TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 34-39
E-ISSN: 3048-3093
34
Silvestre Tristan Kawengian et.al (Dekadensi Moral pada Remaja....)
Dekadensi Moral pada Remaja di Desa Raanan Baru
Silvestre Tristan Kawengian
a,1*
, Julien Biringan
b,2
, Telly Delly Wua
c,3
a,b,c
Universitan Negeri Manado, Kec. Tondano Selatan, Kab. Minahasa, Sulawesi Utara
Email: kawengiantristan@gmail.com
*
Corresponding Author: Silvestre Tristan Kawengian
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 11 Oktober 2025
Direvisi: 17 November 2025
Disetujui: 21 Desember 2025
Tersedia Daring: 1 Januari 2026
Fenomena kemerosotan moral di kalangan remaja menunjukkan
kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan pada era
perkembangan zaman saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi serta mengkaji faktor-faktor yang melatarbelakangi
terjadinya dekadensi moral pada remaja, sekaligus menelaah
dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus guna
memperoleh gambaran yang mendalam mengenai permasalahan yang
diteliti. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa kemerosotan moral
pada remaja dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal.
Faktor-faktor tersebut antara lain kurang optimalnya pembinaan dan
pendidikan moral, pengaruh media sosial, serta kondisi lingkungan
pergaulan. Dampak yang ditimbulkan mencakup meningkatnya
perilaku menyimpang, melemahnya nilai-nilai moral dalam kehidupan
sehari-hari, serta terganggunya relasi sosial dalam masyarakat. Teknik
pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dan
wawancara dengan informan yang relevan. Berdasarkan hasil
penelitian, dapat disimpulkan bahwa upaya penanganan dekadensi
moral pada remaja di Desa Raanan Baru dilakukan melalui berbagai
strategi, seperti pemberian teguran, pembinaan dan pendidikan moral,
penyampaian ceramah, pendekatan persuasif, serta pemberian nasihat
secara berkelanjutan.
Kata Kunci:
Dekadensi moral
Remaja
Pembinaan karakter
ABSTRACT
Keywords:
Moral decadence
Adolescents
Character building
The phenomenon of moral decline among teenagers shows an
increasingly worrying trend in the current era of development. This
research aims to identify and examine the factors behind the occurrence
of moral decadence in adolescents, as well as examine their impact on
people's lives. This research uses a qualitative method with a case study
approach to obtain an in-depth picture of the problem being studied. The
findings of the study revealed that moral decline in adolescents is
influenced by internal and external factors. These factors include the lack
of optimal moral coaching and education, the influence of social media,
and the condition of the social environment. The impacts include an
increase in deviant behavior, a weakening of moral values in daily life,
and a disruption of social relations in society. The data collection
technique was carried out through direct observation and interviews
with relevant informants. Based on the results of the research, it can be
concluded that efforts to handle moral decadence in adolescents in
Raanan Baru Village are carried out through various strategies, such as
giving reprimands, coaching and moral education, delivering lectures,
persuasive approaches, and providing advice on an ongoing basis.
©2026, Silvestre Tristan Kawengian, Julien Biringan, Telly Delly Wua
This is an open access article under CC BY-SA license
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 34-39
E-ISSN: 3048-3093
35
Silvestre Tristan Kawengian et.al (Dekadensi Moral pada Remaja....)
1. Pendahuluan
Remaja termasuk dalam kelompok generasi muda yang memiliki peran penting dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara (Ali, M. & Asrori, M. 2006). Dalam konteks
pembangunan nasional, generasi muda dipandang sebagai sumber daya manusia yang
potensial karena merekalah yang akan melanjutkan cita-cita perjuangan bangsa sekaligus
menjadi penggerak pembangunan di masa depan. Oleh sebab itu, kualitas moral dan karakter
remaja sangat menentukan arah kemajuan suatu negara. Secara umum, masa remaja dimulai
sejak individu mencapai kematangan seksual hingga memasuki usia delapan belas tahun.
Tahap ini biasanya dibedakan menjadi remaja awal dan remaja akhir (Budirahayu,Tuti. 2013).
Pada periode ini terjadi berbagai perubahan, baik secara fisik, emosional, maupun sosial.
