9
Faza Brilliani Wahono Putri et.al (Peran Pendidikan Pancasila dalam Membentuk....)
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 9-17
E-ISSN: 3048-3093
Peran Pendidikan Pancasila dalam Membentuk
Karakter Anti Perundungan di Lingkungan Sekolah
Dasar
Faza Brilliani Wahono Putri
a,1*
, Fathurrohman
b,2
a
Universitas Negeri Surabaya
b
Universitas Negeri Yogyakarta
1
faza.23468@mhs.unesa.ac.id;
2
fathurrohman@uny.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Fenomena perundungan (bullying) di lingkungan sekolah dasar masih
Diterima: 11 Oktober 2025
Direvisi: 17 November 2025
Disetujui: 21 Desember 2025
Tersedia Daring:1 Januari 2026
menjadi persoalan serius yang berdampak negatif terhadap
perkembangan sosial dan emosional peserta didik. Pendidikan karakter
yang telah diterapkan di berbagai sekolah sering kali belum sepenuhnya
efektif karena belum terintegrasi secara sistematis dengan nilai-nilai
ideologis bangsa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis peran Pendidikan Pancasila dalam membentuk karakter
anti perundungan pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi
literatur (library research). Data diperoleh dari berbagai sumber ilmiah,
Kata Kunci:
Karakter
Pendidikan Pancasila
Perundungan
Sekolah Dasar
seperti jurnal nasional, buku, dan laporan penelitian relevan yang
diterbitkan dalam lima tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa
Pendidikan Pancasila memiliki peran strategis dalam menanamkan
nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan persatuan yang menjadi
dasar pembentukan karakter siswa. Nilai-nilai tersebut mampu
menumbuhkan empati, rasa hormat, dan tanggung jawab sosial sehingga
peserta
didik
memiliki
kesadaran
untuk
menolak
segala
bentuk
perundungan. Selain itu, keberhasilan implementasi Pendidikan
Pancasila sangat dipengaruhi oleh peran guru sebagai teladan moral
serta kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Simpulan
penelitian ini menegaskan bahwa penguatan Pendidikan Pancasila perlu
dilakukan secara kontekstual dan kolaboratif guna menciptakan budaya
sekolah yang damai, inklusif, dan berkarakter Pancasila.
ABSTRACT
Keywords:
The phenomenon of bullying in the elementary school environment is
Character
still a serious problem that has a negative impact on the social and
Pancasila Education
emotional development of students. Character education that has been
Bullying
implemented in various schools is often not fully effective because it has
Primary School
not been systematically integrated with the nation's ideological values.
Therefore, this study aims to analyze the role of Pancasila Education in
forming anti-bullying characters in elementary school students. This
study uses a descriptive qualitative approach with a literature study
method (library research). Data was obtained from a variety of scientific
sources, such as national journals, books, and relevant research reports
published in the last five years. The results of the study show that
Pancasila Education has a strategic role in instilling the values of
humanity, social justice, and unity which are the basis for the formation
of students' character. These values are able to foster empathy, respect,
and social responsibility so that students have the awareness to reject
all forms of bullying. In addition, the success of the implementation of
Pancasila Education is greatly influenced by the role of teachers as moral
role models and collaboration between schools, families, and
10
Faza Brilliani Wahono Putri et.al (Peran Pendidikan Pancasila dalam Membentuk....)
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 9-17
E-ISSN: 3048-3093
communities. The conclusion of this study emphasizes that
strengthening Pancasila Education needs to be carried out contextually
and collaboratively in order to create a school culture that is peaceful,
inclusive, and has Pancasila character.
©2026, Faza Brilliani Wahono Putri, Fathurrohman
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Anak merupakan karunia terindah dan tanggung jawab besar yang diberikan Tuhan
kepada setiap orang tua. Hal ini menuntut orang tua untuk mencukupi semua kebutuhan anak
dan memantau perkembangannya. Guna mewujudkan generasi yang sehat baik secara fisik
maupun mental, berbudi pekerti luhur, serta cerdas. Pendidikan adalah kebutuhan mendasar
yang paling krusial bagi setiap individu (Siti Annisa Jumarnis et al., 2023). Setiap manusia
memerlukan pendidikan dimanapun dan kapanpun dia berada. Melalui pendidikan manusia
mempunyai kemampuan untuk dapat mengatur, mengendalikan, dan dan mengambil
keputusan atas diri mereka sendiri (Fadil, 2023). Selain itu, pendidikan juga merupakan faktor
utama yang memengaruhi pembentukan karakter dan kepribadian individu (Pratiwi et al.,
2021). Pendidikan juga diakui sebagai salah satu hal yang berpengaruh terhadap kemajuan
sebuah bangsa dan negara (Pratiwi et al., 2021). Dengan demikian, pendidikan wajib menjadi
prioritas utama pembangunan suatu bangsa. Sejalan dengan hal tersebut, Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat 1 mendefinisikan
pendidikan sebagai upaya sadar dan terencana. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan dan
proses belajar yang mendorong peserta didik mengembangkan semua potensi mereka secara
aktif. Sekolah adalah lembaga pendidikan formal tempat diselenggarakannya pengajaran,
pengelolaan, dan pembinaan peserta didik yang dilakukan oleh guru atau pendidik (Agusniati
et al., 2025).
