PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
74
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan Terhadap
Minat Berkunjung Kembali di Lawang Sewu
Semarang
Nico Surya Ardana
a,1
, Andhika Djalu Sembada
b,2
, Deni Dwi Ananti
c,3
a,b,c
Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta, Indonesia
1
nicosuryaardana@gmail.com;
2
andhikadjalu@stipram.ac.id,
3
denidwiananti@stipram.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 27 Januari 2024
Direvisi: 13 Maret 2024
Disetujui: 16 Mei 2024
Tersedia Daring: 1 Juni 2024
Studi ini memiliki tujuan untuk menganalisis dan mengetahui hubungan
pengalaman pengunjung dan kepuasan pengunjung dengan minat
berkunjung kembali wisatawan di Lawang Sewu. Teknik mengumpulkan
data dengan cara study kepustakaan, observasi dan penyebaran kuesioner.
Untuk Teknik analisis data menggunakan uji validitas dan reabilitas,
kemudian pengujian hipotesis menggunakan uji korelasi rank spearman.
Hasil analisis ditemukan bahwa pengalaman pengunjung memiliki
hubungan yang signifikan dengan hubungan yang dikategorikan kuat
karena memiliki nilai correlation corefficient sebesar 0,589 dan memiliki
arah hubungan yang positif dengan minat berkunjung kembali wisatawan.
Kemudian kepuasan pengunjung memiliki hubungan yang signifikan juga
dengan hubungan yang dikategorikan kuat karena memiliki nilai
correlation corefficient sebesar 0,742 dan memiliki arah hubungan yang
positif dengan minat berkunjung kembali wisatawan di Lawang Sewu.
Kata Kunci:
Kepuasan Pengunjung
Minat Berkunjung
Wisatawan
Pengalaman Pengunjung
ABSTRACT
Keywords:
Tourist Revisit Interes
Visitor Experience
Visitor Satisfaction
This study aims to determine and analyze the relationship between visitor
experience and visitor satisfaction with tourist revisit interest in Lawang
Sewu. Data collection techniques through observation, literature study and
questionnaire distribution. For data analysis techniques using validity and
reliability tests, then hypothesis testing using the spearman rank correlation
test. The results of the analysis found that visitor experience has a significant
relationship with a relationship that is categorized as strong because it has a
correlation corefficient value of 0.589 and has a positive direction of
relationship with tourist revisit interest. Then visitor satisfaction has a
significant relationship as well with a relationship that is categorized as
strong because it has a correlation corefficient value of 0.742 and has a
positive direction of relationship with tourist revisit interest in Lawang
Sewu.
©2024, Nico Surya Ardana, Andhika Djalu Sembada, Deni Dwi Ananti
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Menyinggung terkait wisata, hal demikian bisa dilabeli sebagai wujud kegiatan perjalanan
yang dilangsungkan tidak hanya seorang individu tapi bisa juga sekelompok orang dengan
menyambangi suatu objek atau tempat untuk kepentingan rekreasi. Ataupun bisa juga
mengarah pada unsur pengembangan secara pribadi atau menitikberatkan pada unsur
pembelajaran terkait daya tarik wisata karena ada nilai unik yang disambangi dalam waktu
temporal atau sementara. Sementara konteks pariwisata di sini mengacu pada sejumlah
tindakan berwisata yang dibekali oleh sejumlah faktor pendukung dengan melibatkan aneka
fasilitas sekaligus layanan yang memang sengaja diperuntukkan bagi masyarakat secara
meluas atau bisa juga terkait dengan para pengusaha sampai ranah pemerintah pusat dan
daerah yang bersangkutan di dalamnya. Dengan adanya pariwisata ini memiliki korelasi kuat
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
75
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
dengan yang namanya sifat manusia sebagai makhluk sosial, yang dimana seorang individu
membutuhkan pariwisata sebagai sarana untuk mengekspresikan diri mereka. Pariwisata juga
merupakan salah satu sumber pendapat devisa terbesar negara yang mana menurut data dari
(Kemenparekraf) mencapai Rp1.236 triliun pada tahun 2022, tidak hanya itu pada tahun yang
sama tercatat mengalami peningkatan dari segi estimasi angka perihal kunjungan para
wisatawan yang berlabel mancanegara dan mengarah pada kuantitas atas pergerakan
wisatawan yang berasal dari wilayah lokal atau Nusantara. Setidaknya tercatat 4,58 juta
kunjungan wisatawan yang berasal dari mancanegara sementara sebanyak 633 juta per
akumulasi dari aspek pergerakan wisatawan berbasis lokalnya.
Angka-angka tersebut tidak akan bisa terwujud tanpa integritas kinerja yang senada dari
semua aspek yang terlibat, terutama masyarakat/pelaku pariwisata kreatif yang terlibat
langsung dengan wisatawan baik itu wisman ataupun wisnu. Dengan meningkatkan fasilitas
pariwisata dan juga pelayanan yang memberikan efek memuaskan akan memiliki konsekuensi
berupa keputusan oleh para wisatawan melakukan suatu kunjungan secara berulang ke
destinasi tersebut. Lawang Sewu merupakan salah satu bangunan peninggalan dari kolonial
Belanda yang dibangun pada tahun 1900an yang terletak pada pusat kota Semarang. Bangunan
ini dulunya adalah kantor administrasi kereta api Belanda bernama Nederlandsch-Indische
Spoorweg Maatschappij (NIS). Selepas melewati renovasi sekaligus pemugaran sekarang ini
Lawang Sewu beralih fungsi jadi museum yang menghadirkan sejumlah kumpulan cukup
kompleks dengan keterkaitannya akan bidang perkeretaapian. Koleksi yang tersuguh berawal
dari seragam masinis, kemudian ada perangkat komunikasi seperti halnya telepon kayu atau
telegraf, berlanjut ke lemari karcis edmondson, hingga mesin cetak tunggal untuk kepentingan
pengadaan karcis kereta, alat kalkulasi friden, sampai perwujudan dari karcis kereta kuno dan
lain yang masih banyak lagi. Adapun jam operasionalnya dibuka dari pukul 08.00 WIB sampai
17.00 WIB dan untuk konteks hari libur dibuka dengan jam yang sama namun untuk tutupnya
lebih lama yakni pukul 20.00 WIB (Firhannusa, 2022).
Lawang Sewu juga menjadi destinasi yang memiliki daya tarik tersendiri dan mempunyai
label favorit di Kota Semarang. Tidak bisa dipungkiri bahwa bangunan dengan nuansa sejarah
tersebut menjadi landmark yang lekat dengan Semarang di mana penonjolan terletak di daerah
Tugu Muda yang memiliki peran krusial dalam pembentukan citra atas lingkungan setempat.
Diberikan label dengan penamaan Lawang Sewu atau pintu seribu tentu tidak lepas dari
representasi di dalamnya karena terdapat banyak sekali pintu sekaligus busur yang memberi
kesan seolah tempat tersebut mempunyai beragam rongga. Sementara itu, daya tarik Lawang
Sewu tentu tidak lepas dari sejumlah komponen pariwisata yang memberikan efek mendukung
di dalamnya (Herman Novry Kristiansen Paninggiran, 2020). Salah satu harapan yang dicari
oleh wisatawan setelah memutuskan untuk melakukan kegiatan wisata adalah pengalaman
yang dapat memuaskan kegelisahan yang dirasakan wisataan tersebut. Dengan melakukan
kegiatan wisata terdapat 2 kemungkinan bahwa wisatawan akan mendapatkan pengalaman
yang positif maupun negatif, hal ini bergantung kepada apa yang didapatkan wisatawan
selama mereka berada di destinasi pariwisata dan juga setelah mereka meninggalkan destinasi
tersebut.