Pengaruh teman sebaya menjadi semakin kuat, pola interaksi sosial berkembang menjadi lebih
kompleks, serta terbentuk kelompok-kelompok pergaulan baru dengan nilai-nilai yang
berbeda. Dalam aspek moral, remaja mulai meninggalkan pemahaman benar dan salah yang
bersifat konkret menuju pemikiran moral yang lebih umum dan berdasarkan prinsip pribadi.
Mereka juga belajar mengendalikan perilaku sesuai dengan nilai yang diyakini (Gunarsa,
Singgih D 2004).
Perkembangan zaman modern yang serba terbuka turut membawa tantangan tersendiri
bagi pembentukan moral remaja. Arus informasi yang tidak terbatas sering kali mendorong
individu untuk bertindak tanpa mempertimbangkan norma yang berlaku. Berbagai perilaku
yang menyimpang dari aturan sosial semakin sering dijumpai dan menimbulkan keresahan di
tengah masyarakat. Fenomena kenakalan remaja tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga
di negara berkembang, termasuk Indonesia (Gunawan Imam, 2014). Permasalahan ini bahkan
cenderung menjadi isu nasional yang sulit untuk diatasi apabila tidak ditangani secara serius.
Remaja merupakan kelompok yang relatif mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya
karena pada masa ini mereka sedang mengalami proses pencarian jati diri. Ketidakstabilan
emosi akibat perubahan yang dialami dapat membuat mereka rentan terhadap pengaruh
negatif, terutama jika berada dalam lingkungan yang kurang mendukung. Apabila tidak
mendapatkan bimbingan yang memadai, kondisi tersebut dapat mendorong munculnya
berbagai bentuk perilaku menyimpang yang berpotensi merugikan diri sendiri maupun orang
lain (Rahayu Siti, 2017)).
Berbagai bentuk penyimpangan yang sering dikaitkan dengan remaja masa kini antara lain
penyalahgunaan narkoba, konsumsi minuman keras, pergaulan bebas, tawuran, penggunaan
bahasa kasar, pembentukan kelompok pertemanan yang bersifat eksklusif dan bermusuhan,
hingga kecenderungan meniru gaya hidup selebritas yang tidak sejalan dengan nilai moral.
Selain itu, kebiasaan menghabiskan waktu untuk aktivitas yang kurang produktif juga turut
memengaruhi pembentukan karakter mereka (Suharsimi Arikunto, 2002:106,207). Penanaman
nilai moral tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat, tetapi juga lembaga
pendidikan. Sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik melalui
proses pembelajaran yang terencana dan sadar. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada aspek
kognitif, tetapi juga bertujuan mengembangkan spiritualitas, pengendalian diri, kepribadian,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara (Veronika R, 2024).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Raanan Baru, ditemukan bahwa
perilaku menyimpang di kalangan remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kurangnya
pengawasan orang tua, rendahnya kepedulian sosial masyarakat, serta pengaruh lingkungan
dan teman sebaya. Dampak dari penyimpangan tersebut tidak hanya dirasakan oleh individu
yang bersangkutan, tetapi juga oleh keluarga dan masyarakat sekitar. Munculnya stigma
negatif serta kekhawatiran akan terjadinya peniruan perilaku oleh anak-anak yang lebih muda
menjadi konsekuensi sosial yang tidak dapat diabaikan (Nasution, 2006:113).Adapun bentuk
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 34-39
E-ISSN: 3048-3093
36
Silvestre Tristan Kawengian et.al (Dekadensi Moral pada Remaja....)
penyimpangan yang terjadi di Desa Raanan Baru meliputi balapan liar, tindakan pencurian,
penyalahgunaan lem, kebiasaan keluar malam tanpa batas, konsumsi minuman keras, serta
pergaulan bebas.
Salah satu perilaku yang paling meresahkan masyarakat adalah berkendara secara ugal-
ugalan dengan menggunakan knalpot racing di jalan raya, yang tidak hanya mengganggu
ketertiban umum tetapi juga membahayakan keselamatan pengguna jalan lainnya (Lexy J.