Pendidikan memiliki kontribusi yang sangat besar dalam membentuk karakter dan tingkah
laku siswa, khususnya bagi anak-anak di sekolah dasar (Agusniati et al., 2025). Hal ini
diperkuat dengan pendapat Annisa et al., (2020) dimana pembentukan karakter harus dimulai
sejak usia dini dan waktu yang paling optimal untuk memaksimalkannya adalah saat anak
berada di usia sekolah. Terdapat banyak mata pelajaran dalam proses belajar mengajar yang
disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Pendidikan Kewarganegaraan atau yang sekarang
disebut dengan Pendidikan Pancasila adalah salah satu materi esensial yang wajib diajarkan di
sekolah dasar. Seiring dengan perkembangan zaman yang begitu cepat, karakter peserta
didikpun juga cenderung berubah. Bahkan perubahan ini dapat mengarah pada penyimpangan
perilaku yang tidak baik. Salah satu bentuk penyimpangan yang kerap ditemukan di kalangan
siswa sekolah dasar adalah perilaku agresif yang sering kali berujung pada kebiasaan
perundungan terhadap teman sebaya. Perundungan atau bullying merupakan fenomena yang
masih marak terjadi di lingkungan pendidikan, khususnya pada jenjang sekolah dasar
(Kartika Sari & Gofur, 2025). Mirisnya, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga,
banyak orang tua dan guru yang acuh terhadap perilaku bullying dan masih banyak yang
belum memahaminya (Yunita et al., 2022). Perundungan atau bullying didefinisikan sebagai
kekerasan antarteman sebaya terhadap anak yang dianggap 'lebih rendah' atau lebih
lemah demi kepuasan pelaku. Perundungan terjadi dan muncul dalam berbagai bentuk,
seperti perundungan verbal, fisik, dan relasional (Karim et al., 2023). Secara sinngkat,
Bullying adalah perilaku penyalahgunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti
individu atau kelompok melalui kekerasan verbal, fisik, atau psikologis, yang meninggalkan
korban dalam keadaan tertekan, trauma, dan tidak mampu melawan. Perilaku ini tidak hanya
merugikan korban, tetapi juga memengaruhi pelaku dan masyarakat luas. Perundungan telah
11
Faza Brilliani Wahono Putri et.al (Peran Pendidikan Pancasila dalam Membentuk....)
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 9-17
E-ISSN: 3048-3093
menjadi isu serius di sekolah-sekolah seluruh dunia.
Dalam upaya mengatasi masalah perundungan, Pendidikan Pancasila di sekolah dasar
sangat relevan untuk digunakan. Hal ini dikarenakan Penndidikan Pancasila berperan penting
dalam pembentukan karakter siswa seperti halnya yang telah dijelaskan sebelumnya. Melalui
mata pelajaran Pendidikan Pancasila, banyak nilai moral yang diturunkan dari nilai-nilai
Pancasila dan dasar negara, yang berperan penting dalam pembangunan karakter baik siswa
(Istianah et al., 2024). Pancasila sebagai dasar negara,mengandung prinsip-prinsip mendasar
yang apabila diinternalisasikan dengan baik, dapat menangkal berbagai masalah sosial di
lingkungan sekolah seperti perundungan antarsiswa. Oleh karena itu, Pendidikan Pancasila di
sekolah dasar menjadi sangat relevan dalam upaya menciptakan suasana belajar yang
harmonis dan berintegritas (Rizal et al., 2023).
