berdasarkan bukti. Kemampuan ini penting agar siswa dapat mengambil keputusan secara
logis dan tepat. Dalam praktiknya, implementasi keenam dimensi tersebut tercermin
dalam sikap dan perilaku siswa sehari-hari di lingkungan sekolah. Nilai-nilai luhur yang
ditanamkan mulai terinternalisasi, terlihat dari meningkatnya sikap saling menghargai
keyakinan teman, menjaga toleransi, serta memelihara kerukunan. Siswa juga
menunjukkan kemandirian dalam belajar dan tanggung jawab terhadap tugasnya, serta
berpartisipasi aktif dalam kegiatan bersama seperti menjaga kebersihan sekolah.
Keterlibatan dalam kegiatan organisasi, misalnya pemilihan OSIS, memperlihatkan
berkembangnya jiwa kepemimpinan dan kesadaran berdemokrasi (Wijayanti, 2023).
Secara spiritual, pembiasaan berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, pemberian
kesempatan menjalankan ibadah, serta keteladanan guru dalam menunjukkan akhlak
mulia semakin memperkuat dimensi keimanan dan ketakwaan. Guru berperan penting
sebagai model perilaku dalam menanamkan sikap hormat, tolong-menolong, dan
menghargai sesama. Berdasarkan hasil penelitian di SMP Advent Remboken, penguatan
Profil Pelajar Pancasila telah dilaksanakan secara terintegrasi dalam kurikulum, budaya
sekolah, serta kegiatan kokurikuler. Sekolah menunjukkan komitmen yang kuat dalam
menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila maupun
pendekatan lintas mata pelajaran. Upaya ini dinilai efektif karena masa remaja merupakan
fase penting dalam pembentukan jati diri, sehingga penanaman nilai pada tahap ini
berkontribusi besar terhadap pembentukan pola pikir dan perilaku yang berlandaskan
ideologi negara (Zuhriyah, 2023). Dengan demikian, penguatan Profil Pelajar Pancasila
memiliki peran strategis dalam membangun generasi yang berkarakter, bermoral, cinta
tanah air, serta mampu menjaga eksistensi Pancasila sebagai dasar negara. Melalui proses
pembiasaan yang konsisten dan dukungan seluruh warga sekolah, diharapkan terbentuk
peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara karakter
dan sosial.
b. Penguatan Berkebhinekaan Global di SMP Advent Remboken
Berkebhinekaan global dimaknai sebagai kemampuan individu untuk menghormati,
menerima, serta menghargai berbagai bentuk perbedaan, baik yang berkaitan dengan
suku, agama, ras, budaya, maupun bahasa. Selain itu, konsep ini juga menekankan
kemampuan untuk berinteraksi dan berkontribusi secara positif dalam masyarakat yang
majemuk. Dalam pandangan Suarta dan Putu (2023), berkebhinekaan global merujuk pada
kecakapan hidup secara harmonis dan produktif di tengah keberagaman, baik dalam
lingkup nasional maupun internasional, tanpa kehilangan identitas pribadi maupun jati diri
kebangsaan. Dengan kata lain, menjadi bagian dari masyarakat global berarti mampu
mengapresiasi budaya lokal sekaligus terbuka terhadap budaya dunia. Dalam konteks
Profil Pelajar Pancasila, dimensi berkebhinekaan global tercermin pada kemampuan
peserta didik untuk berkomunikasi secara setara dalam situasi lintas budaya. Mereka
diharapkan mampu membangun interaksi yang dilandasi kesadaran, pemahaman,
penerimaan, serta penghargaan terhadap keunikan setiap budaya. Selain itu, pelajar juga
dituntut memiliki kemampuan reflektif dalam menyikapi pengalaman keberagaman
dengan memanfaatkan wawasan multikultural yang dimiliki. Tidak hanya berhenti pada
pemahaman, mereka juga menunjukkan tanggung jawab sosial melalui partisipasi aktif
dalam membangun masyarakat yang adil, damai, dan inklusif, baik di tingkat lokal
maupun global (Setyaningsih, 2022).
Hasil wawancara yang dilakukan di SMP Advent Remboken menunjukkan bahwa
penanaman sikap menghormati keberagaman menjadi perhatian penting sekolah. Upaya
tersebut dilakukan tanpa menghilangkan identitas budaya masing-masing peserta didik.
Temuan ini sejalan dengan kerangka teori penelitian yang menekankan penguatan Proyek
Profil Pelajar Pancasila serta implementasi dimensi berkebhinekaan global, yang