Moleong, 2011:125). Apabila remaja berada dalam lingkungan yang negatif, besar
kemungkinan mereka akan meniru perilaku yang ada di sekitarnya. Sebaliknya, lingkungan
yang positif dapat mendorong terbentuknya perilaku yang baik. Kondisi yang terjadi di Desa
Raanan Baru menunjukkan bahwa penyimpangan moral remaja telah mencapai tingkat yang
memprihatinkan (Wismanjaya & Yuningsih, 2024). Jika tidak segera ditangani melalui kerja
sama antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat, maka permasalahan ini berpotensi
menimbulkan dampak sosial yang lebih luas dan kompleks di masa mendatang. Berdasarkan
latar belakang tersebut, penulis merasa perlu untuk mengkaji permasalahan ini secara
mendalam guna menemukan solusi yang tepat. Oleh karena itu, penelitian ini dituangkan
dalam bentuk skripsi dengan judul “Analisis Penyebab Dekadensi Moral pada Remaja di Desa
Raanan Baru.”
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Dapat
dipahami bahwa metode deskriptif adalah metode penelitian yang bertujuan untuk mengkaji
kondisi suatu kelompok, objek, sistem pemikiran, atau peristiwa pada waktu tertentu (Zuriah,
Nurul. 2007). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif
sebagai upaya untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan (Lexy J. Moleong,
2011:5). Dengan kata lain, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan menjelaskan
kondisi yang sedang berlangsung berdasarkan fakta dan informasi yang dikumpulkan di
lapangan. Selanjutnya, data dianalisis dengan memperhatikan hubungan antar variabel untuk
menemukan upaya-upaya yang dilakukan orang tua dalam menangani kenakalan remaja,
dengan lokasi penelitian di Desa Raanan Baru (Lexy J. Moleong, 2011:3).
3. Hasil dan Pembahasan
Pembahasan Hasil Penelitian: Dekadensi Moral Remaja di Desa Raanan Baru
Berdasarkan data yang diperoleh, pembahasan penelitian ini difokuskan pada empat indikator
utama, yaitu: (1) kemunduran nilai kesopanan, (2) kemerosotan sikap saling menghargai, (3)
degradasi kemampuan komunikasi yang baik, dan (4) penurunan nilai kejujuran. Penjelasan
masing-masing indikator adalah sebagai berikut:
a. Kemunduran Nilai Kesopanan
Kesopanan mencakup perilaku, sikap, dan tutur kata yang menunjukkan
penghormatan serta perhatian terhadap orang lain. Nilai ini tidak hanya terkait dengan
bahasa yang halus, tetapi juga meliputi ekspresi wajah, gerak tubuh, serta tindakan yang
sesuai norma dan etika masyarakat. Kesopanan berperan penting dalam menjaga
hubungan sosial yang harmonis dan mengurangi konflik. Beberapa bentuk kesopanan
yang diterapkan sehari-hari antara lain:
Kesopanan verbal: penggunaan kata-kata santun seperti “tolong,”dan “terima kasih.”
Kesopanan nonverbal: sikap tubuh yang santun, senyum ramah, kontak mata yang tepat.
Kesopanan sosial: menghormati aturan dan norma masyarakat, misalnya tertib antre atau
menghargai pendapat orang lain.
Kesopanan digital: perilaku santun dalam komunikasi daring, seperti menghindari
komentar kasar dan menghormati privasi orang lain.
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 34-39
E-ISSN: 3048-3093
37
Silvestre Tristan Kawengian et.al (Dekadensi Moral pada Remaja....)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian remaja Desa Raanan Baru masih
sering menunjukkan perilaku kurang sopan, seperti mengabaikan orang lain saat
berbicara, mengejek, merendahkan orang lain, atau bersikap tidak hormat terhadap orang
tua maupun otoritas. Dampak penurunan kesopanan ini antara lain: konflik antar remaja,
hubungan yang renggang dengan orang tua, menurunnya wibawa guru dan lembaga
pendidikan, serta citra generasi muda yang kurang baik di mata masyarakat. Upaya
peningkatan nilai kesopanan memerlukan peran aktif keluarga, sekolah, dan masyarakat, melalui
pendidikan karakter, keteladanan, serta pengawasan perilaku, baik di dunia nyata maupun dalam
komunikasi digital.
b. Kemerosotan Saling Menghargai
Saling menghargai adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan penerimaan,
penghormatan, dan pengakuan terhadap hak, pendapat, serta perasaan orang lain, tanpa
memandang perbedaan suku, agama, ras, budaya, maupun status sosial. Sikap ini
mencerminkan kemampuan individu untuk memahami bahwa setiap orang memiliki nilai
dan martabat yang sama pentingnya. Unsur-unsur saling menghargai meliputi: Pengakuan
terhadap keberadaan orang lain. Empati, yakni kemampuan memahami perasaan dan
sudut pandang orang lain. Kesopanan dan tata krama dalam interaksi. Toleransi terhadap
perbedaan. Keadilan dan kesetaraan.