Pendidikan karakter telah diusulkan sebagai salah satu strategi penting untuk mencegah
perilaku bullying. Dalam berbagai penelitian, pendidikan karakter dianggap mampu untuk
membentuk nilai-nilai seperti nilai moral, empati, toleransi, dan tanggung jawab sosial pada
siswa sehingga mengurangi kecenderungan melakukan atau menjadi korban perundungan.
Namun, dalam praktiknya, pendidikan karakter saja belum cukup tanpa basis nilai ideologis
yang kokoh. Dalam hal ini, Pendidikan Pancasila menawarkan pendekatan nilai yang bersifat
universal sekaligus kontekstual, sehingga mampu memperkuat internalisasi moral dan
tanggung jawab sosial (Kartika Sari & Gofur, 2025). Nilai-nilai dalam sila-sila Pancasila
seperti kemanusiaan yang adil dan beradab, serta persatuan Indonesia, mengandung pesan
penting tentang penghormatan terhadap sesama dan penyelesaian konflik secara damai.
Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn)
memiliki kontribusi penting dalam membentuk karakter peserta didik dan menekan perilaku
perundungan di sekolah dasar. Fadil (2023) melalui penelitiannya yang berjudul “Peran Guru
dalam Penanaman Sikap Anti Bullying Verbal dalam Pembelajaran PKn di Sekolah Dasar”
menemukan bahwa guru berperan strategis sebagai agen moral dalam mencegah terjadinya
perundungan di lingkungan sekolah. Ia menjelaskan bahwa pembelajaran PKn yang
menekankan pada nilai-nilai kemanusiaan, seperti menghormati sesama dan menghargai
perbedaan, mampu menumbuhkan kesadaran sosial peserta didik. Penelitian serupa dilakukan
oleh Sari dan Devra (2024) dengan judul “Peran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam
Mengatasi Kasus Bullying pada Peserta Didik.” Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa
pembelajaran PKn bukan hanya sekadar penyampaian materi kewarganegaraan, melainkan
juga proses internalisasi nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar dalam membentuk
karakter anti perundungan. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Sari & Devra (2024)
menunjukkan bahwa penerapan PKn di sekolah dasar memiliki potensi besar dalam mengatasi
perundungan, namun implementasinya masih menghadapi tantangan. Lingkungan keluarga,
pengaruh teman sebaya, dan lemahnya pengawasan sekolah menjadi faktor eksternal yang
menghambat efektivitas pembelajaran karakter.
Dapat disimpulkan bahwa seluruh kajian sepakat mengenai pentingnya Pendidikan
Pancasila dalam mencegah perilaku perundungan melalui penanaman nilai-nilai moral dan
kemanusiaan. Namun, sebagian besar penelitian yang ada masih berfokus pada peran guru
sebagai individu, tanpa membahas secara komprehensif bagaimana nilai-nilai Pancasila
diintegrasikan secara sistemik dalam kurikulum sekolah dasar. Selain itu, pendekatan
pembelajaran yang digunakan dalam berbagai studi masih berorientasi pada penyampaian nilai
secara verbal, belum banyak yang menekankan penerapan kontekstual melalui proyek atau
12
Faza Brilliani Wahono Putri et.al (Peran Pendidikan Pancasila dalam Membentuk....)