Jika wisatawan mendapatkan pengalaman yang positif maka selama berada di destinasi
wisata mereka menerima pelayanan yang baik dan juga harapan mereka terpenuhi ketika
berkunjung ke destinasi tersebut. Wisatawan akan mempunyai harapan atau ekspetasi yang
mereka dapatkan setelah mereka melihat profil destinasi dan juga review dari para pengunjung
sebelumnya, dengan terpenuhnya ekspetasi wisatawan maka pengelola destinasi wisata
tersebut menjalankan tugas mereka dengan baik dengan menjaga kualitas dan standar
pelayanan yang dapat memuaskan wisatawan. Namun ketika harapan wisatawan tidak
terpenuhi maka pengelola destinasi tersebut harus melakukan evaluasi secara menyeluruh apa
penyebab dari ketidakpuasan yang timbul pada wisatawan tersebut, apakah dari segi fasilitas
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
76
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
atau atraksi yang dinilai tidak bagus dan bisa juga dari segi pelayanan yang kurang ramah.
Perilaku konsumen (wisatawan) juga menentukan bagaimana pengalaman dan kepuasan
wisatawan dapat dilihat dan di analisis.
Pengertian perilaku konsumen menurut Schiffman and Kanuk yang dikutip dari buku
Pemasaran Pariwisata Pendekatan Perilaku Wisatawan (Bafadhal, 2020) ialah perwujudan dari
perilaku yang memang menjadi pusat perhatian atas pihak konsumen dalam kepentingan
pembelian dan pencarian sekaligus penggunaan dan tidak lupa pengevaluasian bahkan
pengabaian suatu produk maupun jasa atau bisa juga bertalian dengan ide yang didambakan
bisa menghadirkan rasa puas para konsumen untuk menjawab sejumlah kebutuhan dengan
melakukan pola pengkonsumsian atas penawaran produk maupun jasa yang diperolehnya.
Menurut pengertian perilaku konsumen yang sudah dijelaskan, dapat diketahui bahwa
konsumen (wisatawan) akan mengevaluasi bagaimana mereka mendapatkan pelayanan dan
bagaimana mereka mendapatkan pengalaman dari kegiatan wisata selama di destinasi wisata
serta tingkat kepuasan yang pada akhirnya akan menciptakan 2 opsi yang mana mereka akan
kembali ke destinasi tersebut atau tidak.
Tujuan riset ini secara spesifik yakni melangsungkan skema pengidentifikasian perihal
sejumlah faktor dalam pengalaman dan kepuasan pengunjung yang mendatangkan pengaruh
atas persepsi mereka pada destinasi wisata Lawang Sewu. Serta untuk mengetahui dan
menganalisis hubungan antara pengalaman pengunjung dan kepuasan pengunjung dengan
minat berkunjung kembali wisatawan di Lawang Sewu. Menurut (Agustiani, 2021) dalam
buku yang berjudul Kajian Pengalaman Wisatawan pada Kunjungan Wisata Perdesaan
mengungkapkan bahwa pengalaman wisatawan terdiri dari perilaku, persepsi, kognisi dan
emosi baik yang diekspresikan maupun yang tertanam dalam diri wisatawan. Mengacu
keterangan Walter, seperti yang terkutip dari (Yeni Yuniawati, 2016), dijelaskan jika yang
dimaksud pengalaman pengunjung atau customer experience bisa diberikan label definisi
sebagai pengalaman yang diperoleh pihak pelanggan baik langsung ataupun tak langsung
dengan mekanisme berupa sejumlah proses mulai dari layanan kemudian fasilitas yang
diperoleh sampai bagaimana cara orang tersebut melakukan interaksi dengan melibatkan pihak
perusahaan tertentu dan konsumen lain. Mengacu gagasan ahli, Kotler dan Keller yang
dikutip dari (Aria Mulyapradana, 2020) kepuasaan yakni perasaan yang dialami oleh seorang
individu sebagai konsekuensi atas timbulnya pola komparasi kinerja yang menjadi produk
hasil atas persepsi dan ekspektasi yang mendekam dalam benak mereka.
(Nasution, 2004) menyampaikan bahwasanya rasa puas oleh para pelanggan menjadi
komponen evaluasi yang mana hal ini lekat dengan alternatif untuk menentukan hasil yang
sama atau bisa melampaui ekspektasi para pelanggan sementara rasa puas bisa terjadi ketika
hasil yang didapatkannya tidak sejalan dengan pengharapan para pelanggan. Menurut
Yuliarmi dan Riyasa yang dikutip dari (Aria Mulyaprada, 2020) rasa puas yang dirasakan
pihak pelanggan sebenarnya bisa dilakukan skema ukur dengan melibatkan sejumlah indikator
spesifik ini:
1. Adanya kesesuaian terkait kualitas layanan dengan derajat pengharapan alias ekspektasi.
2. Derajat rasa puas saat dilangsungkan komparasi dengan sejenisnya.
3. Tidak mencakup aduan atau semacam complain yang diberikan.
Menurut (Tumbel, 2016) terdapat sejumlah indikator atas minat bisa teridentifikasi
dengan melibatkan beberapa hal krusial ini:
1. Minat secara transaksional, di mana hal ini kaitannya dengan tendensi seorang individu
dalam melangsungkan pembelian produk tertentu.
2. Minat dari segi refrensial, menjurus pada tendensi seorang individu dalam kaitannya
melakukan tindakan referensi produk kepada pihak lain.
3. Minat dari perspektif preferensial, kaitannya dengan penggambaran perilaku individu
yang di dalamnya mengantongi preferensi pokok produk tertentu.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
77
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
4. Minat secara eksploratif, terkait dengan penggambaran perilaku individu dalam
melangsungkan pencarian atas sejumlah informasi terkait produk yang diminati untuk
kemudian memberikan dukungan atas sejumlah sifat positif produk demikian.
Pada dasarnya ada sejumlah faktor yang menjadi alasan minat beli para konsumen
terbentuk menurut (Widagdyo, 2017), meliputi:
1. Bertalian dengan sikap orang lain, di mana hal tersebut mempunyai alternatif dalam
urusan mengikis hal yang sebenarnya disukai oleh seorang individu tapi karena hal
tersebut bergantung pada derajat negatif orang lain terkait alternatif yang disukai
konsumen dan juga bertalian dengan motivasi maka bisa berimbas kepada tindakan
menuruti keinginan orang lain tersebut.
2. Faktor situasi yang acap kali tidak bisa diantisipasi menjurus pada suatu keadaan yang
mendapatkan efek konsekuensi berupa perubahan pendirian para konsumen yang
memiliki ketergantungan atas pemikiran apakah para konsumen ini mengantongi sejumlah
rasa percaya diri untuk melakukan putusan atas pembelian atau justru tidak melakukannya
sama sekali.