Penelitian di Desa Raanan Baru menunjukkan bahwa sebagian besar remaja memiliki
sikap saling menghargai, tetapi ada pula yang masih melakukan perilaku negatif seperti
ejekan, intoleransi, dan kurang empati. Faktor utama munculnya perilaku ini adalah
kurangnya penanaman nilai saling menghargai di keluarga dan sekolah, serta pengaruh
media sosial. Dampaknya meliputi: menurunnya rasa percaya diri siswa, solidaritas yang
lemah, konflik sosial, serta stres atau tekanan emosional pada korban perundungan.
c. Degradasi Cara Berkomunikasi yang Baik
yang baik adalah proses penyampaian informasi atau gagasan secara jelas, sopan,
efektif, dan saling memahami. Kualitas komunikasi mencakup cara penyampaian, bahasa
tubuh, nada suara, dan empati terhadap lawan bicara. Faktor yang mempengaruhi
penurunan kualitas komunikasi di kalangan remaja Desa Raanan Baru antara lain:
pengaruh media digital dan media sosial yang menekankan kecepatan daripada etika,
kurangnya pembiasaan komunikasi sopan di rumah, berkurangnya interaksi tatap muka,
serta minimnya pendidikan karakter dan keterampilan komunikasi di sekolah. Dampak
menurunnya kualitas komunikasi mencakup: meningkatnya salah paham dan konflik,
berkurangnya empati dan kerja sama, menurunnya rasa hormat terhadap guru dan orang
tua, serta lemahnya kemampuan berbicara formal. Upaya perbaikan dapat dilakukan
melalui pendidikan karakter, latihan berbicara dan mendengarkan, serta keteladanan dari
keluarga, guru, dan masyarakat.
d. Penurunan Nilai Kejujuran
Kejujuran adalah perilaku yang mencerminkan kesesuaian antara perkataan, perasaan,
dan tindakan dengan kebenaran, tanpa menipu, memalsukan, atau menyembunyikan fakta.
Unsur kejujuran meliputi kebenaran, keterbukaan, konsistensi, dan keberanian moral.
Penelitian menunjukkan nilai kejujuran remaja di Desa Raanan Baru menurun akibat
pengaruh teman sebaya, media sosial, kurangnya keteladanan, dan budaya kompetitif.
Dampak dari penurunan ini antara lain: berkurangnya kepercayaan antara remaja dan
orang tua, meningkatnya konflik antar teman sebaya, menurunnya tanggung jawab, serta
melemahnya solidaritas sosial. Peningkatan nilai kejujuran memerlukan kerja sama
keluarga, sekolah, dan tokoh masyarakat melalui pendidikan karakter, keteladanan, serta
pembiasaan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari.
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 34-39
E-ISSN: 3048-3093
38
Silvestre Tristan Kawengian et.al (Dekadensi Moral pada Remaja....)
4. Kesimpulan dan Saran
Kesimpilan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai dekadensi moral remaja, dapat diambil beberapa
kesimpulan berikut:
a. Penurunan Nilai Moral
Remaja di Desa Raanan Baru menunjukkan penurunan nilai moral yang ditandai
dengan beberapa perilaku, antara lain: menurunnya kejujuran, sikap saling
menghargai, kesopanan, serta kemampuan berkomunikasi yang efektif. Fenomena ini
terjadi dalam berbagai konteks kehidupan mereka, baik di lingkungan sekolah,
pertemanan, maupun masyarakat sekitar.
b. Faktor Penyebab
Beberapa faktor utama yang mempengaruhi dekadensi moral remaja meliputi:
Lingkungan keluarga: minimnya pembiasaan nilai moral dan teladan dari orang tua.
Pengaruh media sosial dan teknologi: mendorong perilaku egois, intoleransi, dan
kecenderungan merendahkan orang lain.