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 9-17
E-ISSN: 3048-3093
kegiatan kolaboratif di sekolah. Terakhir, keterlibatan pihak sekolah termasuk kepala sekolah,
orang tua, dan lingkungan sosial masih jarang dibahas, padahal hal tersebut merupakan faktor
eksternal tersebut memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa sekolah dasar saat ini menghadapi
tantangan dalam membentuk karakter peserta didik yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan
dan berperilaku anti perundungan. Meskipun pendidikan karakter telah diterapkan melalui
berbagai program sekolah, namun implementasinya sering kali belum terintegrasi secara
sistematis dengan nilai-nilai Pancasila yang menjadi dasar moral dan ideologi bangsa. Selain
itu, peran guru dan lingkungan sekolah dalam menanamkan nilai-nilai tersebut belum optimal,
sehingga perilaku perundungan masih kerap terjadi di lingkungan pendidikan dasar. Oleh
karena itu, penguatan Pendidikan Pancasila menjadi langkah strategis untuk menumbuhkan
kesadaran moral, empati sosial, serta tanggung jawab bersama dalam menciptakan budaya
sekolah yang damai dan inklusif.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Pendidikan Pancasila dalam
membentuk karakter anti perundungan di lingkungan sekolah dasar melalui proses
pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan gambaran yang komprehensif mengenai bagaimana nilai-nilai Pancasila
diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran dan kehidupan sekolah sehari-hari, serta
bagaimana peran guru, peserta didik, dan lingkungan sekolah berkontribusi dalam
membangun budaya anti perundungan. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi
rujukan bagi pendidik dan pengambil kebijakan dalam mengembangkan strategi pembelajaran
berbasis nilai-nilai Pancasila yang mampu membentuk karakter siswa secara holistik dan
berkelanjutan. Dengan demikian, sekolah dasar tidak hanya menjadi tempat transfer
pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan kepribadian yang berlandaskan
semangat kemanusiaan, keadilan, dan persatuan sebagaimana tercermin dalam nilai-nilai
Pancasila.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur
(library research). Jenis penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mensintesis berbagai hasil
penelitian yang relevan mengenai peran Pendidikan Pancasila dalam membentuk karakter anti
perundungan di sekolah dasar. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh
dari jurnal ilmiah, buku, dan laporan penelitian terakreditasi yang diterbitkan dalam lima tahun
terakhir. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan telaah pustaka sistematis,
dengan menyeleksi sumber yang relevan berdasarkan tema nilai-nilai Pancasila, pendidikan
karakter, dan pencegahan perundungan. Analisis data menggunakan analisis isi (content
analysis) dengan langkah reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara deskriptif
(Carney, 1972). Hasil analisis kemudian diinterpretasikan untuk memperoleh gambaran
konseptual mengenai kontribusi Pendidikan Pancasila dalam pembentukan karakter anti
perundungan di sekolah dasar.
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil pengkajian terhadap sejumlah sumber menunjukkan bahwa saat ini terjadi
peningkatan tajam dalam jumlah kasus perundungan atau bullying yang secara spesifik terjadi
pada anak-anak sekolah. Bullying di sekolah kini diakui sebagai masalah yang bersifat global.
Penting dicatat bahwa Komisi Perlindungan Anak Indonesia melaporkan bahwa Indonesia
menduduki posisi teratas dalam hal pelaporan masyarakat mengenai kasus bullying (Amnda
13
Faza Brilliani Wahono Putri et.al (Peran Pendidikan Pancasila dalam Membentuk....)
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 9-17
E-ISSN: 3048-3093
2020). Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa data pengaduan yang
tercatat dari tahun 2022 sampai 2025 mencapai 854 kasus dalam subklaster yang melibatkan
anak sebagai korban kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan bunuh diri. Dari total kasus yang
ada, hampir separuhnya sebesar 48 persen berkaitan dengan satuan pendidikan. Baik yang
terjadi di lokasi sekolah maupun melibatkan korban yang masih mengenakan atribut sekolah.
Kekerasan yang menimpa anak-anak di lingkungan sekolah umumnya terjadi secara
berkelompok (Sari & Devra, 2024). Hal ini diduga disebabkan oleh kelemahan dalam deteksi
awal terhadap pembentukan kelompok pergaulan yang memiliki pengaruh buruk (Putra,
2024).
Perundungan adalah serangkaian tindakan negatif yang berulang dan merugikan.
Perundungan dapat merugikan korban baik secara fisik, emosional, maupun psikologis (Rizqi
et al., 2024). Awal kemunculan sikap ini bisa disebabkan oleh pengalaman traumatis serupa
yang dialami pelaku, atau hanya karena meniru perilaku dari lingkungan pergaulannya (Yunita
et al., 2022). Perundungan sering kali terjadi di berbagai tempat seperti sekolah, tempat kerja,
dan lingkungan sosial lainnya. Menurut Sofyan et al., (2022) jenis-jenis perundungan dapaat
diklasifikasikan berdasarkan cara pelaku berinteraksi dengan korban dan berdasarkan
bentuknya.
Berdasarkan cara pelaku berinteraksi, Perundungan dapat dikategorikan menjadi dua jenis
utama yaitu secara langsung dan tidak langsung. Perundungan langsung melibatkan perilaku
menyerang yang dapat diamati dan terlihat jelas oleh orang lain, sementara yang tidak
langsung dilakukan secara tersembunyi, rahasia, atau tidak tampak. Sedangkan perundungan
berdasarkan bentuknya dapatt dikategorikan menjadi 3 jenis, yaitu perundungan fisik, verbal,
dan mental. Perundungan fisik adalah bentuk yang paling kasat mata, di mana terjadi kontak
fisik antara pelaku dan korban sehingga mudah dilihat. Kemudian, ada perundungan verbal
yang terdeteksi melalui indra pendengaran karena melibatkan ucapan. Bentuk yang dianggap
paling berbahaya adalah perundungan mental, sebab jenis ini sulit dideteksi secara langsung
melalui mata atau telinga, sehingga membutuhkan kepekaan dan kewaspadaan ekstra untuk
mengenali tanda-tandanya.