Riset yang dilakukan (Ma’rifatun, 2018) tentang Analisis Pengaruh Daya Tarik Wisata
dan Citra Destinasi Terhadap Minat Berkunjung Ulang Dengan Kepuasan Pengunjung Sebagai
Variabel Intervening (Studi Kasus Pada Pengunjung Pantai Suwuk) menegaskan kalau daya
tarik wisata mendatangkan pengaruh secara baik dan bermakna tertuju pada rasa puas oleh
para pengunjung. Temuan studi kedua bertalian dengan citra destinasi yang juga
menghadirkan pengaruh yang baik dan dan bermakna atas rasa puas para pengunjung.
Sedangkan yang ketiga dipaparkan kalau daya tarik wisata juga mendatangkan pengaruh
dengan sifat yang positif dan signifikan tertuju pada minat berkunjung secara berulang.
Keempat ialah citra destinasi mendatangkan pengaruh dengan sifat yang signifikan dan positif
atas minat berkunjung dengan sistematika yang berulang dan yang terakhir menyampaikan
kalau rasa puas pengunjung menghadirkan pengaruh dengan sifat yang bermakna dan baik
pada minat berkunjung dengan mekanisme yang berulang.
(Maharani, 2019) Pengaruh Daya Tarik Wisata dan Citra Destinasi Terhadap Minat
Berkunjung Ulang Dengan Kepuasan Pengunjung Sebagai Variabel Intervening (Studi pada
Objek Wisata Villa Gardenia Lampung). Temuan dalam riset tersebut menerangkan kalau
variabel daya tarik menghadirkan pengaruh dengan sifat yang signifikan pada rasa puas para
pengunjung. Sedangkan untuk variabel citra destinasi juga mendatangkan pengaruh dengan
sifat yang signifikan pada rasa puas para pengunjungnya. Selanjutnya mengarah pada variabel
daya tarik wisata yang memiliki pengaruh dengan kategori signifikan pada minat berkunjung
dengan mekanisme berulang. Lalu variabel untuk citra destinasi yang justru tidak
mendatangkan pengaruh dengan sifat yang signifikan atas minat berkunjung secara berulang.
Kemudian terkait kepuasan pengunjung nampaknya mendatangkan pengaruh dengan sifat
signifikan pada minat berkunjung secara berulang. Lalu yang terakhir perihal variabel daya
tarik wisata menjadikan citra destinasi atas minat berkunjung secara berulang yang justru tidak
mendatangkan pengaruh dengan sifat signifikan pada rasa puas para pengunjung yang mana
hal ini menjadi variabel intervening. Menurut (Hanif, 2016) Pengaruh Citra Destinasi
Terhadap Kepuasan Wisatawan Serta Dampaknya Terhadap Loyalitas Wisatawan (Studi pada
Wisatawan Nusantara yang Berkunjung ke Kota Batu) Temuan dalam riset tersebut
membuktikan kalau variabel citra destinasi mendatangkan pengaruh dengan sifat yang
signifikan pada variabel rasa puas parawisatawan. Kemudian terkait citra destinasi yang juga
mendatangkan pengaruh dengan sifat signifikan pada loyalitas para wisatawan.
Pendapat (Sari, 2018) Pengaruh Citra Destinasi, Daya Tarik Wisata, Electronics Word of
Mouth terhadap Kepuasan Berkunjung melalui Keputusan Berkunjung (Studi pada Tlogo
Resort dan Goa Rong View Tuntan. Temuan dalam riset tersebut menerangkan kalau ada
pengaruh secara signifikan dan juga bersifat positif pada variabel citra destinasi, kemudian
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
78
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
kaitannya dengan daya tarik wisata, lalu ada korelasi dengan electronics word of mouth atas
pengaruh yang nampaknya tidak langsung dengan sasarannya yakni rasa puas para pengunjung
melalui putusan untuk melakukan kunjungan.
Menurut (R. Setiawan, 2019) Analisis Pengalaman Wisatawan Melalui Nilai yang
Dirasakan Terhadap Keputusan Pembelian Pada Makanan Lokal Kota Semarang. Hasil
pengujian menunjukkan bahwa nilai hadiah dipengaruhi secara positif oleh pengalaman
wisata, dan bahwa nilai-nilai nostalgia dan ikonik secara positif mempengaruhi keputusan
untuk membeli makanan lokal di Kota Semarang. Namun, keputusan untuk membeli tidak
terpengaruh oleh nilai hadiah. Nurinda Rahmawati, (2019) Analisis Nilai Pelanggan Dan
Pengalaman Pelanggan terhadap Kepercayaan Pelanggan Wisata Kuliner Selamat Toserba
Sukabumi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak customer experience dan value
terhadap kepercayaan pelanggan di Selamat Toserba Sukabumi Wisata Kuliner. Dengan
menggunakan uji koefisien determinasi, temuan penelitian mengungkapkan nilai (Adjuster R2)
sebesar 0,437, menunjukkan bahwa 43,7% pengaruh pengalaman pelanggan terhadap
kepercayaan pelanggan disebabkan oleh faktor yang tidak diteliti, sedangkan 56,3%
disebabkan oleh pengaruh lain. Selanjutnya, hasil uji koefisien korelasi ganda menunjukkan
adanya hubungan substansial antara pengalaman pelanggan dan kepercayaan pelanggan,
dengan nilai R sebesar 0,669. Kesimpulannya, kepercayaan pelanggan dipengaruhi secara
positif dan signifikan oleh nilai pelanggan dan pengalaman pelanggan.
2. Metode
a) Metode Penelitian
Riset ini mengedepankan metode berbasis kuantitatif dengan melewati sejumlah mekanisme
yakni survei dengan pendekatan yang terbilang deskriptif dan asosiatif. Perlu dijelaskan kalau
metode berbasis kuantitatif menjurus pada serangkaian prosedur riset yang melibatkan data
dengan perwujudan angka atau data-data khusus yang memang harus di alis kan ke perwujudan
angka. Metode ini menjadi ranah ilmiah karena di dalamnya mencakup sejumlah kaidah
keilmiahan.
b) Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yaitu data dapat
dinyatakan dalam bentuk angka-angka yang dapat dihitung. Dalam penelitian ini yang termasuk
dalam data kuantitatif adalah data wisatawan. Data kualitatif yaitu data yang tidak dapat
dinyatakan dalam bentuk angka-angka. Dalam penelitian ini yang termasuk data kualitatif adalah
lokasi penelitian, struktur organisasi dan gambaran umum obyek wisata serta data lainnya yang
menunjang penelitian ini.
c) Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data yang dikumpulkan dari sumber berikut :
1. Data primer, adalah data yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan penelitian yang
sedang ditangani. Data ini dikumpulkan secara langsung dari lapangan, yang diperoleh
dengan cara melakukan pengamatan, survei serta wawancara atau memberi daftar
pertanyaan yaitu mengenai daya Tarik wisatawan dan citra destinasi terhadap kepuasan
wisatawan dan minat berkunjung ulang.
2. Data sekunder yaitu informasi yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara
(diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Data sekunder tersusun dalam arsip yang
dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan.
d) Teknik Pengumpulan Data
Mekanisme penghimpunan di atas sekaligus keterangan yang dibutuhkan dalam kepentingan
penyusunan riset menjadikan pihak peneliti melibatkan sejumlah teknik khusus yakni:
1. Observasi diupayakan dengan melewati mekanisme pengamatan atas objek riset contohnya
memperhatikan dengan betul sejumlah tingkah laku para wisatawan atau langsung
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
79
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
berkunjung ke tempat destinasi yang telah diputuskan, bisa juga mengkaji lokasi kunjungan
wisatawan dan lainnya sejalan dengan perumusan masalah yang terpapar pada poin di awal.
