereka.
4. Kesimpulan
Penelitian ini berfokus pada Jeep Lava Tour Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta
sebagai atraksi wisata yang menarik. Dalam analisis gambaran umum lava tour, terlihat bahwa
wisatawan dapat diajak untuk melihat secara langsung kerusakan akibat bencana tersebut.
wisatawan memiliki kesempatan untuk menyaksikan secara dekat material yang tersisa dari
letusan gunung merapi serta mengunjungi bunker tempat dua relawan kehilangan nyawa
sebagai tempat perlindungan. Aktivitas atraksi wisata ini dapat membantu wisatawan untuk
memahami betapa dahsyatnya letusan Gunung Merapi. Dalam karakteristik responden terlihat
mayoritas pengunjung Jeep Lava Tour Merapi adalah laki-laki, mencapai 72%, umur 21-40
tahun, mencapai 88% dan pelajar/mahasiswa, sebanyak 30%. Profil ini memberi pemahaman
awal bahwa atraksi wisata ini lebih diminati oleh pengunjung dengan jenis kelamin laki-laki,
yang berusia 21-40 tahun dan paling banyak diminati oleh pelajar/mahasiswa.
Uji validitas dan reliabilitas menegaskan kualitas data yang baik, dan hasil regresi
sederhana membuktikan adanya pengaruh signigikan antara kualitas layanan dan motivasi
terhadap minat kunjung wisatawan, dengan koefisien determinasi sebesar 29,7%. hasil uji F
juga menyatakan bahwa variabel kualitas pelayanan (𝑋1) dan motivasi (𝑋2) secara bersama-
sama berpengaruh signifikan terhadap minat kunjung (Y) pada jeep Lava Tour Merapi.
Dengan demikian, keseluruhan analisis dan uji yang dilakukan pada penelitian ini
menegaskan bahwa kualitas layanan dan motivasi menjadi faktor yang berperan penting
dalam membentuk minat kunjung wisatawan di jeep Lava Tour Merapi.
5. Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam
penyusunan artikel ilimah ini. Untuk itu penulis sampaikan rasa terimakasih kepada:
a. Bapak Dr. Suhendroyono, SH., MM., M.Par., CHE., CGSP selaku Ketua dari Sekolah
Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta.
b. Bapak Dr. Moch. Nur Syamsu, S.Pt., M.Par., CHE., CGSP selaku Kaprodi S1
Pariwisata.
c. Pihak Pengelola Jeep Lava Tour Merapi yang telah memberikan ijin untuk melakukan
penelitian Artikel Ilmiah
d. Kedua orang tua dan keluarga lainya telah memberikan dukungan moral serta semangat
dalam penulisan Artikel Ilmiah
Penulis menyadari bahwa artikel ilmiah yang dibuat masih belum mencapai tingkat
kesempurnaan yang diharapkan. Karena itu, penulis berharap untuk mendapatkan masukan yang
membantu dalam meningkatkan kualitas artikel tersebut.
6. Daftar Pustaka
Apriliawati, D. (2020). Diary Study sebagai Metode Pengumpulan Data pada Riset Kuantitatif:
Sebuah Literature Review. Journal of Psychological Perspective, 2(2), 79–89.
Badu, A., & Batinggi. (2011). Manajemen Pelayanan Publik. Yogyakarta: CV Andi Ofset.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 65-73
E-ISSN: 3047-2288
73
Doni Pratama et.al (Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Motivasi….)
Bellinda Sofia Nuraeni. (2014). Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Kunjungan
Ulang Wisatawan Wisatawan Museum Ranggawarsita Semarang. Jurnal Bisnis Strategi,
23(1), 1–20.
Chotimah, S., & Wahyudi, H. D. (2019). Pengaruh Perceived Value Terhadap Revisit
Intention: Mediasi Customer Satisfaction Pada Pengunjung Jawa Timur Park 1 Batu.
Jurnal Ekonomi Bisnis, 24(1), 1–11.
Dinas Pariwisata Yogyakarta. (2021). Jumlah Wisatawan Mancanegara dan Wisatawan
domestik yang Berkunjung ke Ekowisata Lava Tour Merapi Tahun 2016-2020. Dispar
Yogyakarta. https://pariwisata.jogjakota.go.id/
Google Maps. (2024, Maret 30). Peta lokasi Lava Tour Merapi. Google Maps.
Izzatun, R., Dewi, W., & Ayu, G. (2021). Analisis Pariwisata Lereng Gunung Merapi di
Kecamatan Cangkringan Sleman Yogyakarta. Jurnal Geografi, 3(1), 1–18.
Kementrian Pariwisata. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009.
Tentang Kepariwisataan.
Masithoh, D., & Widiartanto, &. (2020). Pengaruh Perceived Quality dan Perceived Value
terhadap Revisit Intention Melalui Satisfaction Sebagai Variabel Intervening (Studi pada
Pengunjung Destinasi Wisata Museum Kretek Kudus). Jurnal Administrasi Bisnis, 9(4),
617–625.
Pradyka, A. S. (2018). Pengaruh Kualitas Pengalaman Terhadap Niat Berkunjung Kembali
dengan Citra Destinasi Sebagai Variabel Mediasi (Studi Pada Kampung Glitung Go
Green di Kota Malang). Jurnal Manajemen, 6(2), 110–119.
Prasetyo, A. Y. (2019). Pengantar Destinasi Pariwisata. Yogyakarta: CV Andi Ofset.
Ratminto, & Winarsih, A. S. (2012). Manajemen Pelayanan: Pengembangan Model
Konseptual, Penerapan Citizen’s Charter dan Standar Pelayanan Minimal. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Riadi, D., Permadi, L. A., & Retnowati, W. (2023). Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap
Minat Berkunjung Kembali Ke Desa Wisata Hijau Bilebante yang di Mediasi Oleh
Kepuasan Wisatawan. Jurnal Riset Pemasaran, 2(2), 38–49.
Setyanto, I., & Pangestuti, E. (2019). Pengaruh Komponen Destinasi Wisata (4A) Terhadap
Kepuasan Pengunjung Pantai Gemah Tulungagung. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)
72(1), 157–167.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Viet, B. N., Dang, H. P., & Nguyen, H. H. (2020). Revisit intention and satisfaction: The role
of destination image, perceived risk, and cultural contact. Journal Cogent Business &
Management, 7(1), 179–195.
Wiradipoetra, F. A., & Brahmanto, E. (2016). Analisis Persepsi Wisatawan Menganai
Penuruan Kualitas Daya Tarik Terhadap Minat Berkunjung. Jurnal Pariwisata, 3(2),
129–137.