Pendidikan Pancasila memiliki peran penting dalam mengatasi kasus perundungan di
lingkungan sekolah. Peran ini berasal dari tujuan pendidikan Pancasila untuk membentuk
generasi muda yang berkarakter baik, memiliki rasa cinta tanah air, bertanggung jawab, dan
mampu beradaptasi di tengah masyarakat sejalan dengan landasan Pancasila dan UUD 1945
(Putri, 2021) Pendidikan Pancasila di tingkat sekolah dasar memiliki signifikansi strategis
dalam membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku peserta didik, khususnya yang berlandaskan
pada nilai-nilai demokrasi, keadilan, dan penghormatan hak asasi manusia (Istianah et al.,
2024). Hal ini didukung oleh Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Agusniati et al.,
(2025) yang menyatakan bahwa Siswa yang mendapatkan Pendidikan Pancasila menunjukkan
kecenderungan untuk memiliki pemahaman yang lebih mendalam mengenai metode
penyelesaian perundungan secara damai. Hal ini sejalan dengan pandangan Abdulatif (2021)
yang menyatakan bahwa pendidikan karakter berbasis Pancasila efektif dalam membentuk
individu yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip karakter, seperti toleransi, keadilan, dan
persatuan.
Kurikulum Pendidikan Pancasila di tingkat sekolah dasar dirancang untuk menanamkan
prinsip-prinsip Pancasila yang berfokus pada pembentukan karakter antikekerasan. Melalui
mata pelajaran ini, siswa diperkenalkan pada konsep fundamental kehidupan berbangsa dan
bernegara, termasuk nilai-nilai luhur Pancasila sebagai pedoman etis interaksi sosial (Kartika
Sari & Gofur, 2025). Secara spesifik, Sila kedua yang berbunyi "Kemanusiaan yang adil dan
beradab" dan Sila kelima yang berbunyi "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia" dapat
14
Faza Brilliani Wahono Putri et.al (Peran Pendidikan Pancasila dalam Membentuk....)
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 9-17
E-ISSN: 3048-3093
dijadikan sebagai landasan normatif. Nilai-nilai ini penting untuk membangun kesadaran
siswa akan pentingnya menghormati martabat setiap individu serta menolak diskriminasi dan
kekerasan. Penguatan implementasi kurikulum berbasis nilai ini dapat menjadi fokus utama
dalam pendidikan karakter nasional.
Agar implementasi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) mencapai kualitas
optimal, diperlukan kompetensi pedagogik dan afektif dari pihak guru (Retnasari et al., 2020).
Guru PKn dituntut untuk menciptakan lingkungan dialogis yang mendorong siswa memiliki
pemikiran kritis, keberanian menyampaikan pendapat, dan kepekaan sosial terhadap berbagai
ketimpangan. Dengan pendekatan ini, siswa berperan sebagai subjek aktif yang terlibat dalam
pembelajaran, bukan hanya penerima informasi pasif. Dalam proses transformasi karakter,
peran guru sebagai agen moral (moral agent) menjadi sangat penting untuk membentuk siswa
menjadi pribadi yang beradab dan bertanggung jawab sosial (Judrah et al., 2024). Hal ini
diperkuat dengan hasil penelitian Biyau (2023) yang memperlihatkan adanya korelasi positif
antara intensitas pembelajaran PKn berbasis nilai dengan penurunan kasus perundungan di
sekolah dasar. Guru yang aktif mengintegrasikan isu-isu kekerasan sosial ke dalam materi PKn
terbukti berhasil meningkatkan sensitivitas siswa terhadap dinamika ketimpangan relasi
kekuasaan dan ketidakadilan dalam interaksi sosial. Model pembelajaran ini memberdayakan
siswa, mengubah mereka dari sekadar penerima informasi menjadi subjek aktif yang memiliki
daya reflektif dan keberanian moral untuk melawan praktik perundungan.