2. Selanjutnya teknik studi kepustakaan yang diupayakan dengan mekanisme pembelajaran
aspek literatur yang memang sudah tersedia mulai dari jurnal berbasis keilmiahan atau buku
literatur terkait hingga laporan yang di dalamnya mempunyai urgensi masalah sejalan
dengan topik riset hingga beberapa majalah atau buletin dari lokasi wisata yang telah
ditetapkan untuk kepentingan studi keilmiahan tersebut.
3. Selanjutnya teknik kuesioner yang mengacu pada teknik penghimpunan data dengan
mekanisme pemberian sejumlah pertanyaan dan juga kalimat pernyataan secara tertulis
kepada para responden untuk kemudian diberikan feedback berupa jawaban. Teknik ini
terbilang cukup efektif karena pihak peneliti bisa lebih mudah memahami kaitannya
variabel yang dikaji dengan pengharapan dari pihak respondennya.
e) Teknik Analisis Data
Analisis Deskriptif, maksud dari penganalisisan deskriptif di sini yakni mengarah pada
prosedur pencatatan untuk merefleksikan kondisi objek dengan realitas sebenarnya. Sedangkan
tujuan yang hendak dicapai dari keterlibatan teknik penganalisisan deskriptif ialah mengerahkan
segenap upaya untuk riset bisa terefleksi dengan sistematis maupun terstruktur sehingga
keakuratannya bisa dipertanggungjawabkan.
Korelasi rank spearman digunakan untuk mencari tingkat hubungan atau menguji
signifikansi hipotesis bila masing-masing variabel yang dihubungkan dalam bentuk ordinal atau
salah satu variabel tidak memenuhi syarat nilai asusmsi klasik yaitu uji normalitas. (Sugiyono,
2016)
Tujuan analisis korelasi rank spearman secara umum adalah:
a. Melihat tingkat kekuatan (keeratan) hubungan dua variabel
b. Melihat arah (jenis) hubungan dua variabel
c. Melihat apakah hubungan tersebut signifikan atau tidak
Dalam menentukan tingkat kekuatan hubungan antar variabel, dapat berpedoman pada nilai
output SPSS, dengan ketentuan umum sebagai berikut:
a. Nilai koefisien korelasi 0,00-0,25 = hubungan sangat lemah
b. Nilai koefisien korelasi 0,26-0,50 = hubungan cukup kuat
c. Nilai koefisien korelasi 0,51-0,75 = hubungan kuat
d. Nilai koefisien korelasi 0,76-0,99 = hubungan sangat kuat
e. Nilai koefisien korelasi sebesar 1,00 = hubungan sempurna
Arah korelasi ditentukan dari besarnya nilai koefisien korelasi tersebut terletak antara +1
sampai -1. Jika koefisien korelasi tersebut bersifat positif atau bernilai positif, maka hubungan
antara kedua variabel dikatakan searah dengan maksud jika variabel x meningkat maka variabel
y juga akan ikut meningkat, sebaliknya jika nilai koefisien korelasi negatif maka dapat
dinyatakan bahwa hubungan kedua variabel tidak seaarah dengan artian bahwa jika variabel x
meningkat maka variabel y menurun.
Kekuatan dan arah korelasi (hubungan) akan mempunyai arti jika hubungan antar variabel
tersebut bernilai signifikan. Dikatakan ada hubungan yang signifikan, jika nilai Sig (2-tailed)
hasil perhitungan lebih kecil dari 0,05 atau 0,01. Sementara jika nilai Sig (2-tailed) lebih besar
dari nilai 0,05 atau 0,01 maka hubungan antar variabel tersebut tidak signifikan atau tidak
berarti.
3. Hasil dan Pembahasan
A. Hasil Penelitian
Studi ini memiliki tujuan untuk menguji sejauh mana pengalaman dan kepuasan wisatawan
memengaruhi minat berkunjung ulang di Lawang Sewu Semarang. Proses mengumpul data
dengan menyebar kuesioner pada pelancong yang sedang melakukan kunjungan dan juga
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
80
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
wisatawan yang sudah pernah berkunjung ke Lawang Sewu Semarang yang lokasinya tepat di Jl.
Pemuda No.160, Sekayu, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50132.
Jumlah wisatawan pada tahun 2022 mencapai 516.307 orang, data ini diambil dari situs
Disporapar Jawa Tengah tahun 2022. Dengan total orang yang berwisata yang tidak sedikit
sehingga rumus solvin dipakai untuk penelitian ini dengan total responden yang didapatkan
adalah 100 orang responden. Setelah jumlah pasti responden didapatkan maka selanjutnya
adalah disebarkan kuesioner kepada orang berwisata dan sedang melakukan kunjungan dan juga
yang sebelumnya sudah pernah datang ke Lawang Sewu, wisatawan mengisi kuesioner dengan
benar dan apa adanya, kemudian setelah kuesioner tersebut terisi semua maka dikumpulkan
kembali dan siap untuk dilakukan pengolahan data menggunakan program SPSS relese 23.
a. Deskripsi Profil Responden
Hal terpenting dalam kuesioner adalah adanya profil responden, yang dimana profil tersebut
dapat membantu untuk menganalisa latar belakang wisatawan. Klasifikasi identitas responden
sesuai dengan umur, jenis kelamin, pekerjaan, penghasilan dan jumlah kunjungan (frekuensi
berkunjung) dengan rincian sebagai berikut:
Gambaran responden sesuai dengan Jenis Kelamin
Gambaran ini memberi informasi responden apakah berjenis kelamin perempuan atau laki-
laki dengan uraian pada tabel berikut:
Tabel 1 (Deskripsi Responden Menurut Jenis Kelamin)
No
Jenis Kelamin
Frekuensi
1
Perempuan
51
2
Laki-laki
49
Total Responden
100
Sumber: Olah Data SPSS, 2024
Tabel 1 yaitu gambaran responden sesuai dengan jenis kelamin menunjukan orang yang
berwisata ke Lawang Sewu didominasi oleh perempuan dengan 51 orang sedangkan laki-laki
berjumlah 49 orang yang berwisata.
Gambaran responden Sesuai dengan umur
Gambaran ini memberi informasi responden dilihat dari level umur dapat dengan rincian
pada tabel berikut:
Tabel 2 (Deskripsi Responden Menurut Usia)
Sumber: Olah Data SPSS, 2024
Tabel 2 yaitu gambaran umur responden, yang menunjukan rentang umur 20 30 tahun
merupakan usia wisatawan terbesar dengan jumlah 56 orang, dilanjut dengan umur < 20 tahun
dengan jumlah 21 orang, 31 40 tahun dengan 12 orang, 41 50 berjumlah 7 orang, dan juga >
50 tahun berjumlah 4 orang. Dapat dikatakan bahwa umur 20 30 tahun merupakan rentan usia
yang dimana individunya senang dan semangat dalam melakukan kegiatan wisata. Lawang Sewu
juga merupakan wisata edukasi yang cocok untuk pelajar/mahasiswa.