Pendidikan karakter di sekolah: program pendidikan karakter yang belum terstruktur
dan konsisten. Lingkungan sosial dan budaya kelompok: tekanan sosial dari teman
sebaya dan budaya yang tidak mendukung perilaku positif.
c. Dampak Dekadensi Moral
Dampak negatif dari penurunan moral di kalangan remaja antara lain:
Menurunnya rasa percaya diri serta motivasi belajar.
Meningkatnya konflik sosial, bullying, dan perpecahan kelompok.
Melemahnya solidaritas, kerja sama, dan kualitas interaksi sosial di sekolah maupun
lingkungan masyarakat.
Saran
Berdasarkan temuan penelitian, beberapa saran yang dapat diberikan adalah:
a. Bagi Keluarga: Orang tua sebaiknya menjadi teladan dalam menanamkan nilai moral,
seperti kejujuran, kesopanan, dan sikap saling menghargai. Memberikan perhatian dan
pengawasan terhadap lingkungan sosial anak, agar mereka terhindar dari pengaruh
negatif.
b. Bagi Sekolah: Menyusun dan menjalankan program pendidikan karakter yang
berkesinambungan..
c. Bagi Masyarakat dan Pemerintah: Menyelenggarakan kegiatan positif bagi remaja,
seperti klub sosial, seni, dan olahraga, untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dan
disiplin.
d. Bagi Remaja: Menumbuhkan kesadaran diri untuk selalu berperilaku jujur, sopan,
saling menghargai, dan berkomunikasi dengan baik.
5. Daftar Pustaka
Ali, M. & Asrori, M. 2006. Psikologi Remaja, Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi
Aksara.
Budirahayu, Tuti. 2013. Sosiologi Perilaku Menyimpang. Surabaya: PT Revka Petra Media
Gunarsa, Singgih D. 2004. Psikologi Praktis Anak, Remaja dan Keluarga, Cetakan. 7.
Jakarta : PT. Gunung Mul
Gunawan, Imam. 2014. Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik. Jakarta: Bumi
Aksara.
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 34-39
E-ISSN: 3048-3093
39
Silvestre Tristan Kawengian et.al (Dekadensi Moral pada Remaja....)
Kartini Kartono. 1995. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung: CV Mandar
Maju
Khasanah Khuswatun. 2018. Penyimpangan Perilaku Remaja Dan Kontrol Sosial Di Desa
Menunggal Kecamatan Kedamean Kabupaten Gresik.
(http://digilib.uinsby.ac.id/24654/, diakses 26 April 2019).
Rahayu Siti. 2017. Peran Orang Tua Terhadap Pendidikan Moral Remaja Di Dusun
Mendak Buntar Mojogedang Karanganyar. (http://eprints.iain-
surakarta.ac.id/1136/, diakses 26 April 2019).
Rahmawati, M., & Kusrina, T. (2025). Dekadensi moral dalam sudut pandang pendidikan
nilai dalam keluarga dan masyarakat. Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan
Ilmu Pendidikan, v4(1).
Rumiyati. 2006. Prokrastinasi Akademik Ditinjau dari Motivasi Berprestasi dan Stres
Mahasiswa. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro, 3(2), 37-48.
Suwandi, M. (2024). Pembiasaan nilai kejujuran dalam mewujudkan pendidikan karakter
di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Mindset : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan
Pembelajaran, v1(2).
Soetomo, 2013. Strategi-strategi Pembangunan Mayarakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tafricha Alifa Nurul. 2015. Penanaman Nilai-Moral Anak dalam Keluarga Samin (Sedulur
Sikep) Kabupaten Blora. (https://lib.unnes.ac.id/14926/, diakses 26 April 2019)
Umamah, Z., Faricha, N., Kusuma N., R., & Albaar, R. (2024). Kejujuran: Nilai moral
yang tak luput dalam konseling. Jurnal Pendidikan Islam, v2(2).
Veronika, R. (2024). Analisis penyimpangan perilaku kesopanan pada komunitas remaja
Permata di Desa Bulan Jahe, Kecamatan Barus Jahe, Kabupaten Karo. JPUS: Jurnal
Pendidikan Untuk Semua, 6(2), 15‑19.
Wismanjaya, H., & Yuningsih, S. (2024). Kajian pustaka menurunnya nilai‑nilai budaya
pada remaja. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 12(1).
Zuriah, Nurul. 2007. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan.
Jakarta: Bumi Aksara