Melalui berbagai aktivitas, Pendidikan Pancasila dapat menciptakan ruang bagi siswa
untuk meningkatkan kesadaran sosial. Hal ini mencerminkan prinsip pendidikan demokratis
yang menekankan pembentukan sikap dan perilaku yang menunjang kehidupan sosial yang
harmonis, melebihi sekadar penyampaian informasi. Dengan demikian, Pendidikan Pancasila
sangat efektif dalam menghasilkan pelajar yang reflektif, aktif berpartisipasi, dan berwawasan
kemanusiaan. Kendati demikian, Implementasi Pendidikan Pancasila di sekolah dasar masih
menghadapi beberapa tantangan. Hal ini terlihat dari masih adanya keterlibatan sejumlah
siswa dalam perundungan skala kecil, misalnya pertengkaran verbal atau persaingan yang
tidak sehat. Masih adanya keterlibatan sebagian siswa dalam perundungan skala kecil
menunjukkan bahwa pengaruh lingkungan luar sekolah turut membentuk perilaku mereka.
Oleh karena itu, menurut Safitri et al. (2021) diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif
untuk memperkuat implementasi Pendidikan Pancasila, yang mencakup kolaborasi aktif antara
sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Keberhasilan pembentukan karakter anti-perundungan yang diajarkan melalui Pendidikan
Pancasila sangat ditentukan oleh dukungan di lingkungan sosial dan keluarga. Pembentukan
karakter tidak cukup hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi harus diperkuat dengan
keteladanan yang konsisten di rumah dan lingkungan sekitar siswa (Handayani et al., 2020).
Oleh karena itu, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan komunitas merupakan pendekatan
yang efektif untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan.
Pembelajaran PKn yang menyeluruh (holistik) memang menuntut keterlibatan lintas sektor
demi membentuk budaya sekolah yang demokratis dan ramah anak.
Keluarga memiliki peranan krusial dalam upaya pencegahan perilaku perundungan,
terutama melalui peningkatan ketahanan keluarga dan penguatan pola pengasuhan
(Maemunah et al., 2023). Upaya ini dapat diwujudkan melalui beberapa langkah, antara lain:
menanamkan prinsip-prinsip agama dan mengajarkan cinta kasih antar individu. Selain itu,
keluarga perlu menciptakan suasana penuh kasih sayang sejak dini dengan memberikan contoh
komunikasi yang baik di antara anggota keluarga. Orang tua juga harus membantu kaum muda
membangun rasa percaya diri, keberanian, dan tekad, sekaligus mengembangkan kemampuan
interaksi sosial mereka. Penting pula untuk mengajarkan etika yang tepat terhadap orang lain
15
Faza Brilliani Wahono Putri et.al (Peran Pendidikan Pancasila dalam Membentuk....)
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 9-17
E-ISSN: 3048-3093
dengan menekankan kepedulian dan rasa hormat. Terakhir, orang tua dituntut untuk
mendampingi anak saat menyerap informasi dan ilmu dasar dari berbagai media elektronik,
seperti televisi dan internet.
Sejalan dengan pentingnya peran berbagai pihak, Phillips (dalam Taek, 2024)
menegaskan bahwa pendidikan karakter harus melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat
secara keseluruhan. Oleh sebab itu, langkah mendesak yang harus diambil adalah
merevitalisasi jaringan pendidikan yang selama ini terfragmentasi di antara ketiga lingkungan
tersebut. Jika tidak ada kesinambungan dan keselarasan antar ketiganya, upaya pembentukan
karakter dan pendidikan watak tidak akan mencapai hasil yang maksimal.
Dengan demikian, Pendidikan Pancasila memiliki peran strategis dalam membentuk
karakter siswa dan secara efektif mencegah perundungan di lingkungan sekolah melalui
implementasi nilai-nilai sosial dan kemanusiaan yang terkandung di dalam pancasila. Melalui
strategi pembelajaran yang kontekstual, reflektif, dan partisipatif, Pendidikan Pancasila
menjadi instrumen efektif dalam pembentukan karakter siswa yang menjunjung tinggi
martabat manusia. Selain itu, penelitian ini juga menggarisbawahi perlunya peningkatan
kolaborasi antara pihak sekolah dan orang tua. Kolaborasi ini penting untuk mendukung
pengajaran nilai-nilai Pancasila serta memastikan siswa mampu mengaplikasikannya dalam
setiap aspek kehidupan.