Gambaran responden berdasarkan pekerjaan
Gambaran pekerjaan memberi informasi jenis pekerjaan responden yang dirincikan pada
tabel berikut:
Nomer
Kelompok Usia
Frekuensi
%
1
> 50 Tahun
4
4,0
2
41 50 Tahun
7
7,0
3
31 40 Tahun
12
12,0
4
20 30 Tahun
56
56,0
5
< 20 Tahun
21
21,0
Total Responden
100
100,0
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
81
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
Tabel 3 (Deskripsi Responden Menurut Pekerjaan)
No
Jenis Pekerjaaan
Frekuensi
%
1
Seniman
1
1,0
2
Ibu rumah tangga
2
2,0
3
Karyawan swasta
32
32,0
4
Pegawai negeri sipil
12
12,0
5
Wiraswasta
11
11,0
6
Pelajar / Mahasiswa
42
42,0
Total Responden
100
100.0
Sumber: Olah Data SPSS, 2024
Tabel 3 berisi tentang gambaran responden sesuai dengan macam pekerjaan pengunjung di
Lawang Sewu yang didominasi oleh Pelajar/Mahasiswa sebanyak 42 orang, kemudian disusul
oleh Karyawan swasta dengan 32 orang. Alasan dari mengapa wisatawan didominasi oleh
Pelajar/Mahasiswa adalah karena Lawang Sewu merupakan destinasi wisata edukasi dan sejarah
yang menarik, karena itu banyak sekolah dari SMP sampai SMA melakukan kegiatan studytour
ke Lawang Sewu. Selain itu keberadaan karyawan swasta di Lawang Sewu lebih cenderung
untuk melepas penat setelah keseharian mereka, karena Lawang Sewu memiliki taman yang
rindang dan juga bangunan-bangunan yang indah untuk memanjakan mata.
Gambaran responden berdasarkan level penghasilan
Gambaran responden menurut level penghasilan memberi informasi dan gambaran
mengenai jumlah capaian penghasilan dalam waktu satu bulan ada pada tabel di bawah ini:
Tabel 4 (Deskripsi Menurut Tingkat Pendapatan Responden)
No
Pendapatan
Frekuensi
%
1
> 9 juta
1
1,0
2
7 - 9 juta
3
3,0
3
4 - 6 juta
25
25,0
4
1 - 3 juta
36
36,0
5
< 1 juta
35
35,0
Total Responden
100
100,0
Sumber: Olah Data SPSS, 2024
Tabel 4 memaparkan tentang gambaran sesuai dengan level penghasilan orang yang
bersisata ke Lawang Sewu paling banyak ada di angka 1 3 juta dengan 36 orang, kemudian
pendapatan < 1 juta ada di angka 35 orang dilanjut pendapatan 4 6 juta denngan 25 orang.
Dengan melihat data diatas diketahui bahwa rata-rata pengunjung mempunyai 1 3 juta
pendapatan dalam satu bulan.
Frekuensi berkunjung
Gambaran frekuensi berkunjung menunjukkan informasi berkaitan dengan jumlah
kunjungan wisatawan sebagai responden ke Lawang Sewu dengan rincian informasi pada tabel
berikut:
Tabel 5 (Deskripsi Responden Menurut Frekuensi Kunjungan ke Lawang Sewu)
No
Pendapatan
Frekuensi
%
1
> 8 juta
2
2,0
2
7 - 8 juta
2
2,0
3
5 - 6 juta
7
7,0
4
3 - 4 juta
25
25,0
5
1 - 2 juta
64
64,0
Total Responden
100
100,0
Sumber: Olah Data SPSS, 2024
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
82
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
Tabel 5 menunjukkan gambaran jumlah kunjungan wisatawan ke Lawang Sewu yang
mendominasi kunjungan ialah wisatawan yang pernah berkunjung dengan jumlah sebanyak 1-2
kali. Hal ini dapat dikatakan bahwa wisatawan cukup puas dengan 1-2 berkunjung ke Lawang
Sewu.
b. Gambaran Tanggapan Responden Tentang Variabel Penelitian
Gambaran respon responden mengenai pertanyaan-pertanyaan dari setiap variabel studi
yakni: Pengalaman wisatawan, Kepuasan wisatawan dan juga Minat berkunjung kembali. Dalam
penentuan nilai baik dan buruknya dilakukan perhitungan Rentang Skala yaitu:
Jumlah Skor Tertinggi Jumlah Skor Terendah
Rentang Skala =
Jumlah Kategori Yang Dibuat
5 - 1
Rentang Skala = = 0,8
5
Dengan demikian kategori skala dapat ditentukan sebagai berikut:
a. 4,21 5,00 : Sangat Baik
b. 3,41 4,20 : Baik
c. 2,61 3,40 : Cukup
d. 1,81 2,60 : Buruk
e. 1,00 1,80 : Sangat Buruk
Setelah melakukan perhitungan Rentang Skala untuk mengetahui kategori baik atau buruk.
Langkah selanjutnya adalah satu-satu menjelaskan respon atau tanggapan responden mengenai
tiap-tiap variabel dalam studi yakni Pengalaman wisatawan, Kepuasan wisatawan, dan Minat
berkunjung kembali dengan rincian penjelasan antara lain:
Gambaran respon atau Tanggapan Responden Mengenai Pengalaman Wisatawan
Pengalaman wisatawan adalah pengalaman yang diperoleh pihak konsumen secara langsung
ataupun tak langsung dengan mekanisme berupa sejumlah proses mulai dari layanan kemudian
fasilitas yang diperoleh sampai bagaimana cara orang tersebut melakukan interaksi dengan
melibatkan pihak perusahaan tertentu dan konsumen lain.
Untuk mengetahui tanggapan responden mengenai pengalaman wisatawan di Lawang Sewu
dapat dilihat melalui tabel berikut ini:
Tabel 6 (Deskripsi Tanggapan Responden Mengenai Pengalaman Wisatawan Di Lawang Sewu)
Pernyataan
Jawaban Responden
Mean
STS
TS
CS
S
SS
Saya mendapatkan
pengalaman yang bagus
ketika mengunjungi
Lawang Sewu
2
-
18
59
21
3,97
Pelayanan yang bagus
membuat saya
menikmati kunjungan di
Lawang Sewu
-
1
22
56
21
3,97
Saya sangat tertarik
dengan nilai sejarah di
Lawang Sewu
-
1
11
43
45
4,32
Banyak spot foto yang
menarik di Lawang
-
1
7
39
53
4,44
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
83
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
Sumber: Olahan data primer, 2024
Jika kita melihat tabel 6 yaitu deskripsi tanggapan responden mengenai pengalaman
wisatawan sudah dapat dikegorikan baik karena sudah masuk kedalam kriteria penentuan skor
antara 3,41 4,20. Dimana pengunjung yang mengunjungi Lawang Sewu mendapatkan
pelayanan yang bagus, sebagian besar juga sangat tertarik dengan nilai sejarah dari Lawang
Sewu, terdapat banyak spot untuk berfoto, halaman serta taman yang bagus, serta pengunjung
mendapatkan pengalaman yang bagus setelah mereka berkunjung ke Lawang Sewu.
