yang ada jumlahnya masih terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan sampah tidak segera
terangkut sehingga menumpuk dan mengurangi kenyamanan lingkungan. Di samping itu,
jumlah petugas kebersihan dinilai belum sebanding dengan luas wilayah dan jumlah
penduduk yang harus dilayani. Faktor lain yang turut menjadi hambatan adalah perilaku
sebagian masyarakat yang belum sepenuhnya peduli terhadap kebersihan. Meskipun
terdapat warga yang aktif mengikuti kerja bakti dan menjaga lingkungan, masih ada pula
yang kurang disiplin, bahkan membuang sampah sembarangan, termasuk pada malam hari.
Koordinasi antara pemerintah kelurahan dan masyarakat sebenarnya telah terjalin
melalui RT/RW. Namun, pelaksanaannya belum berlangsung secara konsisten. Tingkat
partisipasi warga cenderung berfluktuasi, bergantung pada intensitas imbauan serta
kehadiran aparat di lapangan. Secara keseluruhan, kendala yang dihadapi meliputi
keterbatasan sarana dan prasarana, kurangnya tenaga kebersihan, minimnya dukungan
anggaran, serta rendahnya kesadaran masyarakat. Oleh sebab itu, diperlukan penambahan
fasilitas, penguatan sumber daya manusia, edukasi yang berkelanjutan, serta peningkatan
koordinasi yang lebih intensif dengan masyarakat agar pengelolaan kebersihan dapat
berjalan lebih efektif.
C. Upaya Pemerintah dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarakat
Dalam upaya mendorong keterlibatan masyarakat, pemerintah kelurahan telah
menempuh berbagai strategi. Langkah tersebut meliputi pengaktifan kembali kegiatan kerja
bakti secara berkala, penyampaian imbauan secara langsung kepada warga, pelibatan pihak
sekolah serta organisasi kepemudaan, dan kerja sama dengan tokoh agama maupun tokoh
adat untuk memperkuat pesan tentang pentingnya kebersihan lingkungan. Kegiatan kerja
bakti umumnya dilaksanakan satu kali setiap bulan, terutama menjelang perayaan tertentu
atau ketika muncul permasalahan mendesak, seperti banjir yang disebabkan oleh
penumpukan sampah. Selain itu, pemerintah memberikan bentuk apresiasi sederhana,
misalnya penghargaan bagi RT/RW dengan lingkungan paling bersih atau bantuan
perlengkapan kebersihan kepada kelompok warga yang aktif. Namun demikian, belum
diterapkannya sanksi yang tegas terhadap pelanggaran kebersihan membuat sebagian
masyarakat masih kurang disiplin dalam membuang sampah pada tempatnya.
Berdasarkan tanggapan masyarakat, sebagian besar warga mengaku pernah menerima
ajakan untuk mengikuti kerja bakti dan memandang kegiatan tersebut sebagai bentuk
tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan. Akan tetapi, tingkat partisipasi warga
cenderung tidak stabil. Kehadiran biasanya meningkat saat ada perayaan atau kegiatan
besar, namun menurun pada hari-hari biasa. Secara keseluruhan, berbagai upaya telah
dilakukan pemerintah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, mulai dari kerja bakti
rutin, sosialisasi, pemberian penghargaan, hingga pelibatan berbagai unsur masyarakat.
Meskipun demikian, keberhasilan program tersebut masih sangat dipengaruhi oleh motivasi
dan kesadaran warga. Oleh sebab itu, diperlukan strategi tambahan seperti sosialisasi yang
berkesinambungan, keteladanan dari aparat, peran aktif tokoh masyarakat, serta penerapan
sistem penghargaan dan sanksi yang lebih jelas agar kesadaran kolektif semakin kuat dan
partisipasi masyarakat dapat meningkat secara berkelanjutan.
4. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Koya, Kecamatan Tondano
Selatan, diperoleh beberapa simpulan sebagai berikut:
a. Peran Pemerintah dalam Pengelolaan Kebersihan
Pemerintah Kelurahan Koya telah menunjukkan keterlibatan aktif dalam menjaga
kebersihan lingkungan melalui berbagai program, seperti pelaksanaan kerja bakti
secara berkala, penyediaan kontainer sebagai tempat penampungan sementara, serta