4. Kesimpulan
Pendidikan Pancasila berperan strategis dalam membentuk karakter anti perundungan di
sekolah dasar melalui internalisasi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan persatuan. Nilai-
nilai dalam sila-sila Pancasila mampu menumbuhkan empati, sikap saling menghargai, dan
tanggung jawab sosial siswa, sehingga menjadi dasar moral untuk mencegah perilaku
kekerasan di lingkungan sekolah. Guru berperan sebagai agen moral yang mengarahkan
peserta didik untuk menerapkan nilai-nilai tersebut secara nyata melalui pembelajaran yang
reflektif dan kontekstual. Namun, penerapannya masih menghadapi kendala pada aspek
kurikulum dan kurangnya keterlibatan lingkungan keluarga serta sekolah secara menyeluruh.
Oleh karena itu, penguatan Pendidikan Pancasila perlu dilakukan melalui kolaborasi antara
guru, sekolah, dan orang tua guna menciptakan budaya sekolah yang damai, inklusif, dan
berkarakter Pancasila.
5. Ucapan Terima Kasih
Tiada kata yang pantas terucap selain rasa syukur kehadirat Allah SWT, berkat limpahan
rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan artikel yang berjudul “Peran Pendidikan
Pancasila dalam Membentuk Karakter Anti Perundungan di Lingkungan Sekolah Dasar”
dengan baik. Pada kesempatan yang berbahagia ini, tak lupa penulis menghaturkan terima
kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan semangat serta kekuatan selama proses
penyusunan artikel ini. Secara khusus, penulis menngucapkan terimakasih kepada Bapak Dr.
Fathurrohman M.Pd. selaku dosen mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Sekolah Dasar atas bimbingan, pengarahan, nasehat dan pemikiran dalam penulisan artikel
ini.
6. Daftar Pustaka
Abdulatif, S., & Dewi, D. A. (2021). Peranan pendidikan kewarganegaraan dalam membina
sikap toleransi antar siswa. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Guru Sekolah Dasar
(JPPGuseda), 4(2), 103-109.
16
Faza Brilliani Wahono Putri et.al (Peran Pendidikan Pancasila dalam Membentuk....)
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 9-17
E-ISSN: 3048-3093
Agusniati, A., Rizal, A., Pancasila, P., Siswa, K., Antar Siswa, P., Karakter, P., & Dasar, S.
(2025). Peranan Pendidikan Pancasila dalam Menumbuhkan Karakter Siswa untuk
Mencegah Perundungan Antar Siswa di Sekolah Dasar Kata kunci (Vol. 8, Issue 2).
http://Jiip.stkipyapisdompu.ac.id
Amnda, V., Wulandari, S., Wulandari, S., Nabila Syah, S., Andi Restari, Y., Atikah, S., Arifin,
Z. (2020). Bentuk Dan Dampak Perilaku Bullying Terhadap Peserta Didik. Jurnal
Kepemimpinan Dan Pengurusan Sekolah, 5(1), 1932.
Https://Doi.Org/10.34125/Kp.V5i1.454
Annisa, M. N., Wiliah, A., & Rahmawati, N. (2020). Pentingnya Pendidikan Karakter Pada
Anak Sekolah Dasar Di Zaman Serba Digital. BINTANG, 2(1), 3548.
Biyau, H. (2023). Peran Guru PPKn Dalam Penguatan Pendidikan Karakter Integritas Sebagai
Upaya Pencegahan Bullying di SMP Negeri 11 Kabupaten Sorong. Universitas
Pendidikan Muhammadiyah Sorong.
Carney, T. F. (1972). Content Analysis: A Technique for Systematic Inference from
Communications. London: B. T. Batsford LTD.
Fadil, K. (2023). Peran Guru Dalam Penanaman Sikap Anti Bullying Verbal Dalam
Pembelajaran PKN di Sekolah Dasar. Attadrib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah, 6, 123133.
Handayani, S., Sion, H., & Azahari, A. R. (2020). Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah
Dasar Islam Terpadu Al-Manar Pangkalan Bun Kabupaten Kotawaringin Barat. Journal
of Environment and Management, 1(2), 152163.
Istianah, A., Darmawan, C., Sundawa, D., & Fitriasari, S. (2024). Peran Pendidikan
Kebinekaan dalam Pendidikan Kewarganegaraan untuk Menciptakan Lingkungan
Sekolah yang Damai. Jurnal Moral Kemasyarakatan, 9(1), 1529.
https://doi.org/10.21067/jmk.v9i1.10192
Judrah, M., Arjum, A., Haeruddin, H., & Mustabsyirah, M. (2024). Peran Guru Pendidikan
Agama Islam Dalam Membangun Karakter Peserta Didik Upaya Penguatan Moral.