Deskripsi Tanggapan Responden Mengenai Kepuasan Wisatawan
Kepuasan wisatawan ialah level apa yang dirasakan individu seseorang sesudah bandingkan
kinerja atau hasil yang dirasakan dengan harapanya. Pada tabel berikut disajikan tanggapan
responden tentang kepuasan wisatawan di Lawang Sewu:
Tabel 7 (Deskripsi Tanggapan Responden Mengenai Kepuasan Wisatawan Di Lawang Sewu)
Sumber: Olahan data primer, 2024
Tabel 7 ialah respon atau tanggapan responden terhadap variabel kepuasan wisatawan yang
sedang berkunjung atau sudah pernah berkunjung ke Lawang Sewu. Untuk penentuan skor
dikatakan sudah bagus sebab ukuran dasar penilaian untuk menentukan skor ada pada rentang
nilai 3,41 4,20. Kondisi tersebut bisa dinyatakan bahwa kepuasan wisatawan disebabkan
karena sebagian besar harapan wisatawan terpenuhi, bisa dilihat dari pelayanan yang diterima
oleh wisatawan sesuai dengan apa yang mereka bayarkan. Kemudian lokasi yang mudah
dijangkau karena tepat di pusat kota Semarang, namun untuk parkir kendaraan besar seperti bus
harus dialihkan ke tempat yang berbeda tapi jangan khawatir karena wisatawan akan di turunkan
tepat di depan Lawang Sewu.
Sewu
Halaman yang luas dan
taman yang indah
memberikan pengalaman
yang menyenangkan
untuk saya
-
-
10
60
30
4,20
Rata-rata skor jawaban responden
4,18
Pernyataan
Jawaban Responden
Mean
STS
TS
CS
S
SS
Saya merasa puas
dengan pelayanan yang
diberikan
-
2
25
59
14
3,85
Saya merasa puas
dengan fasilitas pendukung
yang disediakan
-
1
22
62
16
3,93
Lokasi Lawang Sewu
yang mudah di jangkau
sangat membuat saya puas
-
-
8
55
37
4,29
Saya merasa puas
dengan lahan parkir yang
cukup luas
4
15
35
33
13
3,36
Harga tiket masuk
membuat saya merasa puas
-
5
27
52
16
3,79
Rata-rata skor jawaban responden
3,84
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
84
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
Deskripsi Tanggapan Responden Mengenai Minat Berkunjung Kembali
Minat berkunjung kembali dapat di definisikan sebagai keinginan orang berwisata untuk
bisa berkunjung lagi ke Lawang Sewu untuk kedua kalinya atau lebih. Tanggapan atau respon
responden mengenai minat melakukan kunjungan kembali diuraikan dalam tabel berikut:
Tabel 8 (Gambaran Tanggapan atau respon Responden Mengenai Minat Berkunjung Kembali)
Pernyataan
Jawaban Responden
Mean
STS
TS
CS
S
SS
Saya memiliki
kepuasan tersendiri
yang membuat saya
ingin kembali ke
Lawang Sewu
-
3
22
56
19
3,91
Saya akan
merekomendasikan
kepada teman dan
keluarga saya untuk
berkunjung ke
Lawang Sewu
-
1
31
53
15
3,82
Pelayananan dari
staf/karyawan
membuat saya ingin
kembali berkunjung
ke Lawang Sewu
-
4
25
54
17
4,84
Pengalaman yang
saya dapatkan setelah
berkunjung di Lawang
Sewu membuat saya
ingin datang kembali
-
2
11
71
16
4,01
Lingkungan yang
bersih dan nyaman
membuat saya ingin
berkunjung kembali
ke Lawang Sewu
-
2
9
56
33
4,20
Rata-rata skor jawaban responden
4,15
Sumber: Olahan data primer, 2024
Tabel 8 ialah memberi gambaran respon atau tanggapan responden terhadap minat
berkunjung kembali di Lawang Sewu bisa dikatakan sudah bagus karena ketentuan skor pada
rentang 3,41 4,20. Kondisi ini bisa dilihat dari terdapat taman yang indah serta lingkungan
yang bersih, pelayanan baik itu dari staf ataupun karyawan lapangan yang sangat ramah.
Selanjutnya adalah minat berkunjung kembali muncul karena wisatawan merasa puas dan juga
mendapat pengalaman yang baik, tidak lupa bahwa wisatawan juga bersedia merekomendasikan
Lawang Sewu kepada calon wisatawan lainya yang mungkin akan tertarik dan berkunjung ke
Lawang Sewu.
c. Uji Validitas dan Uji Reabilitas
Maksud dari uji validitas mengarah pada ketetapan atau kecermatan instrumen dalam usaha
melakukan kalkulasi terkait ukuran hal yang memang diukur sehingga pengujian validitas
mengarah pada sejumlah item yang termaktub dalam kuesioner atau skala tertentu. Adapun
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
85
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
penentuan kelayakan atau tidaknya dilibatkan dengan persyaratan khusus di mana pakar
bernama Sugiono (2018:152) menyampaikan untuk besaran nilai r lebih besar ketimbang 0,30.
Sedangkan uji reabilitas digunakan untuk memahami terkait konsistensi alat ukur bisa
diandalkan atau setidaknya menunjukkan konsistensi ketika pengukuran dilangsungkan secara
berulang. Adapun penentuan reliabilitas sendiri yakni kurang dari 0,60 dikatakan kurang baik
sementara 0,70 bisa diterima dan di atas 0,80 diputuskan dalam kategori yang baik. (Priyatno,
2018)
Tabel 9 (Uji Validitas Setiap Peryataan pada Variabel Penelitian)
Variabel Penelitian
Kode
R
hitung
R
tabel
Keputusan
Pengalaman Wisatawan
X1.1
X1.2
X1,3
X1.4
X1.5
0,507
0,456
0,534
0,440
0,612
0,30
0,30
0,30
0,30
0,30
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Kepuasan Wisatawan
X2.1
X2.2
X2,3
X2.4
X2.5
0,646
0,547
0,344
0,511
0,628
0,30
0,30
0,30
0,30
0,30
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Minat Berkunjung
Kembali
Y.1
Y.2
Y.3
Y.4
Y.5
0,688
0,565
0.680
0,502
0,538
0,30
0,30
0,30
0,30
0,30
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Sumber: Olah Data SPSS, 2024
Tabel 9 merupakan hasil dari uji validitas dari 3 variabel yang masing-masing memiliki 5
butir item. Variabel pertama yaitu pengalaman wisatawan memiliki kisaran korelasi 0,440
0,612 lebih besar dari R
tabel
yang memiliki nilai 0,30 yang berarti ke 5 item tersebut dengan
demikian bisa dikatakan valid. Kedua merupakan variabel kepuasan wisatawan yang memiliki
kisaran korelasi yaitu 0,344 0,646, karena ke 5 item tersebut lebih tinggi dari 0,30 maka item
tersebut dikatakan valid. Terakhir ada variabel minat berkunjung kembali yang memiliki kisaran
0,502 0,688 bisa dikatakan valid karena lebih besar daripada R tabel dengan nilai 0,30.
Tabel 10 (Uji Reabilitas Butir Peryataan Variabel Penelitian)
No
Variabel Penelitian
Cronbach Alpha
1
Pengalaman wisatawan
0,743
2
Kepuasan wisatawan
0,753
3
Minat berkunjung Kembali
0,808
Sumber: Olah Data SPSS, 2024
Menurut tabel 10 yaitu hasil dari uji reabilitas dari peryataan untuk masing-masing variabel
bisa dikatakan mempunyai reabilitas yang bagus, sebab dari ketiga variabel tersebut ada
Cronbach’s alpha lebih besar dari nilai 0,70. Adapun penentuan reliabilitas sendiri yakni
kurang dari 0,60 dikatakan kurang baik sementara 0,70 bisa diterima dan di atas 0,80 diputuskan
dalam kategori yang baik. (Priyatno, 2018)
d. Uji Korelasi Rank Spearman
Tujuan dari uji korelasi Rank Spearman adalah untuk mengetahui hubungan (keeratan) dua
variabel, melihat arah hubungan tersebut signifikan atau tidak dan melihat arah (jenis)
hubungan dua variabel. Pada penelitian ini akan diuji variabel Pengalaman Pengunjung dengan
Minat Berkunjung Kembali dan Kepuasan Pengunjung dengan Minat Berkunjung Kembali.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
86
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
Tabel 11 (Hasil Pengujian Uji Korelasi Rank Spearman)
Sumber: Olah Data SPSS, 2024
Berdasarkan hasil dari tabel 11 maka dapat interpretasikan sebagai berikut:
Variabel Pengalaman Pengunjung (X1) menunjukkan hubungan yang signifikan dengan
Minat Berkunjung Kembali (Y) dengan nilai sig 0,000. Nilainya lebih kecil pada 0,05,
menunjukkan korelasi positif. Data diatas menghasilkan koefisien korelasi sebesar 0,589,
menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara variabel X1 dan Y. Angka koefisien korelasi
dalam hasil di atas adalah positif pada 0,589, menunjukkan hubungan searah antara variabel.
Koefisien korelasi sebesar 0,742 diperoleh dari data di atas, menunjukkan bahwa terdapat
hubungan yang kuat antara variabel X2 dan Y. Angka koefisien korelasi pada hasil di atas
adalah positif sebesar 0,742, menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut
searah. Variabel Kepuasan Pengunjung (X2) memiliki nilai sig sebesar 0,000, maka nilainya
lebih kecil yaitu 0,05 dan dapat diartikan terdapat hubungan yang signifikan dengan Minat
Berkunjung Kembali (Y).
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Temuan penelitian dan pengamatan dari proses pemberian kuesioner kepada pengunjung
atau mereka yang sudah pernah mengunjungi Lawang Sewu dijelaskan dalam diskusi temuan
penelitian. Melalui pengolahan data, ditemukan bahwa kepuasan dan pengalaman pengunjung
memiliki hubungan dengan minat berkunjung kembali. Berikut penjelasan pembahasan
penelitian tersebut:
1. Keterkaitan antara pengalaman pengujung dengan minat berkunjung kembali wisatawan
Hasil dari kuesioner tentang pengalaman pengunjung sudah dapat dikatakan baik.
Tanggapan responden tertinggi adalah spot foto, di kawasan Lawang Sewu memang terkenal
dengan banyak nya spot foto yang bagus, baik itu indoor maupun outdoor keduanya memiliki
keunikannya sendiri-sediri. Untuk tanggapan tertinggi kedua adalah mengenai sejarah.
Bangunan Lawang Sewu ialah peninggalan masa kolonial Belanda pada saat itu yang dipakai
sebagai kantor pusat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-indische spoorweg
maatschappij (NISM). Maka dari itu tidak heran jika banyak wisatawan yang berkunjung karena
ingin sekedar melihat peninggalan sejarah maupun mempelajari dengan serius mengenai Lawang
Sewu. Ketiga adalah karena Lawang Sewu memiliki taman yang indah di belakang gedung
tambahan. Ini adalah tempat kesukaan keluarga untuk berkumpul karena suasananya yang
nyaman dan rindang ditengah panasnya pusat kota Semarang. Terakhir adalah pelayanan dan
pengalaman.
Hasil temuan penelitian menunjukan bahwa pengalaman pengunjung memiliki hubungan
yang baik dan bermakna dengan minat berkunjung kembali di Lawang Sewu. Dengan adanya
hubungan yang positif maka semakin baik pengalaman pengunjung maka minat berkunjung
kembali wisatawan akan ikut naik. Penelitian yang dilakukan oleh (Eny Endah Pujiastuti, 2020)
mendapatkan hasil yang dimana memberikan solusi strategi baru untuk menciptakan niat untuk
mengunjungi kembali suatu destinasi wisata. Wisatawan yang memperoleh pengalaman positif
akan memiliki keinginan untuk melakukan kunjungan ulang. Pengalaman yang diperoleh selama
menikmati destinasi merupakan sumber informasi penting sekaligus motivasi internal bagi
wisatawan untuk membuat keputusan apakah selanjutnya ingin mengunjungi kembali atau tidak.
Variabel
Correlation
Corefficient
Sig. (2-
tailed)
Pengalaman Pengunjung (X1) dengan
Minat Berkunjung Kembali (Y)
0,589
0,000
Kepuasan Pengunjung (X2) dengan
Minat Berkunjung Kembali (Y)
0,742
0,000
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
87
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
2. Keterkaitan antara kepuasan pengujung dengan minat berkunjung kembali wisatawan
Sesuai dengan hasil observasi yang didapatkan dengan cara menyebar kuisioner yaitu
kepuasan pengunjung dipandang sudah dalam kategori bagus, dengan responden menanggapi
tentang kepuasan pengunjung yang tertinggi ialah lokasi yang stategis, alasanya karena letak
Lawang Sewu sendiri berada di pusat Kota Semarang yang dimana akses akan sangat mudah
untuk dituju. Kedua adalah fasilitas pendukung yang disediakan, fasilitas-fasilitas tersebut
meliputi toilet yang dimana terdapat sebuah toilet dari kolonial Belanda yang sampai sekarang
masih difungsikan, tempat sampah yang tersedia di setiap sudut Lawang Sewu, fasilitas untuk
golongan difabel juga tersedia. Selanjutnya adalah pelayanan, Petugas di Lawang Sewu sebagian
besar sudah membuat wisatawan merasa puas. Dengan alasan bahwa masih banyak yang
memberikan respon positif terhadap kinerja petugas di Lawang Sewu melalui kuesioner.
Keempat adalah harga tiket, dalam hal ini harga tiket di kategorikan dalam tiga macam yaitu
anak-anak/ pelajar dengan harga tiket masuk sebesar Rp10.000,00, kemudian untuk umum
sebesar Rp20.000,00 dan untuk mancanegara di kenakan harga Rp30.000,00.
Dalam penyebaran kuesioner dapat di interpretasikan bahwa respon pengunjung masih
tergolong baik, dengan alasan bahwa harga tiket masuk yang mereka keluarkan sebanding
dengan apa yang mereka dapatkan kondisi tersebut bisa ditinjau dari hasil kuesioner yang
mendapatkan respon positif dari pengunjung. Tanggapan responden terendah adalah mengenai
tempat parkir, tempat parkir di Lawang Sewu tergolong besar dengan adanya parkir mobil dua
lantai, namun dengan adanya Duta Pertiwi (DP) Mall maka kapasitas lahan parkir akan
membludak pada akhir pekan ataupun hari-hari khusus lainya. Hasil olahan data korelasi rank
spearman mengenai hubungan kepuasan pengunjung dengan minat melakukan kunjungan ulang,
yang dalam studi ini menunjukkan kepuasan pengunjung memiliki hubungan positif dan
bermakna dengan minat berkunjung lagi ke Lawang Sewu. Dengan adanya hubungan yang
positif maka semakin baik kualitas kepuasan pengunjung maka minat berkunjung kembali
wisatawan akan ikut bergerak kearah yang positif.