Journal of Instructional and Development Researches, 4(1), 2537.
Karim, A., Aunurrahman, Halida, & Ratnawati, R. E. (2023). Implementasi Landasan
Pendidikan Dalam Mengoptimalkan Peran Guru Dan Manajemen Sekolah Dalam
Mencegah Perilaku Bullying. AoEJ, 14(2), 15151534.
Kartika Sari, R., & Gofur, A. (2025). Peran PKn dalam Membentuk Budaya Anti-Perundungan
di Lingkungan Sekolah Dasar. AoSSaGCJ: Academy of Social Science and Global
Citizenship Journal, 5(1), 2329. https://doi.org/10.47200/aossagcj.v5i1.2831
Maemunah, M., Sakban, A., & Kuniati, Z. (2023). Peran Guru PPKn Melalui Pembimbingan
Intensif Sebagai Upaya Pencegahan Bullying di Sekolah. CIVICUS: Pendidikan
Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 11(1), 4350.
17
Faza Brilliani Wahono Putri et.al (Peran Pendidikan Pancasila dalam Membentuk....)
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 9-17
E-ISSN: 3048-3093
Pratiwi, E. F., Sa’aadah, S. S., Dewi, D. A., & Furnamasari, Y. F. (2021). Implementasi
Pendidikan Kewarganegaraan melalui Nilai Pancasila dalam Menangani Kasus Bullying.
Jurnal Basicedu, 5(6), 54725480. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i6.1648
Putra, H. (2024). KPAI Terima 141 Aduan Kekerasan Anak Sepanjang Awal 2024, 35 Persen
Terjadi di Sekolah. https://metro.tempo.co/read/18440 09/kpai-terima-141-aduan
kekerasan-anak-sepanjang-awal 2024-35-persen-terjadi-di-sekolah
Putri, V. K. M. (2021). Hakikat Dan Latar Belakang Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan.
Retnasari, L., Hidayah, Y., & Dianasari, D. (2020). Urgensi Bahan Ajar Materi Pembelajaran
Ppkn SD untuk Membangun Kompetensi Pedagogik Calon Guru Sekolah Dasar. Jurnal
Cakrawala Pendas, 6(2), 455139.
Rizal, A., Misbahuddin, M., Burhan, B., Arsyad, S. N., & Irwandi, A. (2023). Penanaman Nilai
Nilai Profil Pelajar Pancasila melalui Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SD
N Kalukuan IV Kota Makassar. Journal of Education and Instruction (JOEAI), 6(2), 355-
363.
Rizqi, S. A., Salsabila, S., Hafiansyah, M. B., & Rosyidi, M. (2024). Strategi Islam dalam
pencegahan bullying anak-anak sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar,
1(4), 15.
Safitri, A. O., Dewi, D. A., & Furnamasari, Y. F. (2021). Peran kewarganegaraan dalam
pendidikan membentuk pribadi yang berkarakter pada anak sekolah dasar. Jurnal
Basicedu, 5(6), 5328 5335.
Sari, N., Devra, D. D. (2024). Peran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Dalam Mengatasi
Kasus Bullying Pada Peserta Didik. Diklat Review: Jurnal Manajemen Pendidikan dan
Pelatihan, 8(1).
Siti Annisa Jumarnis, Jehan Chantika Anugerah, & Yulvani Juniawati Sinaga. (2023). Strategi
Penanaman Pendidikan Karakter Dalam Meminimalisir Bullying Siswa Sekolah Dasar.
Jurnal Elementaria Edukasia, 6(3), 11031117. https://doi.org/10.31949/jee.v6i3.6398
Sofyan, F. A., Wulandari, C. A., Liza, L. L., Purnama, L., Wulandari, R., & Maharani, N.
(2022). Bentuk bullying dan cara mengatasi masalah bullying di sekolah dasar. Jurnal
Multidisipliner Kapalamada, 1(04), 496504.
Taek, E. (2024). Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Karakter Anak Di Rumah Terhadap
Perilaku Sosial Di Sekolah. Jurnal Teologi Injili Dan Pendidikan Agama, 2(1), 7987.
Yunita, T., Rafifah, T., & Anggraeni, D. (2022). Say No to Bullying Behavior : Implementasi
Nilai Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar. Aulad: Journal on Early
Childhood, 4(3), 183189. https://doi.org/10.31004/aulad.v4i3.174