(Emmywati, 2022) dalam penelitianya mengungkapkan bahwa hasil olahan data regresi
mengenai pengaruh kepuasan wisatawan terhadap minat berkunjung ulang, dimana dalam
penelitian ini memberikan indikasi bahwa kepuasan wisatawan memberikan pengaruh yang
positif dan signifikan terhadap minat berkunjung ulang pada beberapa destinasi wisata yang ada
di Pasangkayu, dimana semakin tinggi kepuasan yang dirasakan wisatawan maka akan semakin
tinggi pula minat berkunjung ulang wisatawan pada beberapa destinasi wisata yang ada di
Kabupaten Pasangkayu.
4. Kesimpulan
Sesuai dengan hasil analisis dapat disimpulkan hasil penelitian ini antara lain:
1. Hasil analisis korelasi tentang keterkaitan antara pengalaman pengunjung dan
kepuasan pengunjung dengan minat berkunjung kembali wisatawan menunjukan
bahwa pengalaman pengunjung dan kepuasan pengunjung memiliki hubungan yang
signifikan dan kuat serta memiliki arah hubungan yang positif dengan minat
berkunjung kembali wisatawan di Lawang Sewu.
2. Berdasarkan hasil penelitian mengenai keterkaitan antara pengalaman pengunjung dan
kepuasan pengujung dengan minat berkunjung kembali wisatawan, maka
kesimpulannya ialah pengalaman dan kepuasan orang yang mengunjungi
(pengunjung) memiliki hubungan yang bermakna (kuat) dan positif terhadap keinginan
berkunjung kembali wisatawan di Lawang Sewu. Artinya semakin baik pengalaman
dan kepuasan yang diterima pengunjung maka akan semakin meningkat rasa ingin
berkunjung kembali ke suatu destinasi.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
88
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
5. Ucapan Terima Kasih
Ucapan terimakasih sebesar-besarnya untuk Bapak Dr. Suhendroyono, SH., MM,
M.Par, CHE, CGSP selaku ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo, kemudian bapak
Andhika Djalu Sembada, S.S., M.Phil selaku dosen pembimbing pertama dan juga ibu Deni
Dwi Ananti, M.Par., CHE selaku dosen pembimbing kedua, terimakasih sudah membimbing
saya menyelesaikan tesis ini. Terimakasih atas arahan dan kesabarannya dalam membimbing
saya. Sukses dan sehat selalu untuk kedepanya.
6. Daftar Pustaka
Agustiani, A. A. (2021). Kajian Pengalaman Wisatawan pada Kunjungan Wisata Perdesaan.
Yogyakarta: CV Budi Utama.
Anwani, G. S. (2018). “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Berkunjung
Wisatawan Ke Obyek Wisata Religi Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta,” . Journal of
Tourism and Economic ", 120.
Aria Mulyapradana, A. D. (2020). Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pelanggan
di PT. Tempo Cabang Tegal. Jurnal Ekonomi & Ekonomi Syariah .
Bafadhal, A. S. (2020). Pemasaran Pariwisata Pendekatan Perilaku Wisatawan. Malang:
Media Nusa Creative.
Emmywati, S. A. (2022). ANALISIS DAYA TARIK WISATA DAN CITRA DESTINASI
TERHADAP MINAT BERKUNJUNG ULANG MELALUI KEPUASAN
WISATAWAN (Studi Empiris Pada Beberapa Obyek Wisata di Kabupaten Pasangkayu).
Firhannusa, A. (2022). Lonjakan Pengunjung, Wisatawan di Lawang Sewu Semarang Capai 6
Ribu Orang di Minggu Pertama Nataru. Retrieved from AYOSEMARANG.COM:
https://www.ayosemarang.com/semarang-raya/pr-776332132/lonjakan-pengunjung-
wisatawan-di-lawang-sewu-semarang-capai-6-ribu-orang-di-minggu-pertama-nataru
Hanif, A. (2016). Pengaruh Citra Destinasi Terhadap Kepuasan Wisatawan Serta Dampaknya
Terhadap Loyalitas Wisatawan (Studi pada Wisatawan Nusantara yang Berkunjung ke
Kota Batu). Jurnal Administrasi Bisnis, Vol. 38 No. 1.
Herman Novry Kristiansen Paninggiran, R. H. (2020). PENGARUH KOMPONEN
PARIWISATA TERHADAP KEPUTUSAN BERKUNJUNGDI LAWANG SEWU
SEMARANG. Jurnal Dinamika Sosial Budaya.
Ma’rifatun, S. (2018). Analisis Pengaruh Daya Tarik Wisata dan Citra Destinasi Terhadap
Minat Berkunjung Ulang Dengan Kepuasan Pengunjung Sebagai Variabel Intervening
(Studi Kasus Pada Pengunjung Pantai Suwuk) . Jurnal Manajemen Pemasaran.
Maharani, F. (2019). Pengaruh Daya Tarik Wisata dan Citra Destinasi Terhadap Minat
Berkunjung Ulang Dengan Kepuasan Pengunjung Ulang Sebagai Variabel Intervening
(Studi pada Objek Wisata Villa Gardenia Lampung). Jurnal Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Institut Informatika dan Bisnis Darma Jaya Bandar Lampung.
Nasution, M. (2004). ManajemenMutuTerpadu(TotalQuality Management). Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Nurinda Rahmawati, A. M. (2019). 109ANALISIS NILAI PELANGGAN DAN
PENGALAMAN PELANGGANTERHADAP KEPERCAYAAN PELANGGAN
WISATA KULINER SELAMAT TOSERBA SUKABUMINurinda. Journal of
Management and Bussines (JOMB).
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 1, No. 2, June 2024, page: 74-89
E-ISSN: 3047-2288
89
Nico Surya Ardana et.al (Keterkaitan Pengalaman dan Kepuasan.)
Priyatno, D. (2018). SPSS : panduan mudah olah data bagi mahasiswa dan umum.
Yogyakarta: Andi.
Pujiastuti, Eny E. "Pengaruh Pengalaman Wisatawan terhadap Kepuasan dan Kepercayaan
Serta Niat Berkunjung Kembali." Dialektika, vol. 5, no. 2, 2020.
R. Setiawan, A. T. (2019). Analisis Pengalaman Wisatawan Melalui Nilai yang Dirasakan
Terhadap Keputusan Pembelian Pada Makanan Lokal Kota Semarang. Jurnal Sains
Pemasaran Indonesia (Indonesian Journal of Marketing Science), 124-140.
Sari, I. W. (2018). Pengaruh Citra Destinasi, Daya Tarik Wisata, Electronics Word of Mouth
terhadap Kepuasan Berkunjung melalui Keputusan Berkunjung (Studi pada Tlogo Resort
dan Goa Rong View Tuntan Semarang). Jurnal Universitas Negeri.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2020). Metode Penelitian Pariwisata. Bandung: Alfabeta.
Tumbel, P. M. (2016). “Pelayanan,Keamanan, Dan Daya Tarik Mempengaruhi Minat
Wisatawan Yang Berkunjung Ke Objek Wisata Alam Gunung Mahawu, Tomohon,”.
Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi 16, no. 1.
Widagdyo, K. G. (2017). “Pemasaran, Daya Tarik Ekowisata, Dan Minat Berkunjung
Wisatawan,” . Jurnal Bisnis Dan Manajemen 7, no. 2.
Yeni Yuniawati, A. D. (2016). Pengaruh Customer Experience Terhadap Revisit Intention di
Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu. . Tourism and hospitaly essensials
(THE) journal.
Yoeti, O. A. (2016). Pengantar Pariwisata. Bandung: Angkasa.